Hal-hal yang Dibutuhkan Penderita Positif Covid19

Positip Covid19 karantina mandiri itu butuh :

Saldo Gopay
Ya tentu saja untuk pesan makanan, tentunya tetap dengan menerapkan protokol Kesehatan. Misalnya bisa pesen ke abangnya untuk digantungin di pintu depan, atau sediakan tempat khusus kemudian diberikan penanda untuk meletakkan di lokasi yang sudah ditandai. Pastikan si lokasi ini aman dari jangkauan hewan yang sekiranya akan merusak makanan ya. Nah sebelum itu makanan dieksekusi, cuci tangan dulu sesaat setelah ngambil paket makanannya, pake sabun yak! Terus siapin piring/mangkok untuk wadahnya. Tuang makanan ke wadah, kemudian buang plastik dan kemasannya ke tempat sampah, trus cuci tangan lagi pake sabun. Ingat!!! Gunakan piring sendiri, jangan langsung dimakan di kemasan makanannya yak, mengantisipasi ada si covid19 nempel di kemasannya.

Layanan Laundry
Pastinjaaaaaa…
Di sini kita ngomongin laundry yang sudah mengetahui tata laksana pencucian bagi penderita covid19. Bayar ekstra gapapa, demi kemaslahatan bersama. Bakalan butuh sabun lebih banyak karena itu baju harus direndem dulu di air sabun, kalo bisa pake air panas juga, setelah itu baru deh digiling di mesin cuci, kucurin sabun lagi, trus dijemur deh. Ingat!!! Nyucinya harus terpisah lho ya!!! Jangan disatuin sama non-penderita Covid19.

Paket Data Internet
Iyak betul, untuk menghilangkan kejenuhan dalam masa karantina, kelen bisa menggunakan alternatif layanan seperti Youtube atau sosmed lainnya. Sedikit saran dari newbie : usahakan sudah terlebih dahulu “mute” kata-kata yang berhubungan dengan Covid19. Jangan malah mantengin beritanya terus, yang ada malah stress sendiri trus overthinking trus jadi tydac happy. Ngikutin perkembangan boleh banget, tapi ya jangan lantas terobsesi gitu. Too many information will kill you!!!

Zen Mode
“Kok bisa kena sih?”
“Kena dimana?”
Wahai kelen! Percayalah! Kami pun tak tau jawabannya!!! Terlebih ketika sudah merasa melaksanakan prokes dengan baik tapi tetep divonis cem itu.
Yaiya sih mungkin itu bentuk kepedulian dan perhatian kelen ke kami, tapi tapi tapi otak kami tu udah penuh dengan bayangan overthinking unfaedah macem what if nanti harus ke RS, trus intubasi trus bla bla bla…Jadi ya wajar-wajar aja jika akhirnya kami milih mengurung diri sebenar-benarnya hahaha..

Vitamin dan Asupan Makanan Bernutrisi
Welllll… bayangin aja dalam sehari minum 4 vitamin yang berbeda : zinc, vit C, vit B, vit E (tentunya atas saran dokter yaaaa). Demi menghindari bentrok antarvitamin, jadilah itu harus dikasi jarak minimal 1 jam lah yaaaa antara 1 dengan lainnya. Udah gitu juga makin dibanyakin makan buah, buah apapun, selain demi asupan nutrisinya, juga untuk mencegah susah be a be yang kemungkinan besar disebabkan oleh konsumsi vitamin warna warni tadi.

Duit/money/doku/pesse
WOYAJELASSS!!!
Itung aja sekali tes swab berapa lembar duit pak Karno tuh, minimal 15 lembar lah ya. Kalo mo cepet hasilnya malah sampe 20lembar. Itu untuk sekali swab. Once you got positif Covid19 meaning sesudah itu harus melakukan swab test minimal 2x lagi. Yang pertama untuk tau apakah masih positif/negative. Jika negative maka harus swab lagi utk memastikan bahwa ga ada reinfeksi. Kalo masih positif??? Ya ulangi aja lagi dari awal, tetap karantina mandiri lagi :)))))

Tempat Sampah
Butuuuh banget tempat ngobrol untuk numpahin semua rasa yang bikin kepala mo meledak!!! Dukungan dari pasangan sangat memegang peranan penting. Ya kalo kelen sendirian yaaaa hahahaha.. stress sendiri emang :))))) Tenang, kelen tak sendiri. Aku pun. Kita sama. Sekiranya kelen punya orang yang kelen nyaman ngobrolnya ya udah ngobrol aja, tumpahin semua, anggep aja mereka tempat sampah (in a good way of course) untuk ngebuang seluruh tekanan di kepala. Kalo ga punya temen ya cem aku aja, nyanyi-nyanyi gajelas, tenggelam di lautan buku (hiperbola ya ini tolong), trus kalo lagi kumat kadang suka deactive akun sosmed hahaha.

