Status Pernikahan Ditinjau dari Cara Memesan Makanan

Malam minggu…

Gerimis baru saja reda…

Mahes dah bobok…

Tapi perut laper…

Hmmm…

“Yah, beli mi rebus yuk!” dan langsung diiyain oleh si ayah, yippieeeeeeeeeee.. 😳

*****

Sekilas info tentang mi rebus :

Mi rebus ini bukanlah mi rebus seperti yang biasa dijual di warung-warung mi rebus [baca : bukan Indo*ie dan sejenisnya] melainkan salah satu jenis masakan yang terbuat dari mi telur kemudian direbus bersamaan dengan bumbu rahasia racikan Pak Penjual Mi Rebus, dicampur telur dan sedikit suwiran ayam, kuah yang kental, diberi irisan tomat dan timun, dan disajikan dengan sedikit emping melinjo yang menjadikan masakan ini benar-benar MAKNYOSS! sebenernya pengen minjem YUMILAH YUMIWATI-nya Gaphe, tapi takut diprotes yang punya 😀

Wokeyyy..kembali ke cerita…

Sesampainya di warung yang hanya berukuran 2 x 6 meter ini, duduklah kami di bangku yang masih kosong [saat itu ada sekian banyak pemuda jomblo yang masih asyik ngobrol setelah menyelesaikan makan malamnya]. Setelah memesan 2 porsi mi rebus dengan tingkat kepedasan SEDANG plus ekstra telur dadar, saya kembali duduk bergabung dengan ayah (ya iyalaaah…)

*****

Para pemuda itu akhirnya pergi, mungkin mereka ga tahan ngeliat kemesraan kami (si ayah protes : lha wong cuma duduk sambil ngelapin sendok garpu kok dibilang mesra!!!). Dan ya, pesanan kami telah datang! 😎

Beberapa suap mi rebus telah kami telan dengan sempurna ketika sepasang pemuda pemudi menghampiri warung dan duduk tak seberapa jauh dari kami. Setelah beberapa menit kebingungan memilih menu, dicapailah suatu kesepakatan antara kedua belah pihak untuk memesan dua porsi nasi goreng BIASA : yang satu SEDANG, yang satu gak pedes sama sekali. Nah, dari proses pemesanan menu inilah yang membuat si ayah melakukan analisis penting tapi tidak penting seperti di bawah ini 😉

AM : Bun, menurut Bunda, mereka itu dah nikah blom?

BM : Ya belumlah! Emangnya kenapa?

AM : Nggak, biasanya kalo dah nikah, yang pesen makanan itu yang cewek.

BM : Hmmmm… (menggumam sambil nyeruput kuah mi)

Setelah mi rebus habis, saya nanya ke si ayah berkaitan dengan pertanyaannya tadi.

BM : Yah, emangnya apa hubungannya antara pesen makanan dengan status pernikahan?

AM : Di-logika aja, dari sisi cowok, waktu masih pacaran kan masih ngejar-ngejar tuh, jadi apapun dilakukan demi mendapatkan si cewek, termasuk pesen makanan. Beda kalow dah nikah, si cowoknya ga ngerasa perlu ngejar-ngejar lagi, jadinya ya udah… Sedangkan kalo dari sisi cewek, waktu masih pacaran tuh masih jaim, masih ngerasa “jadi ga ya” dengan cowoknya sehingga dia blom total, beda kalow dah nikah dimana seorang istri memiliki rasa “tanggung jawab” untuk melayani suami dengan sebaik-baiknya, salah satunya dengan memesan  makanan.

BM : Ooo.. jadi kalo dah nikah cowoknya tuh udah ngebiarin aja gitu??? [nyubit kecil si ayah]

AM : [nyengir]

End of story… :mrgreen:

NB : Analisis si ayah di atas adalah analisis pribadi sehingga tidak bisa dipersalahkan apalagi dijadikan rujukan 😎

KUPINANG ENGKAU DENGAN AL QURAN

KUPINANG ENGKAU DENGAN AL-QURAN
(by : GRADASI)

Kupinang engkau dengan Al Quran
Kokoh dan suci ikatan cinta
Kutambatkan hati penuh marhamah
Arungi bersama samudra dunia

Jika terhempas di lautan duka
Tegar dan sabarlah tawakal pada-Nya
Jika berlayar di sukacita
Ingatlah tuk selalu syukur padaNya

Hadapi gelombang ujian
Sabarlah tegar tawakal
Arungi samudra kehidupan
Ingatlah syukur pada-Nya

