Sebuah Kutukan

14 TAHUN LALU

Suatu sore ketika sedang asyik-asyiknya bergelayut manja di pangkuan nenek tercinta, Bapak bertitah “Liatin sepeda motor dulu sana!” Karena yang matur Bapak, mau gak mau [dengan wajah manyun dan males-malesan tentunya] saya ke halaman depan rumah nenek untuk memeriksa apakah motor satu-satunya kebanggaan Bapak masih bertengger dengan anggunnya disana, dan seperti yang sudah-sudah, si motor ga pergi kemana-mana 😐

Yup, itu adalah salah sekian dari kebiasaan Bapak yang kadang membuat saya heran, kenapa sih keberadaan motor itu harus dikontrol terus menerus? Lha wong jelas-jelas di daerah situ aman gitu lho! 😕

10 TAHUN KEMUDIAN

Si ayahmahes wannabe gelisah, duduknya sama sekali tak tenang, padahal di depannya teronggok sekerat empal gepuk lengkap dengan lalapannya. “Ada apa, Yah?” [iya, sejak menikah saya memanggil suami tercinta dengan sebutan AYAH] “Ntar ya, tak liat motor dulu di depan!” jawab  si ayah. Istrinya hanya bisa bersungut-sungut 😡

Selanjutnya hal yang sama kerap kali terjadi di berbagai kesempatan yang melibatkan adegan “meninggalkan sepeda motor di suatu tempat yang terlihat dan bisa dicapai dengan berjalan kaki beberapa langkah”. Bahkan ketika makan mi rebus pun kami harus pindah posisi tempat duduk demi tidak terhalangnya pandangan ayahmahes terhadap si sepeda motor 😡

Sadar istrinya agak keberatan dengan PERILAKU itu, ayahmahes langsung nyeletuk..

AM : Itu kayanya kutukan deh Bun!

BM : Kutukan? Apanya?

AM : Iya, ayah yang suka ngeliatin motor itu..

BM : Ngeliatin motor? (loadingnya lama)

AM : Iya, kan ayah bentar-bentar ngeliatin motor, ngecek ada nggaknya..

BM : Ohhh.. (baru ngeh si ayah ngomongin apaan) Emang kutukan gimana, Yah?!

AM : Dulu kan Bunda cerita kalow agak keberatan ketika Bapak suka nyuruh ngeliatin motor gitu, lha ndilalah  ayah juga gitu, kebetulan banget tho?!

BM : 😯

numpang pamer foto 😀

Ada yang merasa dikutuk juga? 😎

UPDATE : Yang di foto itu rokok di pos satpam karena suami, bapak saya, apalagi saya, SAMA SEKALI TIDAK MEROKOK!

Dear KPI..

SINETRON
Semakin hari semakin memuakkan aja sinetron yang ditayangkan di beberapa televisi swasta di Indonesia! Seorang pembantu memikirkan segala macam cara demi merebut harta majikannya, seorang wanita yang berusaha mencelakai kekasih aktor utama supaya si aktor menjadi miliknya, dan masih banyak hal yang gak logis yang ditayangkan disana. Bahkan ada juga sinetron yang dibikin banyak season dan kadang ada edisi spesial Ramadhan, spesial Lebaran, pfiuuuuuuuuuuuuhhhh…. Tayangan yang disajikan bersifat semu, tidak ada unsur pendidikannya sama sekali!!! Yang ada malah membuat penonton bermimpi, menganda-andai, dan lupa waktu akibat nonton tayangan yang banyak memperlihatkan mata melotot itu!

REALITY SHOW
Ngakunya Reality Show, tapi koq ceritanya ga masuk akal! Curiga suaminya jarang pulang ternyata udah punya istri muda, trus anaknya  kerasukan mahluk halus kemudian dipanggilin KYAI untuk mengusir roh halus tersebut. Menurut saya hal ini termasuk pelecehan terhadap agama, karena dari segi judul aja dah pake unsur RELIGI, masak fungsinya kyai sebagai pengusir mahluk halus??? Masak ada satpam lebay yang ngusir si presenter segitu hebohnya??? Continue reading “Dear KPI..”