Akhir kata… yaaaa tetaplah bertahan, I know it’s super hard, but you have to deal with it. A wise person says “Good things come to those who wait”

Jadi ya (seharusnya) tenang aja karena ini semua akan berlalu, tetap harus berupaya untuk sehat, disiplin melaksanakan prokes, dan benar-benar letting go atas semua-muanya, karena semakin kamu denial akan semakin berat beban pikirannya.

See you!

On My Own

when you don’t have anybody to talk to

when you have to keep it by yourself

because it’s the only choice left

you have to deal with the pressure inside your head

you have to live with it

whether you like it or not

you are fucking doomed

in the other side you have to fake your smile and pretend that everything’s fine

once you let your guard down, things will be scattered into the smallest pieces and you will lose it

the choice is yours

BTS : Opor Ayam

Well, demi berperan serta dalam melandaikan kurva penyebaran Covid19, selain juga dikarenakan ada larangan mudik bagi para ASN, ostomastis kami sekeluarga tidak pulang kampung pada lebaran kali ini.

Sedih? Jelaaaas… Aku sudah cirambay dari awal puasa kemaren, membayangkan hal-hal yang sudah pasti akan dilewatkan dan pastinya akan dirindukan huhuhu..

Balik ke opor ayam yes.

Bermula dari sebuah paket cinta yang dikirimkan oleh Uti (baca : IbuMertua) yang berisikan abon sapi, bawang goreng, dan kerupuk kulit. Tiga hal yang jadi ciri khas kalo lebaran di rumah Uti, H-1 Idul Fitri, Uti akan mempersiapkan menu berupa opor ayam dan “jangan lombok”. Sumpah itu menu masakan yang super ngangenin banget. Aku yang notabene “orang luar” di rumah itu rela makan menu tersebut lebih dari dua hari. DISCLAIMER!!! Seorang ika adalah seseorang yang picky eater yang hanya mampu bertahan makan menu masakan yang sama maksimal DUA KALI BERTURUT-TURUT. Sehingga, jika bisa makan menu masakan selama DUA HARI BERTURUT-TURUT, maka bisa dibayangkan rasa masakan tersebut pasti luarrrr biasa.

Oke, balik lagi ke opor ayam!

Hubungan antara opor ayam dengan paket cinta tadi apa? Nah biasanya di opor ayam masakan Uti ini diberi taburan bawang goreng dan seledri. Iya, SELEDRI! Sesuatu yang out of the box but surprisingly itu bikin makin lezat karena jatohnya jadi seger gitu, jadinya mau makan lagi lagi dan lagi.

Akhirnya aku berencana ingin menduplikasi masakan tersebut. Menduplikasi dalam artian niruin plek ketiplek seperti yang biasa dibikin oleh Uti. Biasanya selama ini resepnya modal googling dan ayamnya pake ayam negeri, maka kali ini aku khususin nanya resepnya ke Uti. Dan ternyata benar, ada 2 jenis bumbu yang ga dipake oleh Uti tapi dipake oleh aku berdasarkan hasil googling tadi. Pantesan kok rasanya ga pernah bisa mirip hahahaha..

Resep sudah di tangan, dilanjutkan dengan bergerilya mencari ayam kampung. PR banget ini mengingat di tempatku tinggal udah jarang ada yang memelihara ayam. Pesen ke tukang sayur langganan katanya juga belum ada, ada pun ayam pejantan, bukan ayam kampung asli. Ya sudah lah ya, akhirnya minta tolong ke Bang Otoy, dia adalah orang yg sering kumintain tolong dalam hal apapun, mulai dari nguras tandon air, nebang pohon, benerin genteng bocor, sampe anter jemput anak-anak ke sekolah. Nah kebetulan si Bang Otoy ini juga hobi pelihara ayam dan bebek, jadilah aku pesan ke dia ayam jago yang passss banget tinggal 1 ekor.

Sehubungan dengan kemampuanku yang nol dalam hal potong memotong ayam, akhirnya keseluruhan proses mengayam kuserahkan ke Bang Otoy, mulai dari menyembelih hingga memotong dagingnya menjadi beberapa bagian.

Nahhh.. udah terkumpul semuanya, saatnya eksekusi.

Sebelumnya, para potongan ayam direbus terlebih dahulu oleh PakSuami supaya lebih empuk, karena karakter daging ayam kampung yang cenderung lebih alot dibanding ayam negeri. Pada saat proses perebusan ini aku ga turun tangan sama sekali karena bertepatan dengan pelaksanaan zoom meeting, jadi sepenuhnya kuasa ada di tangan PakSuami.

Kelar zoom meeting, kusambangi itu rebusan ayam kampung, kutambahin daun salam, daun jeruk, sekerat jahe geprek, dan sedikit garam untuk meminimalisir aroma “ayam” yang aku sendiri ga terlalu suka.

Lanjuuuut… sambil nungguin ayamnya direbus, aku mulai membuat bumbu-bumbunya persis sesuai dengan resep yang kuterima dari Uti. Bumbu beres, ayam beres, maka dimulailah proses masak memasaknya.

