DSPOG Favorit Saya!!!

Kemaren siang saya iseng-iseng berkunjung ke salah satu klinik bersalin di daerah Bintaro. Sebagaimana di klinik bersalin yang lain, pelayanan yang kami dapatkan kurang lebih sama. Ada beberapa faktor pembeda yang akan saya jabarkan menjadi kelebihan dan kekurangan sebagai berikut :

KELEBIHAN :

  • sirkulasi udara di ruang tunggu klinik yang bagus sehingga udara menjadi sejuk ga perlu ASe
  • banyak majalah untuk dibaca sebagai pengalih rasa bosan, bikin betah pengunjung 🙂
  • banyak boneka dan mainan yang bisa digunakan oleh pasien yang membawa anak, sehingga kemungkinan anak rewel karena bosa menunggu dapat diminimalisir
  • Menurut salah seorang tetangga saya yang pernah periksa di klinik lain, peralatan yang digunakan di klinik tersebut lumayan baru

KEKURANGAN :

  • Di meja pendaftaran, entah karena perawatnya yang masih muda (keliatannya) sehingga terlalu banyak membuat kesalahan dalam proses pencatatan data pasien
  • alat USG yang digunakan hanya monitor USG yang hanya bisa diliat oleh dokter, sementara jika pasien juga ingin melihat harus menoleh ke sebelah kiri (yang kalo kelamaan bisa bikin pegel leher)
  • biaya yang benar-benar mantab (makan tabungan). Sekedar informasi : biaya jasa dokter 90rb, USG tanpa print out 50rb, obat 55rbContinue reading “DSPOG Favorit Saya!!!”

The Expendables : K.E.C.E.W.A

Ketika si ayah ngasih tau bahwa SALT dah diputar di Bintaro 21, saya melonjak kegirangan karena dah pengen nonton film ini dari dulu. Namun ternyata di hari yang sama juga ditayangkan The Expendables, film yang dibintangi oleh aktor Hollywood kesukaan si ayah, Sylvester Stallone.

Perdebatan dimulai. Saya pengen nonton SALT karena ga suka sama Sylvester Stallone. Sementara ayah kebalikan dari saya. Masing-masing ga mau ngalah hingga tercapailah beberapa opsi sebagai berikut :

  • Nonton dua-duanya baik SALT maupun The Expendables tapi nontonnya sendiri-sendiri. Ayah nonton The Expendables, bunda nonton SALT. Tapi opsi ini langsung ditentang ayah, ga enak kalo nonton sendirian katanya
  • Nonton dua-duanya di hari yang berbeda, Sabtu dan Minggu. Kali ini saya yang ga setuju karena akhir pekan merupakan waktu penebusan “dosa” saya kepada pangeran kecil saya karena tidak dapat menemaninya full time dari Senin hingga Jumat

Karena dari dua opsi di atas ga ada yang disetujui, akhirnya dicapailah kesepakatan bahwa nonton filmnya dibagi dalam dua akhir pekan, dan yang pertama kali ditonton adalah The Expendables. Yupz, akhirnya saya luluh juga karena meskipun saya ga suka Sylvester Stallone, tapi di film itu juga ada  Jason Statham, actor yang saya suka sejak dia membintangi Transporter.Continue reading “The Expendables : K.E.C.E.W.A”

Syusyahnya Nyari Baju Koko Balita!!!

Dulu waktu ke Tanah Abang, saya ngeliat koko balita warna marun, kayanya sih bahannya katun, dipajang di manekin, lucu! Saya langsung jatuh hati! Tapi ga langsung saya beli karena saya punya rencana ke Tanah Abang lagi di lain waktu. Ternyata rencana hanya tinggal rencana, hingga 17 Ramadhan ini saya belum dan sepertinya tidak bisa kesana, panas dan macet!

