Sepeda dan Kartu Ucapan

Pernah ga sih kalian membeli sesuatu hanya karena ingin bonus hadiahnya alih-alih benar-benar menginginkan produk utamanya? Aku pernaaah.. dua kali seingatku!

Sepeda Federal

Tersebutlah Lik Prayit tetangga di deket rumah, beliau ini profesinya semacem makelar barang apapun, ya peralatan elektronik, ya tanah, ya peralatan rumah tangga, apa aja dijabanin oleh si Lik Prayit ini. Sampai suatu hari, beliau main ke rumah (ya sebenernya hampir tiap hari sih ngobrol sama Bapak, disuguhin kopi dan rokok, trus pulang) dan (sepertinya) ngabarin kalo ada sepeda gunung yang mau dijual. Aku lupa apakah mereknya beneran Federal atau bukan, tapi kala itu sepeda gunung lazim disebut dengan “Federal” (di desaku udah kenal majas metonimia sejak lama ternyata ahahaha..)

Singkat cerita, setelah Lik Prayit mengutarakan niatnya untuk menanyakan apakah Bapak berniat meminang si sepeda federal tersebut, si ika langsung jawab “Beli aja, Pak!!! Ica suka sama botol minumnya”

Si Babeh yang keheranan ngeliat anaknya tumben-tumbenan antusias, mengkonfirmasi ulang “Beneran mau sepeda ini?” Anaknya dengan tegas dan lugas njawab “IYA!!! Botol minumnya bagus!”

Dan dibelilah sepeda itu..

Hanya demi sebuah botol minum..

federal
kurang lebih seperti ini lah sepedanya

Majalah Mentari Putra Harapan

Majalah ini sepantaran dengan Bobo dan sejenisnya, dan entah kenapa aku lebih suka majalah ini daripada Bobo. Suka dalam artian hanya mampu mengagumi, tanpa memiliki, karena keterbatasan dana (waktu itu mahal banget sumpah!) dan di tempatku hanya satu agen majalah yang menjual majalah ini, jadilah semakin kecil kesempatan untuk membelinya.

Tersebutlah suatu waktu, yang pasti menjelang lebaran, gatau deh taun berapanya, si Mentari Putera Harapan ini menerbitkan edisi spesial bonus kartu ucapan Hamindalid. Nah, si ika gatau kenapa pengeeeeeen banget punya kartu ucapan itu, dipantaunya itu majalah yang masih menggantung di selasar agen selama beberapa hari. Dibulatkan tekadnya untuk matur ke Babeh, “Pak, beliin majalah Mentari dong..” dan seperti biasa si Babeh menginterogasi alasan kenapa aku pengen beli majalah itu, ya kubilang aja aku pengen kartu ucapannya, soalnya temen-temen di sekolah udah pada punya (iyeee… salah si Babeh sendiri nyekolahin aku di “kota” jadinya kan sedikit banyak terpengaruh oleh hedonisme di sekitarku)

Dan mungkin karena ga tega liat tatapan memelas anaknya, jadilah akhirnya dibeliin itu majalah.

Dan kartu ucapannya diapain??? Emmm.. ya udah diletakin aja, disimpen di lemari.

WhatsApp Image 2019-04-24 at 15.31.00

Iya.. dari tulisan ini ketauan banget umurku berapa ahahaha…

Setengah Dasawarsa

Jangan bicara tentang sunyi kepadaku

Jangan pula bertanya tentang sepi

Sudah kujalani hal itu di setengah dasawarsa terakhir

17 februari 2014 menjadi penanda

Tak ada lagi penghuni dunia yang beraliran darah sama

Sunyi kau bilang
Tanpa pernah tau gulitanya dunia setelah kau kehilangan sesiapa

Sepi kau koarkan
Tanpa pernah merasa luluh lantaknya belulangmu yang harus tetap tegak menghadapi dunia

17 februari 2014
Terputus sudah panggilan telepon yang tak pernah alpa menyapa di senja kala

5 tahun silam
Aku menjadi papa dalam nestapa

Waktu menjadi obat segala kau bilang

Sungguh itu bohong belaka!

