Mahes Bobok Bareng Ayah

Saat ditinggal bundanya DL ke Bandung selama tiga hari, terjadi peningkatan kelengketan hubungan Mahes dan Ayah! Mahes yang biasanya kalo ga ada bundanya bobok sama Budhe, kali ini selama dua malam berturut-turut tidur dengan Ayah, hebat! Salut untuk Ayah yang mau ngambil “resiko” bobok bareng Mahes yang berarti :

  1. siap menerima konsekuensi ditendang-tendang oleh kaki mungil pangeran kecilnya yang kalo tidur pun tetep ga bisa anteng
  2. siap jatuh bangun bikin susu hangat tiap 2 jam sekali,
  3. siap dalam kondisi mengantuk mengganti diaper Mahes tiap pukul 11 dan pukul  2 malam
  4. dan tentunya juga berarti berkurangnya kuantitas tidur ayah

Namun ayah menikmati hal ini, seru katanya! 🙂 Malah saat ini Mahes punya gaya baru kalo mo bobok, yaitu bobok di pangkuan ayah sambil nonton tivi dan minum susu, walhasil dalam hitungan menit terpejamlah mata indahnya (dan hal itu tidak berlaku jika bersama Bunda, hiks..) dan durasi tidur malamnya semakin bertambah yaitu dari pukul 5 sore hingga pukul setengah 6 keesokan harinya, waoooowww…

Makasih ya Ayah! Luv You!!! 😉

Tiga Lelaki Hebat dalam Hidup Saya

Tulisan ini merupakan ungkapan hati saya setiap kali menatap wajah tiga lelaki ketika mereka sedang terlelap, yang kemudian membuat saya menitikkan air mata jika harus membayangkan hidup tanpa mereka, yang kemudian membuat saya berazzam akan melakukan yang terbaik demi kebahagiaan mereka, yang membuat saya menyandang 3 status sekaligus, sebagai ibu, istri, dan anak.

S.U.A.M.I.

  • Legam kulitnya yang setiap hari harus menantang sang surya demi tetap menghidupi keluarga kecilnya
  • Basah pakaiannya dengan peluh setelah berpanas-panas seharian bekerja
  • Belailah rambutnya sebagaimana ketika dia membelai rambutmu dengan penuh kasih sayang
  • Sentuhlah bahunya, disanalah para istri mendapat perlindungan teraman di dunia ini, buaian ternyaman yang akan membawamu ke alam mimpi
  • Genggamlah jemarinya dan cobalah mengingat sudah berapa ribu kali jemari itu mengusap airmatamu, menghapus mendung kesedihan yang menggelayut di jiwamu
  • Rawatlah dia sebaik-baiknya ketika sakit menyapanya dan cobalah kembali untuk mengingat bagaimana paniknya dia ketika istrinya sakit, bersedia pontang-panting mencari obat, membelikan makanan yang diingini oleh istrinya demi melihat istrinya mau mengisi perut setelah seharian hanya tertidur lemas, dan lihatlah betapa lelahnya dia ketika harus menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang seharusnya dikerjakan berdua dengan istrinya
  • Tataplah wajahnya yang begitu damai, yang dengannya kau genapkan setengah agamamu, yang dengannya dia berhasil meyakinkanmu  untuk menyerahkan seluruh sisa umurmu untuk kau nikmati bersamanya, yang dengannya kau harus taat dan patuh demi mendapatkan surga-NyaContinue reading “Tiga Lelaki Hebat dalam Hidup Saya”

Wanita : Antara Berbakti Kepada Orang Tua dan Taat Kepada Suami

Suatu ketika seorang teman bertanya tentang pendapat saya atas suatu pernyataan seorang ibu bahwa tugas utama wanita adalah mendidik anak-anaknya. Saya kurang setuju dengan pendapat tersebut sebab tidak ada satu ayatpun yang menyatakan seperti itu. Kedudukan seorang wanita dan ibu berbeda. Tugas utama seorang ibu memang membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Sementara tugas utama seorang wanita adalah berbakti kepada suami, bukan kepada anak. Seorang wanita hanya wajib tunduk kepada suami, bukan kepada anak. Surga atau neraka seorang wanita terletak di ridho suami, bukan anak. Seorang wanita yang telah bersuami hanya memiliki kewajiban untuk mengabdi kepada suaminya, bukan kepada orang tuanya, apalagi kepada anaknya, meskipun mungkin secara psikologis dia masih terikat secara emosional dengan anak-anak  dan orang tuanya. Bahkan ada riwayat yang menceritakan tentang kisah seorang istri yang tidak dapat menjenguk orangtuanya yang sedang sakit hingga meninggal dunia karena diamanahi oleh sang suami untuk tidak keluar rumah hingga suaminya pulang dari perang, Subhanallah! Bahkan Nabi Muhammad SAW pun bersabda “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.”  Hal itu berbeda dengan posisi suami yang dituntut untuk berbakti kepada ibu. Singkatnya adalah anak lelaki untuk ibunya dan anak perempuan untuk suaminya (saya lupa riwayat persisnya seperti apa, nanya gugel ga dapet)

