Proposal Pembangunan Musholla

Pada kesempatan kali ini saya ingin membagikan informasi tentang pembangunan musholla di desa tempat saya menghabiskan masa kecil saya. Musholla yang saat ini menjadi satu-satunya tempat belajar mengaji bagi anak-anak di lingkungan sekitar, gratis tentunya. Saat ini kondisi musholla dirasa kurang layak untuk memfasilitasi kegiatan belajar mengaji sehingga diputuskan untuk merenovasi bangunannya.

Izinkan saya menyampaikan amanah dari panitia pembangunan musholla, bilamana ada yang berkenan untuk menyumbangkan sebagian penghasilannya, akan dengan senang hati kami terima.

Dana bisa ditransfer melalui nomor rekening berikut:

0132847525
Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur (BPD Jatim)
a.n. MADIN AL ISLAH ULA

atau bisa juga melalui saya

1260004984810
Bank Mandiri
a.n. ika ariesta kusumawati

Terlampir PROPOSAL PEMBANGUNAN MUSHOLLA sebagai bahan pertimbangan. Progress pengerjaannya serta pertanggungjawaban donasi akan diperbarui secara berkala melalui postingan ini.

Terima kasih atas perkenannya membaca informasi ini.
Semoga kita semua senantiasa dilimpahi kesehatan dan rezeki yang berkah.

Life Hack : Minta Jajan Ala Kiran

Tersebutlah suatu hari di depan rumah ada ibu-ibu penjual tiwul yang biasa lewat menjajakan dagangannya (hampir) setiap hari. Nah, si Kiran di pagi harinya sudah menghabiskan “jatah jajannya” untuk beli snack di toko kelontong dekat rumah kami. Fyi, peraturan di rumah kami sehari hanya diperbolehkan jajan 1x, selebihnya kalo masih ingin ngemil-ngemil dipersilakan menghabiskan makanan yang tersedia di rumah.

Oke, kembali ke Kiran. Karena dia sudah jajan, otomatis dia kehilangan kesempatan untuk beli tiwul dong. Dan terjadilah percakapan udang di balik batu seperti ini:

K : Bunda, ada yang jual tiwul

B : Iya, bunda tau, tapi kan Kiran udah jajan

K : iyaaa.. Kiya* cuma ngasitau aja.

B : *pasang muka datar krn udah bisa menebak arah percakapan ini*

K : Bunda, Kiya dah lama ga makan tiwul, rasanya seperti apa ya? Kiya lupa

B : *burst into laughter tapi ditahan karena jaim*

B : Ya kaya tiwul, dulu kan adek sering beli, masa lupa

K : Kiya beneran lupaaaaaa (mode merajuk)

B : ya tapi kan adek udah jajan, kalo mau tiwul ya berarti besok baru bisa beli

K : *mission failed*

Jadi para mamak, berhati teguhlah menghadapi mode puppy eyes macem ini, karena sekali peraturan yang sudah dibuat kita “langgar” sendiri maka hal ini akan dijadikan yurisprudensi oleh anak-anak.

Have a nice day, semoga keadaan segera membaik ya!

*Kiya adalah nama panggilan Kiran krn dia dulu belum bisa melafalkan huruf R dengan baik, dan itu terbawa sampai sekarang.
Panggilan Kiya ini hanya dipergunakan Kiran ke keluarga terdekat, sedangkan ke teman-temannya dia menyebut dirinya sendiri Kiran, sesuai dengan ejaan nama yg benar.
Masih kecil tapi dah jaim zzzzzzzzzzzz….

Mahesssssssssss (n-posts)

Sesuai dengan asbabun nuzul dibuatnya blog ini (dulunyaaa rencananyaaaa) adalah untuk mencatat milestone si anak kicik bernama Mahes/Awes*/Cawes* yang sekarang dah beranjak remaja dan ukuran sepatunya udah lebih besar dibanding ukuran sepatu emaknya.

Singkat cerita, si Mahes ini entah disusupi apa sehingga dia berkeinginan untuk melanjutkan SMPnya di pesantren. Saat dia mengutarakan niatnya, tentunya saya dukung dan saya persilakan untuk mencari info sebanyak-banyaknya. Awalnya dia ingin lanjut ke Ponpes Husnul Khotimah di Kuningan sana, kebetulan banyak teman-teman SD-nya yang juga ingin melanjutkan di sana, mulai lah saya googling ttg HK (nama keren Husnul Khotimah) ini, ulasan bagus, kami oke. Nahhhhh… suatu hari tiba-tiba si Mahes alih haluan ke Al Kahfi di Bogor, alasannya karena Kuningan terlalu jauh (lahhh ni anak dikata yakkk zzzzzz….). Kami pun oke, kembali saya persilakan dia untuk mencari info tentang Al Kahfi, karena saya pribadi cuma kenal nama, belum pernah tau apalagi ke sana.

