Antara Inception dan The Sorcerer’s Apprentice

Sebenernya si ayah dah ngajakin nonton dari minggu yang lalu, hanya saja blom kesampean karena saat itu dateng ke bioskopnya dah mepet, padahal blom makan malem sehingga memutuskan untuk menundanya hingga batas waktu yang tak bisa ditentukan.

Sabtu sore kemarin kebetulan Mahes dah tidur dari pukul 17.00 WIB, si ayah nanyain tentang rencana nonton yang tertunda kemarin, akhirnya tercapailah kesepakatan bahwa kami jadi nonton Inception malam itu (sekalian nge-date). Sebenarnya saya dan si ayah masih bingung antara nonton Inception yang dibintangi oleh Leonardo Di Caprio atau The Sorcerer’s Apprentice yang dibintangi oleh Nicholas Cage, karena kami sama-sama bukan penyuka si Leonardo Di Caprio, sedangkan film yang laen ga ada yang representatif untuk ditonton. Masalahnya saya juga ga suka-suka amat sama si Nicholas Cage, berkebalikan dengan ayah yang sangat suka sama si NC ini. Ya sudah, supaya adil akhirnya kami ambil jalan tengah yaitu nonton Inception saja ๐Ÿ˜€

Singkat cerita akhirnya kami beli tiket yang pukul 21.15 WIB karena untuk yang pukul 18.30 WIB jelas ga mungkin bisa, lha wong nyampe sana aja pukul 19.10 WIB, padahal blom makan malam, ya wes, nekat! Sekali-kali nonton berasa midnight kan gapapa, itung-itung pacaran lagi ๐Ÿ˜€Continue reading “Antara Inception dan The Sorcerer’s Apprentice”

Kecap : Lauk Saat Darurat

1. Kecap versus telur ceplok
Bermula di suatu pagi yang begitu dingin sehingga mengaktifkan syaraf malas saya ย (emang ada ya syaraf malas ya?) dan akhirnya membuat saya memutuskan untuk membuatkan sarapan si pangeran kecil “hanya” berupa telur ceplok tanpa garam. Goreng goreng goreng, jadilah tuh telur dengan pinggiran yang gosong kecoklatan ๐Ÿ˜€ Langkah selanjutnya adalah mengambil piring tempat makan Mahes kemudian menyendok nasi ke dalamnya untuk diangin-anginkan supaya tidak terlalu panas ketika disuapkan ke mulut mungilnya. Iseng-iseng saya tuangkan beberapa tetes kecap ke atas telur ceplok tersebut. Kegiatan suap menyuap dimulai….. Seperti biasa, jika Mahes melihat bundanya dah pegang piring tempat makannya, dia akan menunggu dengan tidak sabar ย dalam kondisi mulut menganga lebar. Suapan pertama meluncur dengan sukses, saya teliti dengan seksama perubahan ekspresi wajahnya, daaan tidak terjadi apa-apa! ๐Ÿ˜€ Suapan demi suapan berlanjut hingga bulir nasi terakhir. Demi melihat piring nasinya licin tandas, direbutnya piring itu dari tangan saya kemudian dia berjalan ke dapur dan menunjuk-nunjuk magic com tempat persemayaman sang nasi sambil berteriak “mamaaam..mamaaam” pertanda perutnya masih belum terisi penuh dan geliginya belum lelah mengunyah. Kami lanjutkan sesi sarapan pagi itu dan berakhir dengan tandasnya 2 porsi sarapan Mahes ๐Ÿ˜‰

2. Kecap versus salmonContinue reading “Kecap : Lauk Saat Darurat”

Let’s Gardening!

Tadi sore saya ngajak si ayah jalan-jalan ke Bintaro sektor 9 sono, pengen nambah koleksi mawar. Sesampai di sana, mata saya dah keburu terpesona ma mawar-mawar yang sedang bermekaran, untungnya dah memantabkan tujuan, yaitu membeli mawar MERAH dan PINK sehingga rayuan mawar warna lainnya tak mampu menggoyahkan iman saya (padahal mupeng banget ama si KUNING, tapi dah punya). Langsung todong harga sebesar 5000 rupiah per batangnya, kemudian ekstra todong untuk pot bunga yang dapet 3000 rupiah per biji. Ketika transaksi telah selesai, eeee… ndilalah koq mata saya kepincut ma segerombolan aster merah dan kuning. Nanya ke si mas penjual katanya harga per polybag 7500, nglirik ayah dengan tatapan penuh arti dan dijawab, “Mo ditaroh dimanaaaaa?”, jadinya ga jadi beli deh (setelah membenarkan pertanyaan retoris ayah :))

Sesampai di rumah, tuh mawars saya biarkan terlantar terlebih dahulu dalam ikatan rafianya, sebab pangeran kecil saya masih belum tidur, jadi daripada si mawars kehilangan harapan hidup, lebih baik saya tahan dulu keinginan saya untuk berkebun.