dari gugel

Namun saya juga bilang ke teman saya itu bahwa jika seorang wanita dihadapkan pada kenyataan untuk menjalani long distance relationship maka wanita akan cenderung memilih untuk berpisah sementara dengan suami dibanding dengan anaknya, mungkin juga disebabkan oleh pemikiran si wanita tersebut (baca : saya) bahwa si ayah bisa lebih hidup sendiri dibandingkan si anak. Si ayah tidak lebih membutuhkan pola pengasuhan tertentu sebagaimana si anak. Si ayah tidak lebih membutuhkan makan makanan dengan kompisisi vitamin dan mineral tertentu untuk perkembangan kecerdasan dan perkembangan fisiknya dibanding si anak. Si ayah tidak lebih membutuhkan pendamping untuk mengerjakan PR sekolah sebagaimana si anak, dan masih banyak alasan lagi. Jadi salah besar jika anda menggeneralisasi bahwa kami para ibu lebih sayang anak kami dibanding suami, camkan itu!

Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita yang shalihah. Bila engkau memandangnya, ia menggembirakan (menyenangkan)mu. Bila engkau perintah, ia menaatimu. Dan bila engkau bepergian meninggalkannya, ia menjaga dirinya (untukmu) dan menjaga hartamu

Beri Aku Sesuatu (Part 2)

Masih inget sama tulisan saya yang ini? Tulisan ini sambungan dari tulisan tersebut. Jadi si teman saya ini bercerita kebalikan dari cerita pertamanya. Kemaren waktu datang menemui saya wajahnya tuh bersemu merah sambil senyum-senyum gak jelas gitu :hammer. Ternyata tanpa dia sadari selama ini sang suami memiliki sisi romantisme tersendiri. Pernah suatu saat ketika sedang bermain bersama anak-anaknya, si suami ini tiba-tiba menghampiri dan memeluknya seraya berkata “Dunia ini begitu indah dengan adamu dan anak-anak kita” lalu mengecup keningnya, o…co cwiiit..-flushing- Si istri kaget donk, sambil tersipu-sipu dan rasa Ge Er yang begitu besar, dia menjawab ” Papa ngomong apaan sih? tumben?!” dan hanya dijawab dengan kecupan yang mendarat di pipinya. Romantis banget siiiiiiiiiiiiiiiiih… 😉

Di lain waktu si suami membuat suatu “pengakuan” kepada istrinya bahwa jika sang suami ditugaskan ke luar kota, dia bela-belain bawa baju sang istri -tentunya tanpa sepengetahuan sang istri-, saya yang saat itu sedang berusaha menjadi pendengar yang baik hanya bisa tersenyum menyeringai, membayangkan betapa besarnya rindu sang suami, padahal hanya berpisah beberapa hari. Hmmm… Ga bisa bayangin gimana ekspresi si istri saat itu, pasti salting berat!

Yang bisa saya simpulkan dari cerita di atas adalah bahwa sisi romantisme tiap orang berbeda. Ada yang mengungkapkannya melalui sebuah kado, puisi, sekuntum bunga, dan ada yang hanya lewat ucapan seperti contoh di atas namun hal itu sudah cukup membuat klepek-klepek hati seorang wanita 🙂 Jadi jangan  serta merta menjustifikasi pasangan anda hanya berdasarkan penilaian orang-orang pada umumnya, sebab tiap manusia diciptakan dengan karakternya yang unik, ada kelebihan dan kekurangannya. Jadilah pasangan yang saling melengkapi, apapun yang menjadi kekurangan pasangan anda, berusahalah untuk menjadikannya sebagai sarana anda untuk berusaha lebih memenuhi kebutuhan atas kekurangan tersebut.

Selamat saling mencintai 🙂

dari google