Oya, yang berbeda hanya 1, santan, aku tetap pakai santan instan karena faktor M, Malas hahaha..

Demikianlah sekelumit cerita tentang proses dibuatnya opor ayam yang kali ini melibatkan minimal 4 orang dalam pembuatannya :

Uti, pengirim paket cinta dan pemilik resep keluarga
Bang Otoy, penyedia ayam kampung
PakSuami, perebus ayam
Istri PakSuami, yang bikin bumbu dan kemudian nekat memasaknya.

Selamat menjelang lebaran! Selamat berbahagia! ^_^

Ambyarnya Luka Hati

Luka hati itu seperti halnya luka akibat tersayat pisau yang baru diasah.

Lukanya dalam dan menyakitkan.

Meskipun sudah berkali-kali dibilas dengan air mengalir, darah tetap saja keluar dari sayatannya. Segala teknik kompresi sudah digunakan demi mencegah keluarnya darah lebih banyak, namun hal itu tak terlalu berpengaruh, darah tetap mengalir.

Akhirnya segala keangkuhan itu runtuh, diobatilah si luka. Jangan tanya rasanya, perihhhh!

Celakanya, tiap kali si luka terkena air atau tak sengaja tersentuh, rasa sakit kembali menyayat. Sementara aktivitas mencuci piring, memasak, mandi dan segala macam yang melibatkan air dan sabun harus tetap berjalan seperti biasa. Mencuci piring, luka terbuka lagi, perih lagi, diobati lagi. Mandi, luka perih terkena sabun, terbuka lagi, diobati lagi, perih lagi. Memasak, menyentuh pinggiran aluminium, sakit lagi, terbuka lagi, diobati lagi, perih lagi.

Tiap kali darah mengucur, tiap kali si iodine turun tangan.

Begitu terus berulang-ulang.

Hingga akhirnya si luka menyerah dan menyiut dengan sendirinya.

Seperti halnya luka hati. Awalnya memang terasa sangat menyakitkan, namun seiring dengan berjalannya waktu, tempaan pelajaran kehidupan, dan pencerahan yang seringnya ditemui secara tak sengaja, akan membuat kita terbiasa terluka, terbiasa menerima luka, dan akhirnya berdamai dengan luka.

Luka hati seperti halnya karet rambut.

Ketika masih baru-barunya, si karet ini akan mengikat rambut dengan kencang, cenderung menyakitkan malah. Dia tidak peduli seringai kesakitan yang tergambar di wajah manusia tiap kali menggunakannya. Toh hal itu dikehendaki secara sadar oleh manusianya sendiri. Lagipula jika memang manusianya tidak nyaman, seharusnya mereka tidak menggunakan si karet rambut. Biarkan saja rambutnya tergerai berantakan. “Manusia harus menyadari konsekuensi atas tiap perbuatannya” seru si karet rambut tiap kali ditanya atas tindakan apatisnya tersebut.

Seiring dengan berjalannya waktu, si karet rambut mulai mengendor, tingkat elastisnya menurun drastis. Yang terjadi selanjutnya adalah jumlah lilitan yang semakin ditambah untuk memberikan kompensasi atas menurunnya kemampuannya dalam mengikat. Akhirnya si manusia bisa mengikat rambutnya tanpa harus merasakan sakit lagi. Yaaa meskipun di sisi lain dia jelas sudah kehilangan kemampuan si ikat rambut, ditambah lagi dia juga harus melakukan usaha lebih tiap kali harus mengikat rambutnya.

Luka hati pun begitu. Sakit banget, namun hal itu tetap harus dijalani karena memang itu satu-satunya cara untuk bisa melaluinya. Sakit fisik yang tak segera sembuh, mental yang seringkali terpuruk, tidur yang terganggu mimpi buruk, makan minum sekenanya. Ada banyak penyesuaian yang mau tidak mau harus dilakukan demi memperoleh jalan tengah atas kondisi yang sangat melelahkan ini. Penyesuaiannya apa saja? Hanya si manusia yang tau “lilitan”nya harus berapa banyak demi mencapai kondisi yang nyaman.

*Tulisan ini dibuat karena hari ini merupakan hari keempat luka sayatku belum juga sembuh, padahal sudah diobati setiap hari, masih saja terasa sakit.

Pak, Buk, kangen..

Pak, Buk, kangen..

Bapak Ibuk gak kangen Ica tah?

Waitttt.. Ica mo ngomong ke Ibuk dulu yak, soale Ibuk yg paling lama ninggalin Ica.

Buk, Ica berhasil hidup lebih lama dari Ibuk. Entah ini sesuatu yang positif atau negatif. Ica dah mau 35tahun, sementara Ibuk meninggal (katanya) di usia 25tahun, berarti Ica dah kelebihan 10tahun dari jatah umur Ibuk.

Buk, Ica bisa ngelewatin mens pertama Ica dengan yaaaa… begitulah. Ga ada yg ngajarin Ica harus gimana, pasang pembalut pun Ica nanya ke temen Ica yg udah duluan mens.

