Gabagen

Dalam dua tahun pertama kehidupannya, baru kali ini sakit Mahes yang mampu membuat saya bercucuran airmata :lebay:

KAMIS, 4 FEBRUARI 2011

Sakitnya baru teridentifikasi pada Rabu malam, sehari menjelang libur Imlek. Kepalanya terasa panas, namun hal itu hanya saya anggap enteng karena selama ini sakit Mahes hanya mampu bertahan selama 1 hari. Diagnosa awal sih dia ketularan si ayah yang sejak Minggu pagi terserang batuk pilek. Namun kali ini saya salah! Kamis malam panasnya semakin tinggi. Angka di thermometer mencapai 39 derajat Celcius, tak pernah kurang dari 38,5 derajat. Meskipun saya (agak) penganut minimalisasi obat, namun kali ini saya nggak tega! Kasian melihat wajahnya yang memerah menahan panas.

Jika Mahes terjatuh atau terbentur dinding, maka dia akan menghampiri saya kemudian meminta saya untuk mencium dan mendoakan bagian tubuhnya yang sakit,dan ajaib! Setelah saya mencium dan mendoakannya, senyumnya kembali mengembang.  Nah, yang membuat saya menangis adalah ketika dia tengah saya gendong kemudian memegang kepalanya dan memanggil saya, “Bundaaa.. huffhhhh..huffhhhh..” Dia memberi isyarat agar saya mencium kepalanya kemudian mendoakannya agar sakit yang dideritanya segera hilang, hmhhh.. “Nak, seandainya sakitmu bisa dipindahkan, bunda adalah orang pertama yang bersedia menerimanya!” Jerit hati saya.

Continue reading “Gabagen”