Numpang Narsis Ya!

Bubuk mesiu itu
Kuminum
Diserap hatiku

Dan bila tlah mengendap
Pantik saja dengan adamu

Biar meledak
Biar kau tahu – kau rasa
Serpihan hatiku yang merindumu

Hidupku tak jelas
Tanpa adamu

Langkahku takkan pasti
Tanpa kehadiranmu

Disini

Aku terpaksa sendiri

Membiarkanmu
Belajar mengerti

Ah, mungkin aku terlalu melankolis

Kutahu kau pasti kan kembali

Dan kita akan segera bertemu kembali

 

Tulisan di atas adalah salah dua (bukan salah satu) sms yang dikirimkan oleh suami saya ketika kami masih menjalani long distance relationship antara Bandung – Jakarta 😀

Kerinduan Seorang Ayah

Jam menunjukkan pukul 18.30 ketika hape saya berdering, terpampang tulisan “Bapakkuuuuuuu… calling”.  Saat itu saya sedang makan di warung baso pinggir jalan bareng si ayah, saya bilang ke bapak bahwa saya masih di jalan dan berjanji akan telepon balik jika sudah sampai di rumah.

Sesampai di rumah langsung disambut si pangeran kecil yang dengan semangat “bercerita” tentang film kartun yang ditontonnya. Setelah bersih-bersih, saya ajak Mahes ke kamar dan dilanjutkan dengan kegiatan saling nguyel-uyel. Sedang asyik-asyiknya maen, saya teringat bahwa saya punya janji untuk menelepon bapak. Saya ambil hape kemudian menelepon beliau.

Saya     : Assalamu’alaykum. Ada apa pak?

Bapak  : Wa’alaykumsalam. Gapapa, Bapak cuma ngerasa kesepian aja disini (menghela nafas)

Deggg! Hati saya gerimis seketika, ingin rasanya menangis mendengar kalimat bapak! Telepon langsung saya alihkan ke Mahes dalam kondisi hati yang hancur lebur 😦Continue reading “Kerinduan Seorang Ayah”

Aaaaaaaaaaarghhhhhh…

Kemaren sepulang dari kantor, saya mendapat kabar buruk dari si Ayah! Beliau bilang bahwa masa promosi TV kabel langganan kami terhitung mulai tanggal 14 Juni 2010 akan berakhir sehingga berakibat pada menghilangnya beberapa saluran favorit kami hiks…

1. Home Box Office (HBO)

Huwaaaaaaaaaaaa… Salah satu prime channel yang selalu kami pantengin tiap hari! Lumayan untuk mengurangi anggaran nonton bioskop! Film-film box office yang ga sempat kami tonton di bioskop bisa kami nikmati dengan sesuka hati di channel ini (karena ditayangin selama 3 hari berturut-turut sampe bosen sendiri nontonnya hahaha…) Trus gimana kalo nih channel dihapus?! Akan nonton apa kami di hari-hari selanjutnya? Bagaimana dengan nasib pelem Defiance yang blom tamat saya tonton?! Hiks.. Continue reading “Aaaaaaaaaaarghhhhhh…”

Teman Tapi Mesra

Bukan judul lagunya Mulan Jameela, tapi suatu fenomena yang sering terjadi belakangan ini, bisa dibagi dalam beberapa kategori :

Single versus single

Sama-sama single, sama-sama blom punya pacar (otomatis blom nikah juga) tapi hubungannya dekeeeeet banget! Kemana-mana selalu bareng, makan, ngantor, jalan, belanja, pokoknya nempeeeeel aja, tapi tiap kali ditanyain dia siapanya dia jawabnya cuma temen, tapi deket, tapi temen, tapi deket, tapi temen, hmmm.. Tinggal menunggu waktu aja sih sebenernya sampe hubungan mereka “diresmikan”Continue reading “Teman Tapi Mesra”

