Bocah Penjual Pisang

Hari terakhir di Sukabumi, 2 jam sebelum check out dari hotel dan 6 jam sebelum jam pulang kantor, saya dan teman-teman “merayakannya” dengan naik rakit di danau berkedalaman sekitar 8 meter yang terletak di belakang hotel. Rakit yang kami tumpangi ini berkapasitas maksimal 8 orang dewasa dengan biaya sewa 140 ribu per rakit plus sang operator rakit yang pengoperasiannya masih menggunakan transimisi manual ini.

bentuk rakitnya kaya begini

Begitu naik ke atas rakit, saya langsung merasakan sensasi yang begitu damai, tenang, menikmati hembusan angin danau yang begitu lembut, hmmm.. kembali saya diingatkan atas kebesaran kuasa Sang Pencipta! Setelah itu saya ambil kamera kemudian jeprat-jepret mengambil gambar sekeliling danau sekaligus para penumpang rakit yang sebagian besar merupakan penderita sindrom CEREWETBANYAKOMONGKAGAKBISADIEMRAMEBANGET.

Seperempat perjalanan terlalui, posisi rakit mulai mendekat ke pulau mini yang terletak di tengah danau tersebut. Tampak sebuah lapak penjual kelapa muda yang masih berumur belasan tahun dengan semangat mempromosikan dagangannya berharap salah satu dari kami tertarik untuk membelinya, sayangnya saat itu cuaca sedang mendung  dan suhu dataran tinggi yang begitu dingin sehingga bukan saat yang tepat untuk minum minuman sesegar kelapa muda.

Di sisi danau yang lain terdapat seorang ibu paruh baya dan seorang anak kecil berumur sekitar sepuluh tahun masing-masing memegang setandan buah pisang tandung dan beberapa sisir pisang ambon. Tak jauh beda dengan si penjual kelapa muda, si ibu ini pun menawarkan dagangannya kepada kami. Iseng-iseng saya bertanya harga pisang tanduknya, (karena menurut penuturan salah satu rekan bahwa pisang produksi daerah tersebut terkenal manis) ternyata si ibu menyebutkan harga 40 ribu untuk setandan pisang tanduk yang berisi 3 sisir dan 10 ribu untuk sesisir pisang ambonnya. Tawar menawar terjadi dan dalam waktu singkat tercapailah harga kesepakatan yaitu 30 ribu untuk setandan pisang tanduk dan sesisir pisang ambon, lumayan murah jika dibandingkan dengan harga sebuah pisang tanduk di tukang sayur langganan saya yang dibandrol 2000 rupiah per bijinya. Ketika proses pembayaran berlangsung,  si ibu menawarkan kepada saya untuk membeli setandan pisang yang lain. Tawar menawar lagi dan tercapai harga 50 ribu untuk 2 tandan pisang tanduk dan 3 sisir pisang ambon, muraaaaaaaaaaaaaah banget!!!🙂

Here the story goes on.. Setandan pisang tanduk kedua tersebut dipegang oleh si anak kecil yang menurut pengakuannya adalah cucunya (kita sebut saja Ujang), sementara posisi rakit dan si Ujang ini semakin jauh sehingga si Ujang mau tidak mau harus terjun ke danau untuk mengantarkan pisang tersebut. Saya langsung heboh seketika melihat perjuangan si Ujang dengan tubuh mini dan wajah sendunya harus berjuang melewati danau yang semakin dalam hanya demi mengantarkan pisang itu. Berkali-kali saya bertanya kepada si ibu apakah si Ujang akan baik-baik saja menyeberangi danau yang airnya setinggi perutnya, dan berkali-kali juga si ibu berusaha meyakinkan saya bahwa si Ujang telah “biasa” menghadapi kondisi ini.

Si Ujang

Pisang telah sampai ke tangan saya, saatnya si ibu turun dari rakit. Dan ternyata si ibu gak berani nyemplung ke danau yang kemudian meminta  si Ujang untuk membantu menepikan rakit karena sang operator rakit dah ngomel-ngomel karena harus memperlambat laju rakit. Yang membuat saya kembali sport jantung adalah perjuangan Ujang yang kembali harus menyeberangi danau demi membantu neneknya. Ketinggian air semakin bertambah menjadi setinggi dadanya. Di tengah danau yang dingin disertai rintik hujan yang mulai turun, Ujang harus berjuang sendirian “menggiring” rakit untuk sedikit menepi mendekati tepian danau. Ya Allah..saya tidak tega melihat wajah yang meringis dan mulut yang mendesis “berat, susah”.. Sekali lagi saya bertanya kepada si ibu apakah Ujang akan baik-baik saja, dan sekali lagi si ibu meyakinkan saya bahwa Ujang telah terbiasa melakukannya. Hiks.. hati saya menangis melihat pemandangan itu! Seorang anak kecil harus bersusah payah mendorong rakit yang sedang ditumpangi 10 orang dewasa demi lembaran rupiah! Ya Allah…

Ujang sedang berusaha menarik rakit

“Dedek sayang, baik-baik aja kan?!”    “Dedek gapapa?”    “Aduh sayang..”     “Berat ya sayang?!”      “Hati-hati ya sayang!” . Kalimat-kalimat itu terus berloncatan keluar dari mulut saya berusaha mengimbangi kekhawatiran saya terhadap Ujang. Sekali lagi senyum kecutnya mengiris hati saya, Allah..😦

Akhirnya rakit itupun menepi. Si ibu turun dengan selamat di tepian danau. Kami melanjutkan perjalanan kami. Begitu pula Ujang yang melanjutkan kehidupannya. Semoga sukses ya sayang! Semoga kelak kau menjadi anak yang dibanggakan orangtuamu! Love you..

P.S. Hingga detik ini senyum kecut Ujang masih terngiang di benak saya. Ya Allah.. kasihanilah Ujang!

9 thoughts on “Bocah Penjual Pisang

  1. waw…wa…
    aku baru tahu dari ika niy…ada cerita naek perahu ..
    ko suamaiku gak bilang2 ya….???
    *hmm…jgn2 ada yg menekan supaya diam niy…hehehe*
    btw yen aku nang kono pasti jd sedih jg lihat si ujang….
    hoho…kita kan tipe2 ibu2 yg mellow…meow…meow… pusss…meonggg….
    hehe….

  2. apakah itu pisang goreng gosong yang kumakan kemarin?
    huaaaa….pengen nangis rasanya……
    perjuangan ujang dimentahkan oleh kegosongan pisan itu😛

    piss mbak..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s