Continue reading “KUPINANG ENGKAU DENGAN AL QURAN”

Mmmuuuaaachhh…

Sayang…
28 Februari, empat tahun lalu
Ketika kau menggenggam erat tangan wali nikahku
Ketika kau terpaksa mengulang kalimat ijab itu
Ketika kau menguatkan pundakmu untuk memikul tanggung jawab ini
Ketika hati kita ditautkan dalam ikatan suci

Sayang…
Aku takut mendengar perkataan orang
Mereka bilang bahwa menikah hanya manis di awalnya
Mereka bilang bahwa cinta akan memudar sinarnya
Mereka bilang bahwa nikah muda hanyalah impian belaka
Nyatanya mereka keliru!
Cinta ini semakin menggebu
Rindu semakin menyesakkan kalbu

Sayang…
Maafkan atas ketidaksempurnaanku
Aku bukanlah wanita yang mulia seperti Khadijah
Aku bukanlah wanita yang kepintarannya menyamai Aisyah
Dan bukan juga wanita yang sabar laksana Fatimah

Sayang..
Aku bukanlah wanita yang sempurna
Kau pun bukan pria yang sempurna
Namun aku yakin
Di atas segala ketidaksempurnaan kita
Kita tetap bisa melakukan yang terbaik
Demi terjaganya kesempurnaan cinta kita

Happy (belated) 4th wedding anniversary, Honey..

  • tulisan ini seharusnya dibuat pada tanggal 28 Februari 2011 yang lalu, namun karena kondisi otak saya yang lagi hectic, jadinya malah kelupaan! Maaf ya ayah sayang… redface
  • gambar diambil dari blog ini

Numpang Narsis Ya!

Bubuk mesiu itu
Kuminum
Diserap hatiku

Dan bila tlah mengendap
Pantik saja dengan adamu

Biar meledak
Biar kau tahu – kau rasa
Serpihan hatiku yang merindumu

Hidupku tak jelas
Tanpa adamu

Langkahku takkan pasti
Tanpa kehadiranmu

Disini

Aku terpaksa sendiri

Membiarkanmu
Belajar mengerti

Ah, mungkin aku terlalu melankolis

Kutahu kau pasti kan kembali

Dan kita akan segera bertemu kembali

 

Tulisan di atas adalah salah dua (bukan salah satu) sms yang dikirimkan oleh suami saya ketika kami masih menjalani long distance relationship antara Bandung – Jakarta 😀

Markus Mencari Istri

Mbak No2, sebuah nama yang secara tidak langsung akan menambah warna ceria di subbag kami. Secara tidak langsung karena dalam waktu dekat nama ini akan menjadi pendamping dari salah satu perjaka di subbag kami. Sebagai informasi, masih ada 3 perjaka single yang sedang dalam misi mencari pendamping hidup namun sayangnya sampai saat ini belum ada yang menemukan titik terang dari pencariannya itu. Sebutlah 3 orang itu sebagai Awfa, Markus, dan Bobby. Dari 3 orang tersebut akhirnya si Markus menemukan seseorang untuk menggenapkan setengah diennya, ya Mbak No2 itu orangnya. Sebagai sosok yang begitu mendambakan datangnya si puteri impian, Markus (menurut prediksi saya) akan sangat membangga-banggakan Mbak No2, jadi saya sebagai teman yang duduk sebaris dengannya harus mulai belajar mengantisipasi untuk tidak bosan mendengarkan semua ceritanya tentang kebaikan-kebaikan Mbak No2, kecuali kami jadi pindah ruangan yang menyebabkan formasi tempat duduk berubah, atau Markus dipromosikan menjadi korlak di salah satu balai, hmmmm…

Sebenarnya wajar sih Markus dah menemukan calon pasangan hidupnya, sebab jika dilihat dari segi umur Markuslah yang paling senior, apalagi dari segi penampilan, mestinya dah sejak 10 tahun yang lalu! Hahaha… Saya berusaha mengorek informasi darinya mengenai kapan akan dilaksanakan perhelatan akbarnya itu, namun meskipun segala upaya telah dikerahkan, mulutnya tetap terkunci. Padahal maksud saya baik lho! Saya sudah menyatakan siap menjadi seksi publikasi (baca : penyebar gosip) untuk persiapan pernikahannya, namun dia menolak, padahal jarang-jarang lho saya mau bantuin kaya gitu! Hmmm… ya sudahlah! Smoga semuanya berjalan dengan lancar, dan smoga Mbak No2 tidak menyesali pilihannya hahaha…

akibat menikah