Tiga Lelaki Hebat dalam Hidup Saya

Tulisan ini merupakan ungkapan hati saya setiap kali menatap wajah tiga lelaki ketika mereka sedang terlelap, yang kemudian membuat saya menitikkan air mata jika harus membayangkan hidup tanpa mereka, yang kemudian membuat saya berazzam akan melakukan yang terbaik demi kebahagiaan mereka, yang membuat saya menyandang 3 status sekaligus, sebagai ibu, istri, dan anak.

S.U.A.M.I.

  • Legam kulitnya yang setiap hari harus menantang sang surya demi tetap menghidupi keluarga kecilnya
  • Basah pakaiannya dengan peluh setelah berpanas-panas seharian bekerja
  • Belailah rambutnya sebagaimana ketika dia membelai rambutmu dengan penuh kasih sayang
  • Sentuhlah bahunya, disanalah para istri mendapat perlindungan teraman di dunia ini, buaian ternyaman yang akan membawamu ke alam mimpi
  • Genggamlah jemarinya dan cobalah mengingat sudah berapa ribu kali jemari itu mengusap airmatamu, menghapus mendung kesedihan yang menggelayut di jiwamu
  • Rawatlah dia sebaik-baiknya ketika sakit menyapanya dan cobalah kembali untuk mengingat bagaimana paniknya dia ketika istrinya sakit, bersedia pontang-panting mencari obat, membelikan makanan yang diingini oleh istrinya demi melihat istrinya mau mengisi perut setelah seharian hanya tertidur lemas, dan lihatlah betapa lelahnya dia ketika harus menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang seharusnya dikerjakan berdua dengan istrinya
  • Tataplah wajahnya yang begitu damai, yang dengannya kau genapkan setengah agamamu, yang dengannya dia berhasil meyakinkanmu  untuk menyerahkan seluruh sisa umurmu untuk kau nikmati bersamanya, yang dengannya kau harus taat dan patuh demi mendapatkan surga-NyaContinue reading “Tiga Lelaki Hebat dalam Hidup Saya”

Pola Makan Maheswara Haidar Aydin Naufal

Awal makan “makanan keluarga” adalah ketika Mahes berumur 1 tahun. Mengapa saya beri tanda kutip? Karena menurut teori, semestinya Mahes dah boleh makan seperti tumis kangkung, bakwan jagung, dan menu lain yang menjadi santapan keluarga kami sehari-hari, namun karena saya masih menerapkan bumbu minimalis (bawang merah/putih dan sedikit garam) jadinya menu makanan Mahes tetap dipisahkan.

Minggu lalu saya mendapat laporan dari Budhe -begitu kami biasa memanggil pengasuh Mahes- bahwa Mahes mulai enggan menghabiskan makanannya jika dalam sehari lauknya sama. Padahal selama ini dia mau-mau aja dicekokin nasi apapun lauknya. Setelah Mahes saya interogasi (dan sayangnya hanya menjawab dengan kata-kata “kuku”, “jatoh”, “nini”, “nana”, dsb) akhirnya saya menyimpulkan bahwa Mahes mulai bosan dengan menu monoton dalam sehari, harus ada kombinasi, minimal ada 2 jenis lauk untuknya 3 kali makan. Setelah saya diskusikan dengan ayahnya, akhirnya diambillah kesimpulan bahwa :

1. Kecenderungan Mahes menyukai segala jenis makanan merupakan bawaan dari ayahnya.

Yup! Ayahnya adalah seorang omnivora, sebenar-benar omnivora.  Makanan apapun bisa dicerna tanpa ada alergi sedikitpun. Mulai dari sayur pare/daun pepaya yang pahit, bakwan jagung yang keasinan, sambel tempe yang kepedesan,  sampe gudeg yogya yang paling manis sekalipun bisa dikunyahnya. Namun jangan sekali-kali memberinya cumi atau udang atau makanan yang mengandung keduanya, dalam bentuk apapun! Sebab meskipun mulut mampu menelan, namun perut menolaknya (baca : muntah). Keuntungan dari sifat ini adalah, saya tidak perlu bingung belanja sayur (tapi tetap bingung menentukan menu esok hari).