Jam menunjukkan pukul 17.00 WIB ketika ayah berhasil menidurkan Mahes, berarti telah tiba saatnya untuk berkebun! ๐Ÿ˜‰ Alat-alat yang perlu disiapkan adalah :Continue reading “Let’s Gardening!”

Wajah Para Penghuni Taman

1. Kemuning
Mupeng jenis bunga yang satu ini sejak pertama kali mengunjungi rumah mertua. Wanginya yang begitu semerbak di malam hariย  membuat hati saya luluh dan kemudian bertekad ingin memilikinya jika telah memiliki rumah nantinya. Setelah saat yang dinanti-nanti itu tiba, ternyata bukan perkara yang mudah untuk menemukan si kemuning ini. Blusukan ke toko-toko bunga di sekitar Bintaro tidak berhasil memperoleh kemuning dalam ukuran yang saya inginkan. Namun akhirnya datanglah seorang pedagang bunga keliling yang bersedia mencurahkan seluruh waktu, tenaga, dan pikirannya untuk mencarikan tanaman yang berbunga putih ini, tidak tanggung-tanggung dia membawakan saya dua pohon sekaligus. Beli pot, nyampur tanah ma kompos, gunting sana gunting sini, taraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa… jadilah kemuning nan imut dan wangi ini ๐Ÿ˜€

2. Adenium obesum
Tanaman cantik ini saya peroleh dengan gratis sodara-sodara!!! Tetangga sebelah rumah saya kebetulan hobi berkebun, beliau membudidayakan banyak sekali adenium ini. Gara-gara ngelewatin segerombolan adenium tiap hari membuat “witing tresno jalaran soko kulino” terjadi antara saya dan si adenium ini. Akhirnya setelah pasang muka badak,ย  saya beranikan diri untuk bilang ke pak Ade (tetangga saya, red) bahwa saya ingin membeli salah satu adenium miliknya. Saya kemudian diminta untuk melihat-lihat dan menandai yang mana yang akan saya beli. Keesokan harinya, pak Ade datang ke rumah membawa sebuah pot berisi adenium yang saya tandai tersebut, and u know what? Beliau memberikannya secara gratis tis tis… ๐Ÿ˜€ Dan saat ini saya telah berhasil menggandakan si adenium tersebut. Makasih pak Ade..Continue reading “Wajah Para Penghuni Taman”

Three In One

1. Jenguk Dedek Aisyah

Dedek Aisy ย yang berkulit putih, hidung mancung, dan berambut tebal ini merupakan putri pertama dari pasangan Mia dan mas Acwin. Ketika kami kesana hal yang pertama kali diperhatikan oleh Mahes adalah tempat tidur dek Aisy yang pinky. Terus saja dia menuding-nuding ke arah tempat tidur sambil menggumam ga jelas yang mengisyaratkan bahwa dia pengen tidur disana. Setelah si bintangnya rumah keluar (baca : dek Aisy) dan hendak saya letakkan di kasurnya, spontan Mahes menarik popok Aisy, melarang saya membaringkan Aisy disana, untuuuung aja saya dah mengantisipasi gerakan itu, sehingga Aisy dapat “diselamatkan”, maaf ya tante Mia! ๐Ÿ™‚ .

Setelah berbaring beberapa saat, dek Aisy dah mulai bosan, sedikit demi sedikit wajahnya mulai berkerut dan kemudian pecahlah tangisnya. Begitu dia saya gendong, eee..malah diem anteng menikmati indahnya dunia. Dimana-mana bayi tuh emang doyan digendong ya?! Nah, saat saya menggendong Aisy inilah Mahes memanfaatkan momen tersebut dengan langsung melompat ke kasur Aisy dan duduk manis disana. Sambil menggendong, saya minta Mahes untuk tiduran malah ga mau, trus dari tadi nunjuk-nunjuk kasur tuh cuma pengen duduk ya dek?! Akhirnya setelah muncul kekhawatiran akan semakin menjadi-jadinya tingkah Mahes, kami memutuskan untuk pulang. Sekali lagi, maaf ya tante Mia dan om Acwin! ๐Ÿ˜€Continue reading “Three In One”

Sweet Seventeen (Month) Si Pangeran Kecil

Gara-gara keseringan DL, akhirnya blog ini terbengkalai. Terbukti dengan produktivitas untuk Juli 2010 hanya ada 5 tulisan, padahal target saya adalah minimal 1 tulisan per hari, sehingga saya masih punya “utang” tulisan minimal 3 tulisan. Mari kita mulai dengan progress report pangeran kecil saya yang pada tanggal 3 Juli 2010 kemarin ber-sweet seventeen month ria. Di umurnya yang dah 17 bulan (eh, 17 pa 18 ya?!) pencapaian yang berhasil diraih oleh Mahes antara lain :