Waktu berlalu sekian bulan sejak si Mahes mengutarakan niatnya ke Al Kahfi ini. Suatu saat dia “lapor” ke saya bahwa pendaftaran sudah dibuka, syaratnya ini itu ono, regist email baru endesbre endesbre. Untuk dokumen segala macam yang harus dilampirkan, saya bantu Mahes utk scan dokumennya, sedangkan sisanya seperti proses registrasi segala macem dia kerjakan sendiri. Sesekali dia konfirmasi ke saya ttg data isian sampe submit data. Sesudah mendapatkan nomor registrasi dan waktu pelaksanaan tes, Mahes “lapor” ke saya untuk “mengingatkan” waktu pelaksanaan tes-nya. Sambil menunggu pelaksanaan tes masuknya, saya minta Mahes untuk merecall mata pelajaran yang diujikan, dan untuk hal ini dia minta dibelikan buku kumpulan soal untuk ujian nasional gitu (rajin banget dah, beda sama emaknya hahaha..)

Hari ujian tiba, ujian berlangsung online dengan 2 camera posisi on, pintu kamarnya ditutup rapat, saya diam-diam berdoa semoga diberi kelancaran dan kemudahan (terus terang saat itu saya nothing to lose, diterima alhamdulillah, nggak ya gapapa, masih bisa lanjut di SMP yg lain). Pun ketika tes bacaan Al Qur’an dan hafalan, mamak auto ndredeg (padahal ga ikut ujian hahaha..).

Alhamdulillah Mahes lolos dan harus sudah masuk pesantren per 23 Juli 2021 kemarin setelah memenuhi persyaratan antigen segala macem dan isolasi mandiri 10 hari sebelum keberangkatan. Yang nganterin siapa? Ya sayaaaaaaaaaaaaaa… bokapnya terhalang PPKM kaga bisa balik ehe ehe ehe.. Tapi ndak papa, mamak (harus) strong, insyaAllah bisaaaa… meskipun pulangnya nangis cirambay di mobil trus nyampe rumah berasa hampa ga napsu makan segala macem T_T Sayangnya hal ini hanya bertahan 2 hari, gagal kurus dah si Emak.

Hamdalah update info dari Mahes selama di pondok, dia nyaman-nyaman saja (ortu diberi kesempatan utk menelepon SELULER -bukan videocall- setiap hari minggu). Makanan tercukupi secara kualitas maupun kuantitas. Sarpras juga oke, teman sekamar juga baik semua.

Satu hal yang bikin saya tercengang sekaligus takjub adalah ketika Mahes cerita bahwa dia “membantu” menjahit kancing baju teman-temannya yang lepas, dan (katanya) teman-temannya memberinya “upah” Rp.5000/anak, dan per minggu kemarin, dia sudah mendapatkan 5 orang customer. Namun karena khawatir sistem “upah” itu malah memberatkan temannya, saya tekankan sekali lagi ke Mahes bahwa dia tidak boleh menarget “upah” ke teman-temannya, dan Mahes konfirmasi bahwa itu emang inisiatif teman-temannya karenna dia sendiri ga pernah minta.

Alasan kenapa saya kaget mendengar info tersebut adalah karena setau saya Mahes belum mahir menjahit kancing baju. Peralatan menjahit memang saya bawakan karena dia seringkali mengalami celana robek di bagian kakinya. Seingat saya, malam sebelum dia berangkat saya hanya mensimulasikan cara memasukkan benang ke jarum, membuat simpul, dan mendouble jahitan supaya tidak mudah lepas, dan hanya direspon “iya nanti Mahes juga belajar sendiri di pondok”.
Aaaaaaaaaaaaaand.. It ends well.. semoga rating customer satisfactionnya makin membaik. Besok-besok rencananya mo saya ingatkan utk memberikan “garansi” terhadap hasil jahitannya.