Buk, Ica gatau caranya bisa sabar seperti Ibuk, ga ada yg ngajarin soale. Bapak sibuk berduka setelah Ibuk pergi ninggalin kami.

Buk, setelah Ibuk pergi, Ica dirawat Mbok. Ibuk pasti liat dari atas kan gimana Mbok berusaha semaksimal mungkin ngasuh Ica?!

Buk, Ica akhirnya menikah. Ga ada yg ngajarin Ica masak, ga ada yg ngajarin cara ngurus rumah, ga ada yg ngajarin gimana cara berinteraksi dg mertua.

Buk, Ica udah punya 3 orang anak setelah sebelumnya sempat keguguran 2x, jadi total Ica udah hamil 5x. Ga ada yg ngasitau hamil itu seperti apa rasanya, melahirkan akan seperti apa sakitnya, perjuangan mengasuh anak akan seperti apa beratnya.

Ica masih inget lho (meskipun samar-samar) sebelum tidur Ibuk biasa cuci muka, nah kan dingin tuh yak, jadinya Ica ndusel-ndusel gitu ke Ibuk biar dapet dinginnya juga hahaha..

Trus Ibuk galaaak! T_T Ica diharusin tidur siang, padahal lagi enak-enaknya maen sama Mbak Tim. Tidurnya di lantai tanah rumah kita, dialasin tikar, setelah sebelumnya Ibuk siram lantainya supaya lebih dingin, soalnya rumah kita kan beratap seng yak, jadinya panasss kalo siang.

Oiyaaa… Bapak dulu tuh sering cerita kalo sayur kacang ijo bikinan Ibuk tuh terenaaaak! Ga ada yang nandingin!!! Jadi penasaran rasanya seperti apa yak?!

Buk, tau gak, tiap kali Ica dibaringkan di atas brankar menuju ruang operasi, Ica cuma kebayang bekas jahitan vertikal di perut Ibuk.
Ibuk dulu keren yak! Kuat banget ngadepin sakit kaya gitu sendirian! Meskipun akhirnya Ibuk terpaksa menyerah, tapi Ibuk dah nunjukin bahwa Ibuk dah berusaha maksimal berjuang melawan penyakit itu!

Buk, dulu Ica sering dibully karena tiap ke sekolah ga pernah rapi, rambut acak-acakan, diolok-olok karena Ica ga punya Ibuk.

Buk, ketika ada pentas seni, Ica ga pernah ikut dan ga pernah diikutkan, karena ga ada yg ngurusin Ica, jadinya Bapak ambil jalan aman.

Buk, Ica kangen..

Bapak..

Pak, sejak Bapak pergi, ga ada yg telpon Ica tiap hari sekadar nanyain kabar Mahes dan Risha, padahal Ica tau itu Bapak sebenernya juga pengen denger kabar Ica kan?

Pak, Mahes sekarang dah kelas 5, bentar lagi dah mo SMP. Risha udah kelas 2 SD, terakhir Bapak ketemu Risha itu waktu masih 2tahun ya Pak? Nah yang terakhir namanya Kiran, sayangnya Bapak ga pernah sempat ketemu Kiran. Dia bawel banget, Pak! Tapi tenang aja, Ica selalu nunjukin foto Bapak ke Kiran kok, supaya dia tau kalo dia punya Kai yang super sayang sama anak cucunya.

Pak, terima kasih sudah bersusah payah masak nasi dan goreng tempe buat kita makan berdua dan berusaha nyisirin rambut Ica tiap pagi sebelum berangkat sekolah.

Pak, masih inget gak dulu pas kelas 3-4 SD Ica ngerengek minta dibeliin ayam KFC di gerai yg baru dibuka di deket SD waktu itu? Ga diturutin karena itu mahaaaal banget!
Sekarang Ica dah bisa beli sendiri!!!!
Dan Bapak bener, lebih enak ayam goreng bikinan Budhe hahaha…

Pak, makasih dah mau menjawab dan mengantarkan Ica beli pembalut ketika Ica mens pertama kali. Makasiiiih banget! Pasti saat itu Bapak merasa awkward, maaf ya, Pak!

Pak, makasih dah berjuang utk nyembuhin Ibuk, sampe semuamuanya dijual utk biaya berobat, Bapak ga boleh sedih, Bapak dah berusaha maksimal kok, tapi Tuhan lebih sayang ke Ibuk, kan Bapak sendiri yg cerita kalo Ibuk itu orangnya baiiiiik banget! Makanya Tuhan sayang banget sama Ibuk, Tuhan gamau Ibuk sakitnya kelamaan, jadinya dipanggil duluan deh ke atas.

Pak, sebenernya Ica pengen nyalahin Bapak, knapa Bapak malah nyuruh Ica kuliah di STAN, alih-alih ngelanjutin Akbid di Jember yang waktu itu udah masuk masa orientasi. Kalo Ica ga di STAN, Ica masih akan ada di dekat Bapak, Ica bakal bisa jagain dan ngerawat Bapak ketika Bapak sakit parah kemarin!