Ga bisa di Tanah Abang saya pengen nyoba ke Blok M. Tapi karena dah bulan puasa sayanya males meskipun si Blok M ini lebih dekat dibanding Tanah Abang. Titip ke temen yang mo kesana minta tolong ngeliatin kali aja ada koko yang lucu, ternyata ga ada. Ada sih tapi biasa aja, kurang lucu  katanya. Pfiuuuhhhh…

Pengen ke Cipulir juga ga bisa. Alasannya sama : males menghadapi panasnya udara dan macetnya jalan. Trus juga pengen nyoba ke Cipadu, alternatif terdekat dari rumah, tapi ga jadi juga karena alasan teknis yang tidak dapat diganggu gugat. Lagian di Cipadu kebanyakan diisi oleh pedagang bahan, bukan baju jadi, jadi kemungkinan menemukan penjual baju koko balita disana juga kecil, kalopun ada pasti harganya selangit.

Dari beberapa alasan di atas, akhirnya saya memutuskan untuk beli di OL shop aja. Browsing sana browsing sini, segala keyword dah dicoba, mulai dari baju koko balita, baju muslim anak, busana muslim balita laki-laki,dan sejenisnya tapi hasilnya miniiiiiiiiiiim banget! Kebanyakan malah busana muslim untuk anak cewek yang tentu saja bentuknya lebih variatif dan lebih lucu! Dari sekian banyak yang hasil pencarian mbah gugel, ga ada yang sesuai dengan keinginan saya. Saya pengennya tuh yang berbahan kaos dan berwarna merah.  Kenapa merah??? Supaya bisa sarimbit dengan baju lebaran taun lalu milik ayah bundanya. Agak maksa sih emang, karena bajunya beda semua, yang penting warnanya samaContinue reading “Syusyahnya Nyari Baju Koko Balita!!!”

Hiks……

Huwaaaaaaaaaaaaaaaaaa…

Tulisan saya yang dah berkalimat-kalimat hilang tak bersisa 😦

Gara-gara komputernya tiba-tiba ngehang trus layarnya jadi item semuaaaaaaaaaaaaaaaaaaa 😦

Padahal kan kalo mo nulis lagi isinya blom tentu sama 😦

Dasar komputer si*laaaaaaaaaaaaaaaaaan!!!!!!

Sembelit Alias Konstipasi

Tiba-tiba terdengar jeritan tangis Mahes!

Dia menangis sejadi-jadinya… Badannya tak mau disentuh sedikitpun.

Saya kebingungan menghadapi tangisannya kali ini, karena hal ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Tangan mungilnya kemudian menjulur ke arah saya pertanda dia sedang butuh pegangan.

Tangisannya bertambah kencang!  Saya liat celananya basah dengan ompolnya.

Allah.. ada apa dengan anak saya! Continue reading “Sembelit Alias Konstipasi”

Empat Ramadhan

1. Ramadhan 1428 H

Ramadhan pertama dengan menyandang status baru : sebagai istri 🙂 Sayangnya pada kesempatan tersebut tidak dapat menikmati buka puasa dan sahur bersama suami tercinta. Akibat tuntutan pekerjaan, kami harus terpisahkan oleh jarak Jakarta-Bandung sehingga hanya bisa bertemu pada saat weekend tiba 😦

Saat itu saya masih ngekos di daerah Cilandak, untungnya tempat kos saya bersebelahan dengan warung nasi, sehingga untuk keperluan buka puasa dan sahur tinggal ngloncat pagar doang 🙂

Kenangan manisnya :

  1. Meskipun jam pulang kantor dimajukan setengah jam menjadi pukul 16.30 WIB, tetap saja saya harus berbuka puasa di metromini, paling banter nyampe kos pukul 18.00 WIB, di Blok M macet total 😦
  2. Sahur kesiangan sehingga kehabisan lauk di warung nasi sebelah kos, akibatnya saya hanya sahur dengan air putih saja, alhamdulillah hari itu dapat terlalui dengan lancar

2. Ramadhan 1429 H

Pada tahun ini, saya dan suami masih menjalani hubungan jarak jauh Jakarta-Bandung, tapi saya pindah kos ke daerah Mampang. Dan pada tahun ini juga si Mahes wannabe sudah  mendekam di rahim saya selama kurleb 4 bulan. Meskipun hamil yang ketiga namun ini pertama kalinya saya bertemu bulan Ramadhan dalam keadaan hamil. Sesuai pesan dari dokter kandungan saya yang telah mewanti-wanti bahwa kehamilan saya ini merupakan kehamilan risiko tinggi mengingat pengalaman 2 kali keguguran, sehingga diputuskan untuk tidak berpuasa.