Waktu hanya semakin pandai menyembunyikan luka

Yang jika terkuak sedikit saja, akan nampak borok yang makin membusuk di dalamnya

*17 Februari 2014 Bapak meninggal dunia, satu-satunya orang tua yang tersisa di dunia

..berturut-turut 3 bulan kemudian Kai dan Mbok, pemilik 25% darah yg mengalir di tubuhku..

Spongebob Si Celana Kotak

Pengen kaya Spongebob,

Ketika orang-orang di sekitarnya tidak tersedia/bersedia utk berinteraksi dengannya, dia mengerahkan seluruh cara supaya punya teman. Mulai dari berusaha mengajak berbicara sebuah ranting pohon, menyapa sekumpulan batu di tepi pantai, hingga akhirnya berhasil menciptakan Gelembung Sahabat. Dan Spongebob tidak mau menyia-nyiakan sahabat barunya tersebut. Spongebob totalitas dalam memperlakukan si Gelembung selayaknya sahabat sebenar-benarnya, mulai dari memesan burger tanpa keju (Sahabat Gelembung mengalami intoleransi laktosa, sebuah kondisi dimana dia tidak dapat mencerna dengan baik protein susu dan turunannya, jika dipaksakan akan membuat kondisi perut tidak nyaman), burger tanpa pinggiran roti yang keras (karena Sahabat Gelembung tidak menyukainya), mengajaknya berkenalan dan menyapa hampir seluruh penghuni Bikini Bottom, hingga menemani Sahabat Gelembung menghabiskan 45 menit untuk sebuah pengalaman menggunakan toilet umum untuk pertama kalinya. Hal yang terakhir ini tentu saja bukan tanpa risiko, Spongebob berulangkali harus “mengkondisikan” orang-orang yang juga hendak menggunakan toilet umum, dan ini membuat antrian panjang yang secara hiperbola digambarkan sampai-sampai ada penjual pop-corn berkeliling menawarkan dagangannya kepada para pengantri toilet umum.

Pengen kaya Patrick,

Abis dapet trophy “menganggur terlama” dia langsung balik badan ke rumah, ketika ditanya alasannya mengapa, dia bilang mo mempertahankan prestasinya, ya, prestasi “Menganggur Terlama”.
Patrick sedang mempraktikkan (dan mungkin membuktikan) bahwa mempertahankan sesuatu (dalam hal ini prestasi) justru lebih susah daripada meraih hal tersebut. Semoga berhasil ya, Patrick! Aku sih optimis kamu bakalan bisa mempertahankannya 🙂

Pengen kaya Mr. Crab,

Bahwa dia dalam berinteraksi dengan siapapun harus mendatangkan “keuntungan” baginya, dalam cerita ini keuntungan tersebut berbentuk kepingan uang logam dan lembaran dolar. Dalam kehidupan sehari-hari berinteraksi dengan orang lain seharusnya membawa keuntungan/dampak positif bagi diri sendiri. Meskipun pada akhirnya dipertemukan dengan hal-hal yang kurang baik (menurutku), setidaknya aku “diuntungkan” dengan mengambil hikmah : aku ga boleh seperti itu!
Pun tengoklah Mr. Crab yang tidak pernah puas dalam mengumpulkan pundi-pundinya, kita juga ga boleh kalah dong! Jangan pernah merasa “selesai” mengumpulkan pundi-pundi kebajikan (Ika versi protagonis Majalah Hidayah)

Bagaimana dengan Squidward?
AKU BANGET!!!
Bisanya cuma protes, ngomel-ngomel ga jelas, nutup diri dari lingkungan luar, hahahaha..

~ efek tadi pagi nemenin anak-anak nonton Spongebob ~

9S4QWSR0_400x400.jpg

gambar dicomot dari akun Twitter resmi Spongebob

Memori dan Mati

Tamu bulanan datang, seperti biasa hari-hari pertama terasa sangatlah sulit.

Baluran minyak kayu putih dan butiran Cataflam membantuku melaluinya.