Pak, Ica kangen makan tahu campur di pasar bareng Bapak.
Bapak yg ngajarin utk ga usah nawar ke pedagang kecil.
Bapak yg ngajarin utk selalu ramah ke siapapun yg kita temui.
Bapak yg ngajarin utk ga segan menyisihkan lembaran rupiah utk diberikan kepada mereka yg membutuhkan.

Bapak yg selalu nyediain rokok di rumah utk tamu yg dateng, pdhl Bapak sendiri ga pernah ngerokok! Dan malesnya adalah Ica yg sering ketiban pulung buat beli rokok di warung sebelah, hadeeeh..

Sampai saat ini Bapak satu-satunya orang yg pasti memberikan yg terbaik kepada siapapun! Sebel sih karena yg di rumah selalu dapet sisa, tapi ya Bapak emang orangnya sebaik itu.

Pak, makasih dah ngajarin Ica supaya suka membaca. Hal itu sangat berguna sekarang. Ica kalo lagi sedih larinya ke buku, menenggelamkan diri ke alam fiksi. Ica masih inget dulu Bapak beliin seri Kisah 25 Nabi, Bapak wanti-wanti supaya dibaca sehari 1 buku biar awet, tapi ternyata 3hari dah selesai semuanya dibaca hahaha.. 

Pak, makasih udah menyimpan dan menjaga KTP Ibuk selama nyaris 30tahun, hal itu sudah lebih dari cukup utk tahu bahwa Bapak ga pernah lupa sama Ibuk.

Pak, Ica juga punya maag sama kaya Bapak! Toss dulu lah kitaaa.. hahahaha..

Pak, makasih dah berjuang melawan kanker itu selama lebih dari 1 tahun, Bapak hebat! Meskipun awalnya berusaha Bapak tutupi dg bilang kalo itu hanya tumor biasa, tapi ternyata si kanker jahat itu udah berkembang terlalu cepat sehingga Bapak pun kewalahan ngadepinnya, jadinya ngaku deh kalo itu ternyata kanker.

Pak, terima kasih atas pemaklumannya ketika Ica ga bisa mendampingi operasi Bapak, saat itu Ica ga punya cuti, Pak. Mau cuti alasan penting pun ga bisa, Bapak tau pasti penyebabnya.

Pun Bapak masih berusaha terlihat kuat di 2minggu terakhir perjumpaan kita, yg sampai saat ini Ica sesali, seharusnya Ica ga perlu balik ke jakarta, seharusnya Ica di surabaya aja nungguin Bapak.

Pak, masjid yg Bapak bidani dulu udah bagus banget sekarang, semoga amal jariyahnya mengalir ke Bapak.

Pak, maaf, sampe detik ini Ica belum bisa menjadi anak yg bisa dibanggakan.

Pak, selamat berbahagia di sana bersama Ibuk.

Pak, Buk, Ica kangen..
Datanglah sesekali meskipun itu hanya lewat mimpi.

Sebuah Janji Non Fiksi

A kepada B, hari H-1
A : besok ke X yok!
B : oke
A : mm.. gajadi deh, tiba-tiba ga mood

A kepada C, hari H
A : besok ke X yok!
C : oke
A : sippp

Apakah B baik-baik saja?
Semoga!
Yang pasti B menyadari bhw dia hanya Upik Abu yg selalu dipandang sebelah mata.

Mungkin A tidak menyadari bahwa tindakannya membuat B merasa tersakiti.
Seharusnya B yang sadar diri bahwa dia bukanlah C atau D atau E~Z yang layak untuk diperlakukan bak tuan putri.

Di kemudian hari, banyak suara sumbang bahwa tak sepantasnya B bersikap seperti itu. Atau jangan-jangan itu hanya suara di kepala B yang berusaha membangun dinding pertahanan semu.

Untuk menjaga apa yang selama ini disebut oleh B sebagai gengsi, menyerupai harga diri, yang sebenarnya tanpa disadari sudah jatuh berkalang tanah di semak berduri.

Wahai..
Tak jarang di balik setiap tawa ada hati yang terluka.
Tak sedikit di setiap sikap angkuh tersembunyi jiwa yang rapuh

Wahai..
Jika suatu saat kau menemukannya berbeda, mungkin saat itu dia sudah menyerah kepada semesta.

Ternyata dia tak sekuat yg dia kira.

Ternyata kesendirian benar-benar menghakiminya.

Ternyata ke-tak acuh-an membunuh jiwanya.

Si Perkasa, Si Nomer Dua

Seharusnya bulan ini jatah bundanya konsul ke dokter SPKK, setelah sekian purnama dilewati dengan alasan efisiensi anggaran demi membayar cicilan pesawat terbang yang tak kunjung usai.

Apa daya, ada yang lebih darurat ternyata. Gigi si nomer dua yang dulu berlubang dan sudah ditambal, lepas tambalannya, dan yang lebih gawatnya ternyata juga ada infeksi berupa abses di gusi yang lagi-lagi tak terduga karena si nomer dua ini tak pernah mengeluh sakit sebelumnya.