Yak sekian saja sekelumit cerita tentang Mahes yang daftar sendiri, ujian sendiri, jahit sendiri. KanjengMami cuma bisa doain sama setor uang saku pastinya hhhhh…

Sehat selalu ya, Le..

*panggilan Awes/Cawes berawal dari Kiran yang saat itu belum bisa melafalkan nama Mahes dengan baik sehingga berubah menjadi Cak (m)aw(h)es, seringkali sebutan Kak Awes ini dilebur menjadi CaAwes, nah panggilan ini kemudian dibeo oleh seluruh penghuni rumah hhh.. Kiran is the queen zzzzzzzzzzzz…

Pencapaian (???)

Simple aja, ketika dapet laporan dari 2 anak perempuan saya.

Yang pertama, usia 9 tahun. Dia mengeluh pinggangnya sakit ketika berusaha mengangkat galon air yang baru saya ganti namun masih diletakkan di lantai, belum saya naikkan ke atas. Terlepas dari subjektivitas saya sebagai ibunya, tentu saja saya bangga dengan inisiatifnya untuk membantu saya mengangkat galon tersebut, terlebih jika dibandingkan dengan usianya yang masih 9 tahun. Saya merespon dengan ucapan terima kasih atas usahanya dan untuk mengantisipasi dia kecewa terhadap dirinya sendiri karena gagal menyelesaikan sebuah pekerjaan (ini faktor genetik, percayalah!) saya sampaikan bahwa hal itu bisa dilakukan pelan-pelan, sambil berlatih, nanti lama kelamaan akan bisa.

Yang kedua, usia 4 tahun.
“Bunda, tadi ada keluwing di lantai, tapi udah Kiya matiin”
Tau keluwing kan? Saudara sepupunya kelabang versi kalem dan tidak beracun yang jika disenggol sedikit akan auto melungker.
Nah si bungsu ini setelah saya ulik lebih jauh tentang cara “matiin” keluwingnya, membuat saya agak gimanaaaa gitu…
Si keluwing ditetesi minyak kayu putih terlebih dahulu, setelah tidak bergerak/melungker, si bungsu akan mengambil pensil/penggaris, lantas dipotongnya itu badan keluwing menjadi 2 bagian.
Hmmm… haruskah saya merasa cemas?

Yaaaa setidaknya dari dua hal di atas, mereka sudah bisa dimatangkan level kemandiriannya, sehingga untuk hal-hal kecil seperti di atas mereka bisa menyelesaikannya sendiri tanpa harus menunggu bantuan orang lain.

Sekian, salam sehat ^_^

Blessed

“sunflower”

This is our latest project (me and my youngest daughter), it’s called “sunflower”.

According to her weekly projects, Kiran was asked to make a sunflower. With a little help here and there -of course on her consent because basically i won’t help if she doesn’t want me to- and this is it our sunflower. Kiran did the forming, gluing, and coloring by herself which made me feel amazed realizing a 4 y.o. kid could do this kind of (for me) complicated task. And also a kind of relieved because Kiran and her bro sis are sooooo much better at drawing/art, unlike her mum 🤣🤣🤣

Actually it had to be done on paperboard to have the rolls stand steadily, unfortunately we didn’t have any, so i decided to stick a plain paper into a used calender, and wallaaa… now we had a DIY paperboard 😆

By the way, the reason i use “blessed” as the title of this post is because one of the purpose i write these blog posts is to be my legacy for my kiddos. I feel blessed because i have chance to do so, so that my children will have known me and have more memories about me, their mom.

I live for them 💖

The Hole

Today i got a bad news from my colleagues. They said that one of our lecturer passed away 😦 What a shocking news since he is such a kind man, my last contact with him is when he became a lecturer on our education training held online last year.

I still can’t believe the news.

It’s like “why him? he is just a nice guy, great lecturer, a humble person, but why him?” Even though i’m not that often to have him in my education training but i have a good feeling about him every single time he’s choosen as a lecturer.

God.. why?

The thing i want to write down this time is about how actually life is sooooooo precious!

Life is to live. Death is not just about the number or even worse : NEWS HEADLINE, as if death is normal thing in our daily life. Indeed, people will die eventually. But hey! Can we just appreciate the death?

Do you ever consider how broken their family’s feeling are?

Do you ever think about how their family facing the next days without their special one?