Singkat cerita, ketika sedang asik menghirup uap minyak kayu putih, sekelebatan memori tentang Alm. Ibu dan Bapak melintas di benakku.

Ya, hanya sekelebat, secuil dari potongan memori yang (mungkin) mampu terekam di otakku.

Terekam suasana Ibu sedang terbaring di tempat tidur kayu dengan kasur tipis, semburat aroma minyak kayu putih tercium, sementara di hulu tempat tidur terdapat segelas besar teh manis, sebungkus roti tawar (saat itu roti tawar adalah hal yang sangat mewah bagi kami), dan sebotol madu. Di sisi kiri pembaringan tersebut, sebuah kursi diletakkan di sana. Bapak sesekali duduk di sana dan menanyakan kondisi Ibu, dan barangkali menanyakan apakah Ibu butuh diambilkan sesuatu. Saat itulah aku (yang entah umur berapa) menyerocos bahwa aku ingin makan roti tawar dengan olesan madu di atasnya. Bapak dengan cekatan langsung menyiapkannya dan kemudian mengangsurkannya kepadaku, setelah sebelumnya aku merengek meminta sesendok madu untuk aku icip-icip. Aku? Tentu saja menerimanya dengan senang hati, tawa tengil, tanpa mempedulikan bahwa Ibu sedang terkapar kesakitan dan Bapak sedang menahan tangis melihat kondisi Ibu yang tak kunjung sembuh.

Sungguhlah ini sebuah kenangan manis bagiku yang masih kecil, bisa puas menikmati roti tawar mahal dengan olesan madu yang sangat jarang sekali bisa kunikmati. Tapi jika mengingat hal itu saat ini, aku sangat ingin mengutuk diri sendiri yang tak punya hati kala itu 😦

Maafkan aku, Ibu! Maafkan anakmu yang tak pandai menjaga sikap 😦

IMG01382-20130704-1245
satu-satunya foto Ibu yang aku punya

Kedua, suasana rumah semi permanen kami yang ramai dikunjungi orang yang hendak menjenguk Bapak pasca kecelakaan motor beberapa tahun setelah meninggalnya Ibu (ya, Ibu akhirnya menyerah pada sakitnya setelah sekian tahun berjuang melawannya). Aku masih sangat mengingat kondisi kepala Bapak yang masih terbalut perban dengan sedikit noda iodin, Bapak mengalami gegar otak ringan (katanya) ketika tengah mengendarai motor Vespa-nya dan entah bagaimana roda depannya terlepas tiba-tiba. Oke, kembali ke situasi di atas. Kepala Bapak terbalut perban dan sedang duduk di sebuah kursi di teras rumah kami untuk menemui para tamu yang datang membesuk, karena rumah kami sangatlah mungil untuk bisa menampung mereka semua di dalam rumah. Aroma obat balur dari rumah sakit masih menguar kuat dalam jarak sekian puluh centimeter, tapi meskipun begitu aku yang sangat antusias karena sudah lama tak bertemu dengan Bapak tak menghiraukannya. Aku hanya ingin duduk berdekatan dengan Bapak. Bapak pun sepertinya menyadari hal itu, tanpa ragu beliau menyodorkan sekaleng besar biskuit oleh-oleh dari tamu. Sungguh biskuit itu sangatlah nikmat, saat ini pun aku masih bisa membayangkan rasa lezatnya. Dan masih kuingat jelas sunggingan senyum Bapak dengan gigi taringnya yang menurutku sangatlah menyenangkan untuk dilihat (dan entah kebetulan atau tidak, bentuk gigi taring ini kutemukan di susunan gigi Mahes). Bapak dirawat sekitar 5-7 hari nonstop di rumah sakit, sementara pengasuhanku berada di bawah pengawasan alm. kakek nenekku.

DSC_0063
Bapak dan Mahes

Bapak, Ibu, semoga kalian bahagia di sana.

Sungguh, mati dan memori adalah sebenar-benarnya misteri.

Hujan dan Kamu

Kamu seperti hujan..