  • Berkat kedatangan budhe yang baru, Mahes dilatih minum menggunakan training cup, dan hanya dalam waktu kurang dari 2 minggu dia sudah terampil dan berhasil lulus dengan gelar EXPERT !!! ๐Ÿ™‚
  • Lebih hebatnya lagi, setiap kali selesai makan si training cup tersebut diisi dengan air putih (yang notabene adalah minuman yang paling dihindari Mahes) dan dihabiskannya dengan lahap dengan resiko tersedak yang teramat kecil
  • Perubahan jam hibernasi. Sebelum umur 17 bulan jadwal tidur Mahes dalam sehari yaitu pukul 09.00 WIB dan 14.00 WIB, kemudian tidur kembali pada pukul 20.00 WIB hingga pukul 05.00 WIB keesokan harinya. ย Hal tersebut berubah sejak sweet seventeen month-nya. Pagi hari hanya tidur pukul 09.00 WIB, kemudian tidur kembali pada pukul 17.00 WIB hingga pukul 04.30 WIB keesokan harinya. Akibatnya adalah ketika bunda pulang, Mahesnya dah bobok, sehingga waktu bersama Mahes semakin berkurang, hiks… ๐Ÿ˜ฆ
  • Bukan hanya perubahan jam tidur tapi juga CARA tidur. Jika anak normal lainnya tidur dengan cara dikelonin di tempat tidur atau mungkin digendong, Mahes punya cara yang agak unik. Jika sudah mengantuk, dia akan mengajak ayahnya nonton tivi, kemudian meminta dibuatkan susu. Selanjutnya dia akan tidur di pangkuan ayahnya sambil meminum susu. Lima belas menit selanjutnya : TIDUR. Anehnya, cara ini hanya berlaku ke ayah, kalo sama bunda tetep minta kelon di tempat tidur.Continue reading “Sweet Seventeen (Month) Si Pangeran Kecil”

Customer Satisfaction : Z.E.R.O

Suatu pagi di sebuah Puskesmas yang terletak di kawasan Matraman yang penuh sesak dengan para pengunjung. Panggilan nomor antrian terdengar bersahutan dari loket pendaftaran. Pagi yang seharusnya semangat dan penuh ceria seketika menjadi buram dan lesu begitu mendengar “celotehan” ibu penjaga loket.

1. Isi Formulir Dulu Donk!
Suara cempreng terdengar dari mikrofon memanggil nomor antrian berikutnya. Terjadi percakapan singkat.
“Siapa yang sakit?”, ujar si ibu penjaga loket (selanjutnya akan disingkat menjadi IPL)
“Anak saya, Bu” jawab si ibu pasien
“Diisi yang bener donk formulirnya!” jawab IPL dengan ketusContinue reading “Customer Satisfaction : Z.E.R.O”

Bocah Penjual Pisang

Hari terakhir di Sukabumi, 2 jam sebelum check out dari hotel dan 6 jam sebelum jam pulang kantor, saya dan teman-teman “merayakannya” dengan naik rakit di danau berkedalaman sekitar 8 meter yang terletak di belakang hotel. Rakit yang kami tumpangi ini berkapasitas maksimal 8 orang dewasa dengan biaya sewa 140 ribu per rakit plus sang operator rakit yang pengoperasiannya masih menggunakan transimisi manual ini.

bentuk rakitnya kaya begini

Begitu naik ke atas rakit, saya langsung merasakan sensasi yang begitu damai, tenang, menikmati hembusan angin danau yang begitu lembut, hmmm.. kembali saya diingatkan atas kebesaran kuasa Sang Pencipta! Setelah itu saya ambil kamera kemudian jeprat-jepret mengambil gambar sekeliling danau sekaligus para penumpang rakit yang sebagian besar merupakan penderita sindrom CEREWETBANYAKOMONGKAGAKBISADIEMRAMEBANGET.

Seperempat perjalanan terlalui, posisi rakit mulai mendekat ke pulau mini yang terletak di tengah danau tersebut. Tampak sebuah lapak penjual kelapa muda yang masih berumur belasan tahun dengan semangat mempromosikan dagangannya berharap salah satu dari kami tertarik untuk membelinya, sayangnya saat itu cuaca sedang mendungย  dan suhu dataran tinggi yang begitu dingin sehingga bukan saat yang tepat untuk minum minuman sesegar kelapa muda.Continue reading “Bocah Penjual Pisang”