Surat Pembaca (3)

CHECK IN CGK-SUB
Waktu mo check-in, seperti biasa harus melalui prosedur periksa KTP segala macem. Sesuai dengan urutan nama dalam tiket, maka yang diperiksa pertama kali adalah KTP si ayah, alhamdulillah berjalan lancar! Urutan kedua dilanjutkan ke KTP saya. Biasanya sih si KTP ini ga pernah keluar dari dompet, tapi sayangnya saya lupa untuk mengembalikannya lagi ketika harus membawanya ke ujian D4 awal Agustus lalu. Trus saya bilang ke mbak pramugari_yang_saya_lupa_namanya bahwa saya lupa ga bawa KTP sehingga terjadilah percakapan sebagai berikut (S sebagai saya dan P sebagai Pramugari) :

S

Saya ga bawa KTP mbak, gimana donk?!

P Harus KTP bu, atau identitas lain seperti SIM atau passport
S (yang keliatan cuma NPWP, lupa kalo di dompet juga ada KARPEG dan KARIS)
Kalo pake NPWP bisa ga mbak?
P Wah, jangan NPWP deh bu!
Kami sering ditipu sama pelanggan yang pake NPWP!
S (mulai panik, si ayah ikut ngejelasin tentang ketakberadaan KTP saya, namun si P ga mau nerima penjelasan itu )
P (mulai ngomel-ngomel dan tanpa diminta cerita tentang penyalahgunaan NPWP sebagai identitas diri)
S (ngorek-ngorek dompet dan berhasil nemuin KARPEG dan KARIS)
Kalo yang ini bisa Mbak???
P Nah, kalo yang ini bisa bu…
%@$#*&%@$#*&^%@$#?%$@^#^%$^$ >>>>> cerita tentang penyalahgunaan NPWP lagi
S Maaf mbak, baru ketemu di dompet
P %@$#*&%@$#*&^%@$#?%$@^#^%$^$

Saya lolos, sekarang saatnya memeriksa Budhe. FYI, karena tiket tersebut sudah kami beli Februari lalu tanpa memperhitungkan bahwa Budhe akan pulang, akhirnya kami nekat dengan tetap menggunakan tiket tersebut atas nama Budhe yang sekarang. Karena saya lupa ga ngasih tau budhe untuk “menyamar” menjadi AmsianiContinue reading “Surat Pembaca (3)”

Keong Racun yang Beracun

Seperti mudik lebaran tahun lalu, tahun ini Mahes tetap menjadi pusat perhatian anak-anak kecil di sekitar rumah orang tua saya di Probolinggo. Sejak pukul 6 pagi mereka telah duduk manis menunggu keluarnya pangeran kecil saya. Begitu Mahes keluar, para krucil tersebut langsung mengajaknya bermain dan bernyanyi bersama, dan Mahes benar-benar menikmatinya 🙂

Di tengah-tengah permainan tersebut, saya yang awalnya hanya memantau dari jauh, mendengar salah satu dari precil tersebut menyanyikan sebait lagu Keong Racun dengan santainya

Mulut kumat kemot
Matanya melotot
Lihat body semok
Pikiranmu jorok
Mentang-mentang kau kaya
Aku dianggap jablay

Deg!!! Prihatin saya mendengar kata-kata seperti itu keluar dari mulut bocah yang baru berumur 7 tahun, tapi saya diamkan saja dengan harapan si anak tersebut akan berhenti menyanyikan lagu itu dan kembali bermain seperti semula. Namun beberapa detik kemudian saya malah mendengar lagu itu dinyanyikan oleh anak lainnya!
Continue reading “Keong Racun yang Beracun”