Seperti biasa, dokter giginya mengagumi ambang batas sakitnya yang luar biasa.

Si nomer dua tetap kokoh tak tergoyahkan duduk di kursi periksa bak pesakitan yang terpaksa menjadi perkasa.

Gusi diinsisi, darah mengalir begitu derasnya. Gusi kempis seketika, menyisakan “mata” yang sungguhlah mungilnya yang membuatku tak menyangka akan menyebabkan abses sebegitu besarnya.

Dokter lagi-lagi bertanya apakah tindakannya menyebabkan rasa sakit di raga si nomer dua, dan dia hanya menggelengkan kepalanya.

Tindakan usai, si nomer dua mengulum kapas yang berguna untuk menghentikan darah yang kadang masih merembes di sela luka.

Sesekali kutanya, apakah sakit? Dia lagi-lagi menggelengkan kepala.

Sesampai di rumah, kuminta dia meminum obat dari dokter, mengernyit wajahnya, ketika kutanya, pahit katanya.

Menjelang tidur, seperti biasa dia memanggilku untuk sekadar memberikan belai di kepala. Sesaat mataku kabur berbayang, setitik air bening mengambang di sana, berbangga melihat perjuangan si nomer dua menahan sakit yg mendera.

Si nomer dua, Parisha Taqiyya Salsabila.

IMG-20190921-WA0022

RS Mitra Keluarga Bintaro, Yay or Nay?

Rumah sakit yang baru beroperasi sekitar Agustus 2019 kemarin (koreksi jika gw salah). Terletak di seberang Bintaro Plaza, jadi kalo abis periksa di sini bisa langsung mlipir buat ngopi-ngopi santay di starbak BP, sebutan keren untuk Bintaro Plaza.

Awal mula pengen ke sini sih karena gw ingin periksa ke dokter ginekolog karena yaaaaa emang udah lama sih ga periksa “daleman” selepas si Kirun lahir, yang mana itu sudah 3 tahun yang lalu huahahahaha.. Eh wait, dulu pernah ding ke DSPOG karena letak IUD bermasalah, berarti dikoreksi jadi sekitar 2 tahunan absen periksa ke DSPOG.

Sebenernya sih gw tujuan awalnya ke klinik bersalin langganan tempat gw periksa kehamilan, yaitu di BWCC yang ada di Bintaro Sektor IX sana, tapi oleh tetangga depan rumah yang baru saja melahirkan di RS Mitra Keluarga Bintaro ini, diiming-imingi dengan “fasilitas masih baru dan tidak perlu antre”, hal terakhir yang tidak ditemukan di BWCC karena di sana pasti antre saking favoritnya si klinik ini.

Setelah memastikan bahwa di sana biayanya ga beda jauh dengan BWCC (mamak-mamak pelit) jadilah gw mendaftar ke RS Mitra Keluarga Bintaro ini, kebetulan ada DSPOG superkece gw yang juga praktik di sana yaitu dr. Agriana Puspitasari.

Setelah pendaftaran via telepon beres, ketika sudah tiba di RS, gw diminta langsung mendaftar ulang di lantai 2. Oke meluncurlah gw ke sana. Berhubung gw naik motor maka gw harus parkir di Basement 1, untuk spot parkir motor sendiri menurut gw lumayan sempit, tapi ya lumayan lah karena RSnya masih baru otomatis masih sepi pengunjung, semacem bless in disguise gitu, hahahaha…

Parkir motor selesai, gw langsung nangkring di lift, sempet bingung karena ada tanda kursi roda, khawatirnya itu lift untuk pasien, tapi ya sebodo teuing lah ya, gw nekat naik pake lift tersebut. Lah ya gimana, ga ada security atau petugas apapun nangkring di basement, masa gw harus nanya ke mas-mas penjaga kantin di sebelahnya? Atau pilihan yang lebih ga enak lagi : masa gw harus naek ke permukaan (baca: lobby) via lajur parkir tadi?? Ra yo rekoso banget!

Oke lanjut! Sampailah gw di lantai 2, lagi-lagi ga ada petugas apapun di sana, ketika pintu lift terbuka gw hanya menemui stand penjual makanan. Celingak-celinguk akhirnya gw mendapati loket pendaftaran. Di sana hanya ada 2 orang yang bertugas dan 3 orang pasien (?) yang duduk di kursi tunggu. Sebagai orang yang baru banget ke sana (dan ga ada petugas apapun yang nampak selain mereka berdua) nyamper deh gw ke loket dan nanyain gimana cara registrasinya, and you know what??? Aing diucekin, shaaaaaaayyy!!! Udah gitu wajah petugasnya flat mengarah ke jutek yawlaaaa… padahal gw dah pasang senyum simetris sejak di dalam lift tadi T_T

Akhirnya gimana? Setelah krik-krik sekian menit, awkward situation mengalami tanya yang tak terjawab dengan senyum yang bikin gigi jadi kering (literally) salah satu dari petugas kaya tersadarkan gitu kalo ada gw mematung di depan mereka menunggu jawaban. Gw diarahin ke mesin antrian, setelah sebelumnya harus mengisi form registrasi pasien baru yang tersedia di sebelah monitor mesin antrian tersebut.