Yeah, when the death comes, colleagues and relatives coming by, having their condolence to the family, and that’s it! It happens only in few days, what will happen next? It’s just an empty hole. A deep dark empty hole that no one will know how it feels but the family itself. The left one has no choice but come to terms with the situation. They have to get used to it no matter how hurt and how hard it is having a same daily routine without their loved ones.

I myself a kind of late for knowing this kind of things. It was my father’s death made me realize that life is precious. People coming and grieving for my dad, my house was full of them, and right after my dad was buried, those people were leaving one by one, leaving me alone, and i was getting numb.

Days after i had to go back to work, and my dad’s death already forgotten. My precious dad left alone. I’m not as good as him so that people won’t come for me, so here i am, alone, with the deep dark empty hole 💔

What i’m trying to say is : be nice, death is not just a news, death is painful for the left.

Being A 4 y.o. Pupil

Well, Kiran got this kind of assignment from her kindergarten teacher. She was asked to write down or draw any kind of things that she’s been through or feel. Since she hasn’t been able to form some sentences correctly so that she choose to draw.

Right after she prepared the tools she need like drawing paper, coloring pencils, etc, she told me :

Mom, i think we have to be a sparing partner.

What do you mean, honey?

Yeah, since i’m not that into drawing right now, would you help me on it? (puppy eyes mode : ON)

Well, as you wish, Princess! (mom feels happy for being needed by her child 🥺)

And here it is “our” drawing

Not to mention how she loves pink so much, unlike her mom, sigh….

Btw, Kiran can write down the letters and spell her name and her siblings correctly, but she still can’t manage to write another words aaaand… of course i don’t ask her to do so, i just want to let her enjoy her time happily 😁

Well, that’s my 2cents today. Have a nice day!

Poprocks, Strawberry, Bubblegum

Tulisan ini bukan tentang lagunya Baekhyun yang judulnya Candy lho yaaaaaa..
Saking ga ada ide nyari judul malah si Candy ini auto repeat di otak, yaudalah hahaha..

Beberapa waktu lalu saya mengikuti sebuah webinar yang membahas tentang kebahagiaan. Narasumbernya ciamik, seseorang bergelar profesi CXX, CAA, CBB, CDD, dan masih ada beberapa gelar lagi, panjang pokoknya. Beberapa gelar si narsum ini dianugerahkan oleh institusi di Amrik sono. Knapa jadi mbahas gelar narsumnya? Ya karena hal ini dibacakan oleh host yang lantas membuat saya berharap banyak terhadap kepiawaian si narsum ini, seenggaknya minimal setara lah dengan narsum lainnya dengan gelar profesi serupa (hemmm.. bau-baunya kecewa ini)

Wellll.. long story short yaaaa… jadi kan membahas kebahagiaan tuh yaaa.. Oiya, narsumnya perempuan ya gaes, wicis seharusnya bisa lebih relate dengan peserta yang hampir seluruhnya perempuan.

Minus pertama, si ibu ribet mbenerin posisi scarfnya yang entah knapa kok ya nggak dijarumin/dipenitiin sedari awal gitu, jadinya ah yaudalahya, anggep aja force majeur.

Minus kedua, hemmmm.. nada dan gesture yang digunakan setandar dg para motivator yang biasa nampil. Ini entah karena sayanya yang kebanyakan ikut beginian, atau salah satu kelemahan webinar sehingga aura merindingnya kurang dapet, atau ya emang si ibu beneran cuma template aja bawain materinya, kaya nggak dari hati gitu, jadinya ga nyantol ke sayanya, jadinya ya BIASALAAAAHHHH

Minus ketiga dan paling ngena, beliau bilang intinya begini:

Orang yang wajahnya default tersenyum, pasti dia bahagia, karena wajah itu etalase hati.
Sebaliknya orang yang wajahnya cenderung jutek, pasti dia ada masalah!!! Kalaupun ternyata dia kekeuh ga ada masalah, ya berarti dianya sendiri sumber masalahnya (disambut tawa kompak para peserta)

Reaksi saya? Langsung nyengir dan tak tinggal tiduran.