Meskipun sudah sering baca tentang keringanan puasa untuk ibu hamil  namun tetap saja saya mengalami kebingungan tentang bagaimana cara menggantinya, apakah cukup dengan membayar fidyah atau mengganti puasa di lain bulan. Setelah mempertimbangkan faktor bahwa insyaAllah di Ramadhan 1430 H saya sedang menyusui, akhirnya saya mengambil pendapat pertama, yaitu saya akan mengganti puasa saya dengan membayar fidyah.

Yang lumayan berkesan adalah seni  berjalan mengendap-endap ke kantin/pantry untuk makan/minum 🙂 Trus karena bulan puasa, menu makanan yang tersedia sangat terbatas, sehingga makannya cuma itu-itu aja, kalo ga nasi padang-jawa ya soto ayam.Continue reading “Empat Ramadhan”

4 Metode Bobok Sang Pangeran Kecil

1. Bobok sambil nonton tivi

Karena poin ini dah pernah saya sampaikan sebelumnya, jadi ga perlu saya jelaskan lagi ya! 🙂

2. Bobok normal

Normal disini maksudnya bobok dengan dikelonin di tempat tidur seperti biasa. Jadi kalo dah waktunya tidur, bunda bikin susu sebotol yang isinya 240 ml trus ajak Mahes ke kamar trus berbaring sambil nepuk-nepuk pant*t Mahes atau ngelus-ngelus punggungnya sambil nyanyi “Bismillah”nya Yusuf Islam. Kadang tangan mungilnya menarik tangan bunda untuk diletakkan di keningnya dan mengelus-elus keningnya 🙂 Kadang malah ikutan nyanyi meskipun cuma ngikut di bagian “bismillah” ma “alhamdulillah” 🙂 Tapi kalo si Mahesnya lagi ga pengen tidur malah seringnya bundanya yang ketiduran duluan 😀

3. Bobok (agak) Normal

Jangan mengerutkan kening dulu! 🙂 Maksud poin ini adalah bobok dengan cara digendong. Metode ini punya dua versi, versi ayah dan versi bunda. Continue reading “4 Metode Bobok Sang Pangeran Kecil”

Tips Memberi Nama Anak

1. Tentukan “taste” yang ingin ditimbulkan

Jauh-jauh hari si ayah dah bilang bahwa pengen supaya nama anak(-anaknya) mengandung  unsur bahasa Sansekerta. Nah, setelah nyari-nyari ternyata ga dapet nama yang kami inginkan, akhirnya nyari nama yang mengandung unsur bahasa Jawa dan didapatlah nama Maheswara yang (katanya) berasal dari bahasa Jawa Kawi yang artinya RAJA BESAR 🙂

2. Kata pertama tidak diawali dengan huruf pertama atau terakhir dalam alphabet

Kenapa ga diawali dengan huruf A atau B? Alasannya adalah supaya kalo tar si anak dah sekolah trus ada tugas atau sedang ada pembacaan nilai ujian, namanya bukan yang pertama kali disebut, mengurangi kemungkinan mengalami sport jantung 🙂
Trus kenapa juga bukan huruf V sampai Z? Alasannya yaaaaaaa kali aja suatu hari sang guru bosen ngabsen dari absen pertama trus diganti mulai dari absen terakhir 🙂

3. Tentukan jumlah kata

Sejak awal kami juga memutuskan bahwa nama si anak harus lebih dari satu kata, alasannya??? Agar lebih banyak doa yang terkandung didalamnya dan supaya lebih keren. Nah, karena bundanya kemaruk pengen ngasih semua sifat baik dalam satu nama, akhirnya tetep aja nama Mahes terdiri dari 4 kata, maaf ya sayang… 😀Continue reading “Tips Memberi Nama Anak”

Pintarnya Jagoan Bunda!