Setelah dapet nomor antrian, gw balik lagi ke loket registrasi, nunggu lama sampe nomer gw dipanggil (padahal posisi ga ada yg antri selain gw sebijik T_T) setelah di meja loket gw diminta nyerahin KTP utk konfirmasi data, setelah itu disuruh nunggu lagi, krik..krik.. Terus gw dipanggil lagi, baru deh diarahin ke petugas utk mengukur tensi meter dan berat badan.

Oiya, sebelum gw lupa, ketika mencet registrasi di mesin antrian tadi, pasien juga diminta untuk mengisi mo daftar ke poli apa dengan dokter siapa, udah ada nama-nama dokternya gitu, jadi di kertas antrian udah tercantum nama poli sekaligus dokternya.

Oke lanjut! Nyampe di petugas tensi juga jutek lhoooo.. sedih gw! T_T Untung aja gapake lama, cuma diukur tensi, berat badan, dan ditanya keluhan, trus dicatat di lembar konsul yang didapat dari loket pendaftaran tadi.

Dan lanjut dg gw ngantri di depan poli obstetri dan ginekologi, persis di depan pintu yang ada namanya dr. Agri. Baru aja duduk sekian menit, ada perawat nyamper, katanya dr. Agri lagi ada visit di atas, baru bisa konsul pukul 13.00 (waktu gw antri itu pukul 11.00) yaudah gw balik kanan, cari makan dulu, itung-itung biar ga ngentang kelamaan nunggu di sana. Pukul 12.30 gw udah ditelpon sama RS, katanya dokter udah ready, oke, gw balik. Nyampe di sana cuma nunggu sedikit menit doang, trus nama gw dipanggil. Dan seperti biasa dengan dr. Agri udah kaya cerita sama temen deket gitu, tumpah2in aja semua sampe ketawa-ketiwi, emang oke punya ni dokter, highly recommended!

Selesai periksa, gw disuruh baik ke loket pendaftaran setelah sebelumnya ambil nomer antrian utk “bayar dengan obat” (maksudnya bayar kalo lu dikasih resep obat gitu, soalnya kan juga ada tuh yang cuma konsul tapi ga perlu obat). Seperti antri yang pertama kali, gw nunggu lumayan lama padahal hanya ada gw dan 2 orang sebelum gw yang daftar utk bayar. Petugasnya udah jadi 4, 2 yg tadi dan 2 lagi petugas berbaju putih hitam yang sepertinya masih magang karena si 2 yg tadi sibuk ngajarin mereka. Oke, nomer gw dipanggil, karena sambil ngajarin ni anak magang, jadinya yaaa mayan lama ya gw nunggunya sampe itu receipt keluar.

Fffiuuuuhhh… kelar bayar gaes! Oiya, bayarnya bisa pake debit, kredit, ataupun cash. Kalo lu punya asuransi yang bisa diklaim di RS ini sok aja dipake, sayangnya gw ga nanya apa aja asuransi yg bisa diterima di sana.

Oke, lanjut ke tempat pengambilan obat! GA ADA SIAPA-SIAPA!!!! Itu loket sepi ga ada mahluk sebiji pun yang nampak, hanya menyisakan bel yang teronggok di ujung loketnya. Gw pencet sekali kan, krik..krik.. ga ada yg nongol. Okefain, gw ga buru-buru, gw tunggu aj, kali petugasnya udah denger bel tapi masih solat ato gimana, tapi kok ga muncul-muncul ya??? Hemmm… mulai ga nyaman gw.. Untunglah ada mbak-mbak ngider di depan loket itu trus nanya ke gw “mo ngambil obat ya, Bu?” Gw dalem ati cuma jawab “nggak mbak mo ngambil gaji! Yaiyalah ambil obat, lu kate!!!” Akhirnya si mbak mencet bel (yang surprisingly) dua kali lebih keras dari gw tadi, langsung muncul dong sosok berbaju hitam putih (lagi, sepertinya masih magang) dan langsung melayani gw. Resep gw kasihin, gw nunggu (lagi). Resep diterima, GW PULANG JUGA AKHIRNYA!!!

Huffttt.. sungguh pelayanan tak terduga dari RS sekelas Mitra Keluarga. Gw taunya dia tu bagus, soalnya dulu alm. Bapak sempet dirawat di Mitra Keluarga Surabaya dan blio sangat takjub dengan pelayanan yang diberikan. Apa karena Bapak rawat inap dan gw rawat jalan yak jadinya beda gitu.

Apapun itu, gw berharap semoga pelayanan di RS ini ditingkatkan, karena sayang banget dengan fasilitas yang masih baru dan bagus harus tertutupi dengan pelayanan yang kaya gitu, sampe-sampe di Google aja review-nya cuma 3 koma sekian.