Adalah sebuah keniscayaan bermain air hujan basah dan bermain api panas
Seperti halnya dirimu
adalah sebuah keniscayaan bahwa aku mencintaimu.

Kamu seperti hujan..

Hujan di tengah kemarau berkepanjangan
Yang dinanti kehadirannya oleh setiap orang
Untuk mengisi ceruk tanah yang makin merekah ditimpa panas berkepanjangan
Seperti halnya dirimu
Kehadiranmu selalu kunanti sepanjang waktu
Untuk mengisi ruang rindu yang semakin menghimpitku dan tak jarang membuatku tersedu

Kamu seperti hujan..

Hujan di musim pancaroba
Sebentar ia hadir dengan gerimis lembutnya dan tanpa dinyana tiba-tiba tergantikan oleh seringai sinar matahari
Seperti halnya dirimu
Kadang terasa hangat menggebu, pun di lain waktu dingin membisu

Kamu seperti hujan..

Hujan yang karenanya menimbulkan pelangi di ufuk sana
Seperti halnya dirimu
Yang karenamu membuat warna-warni di hatiku

Kamu seperti hujan..

Hujan yang airnya telah ditakdirkan oleh Tuhan untuk meresap ke gersangnya tanah dan mengalir deras menuju aliran sungai kemudian bermuara di laut untuk kembali menguap dan membentuk partikel-partikel awan
Seperti halnya dirimu
Kamu yang ditakdirkan oleh Tuhan untuk menjadi pendampingku, menemaniku melalui derasnya kehidupan, tempatku bermuara, dan kemudian jatuh cinta lagi kepadamu

Kamu seperti hujan..

Hujan yang tanpanya tak kan ada musim kemarau
Karena tidaklah musim kemarau berjuluk kemarau jika tak ada musim hujan sebagai pengimbangnya
Seperti halnya kamu
Kamulah yang menggenapiku hingga aku menjadi satu

Kamu seperti hujan..

Hujan yang karenanya para petani memuja Tuhan
Seperti halnya dirimu yang tanpa kasihmu aku hanyalah serpihan manusia bernyawa hanya raga tanpa jiwa

 

Bird, Shit, and Assholes

Watuk iso ditambani, nek watak digowo mati*

Kurang lebih macem itulah istilah di Jawa (sependek pengetahuan saya) terkait watak/kepribadian seseorang.

Iya, kita memang tidak akan pernah bisa mengubah watak orang lain.

Betul, tiap kepala punya isi yang berbeda.

Benar, bahwa tiap orang punya urusan masing-masing sampe ada istilah “mind your own business” saking gamaunya urusan kita dicampuri oleh orang lain.

Setuju! Hal-hal di atas ga akan menjadi masalah, sama sekali! Sayangnya hal itu hanya terjadi jika manusia menjalankan perannya sebagai mahluk pribadi.

Akan berbeda masalahnya jika hal itu dikaitkan dengan kedudukan manusia sebagai mahluk sosial, mahluk yang harus berhubungan dengan mahluk lainnya. Kalo udah kondisi kaya gitu kita gabisa lagi sok-sokan bilang “JANGAN IKUT CAMPUR!!!”

No!!! To be more specific kalo itu terkait dengan kehidupan sosial di kantor, lebih-lebih terkait masalah pekerjaan, entah kamu sebagai sesama rekan kerja, sebagai bawahan, atau bahkan atasan.

Ada banyak tipe manusia yang sungguhlah benar-benar menguji kesabaranku. Bayangin aja, kamu punya atasan yang prinsipnya “saya ga mo pusing” atau di lain waktu mengakomodasi permintaan pihak lain yang berujung pada “dikorbankannya” anak buahnya (bukan aku, karena aku akan menjadi alternatif terakhir para atasan ini untuk mengerjakan tugas-tugas dari outsider tersebut) dengan alasan “pusing saya, kasih aja lah apa yang dia mau”

WOEYYYY!!! Elu digaji gede untuk jadi atasan fungsinya ya buat mikir permasalahan-permasalahan ituuuu! Bukan malah sebaliknyaaaa!! Karena ga mo pusing trus diserahin ke anak buahnya suruh ngeberesin hal-hal yang seharusnya bukan jadi tanggungjawab elu! Tukeran kursi aja sini, sekalian tukeran THP, biar adil!

