Kehamilan Ketiga

Trimester pertama :

  • Satu bulan pertama so far so good, untuk kesekian kalinya mengalami pemeriksaan dalam yang memalukan itu hahaha…
  • Selera makan kacau! Kadang pengeeeeeen banget makan kepiting saus tiram, giliran dibeliin cuma makan sesendok setelah itu disimpen di kulkas dengan harapan bisa dimakan lagi keesokan harinya. Fakta berbicara boro-boro bisa dimakan lagi, mencium bau kulkas aja dah mual
  • Dinas luar kota pertama kali saat usia kehamilan 2 bulan dan menyengsarakan teman-teman yang lain, sebab ketika pesanan makanan datang baru sesuap 2 suap langsung ngibrit ke kamar mandi huek huek yang berakibat pada hilangnya nafsu makan teman-teman yang laen hahaha… Padahal saya yang pesen menu paling banyak! :hammer
  • Kembali mengalami flek setelah menghadiri resepsi pernikahan seorang teman di Bandung, akibatnya harus bedrest seminggu
  • Sama sekali ga bisa masak, karena mencium bau masakan tetangga sebelah aja dah pengen muntah, jadi dalam periode ini suami makan di warung terus (salah satu bentuk pemborosan ketika hamil)
  • Minum susu ibu hamil sambil nutup hidung dan menahan rasa mual di perut
  • Berat badan turun 3 kilo
  • Masih harap-harap cemas takut kembali mengalami keguguran seperti 2 kehamilan sebelumnya

Trimester kedua :

  • Selera makan semakin dikalahkan rasa mual yang sangat kuat
  • Masih ga bisa masak
  • Kekhawatiran akan keguguran sedikit berkurang
  • Pada bulan keempat Mahes dah keliatan ”Monas”nya
  • Sejak keliatan “Monas”nya, ayah bunda menyiapkan nama Maheswara Haidar Aydin Naufal untuk si calon baby
  • Bulan keenam melakukan USG 4 dimensi, dan sejak saat itu diketahui bahwa ekspresi default Mahes adalah merengut alias njeketut hahaha…
  • Dari USG 4 dimensi itu dokternya bilang, ”Wah, ini calon binaragawan bu! Tuh lengannya dah berotot”
  • Untuk menyiasati selera makan, saya memilih memperbanyak cemilan sehat non MSG/MNG, seperti biskuit, roti gandum, terutama buah-buahan.
  • Suami menjadi pengawas makanan yang galak, sama sekali non MSG 😦
  • Keinginan untuk makan sate dan ayam bakar semakin meningkat
  • Ga sabar nunggu 7 bulan pengen blanja pakaian bayi…. 🙂
  • Posisi kepala Mahes masih di atas
  • Terdeteksi placenta previa sebagian
  • Mulai bingung nyari-nyari baju hamil terutama rok hamil sebab baju-baju yang ada dah ga muat
  • Rajin googling berat badan janin ideal
  • Berat badan sampai akhir trimester baru naek 5 kilo hihiyyy!
  • Mulai kepanasaaaaaaaan…

Trimester ketiga

  • Semakin susah bergerak
  • Posisi tidur serba salah, telentang ga mungkin, tengkurep apalagi, satu-satunya yang memungkinkan adalah tidur miring
  • Mahes wannabe semakin sering bangunin bunda wannabe jam 1 dini hari
  • Rajin-rajinnya dengerin murottal dan Kitaro
  • Dah males ngantor, pengen buru-buru cuti
  • Nafsu makan membaik
  • Menyikat gigi adalah kegiatan paling menyiksa sebab hampir pasti muntah
  • Berat badan sampai brojol ”hanya” naek 10 kg
  • Bulan kedelapan akhirnya kepala Mahes dah dibawah
  • Bulan kedelapan juga akhirnya belanja keperluan bayi dan shock begitu tau ternyata baju bayi tuh lebih mahal dibandingkan baju bundanya
  • Posisi plasenta sudah bergeser tidak lagi menutupi jalan lahir meskipun masih di samping rahim
  • Semakin rajin googling biaya persalinan
  • Pengen ngikut senam hamil tapi males karena waktu itu masih jauh-jauhan sama suami, jadi weekend digunakan untuk menghabiskan waktu dengan suami tercinta hahaha…
  • Di bulan kesembilan mual muntah kembali melanda
  • Khawatir berat badan janin di bawah normal, alhamdulillah ternyata nggak
  • Cuti hamil saat kehamilan berumur 36 minggu dan sejak saat itu merasa kehilangan dokter kandungan yang baik hati, ramah, dan tidak sombong, hiks..
  • Konsultasi terakhir, dokter baik hati itu berpesan jika terjadi masalah pada saat persalinan nanti, saya diwanti-wanti untuk tidak menjalani tindakan induksi atau vacuum, sebab kehamilan saya termasuk kehamilan resiko tinggi, jadi sebaiknya langsung caesar saja.
Inilah Produk Hamil ke-3

Beri Aku Sesuatu (Part 2)

Masih inget sama tulisan saya yang ini? Tulisan ini sambungan dari tulisan tersebut. Jadi si teman saya ini bercerita kebalikan dari cerita pertamanya. Kemaren waktu datang menemui saya wajahnya tuh bersemu merah sambil senyum-senyum gak jelas gitu :hammer. Ternyata tanpa dia sadari selama ini sang suami memiliki sisi romantisme tersendiri. Pernah suatu saat ketika sedang bermain bersama anak-anaknya, si suami ini tiba-tiba menghampiri dan memeluknya seraya berkata “Dunia ini begitu indah dengan adamu dan anak-anak kita” lalu mengecup keningnya, o…co cwiiit..-flushing- Si istri kaget donk, sambil tersipu-sipu dan rasa Ge Er yang begitu besar, dia menjawab ” Papa ngomong apaan sih? tumben?!” dan hanya dijawab dengan kecupan yang mendarat di pipinya. Romantis banget siiiiiiiiiiiiiiiiih… 😉

Di lain waktu si suami membuat suatu “pengakuan” kepada istrinya bahwa jika sang suami ditugaskan ke luar kota, dia bela-belain bawa baju sang istri -tentunya tanpa sepengetahuan sang istri-, saya yang saat itu sedang berusaha menjadi pendengar yang baik hanya bisa tersenyum menyeringai, membayangkan betapa besarnya rindu sang suami, padahal hanya berpisah beberapa hari. Hmmm… Ga bisa bayangin gimana ekspresi si istri saat itu, pasti salting berat!

Yang bisa saya simpulkan dari cerita di atas adalah bahwa sisi romantisme tiap orang berbeda. Ada yang mengungkapkannya melalui sebuah kado, puisi, sekuntum bunga, dan ada yang hanya lewat ucapan seperti contoh di atas namun hal itu sudah cukup membuat klepek-klepek hati seorang wanita 🙂 Jadi jangan  serta merta menjustifikasi pasangan anda hanya berdasarkan penilaian orang-orang pada umumnya, sebab tiap manusia diciptakan dengan karakternya yang unik, ada kelebihan dan kekurangannya. Jadilah pasangan yang saling melengkapi, apapun yang menjadi kekurangan pasangan anda, berusahalah untuk menjadikannya sebagai sarana anda untuk berusaha lebih memenuhi kebutuhan atas kekurangan tersebut.

Selamat saling mencintai 🙂

dari google