Ya gimana yaaa..
Seumur-umur ga ada lho orang yang first impressionnya kalo saya itu orangnya ramah dan murah senyum, ga adaaa…
Dari 10 orang yang baru ketemu saya, 7 orang menganggap saya galak dan jutek, 3 orang sisanya menganggap saya pendiem (ngakak bener kalo ini mah).
Dengan wajah default jutek macem saya sementara sayanya ga ngerasa punya masalah berarti sayanya sendiri sumber masalahnya? Jika memang begitu bagi kalian para teman, menjauhlah, karena saya adalah sumber masalah 😦

Sebaliknya, seancur apapun saya, seberat apapun masalah yang sedang saya hadapi, saya sangat bisa tersenyum dan bahkan tertawa di depan umum, dan ini diakui oleh teman sekasur saya dan para sahabat saya (ada 3 orang doang kalik hahahaha). Terlebih ketika saya masih bertugas sebagai PIC kediklatan, lah masa iya mo jutek, kasian orang ga tau apa-apa kena semprot hanya karena saya bad mood atau ada masalah pribadi. Kalopun saya sebel ke salah satu dari mereka karena kelakuan yang kadang ga ada ahlaquenya, ya saya ngomel-ngomelnya ke temen-temen saya hahaha.. kasian yak jadi mereka 😦 Makanya jangan mau jadi temen saya, beraaaat :(((
Joesonghabnida chingu 😦

Okeh, balik lagi ke ibu narsum.
Paparan beliau saya ceritakan ke teman sekasur saya, beliau bilang bahwa hal itu tidak benar karena beliau tidak merasa saya jutek/galak ketika melihat saya utk pertama kalinya (yaiyalah anda demen ke saya, Paaaak… racun kok diminum). Trus saya lanjut gibah ke temen saya, sebut saja Nuela, perempuan juga, dia berpendapat bahwa apa yang disampaikan oleh si narsum tadi salah satu bentuk body shaming (eh iya juga yak bener juga yak)

Hemmm… ya udalah ya!
Pesan yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini sama dengan pesan yang saya sampaikan kepada si Nuela :

“Gausah mikirin respon orang kekmana, kalo emang mereka mau nerima ya udah, kalo nggak ya sebodo amat”

geulaeseo.. gamsahabnidaaaaaaaaa…

mas Seo Joon be like : apeloapeloapelo

V.I.S.U.A.L

Tulisan ini ga akan membahas kecenderungan seseorang dalam memproses informasi semacem visual atau kinestetik dan sejenisnya, nggak, blog ini ga secanggih itu.

Visual yang akan dibahas di sini adalah yang berkaitan dengan tampilan seseorang. Tidak lantas hal ini mendiskriminasi atau mengkerdilkan golongan tertentu, tidak, sama sekali tidak. Justru sebaliknya, tulisan ini akan sedikit mengupas bahwa tanpa disadari selama ini kita (terutama saya) secara tidak sadar sudah menerapkan “diskriminasi” dalam menilai orang lain dari kesan visual mereka.

mmm… nggak juga sih, ga seserius itu juga, hhh.. jadi belibet!

Jadi gini, kita tuh (kaum hawa terutama) gabisa menggeneralisasi bahwa cowok yang pake kaos v-neck item itu keren, nggak bisa!!!

Itu hanya berlaku untuk orang macem Kim Seon-ho atau orang-orang lain dengan visual yang oke.

Pun begitu halnya dengan “cowok yang pake turtle neck itu sexy”.

Nggakbisa kaaaak… nggabisa disamain kaya gituuuu… Kecuali orang yg dimaksud adalah yang semacem Park Seo Joon, hayuklah saya juga setuju.

“Cowok pake blazer oversize itu keren!”

Jika yang dimaksud adalah si D.O. Kyungsoo atau Chanyeol ayuk saya juga oke

“Cowok pake kaos oblong, celana jeans, ples topi itu bikin halu karena serasa mudah digapai”

Atuhlah, plis nyebutin atribut gitu itu jangan lupa dikasih tanda bintang : *syarat dan ketentuan visual berlaku

“Cowok pakek suit and tie itu keren banget sumpaaaaah!”

Izzzzzz… ya emang sih suit and tie itu memegang peranan penting dalam mengubah tampilan seseorang menjadi lebih bersih, rapi, tegap, terlebih kalo cuttingnya customize atau tailor made gitu, dijamin oke punya! Tapi ya balik lagi ke faktor visual yang berperan sebagai kunci dari keseluruhan tampilan.

“Cowok pake diving suit/swimsuit itu ah mantap”

Hemmm.. diliat kembali proporsi tubuhnya yaaaa… yaaa meskipun balik lagi ke preferensi masing-masing. Kecuali yang dimaksud adalah Kim Seon-ho ya tentu saja saya sangat setuju dan no debat.