Belum lagi ketika sok iyes menghadiri rapat dan ga bawa stafnya dan ujung-ujungnya di rapat malah ngomong entah apaan, tapi yang pasti hal tersebut bakal “merugikan” kami. Giliran diprotes cuma bisa jawab “ya gimana, pusing saya ngadepin orang-orang itu” Kalo pusing mulu mending tes darah sama cek tensi, kali ada hipertensi sama kolesterol.

Siapa yang jadi korban? Temen-temenku yang di DNAnya emang sudah tertanam sifat super baik dikombinasikan dengan sifat TIDAK BISA BILANG TIDAK!

Itu baru atasan langsung ya, belum lagi ketika dihadapkan dengan rekan kerja yang pada akhirnya akan membuat kita menarik nafas panjang sambil ngelus dada dan bilang “hasembuh”. Tapi kalo rekan kerja ini sih sifatnya ga terlalu ngefek ya, karena kalo di tempatku masing-masing staf punya tanggung jawab pekerjaan sendiri, kalo ada yang ga ngerjain tanpa alasan yang kuat ya ga akan dibebankan ke staf lainnya. Kalopun sampe si atasan nyuruh ngerjain staf yg lain biasanya aku yang akan menjadi orang pertama yang ngomel-ngomel dan memprotes hal tersebut.

Hufft…

Again… Watak (orang lain) ga bisa diubah. Kita hanya bisa menerimanya dan memakluminya. Jika memang sudah menyentuh limit toleransi emosimu, tinggalkan saja, minimalkan kontak dengannya, atau alihkan perhatianmu ke hal yang lain. Karena rangorang dengan gangguan watak tersebut seringkali tidak menyadari bahwa hal itu mengganggu orang lain. 

* terjemahan : batuk bisa diobati, sedangkan watak dibawa mati
image source : flickr
image source : flickr

Aceh dan Ceritaku Tentangnya

Holaaaaaaaaaaa DuaRibuSembilanBelas!
Hai juga WordPress! 
Postingan terakhir tahun Februari 2018 dong, NYARIS setahun yang lalu, itupun cuma satu, huhuhuhu… maapin aye ya wepe..

Welll.. tudeiy aku mo cerita tentang pengalaman mengunjungi Aceh di akhir taun kemarin. Sebenernya sih hal ini bisa dikatakan tidak direncanakan, karena keputusan boyongan (aku dan 3 anakku) ke Aceh ini baru tercetus pada bulan November 2018, itupun disebabkan oleh menguarnya kemungkinan bahwa si Ayah bakal dilarang cuti di akhir tahun karena meningkatnya volume pekerjaan, sementara di sisi lain jatah cutiku masih banyak dan bertepatan dengan libur sekolah si Kakak 1 dan Kakak 2, jadilah agak nekat berburu tiket promo.

Terkait teknis pulang perginya pun sempat galau. Awalnya mamak mo sok iyes mampu berangkat sendiri nggandeng 2 anak usia 9 tahun dan 6 tahun trus gendong nak kicik usia 2,5 tahun, belum lagi barang bawaan 2 buah troli yang isinya kebanyakan baju anak-anak. Meskipun minggu-minggu sebelumnya si Ayah sudah nyicil bawain sih, tapi ya tetep aja yang namanya barang bawaan untuk 4 orang itu tetep aja banyak gitu yak. Akhirnya setelah dipertimbangkan dari A-Z, ples kemungkinan-kemungkinan seperti anak-anak rewel atau tiba-tiba ingin ke kamar kecil, diputuskanlah si Ayah ikutan anter jemput ke Banda Aceh.