2. Kecenderungan Mahes bosan terhadap lauk yang sama dalam sehari merupakan bawaan dari bundanya.

Jadi bundanya tuh dari kecil emang dimanja ma Kai-nya Mahes, pengen makan apapun dituruti. Kalo bosen dengan makanan di rumah, ngider ke rumah budhe-budhenya. Kalo masih gak selera juga, ngerayu Kai supaya ngajakin makan di luar (baca : jajan). Dan mungkin karena faktor “manja” itu juga yang membuat Bunda Mahes pilih-pilih makanan, dan sifat ini benar-benar bertolak belakang dengan sifat Ayah Mahes di atas :hammer. Keuntungan dari sifat ini adalah minimal ada dua menu masakan di rumah 🙂

Jadi sekarang menu makan Mahes punya pattern seperti ini :

  • 2 macam lauk (tahu/tempe/telur/ikan/udang/cumi/daging)
  • 1 macam sayur (terserah sayur apa aja)
mo ee

Beri Aku Sesuatu (Part 2)

Masih inget sama tulisan saya yang ini? Tulisan ini sambungan dari tulisan tersebut. Jadi si teman saya ini bercerita kebalikan dari cerita pertamanya. Kemaren waktu datang menemui saya wajahnya tuh bersemu merah sambil senyum-senyum gak jelas gitu :hammer. Ternyata tanpa dia sadari selama ini sang suami memiliki sisi romantisme tersendiri. Pernah suatu saat ketika sedang bermain bersama anak-anaknya, si suami ini tiba-tiba menghampiri dan memeluknya seraya berkata “Dunia ini begitu indah dengan adamu dan anak-anak kita” lalu mengecup keningnya, o…co cwiiit..-flushing- Si istri kaget donk, sambil tersipu-sipu dan rasa Ge Er yang begitu besar, dia menjawab ” Papa ngomong apaan sih? tumben?!” dan hanya dijawab dengan kecupan yang mendarat di pipinya. Romantis banget siiiiiiiiiiiiiiiiih… 😉

Di lain waktu si suami membuat suatu “pengakuan” kepada istrinya bahwa jika sang suami ditugaskan ke luar kota, dia bela-belain bawa baju sang istri -tentunya tanpa sepengetahuan sang istri-, saya yang saat itu sedang berusaha menjadi pendengar yang baik hanya bisa tersenyum menyeringai, membayangkan betapa besarnya rindu sang suami, padahal hanya berpisah beberapa hari. Hmmm… Ga bisa bayangin gimana ekspresi si istri saat itu, pasti salting berat!

Yang bisa saya simpulkan dari cerita di atas adalah bahwa sisi romantisme tiap orang berbeda. Ada yang mengungkapkannya melalui sebuah kado, puisi, sekuntum bunga, dan ada yang hanya lewat ucapan seperti contoh di atas namun hal itu sudah cukup membuat klepek-klepek hati seorang wanita 🙂 Jadi jangan  serta merta menjustifikasi pasangan anda hanya berdasarkan penilaian orang-orang pada umumnya, sebab tiap manusia diciptakan dengan karakternya yang unik, ada kelebihan dan kekurangannya. Jadilah pasangan yang saling melengkapi, apapun yang menjadi kekurangan pasangan anda, berusahalah untuk menjadikannya sebagai sarana anda untuk berusaha lebih memenuhi kebutuhan atas kekurangan tersebut.

Selamat saling mencintai 🙂

dari google