“Cowok pake beanie hat itu gemoy”

Uhuk.. Tau beanie hat kan?! Kupluk kalo orang jawa bilang. Macem yang dipake penyedia jasa sewa kuda tunggang di Bromo atau nggak mas-mas penjual edelweiss. Iyap, beanie hat yang “biasa” aja itu bisa-bisanya sold out cuma gara-gara dipake si mas Seon-ho di salah satu episode 2D1N. Lagi-lagi visual berperan penting di sini.

“Iiihhh.. cowok kok pake pink, apaan banget dah ga manly gitu!”
Monmaap, bisa dicek di 2D1N episode 62, itu si mas Seon-ho pake hanbok pink dan tetep gemoy.

Intinya apa??? Ya intinya kita gabisa asal njeplak bahwa laki-laki yang kemeja lengannya digulung 2/3 itu keren banget ya nggak gitu. Balik lagi ke preferensi kita kekmana, balik lagi ke visualnya, kalo udah macem Kim Seon-ho, Park Seo Joon, Baekhyun, atau Ravi gitu saya yakin orang-orang pada setuju kalo itu bakalan keren.

Kenapa yang dijadiin contoh cowok semua? Ya gimanaaa.. saya masih perempuan normal, meskipun seringnya ngaku laki-laki yang terpaksa pake kerudung untuk nyembunyiin jakun.

Udah ah, bhay!

Saranghamnidaaaaaa …

dah tuh, puyeng dah

Untuk Bapak

Pak, masih inget ga biasanya dulu Bapak suka maketin makanan kering? Entah itu serundeng, kering kentang, kering tempe, peyek, keripik pisang bikinan Ibuk, dsj. Alesannya sih buat cemilan/lauknya Mahes, padahal mana ada anak 1 tahun makan begituan? 😆

Gengsi kok ya kebangetan ya, Pak! 😅😅😅

Gatau juga sih, tapi kita sama, merasa lemah ketika harus mengakui perasaan masing-masing.

Perasaan bisa diwariskan emangnya? Trus ini salah satu warisan dari Bapak? 🤣🤣🤣

Jam segini ngelantur nulis hal kaya gini bukannya gimana-gimana. Tadi sore ditelpon Budhe, nanyain Ica pengen dikirimin apa, ya tak bilang kalo pengen dikirimin Bapak 😆😆😆 Mungkin kalo Ica di sana berhadapan langsung sama Budhe bakalan langsung dikeplak 🤣

Pak, taun ini musim mangganya cepet banget dah, entah efek Covid19 juga jadinya jarang keluar. Biasanya kan Ica sekali makan sama ngupasin buat anak-anak (iyaaa… anak-anak doyan mangga banget! Apalagi Mahes, mentang2 lahir di Probolinggo) jadinya sekali beli itu 3-4 kilo minimal seminggu sekali. Nah, taun ini tu kaya cuma makan mangga full 1 bulanan gitu deh, selebihnya udah ganti buah yang lain. Pernah nyoba nyari tapi udah stok lama gitu jadinya udah kurang bagus kualitasnya.

Ibuk juga telpon sih pas musim mangga kmaren, ngasitau kalo sebenernya mangga di kebun berbuah banyak, tapiiiiiiiii… karena jauh dari pengawasan, jadinya yang udah diincer mo dipetik eh udah keduluan orang lain 😆 Kata Ibuk biarin aja, anggep aja sedekah buat Bapak yg udah susah-susah nanem pohonnya. Akibatnyaaaa… taun ini Ibuk ga ngirimin mangga deh, yaudah gapapa, lagian berat di ongkos, ples sampe saat ini blom ada yg bisa nandingin kemampuan Bapak dalam memilih buah mangga yang bagus 😘😘😘

Hhh.. udah ah, kalo diterusin bakal makin sedih ini. Salam buat Ibu, Kai, Mbok di atas sana. Kasi tau kalo Ica kangen semuanya.

Oiya, ini Ica kasi foto terupdate anak-anak, ya Pak! Mahes tingginya dah setelinga Ica, Juli nanti insyaAllah mulai mondok. Risha baru ultah yg ke-9, skarang kelas 3 menuju kelas 4, “keras” kaya Ica, Pak 😅 Terussss.. Kiran udah 4 tahun, udah TK A, kalo lagi zoom sama gurunya, Ica disuruh pindah, ga boleh liatin dia 🤣

Saranghaeyo, Appa! 🥰