Long story short, my kids were enjoying the flight meskipun berangkatnya kami pake acara transit di Medan sekitar setengah jam dan mamaknya harus berjibaku dengan aroma tak sedap dari salah seorang penumpang (sayangnya) yang ga sadar diri bahwa dia mengganggu indera penciuman orang lain 😦 Perjalanan lancar dan selama di Aceh kami berlima ngrunthel di kamar si Ayah di mess Gedung Keuangan Negara Banda Aceh.

Well… di Aceh sebenernya si bagus-bagus aja ya, palingan masalah utama kami yang berlidah jawa ini ya susah nyari makanan yang sesuai dengan selera kami. Ujung-ujungnya tiap pagi nongkrong di warung kopi yang dilengkapi dengan kedai nasi gurih, mamak bahagia dong, jelass! Gimana gak bahagia, bisa ngopi secara teratur setiap pagi, dibikinin pulak bukan bikin sendiri, hahahaha…

Ini bakalan panjang banget kalo harus cerita dari A-Z, jadi kurangkum aja jadi pro cons selama di sana yak!

PRO :

  1. Jalanannya mulusss dan pengguna jalan relatif sepi, sehingga mo kemana-mana mudah dan cepat, jauh berbeda dengan ibukota provinsi di Jawa yang sudah pasti macet kemana-mana. 
  2. Secara geografis mirip dengan kampung saya di Probolinggo sana, bahkan logat dan ciri khas penduduknya pun bisa dibilang mirip, meskipun bahasanya jauh berbeda hahaha.. 
  3. Obyek wisata banyaaak dan cenderung murah. Tiket masuk museum Tsunami dan museum Aceh hanya seharga Rp.3000 dan Rp.1000 per kepala. Pantainya banyak dan tidak dipungut biaya!!! Langitnya masih bersih, polusi udara minim, nyaman pokoknya. 
  4. Harga-harga panganan masih standar, statusnya sebagai ibukota provinsi tidak lantas menjadikan Banda Aceh sebagai kota yang biaya hidupnya tinggi. 

CONS :

  1. Kebersihan adalah sebagian dari iman hanya sekadar menjadi tulisan penghias di dinding belaka, karena pada praktiknya di sana sungguhlah jauh dari suasana menjaga kebersihan. Yang paling membuat saya sedih ketika mengunjungi Masjid Baiturrahman yang menjadi ikon Banda Aceh, di pelataran masjidnya dipenuhi oleh sampah bekas makanan yang berserakan, penjual makanan minuman dan mainan berseliweran, padahal sudah jelas-jelas dicantumkan bahwa pedagang dilarang masuk dan pengunjung dilarang makan minum di area masjid. Lagi-lagi hal tersebut hanya menjadi hiasan belaka, semoga ke depannya jauh lebih baik lagi.

  2. Lalu lintas kacau! Bahkan sampai-sampai ada istilah lampu merah dan lampu merah banget. Lampu merah itu jika lampu lalu lintas baru saja menyala merah, kendaraan masih BISA melaju menerobos lampu merah. Lampu merah banget jika kondisi sudah benar-benar tidak memungkinkan untuk menerobos lampu merah tersebut, biasanya karena dari arah lain sudah mulai jalan sehingga kecil kemungkinan untuk tetap memaksa menerobos kendaraan tersebut (kecuali punya nyawa cadangan yang cukup banyak). Belum lagi ditambah pengguna kendaraan roda dua yang seenaknya pindah jalur dalam kecepatan tinggi tanpa safety gear dan (tentu saja) menghiraukan kondisi lalu lintas sekitar. 
  3. Budaya antri masih rendah. Salah satunya saya temui ketika sedang mengantri membeli tiket masuk ke Museum Tsunami, siapa yang mau nyodok ke depan berarti dia yang bisa beli tiket duluan, dan selanjutnya…


Kesimpulannya gimana?

Sedih aja gitu ngeliat Banda Aceh yang diberi fasilitas Dana Otonomi Khusus tapi daerahnya masih begitu-begitu aja 😦

Semoga ke depannya Aceh makin berkembang dan bisa tumbuh selayaknya ibukota provinsi di pulau Jawa

This slideshow requires JavaScript.