Adzan Maghrib berkumandang, saya mengambil mukena kemudian menggelar sajadah untuk saya dan sarung untuk sang pangeran kecil yang sejak tadi sudah berdiri tak sabar menunggu di sebelah saya untuk melaksanakan sholat bersama.

Setelah semuanya siap, saya sholat. Tiap gerakan sholat (kecuali ruku’) diikuti dengan sempurna oleh sang pangeran kecil, walaupun gerakan sujudnya masih seperti kaki kodok (lutut tidak menyentuh lantai) dan sesekali masih melirik ke arah saya 😉

Tahiyat akhir, kemudian salam. Sholat usai. Setelah bersalaman, sang pangeran kecil duduk di pangkuan saya, menengadahkan tangannya dan berkomat-kamit dengan mata mlilik-mlilik, diakhiri dengan mengusapkan telapak tangannya ke wajahnya, berdoa katanya 🙂 Saya hanya bisa berseru dalam hati “Maha Suci Engkau Ya Allah .. terima kasih atas karunia terbesarMu ini!”

Usai “berdoa”, telunjuk sang pangeran kecil menunjuk ke Al Qur’an yang terletak di atas meja. Setelah diambilkan oleh si ayah, dibukanya halaman demi halaman dan “membacanya”. Berbeda dengan “berdoa”, selain dengan mulut berkomat-kamit sang pangeran kecil juga mengeluarkan suara nggremeng, menghayati bacaan Al Qur’annya 🙂 Kadang juga diselingi dengan menarik tangan bundanya dan meminta dibacakan suatu ayat yang ditunjuknya.

Ya Allah jadikanlah aku dan keturunanku orang-orang yang selalu mendirikan sholat, Ya Allah, kabulkanlah doaku.

Akhirnya Beli Juga

Beberapa taun yang lalu saya selalu memandang aneh setiap kali melihat buku-buku resep masakan yang dipajang di setiap toko buku. Gak habis pikir koq ya masih ada yang mbeli buku semacam itu lha wong internet murah dan lebih praktis, tinggal tentuin menu, klik di mbah gugel, resep berbagai versi langsung tersedia! Mudah dan praktis, tinggal scroll mouse, beres! Pilihan menunya lebih banyak tergantung kita pengennya apa, berbeda dengan jika menggunakan buku resep masakan yang dalam satu buku hanya tersedia beberapa macam menu, trus ngapain repot-repot beli buku resep kaya gitu?!

Namun ternyata di kemudian hari (baca : saat ini), saya termakan omongan saya sendiri. Dilatarbelakangi oleh pusingnya kepala saya jika harus menyusun menu masakan yang variatif tiap harinya, yang ada di otak hanya menu yang itu-itu aja yang malah bikin saya sendiri malas membayangkannya. Akhirnya di suatu kesempatan ketika sedang berweekend ria di eMol terdekat, maen-maenlah saya ke Gramedia dan kemudian jatuh cinta pada pandangan pertama ke buku karangan Yuni Pradana dan Raninta Ika Ariestya ini. Bukan karena nama penulisnya memiliki kemiripan dengan nama saya lho ya, bukan ituuuu… Saya tertarik ke buku ini karena setelah melihat sampel buku yang telah dibuka, di dalamnya tersedia 180 menu variatif yang bisa diaplikasikan dalam waktu sebulan, sehingga rolling menunya lebih lama dan kemungkinan timbulnya rasa bosan terhadap menu makanan tertentu dapat diminimalisir 🙂 Continue reading “Akhirnya Beli Juga”