Apakah gw akan kembali ke sini? Mmmmm… bisa jadi, tapi hanya kalo gw ga buru-buru banget dan sedang dalam zen mode, soalnya yg gw beratin ya itu, pelayanan ga sebanding dengan fasilitas, jadi sedih liatnya T_T

Udah ah, pegel nulisnya

WhatsApp Image 2019-09-29 at 17.39.21.jpeg

Sepeda dan Kartu Ucapan

Pernah ga sih kalian membeli sesuatu hanya karena ingin bonus hadiahnya alih-alih benar-benar menginginkan produk utamanya? Aku pernaaah.. dua kali seingatku!

Sepeda Federal

Tersebutlah Lik Prayit tetangga di deket rumah, beliau ini profesinya semacem makelar barang apapun, ya peralatan elektronik, ya tanah, ya peralatan rumah tangga, apa aja dijabanin oleh si Lik Prayit ini. Sampai suatu hari, beliau main ke rumah (ya sebenernya hampir tiap hari sih ngobrol sama Bapak, disuguhin kopi dan rokok, trus pulang) dan (sepertinya) ngabarin kalo ada sepeda gunung yang mau dijual. Aku lupa apakah mereknya beneran Federal atau bukan, tapi kala itu sepeda gunung lazim disebut dengan “Federal” (di desaku udah kenal majas metonimia sejak lama ternyata ahahaha..)

Singkat cerita, setelah Lik Prayit mengutarakan niatnya untuk menanyakan apakah Bapak berniat meminang si sepeda federal tersebut, si ika langsung jawab “Beli aja, Pak!!! Ica suka sama botol minumnya”

Si Babeh yang keheranan ngeliat anaknya tumben-tumbenan antusias, mengkonfirmasi ulang “Beneran mau sepeda ini?” Anaknya dengan tegas dan lugas njawab “IYA!!! Botol minumnya bagus!”

Dan dibelilah sepeda itu..

Hanya demi sebuah botol minum..

federal
kurang lebih seperti ini lah sepedanya

Majalah Mentari Putra Harapan

Majalah ini sepantaran dengan Bobo dan sejenisnya, dan entah kenapa aku lebih suka majalah ini daripada Bobo. Suka dalam artian hanya mampu mengagumi, tanpa memiliki, karena keterbatasan dana (waktu itu mahal banget sumpah!) dan di tempatku hanya satu agen majalah yang menjual majalah ini, jadilah semakin kecil kesempatan untuk membelinya.

Tersebutlah suatu waktu, yang pasti menjelang lebaran, gatau deh taun berapanya, si Mentari Putera Harapan ini menerbitkan edisi spesial bonus kartu ucapan Hamindalid. Nah, si ika gatau kenapa pengeeeeeen banget punya kartu ucapan itu, dipantaunya itu majalah yang masih menggantung di selasar agen selama beberapa hari. Dibulatkan tekadnya untuk matur ke Babeh, “Pak, beliin majalah Mentari dong..” dan seperti biasa si Babeh menginterogasi alasan kenapa aku pengen beli majalah itu, ya kubilang aja aku pengen kartu ucapannya, soalnya temen-temen di sekolah udah pada punya (iyeee… salah si Babeh sendiri nyekolahin aku di “kota” jadinya kan sedikit banyak terpengaruh oleh hedonisme di sekitarku)

Dan mungkin karena ga tega liat tatapan memelas anaknya, jadilah akhirnya dibeliin itu majalah.

Dan kartu ucapannya diapain??? Emmm.. ya udah diletakin aja, disimpen di lemari.

WhatsApp Image 2019-04-24 at 15.31.00

Iya.. dari tulisan ini ketauan banget umurku berapa ahahaha…

Setengah Dasawarsa

Jangan bicara tentang sunyi kepadaku

Jangan pula bertanya tentang sepi

Sudah kujalani hal itu di setengah dasawarsa terakhir

17 februari 2014 menjadi penanda

Tak ada lagi penghuni dunia yang beraliran darah sama

Sunyi kau bilang
Tanpa pernah tau gulitanya dunia setelah kau kehilangan sesiapa

Sepi kau koarkan
Tanpa pernah merasa luluh lantaknya belulangmu yang harus tetap tegak menghadapi dunia

17 februari 2014
Terputus sudah panggilan telepon yang tak pernah alpa menyapa di senja kala

5 tahun silam
Aku menjadi papa dalam nestapa

Waktu menjadi obat segala kau bilang

Sungguh itu bohong belaka!

Waktu hanya semakin pandai menyembunyikan luka

Yang jika terkuak sedikit saja, akan nampak borok yang makin membusuk di dalamnya

*17 Februari 2014 Bapak meninggal dunia, satu-satunya orang tua yang tersisa di dunia

..berturut-turut 3 bulan kemudian Kai dan Mbok, pemilik 25% darah yg mengalir di tubuhku..