sayaamatsangatsukabukusekali

Cihuyyyyy! Alhamdulillah.. akhirnya setelah sekian lama puasa ga beli buku, semalam dahaga itu terpuaskan sudah!
Setelah mengakhiri double date dengan Om Nyinyu dan Tante Nyonyo, kami (saya dan suami) mampir ke pojok lantai 3 Bintaro Plaza.

Seperti biasa, untuk urusan belanja buku ini saya tetap jadi pemenangnya, karena dalam waktu 10 menit saja tas Grame*ia saya telah terisi dengan 2 buku, sementara si ayah masih muter-muter sambil sesekali mengencani pojok informasi dan sibuk mengetikkan beberapa keyword yang ga jauh-jauh dari kata Seno Gumira Ajidarma, penulis favoritnya.

Time is running out, ketika saya sedang pusing memilah buku mana yang ga jadi saya beli (saking banyaknya buku yang dipengenin sampe2 kebingungan mo beli yang mana), saat itu juga si ayah masih belum mendapatkan sebijipun buku, alasannya sih karena beberapa waktu lalu dah pesen buku via online sehingga untuk pembelian buku kali ini harus benar-benar selektif padahal alasannya sih karena emang bingung mo beli yang mana.

Memang selera kami terhadap buku jauh berbeda. Kalo saya sukanya yang ibu-ibu banget dah! Daily life gitu, tentang kehidupan berkeluarga, perkembangan anak, dan sejenisnya, sementara kalo si ayah sukanya tulisan-tulisan  yang saya ga ngerti dan berat mbacanya! 😦 Mungkin hal itu juga yang membuat perbedaan dalam “kecepatan memilih buku” kami 😀 Dan akhirnya setelah beberapa kali bertawaf mengelilingi toko buku ini, didapatlah 7 buah buku, 6 buat saya dan 1 buat si ayah hahaha… :mrgreen: Berikut judul-judul buku yang kami beli :Continue reading “sayaamatsangatsukabukusekali”

Numpang Narsis Ya!

Bubuk mesiu itu
Kuminum
Diserap hatiku

Dan bila tlah mengendap
Pantik saja dengan adamu

Biar meledak
Biar kau tahu – kau rasa
Serpihan hatiku yang merindumu

Hidupku tak jelas
Tanpa adamu

Langkahku takkan pasti
Tanpa kehadiranmu

Disini

Aku terpaksa sendiri

Membiarkanmu
Belajar mengerti

Ah, mungkin aku terlalu melankolis

Kutahu kau pasti kan kembali

Dan kita akan segera bertemu kembali

 

Tulisan di atas adalah salah dua (bukan salah satu) sms yang dikirimkan oleh suami saya ketika kami masih menjalani long distance relationship antara Bandung – Jakarta 😀

The Expendables : K.E.C.E.W.A

Ketika si ayah ngasih tau bahwa SALT dah diputar di Bintaro 21, saya melonjak kegirangan karena dah pengen nonton film ini dari dulu. Namun ternyata di hari yang sama juga ditayangkan The Expendables, film yang dibintangi oleh aktor Hollywood kesukaan si ayah, Sylvester Stallone.

Perdebatan dimulai. Saya pengen nonton SALT karena ga suka sama Sylvester Stallone. Sementara ayah kebalikan dari saya. Masing-masing ga mau ngalah hingga tercapailah beberapa opsi sebagai berikut :

  • Nonton dua-duanya baik SALT maupun The Expendables tapi nontonnya sendiri-sendiri. Ayah nonton The Expendables, bunda nonton SALT. Tapi opsi ini langsung ditentang ayah, ga enak kalo nonton sendirian katanya
  • Nonton dua-duanya di hari yang berbeda, Sabtu dan Minggu. Kali ini saya yang ga setuju karena akhir pekan merupakan waktu penebusan “dosa” saya kepada pangeran kecil saya karena tidak dapat menemaninya full time dari Senin hingga Jumat

Karena dari dua opsi di atas ga ada yang disetujui, akhirnya dicapailah kesepakatan bahwa nonton filmnya dibagi dalam dua akhir pekan, dan yang pertama kali ditonton adalah The Expendables. Yupz, akhirnya saya luluh juga karena meskipun saya ga suka Sylvester Stallone, tapi di film itu juga ada  Jason Statham, actor yang saya suka sejak dia membintangi Transporter.Continue reading “The Expendables : K.E.C.E.W.A”

Empat Ramadhan

1. Ramadhan 1428 H

Ramadhan pertama dengan menyandang status baru : sebagai istri 🙂 Sayangnya pada kesempatan tersebut tidak dapat menikmati buka puasa dan sahur bersama suami tercinta. Akibat tuntutan pekerjaan, kami harus terpisahkan oleh jarak Jakarta-Bandung sehingga hanya bisa bertemu pada saat weekend tiba 😦

Saat itu saya masih ngekos di daerah Cilandak, untungnya tempat kos saya bersebelahan dengan warung nasi, sehingga untuk keperluan buka puasa dan sahur tinggal ngloncat pagar doang 🙂

Kenangan manisnya :

  1. Meskipun jam pulang kantor dimajukan setengah jam menjadi pukul 16.30 WIB, tetap saja saya harus berbuka puasa di metromini, paling banter nyampe kos pukul 18.00 WIB, di Blok M macet total 😦
  2. Sahur kesiangan sehingga kehabisan lauk di warung nasi sebelah kos, akibatnya saya hanya sahur dengan air putih saja, alhamdulillah hari itu dapat terlalui dengan lancar

2. Ramadhan 1429 H

Pada tahun ini, saya dan suami masih menjalani hubungan jarak jauh Jakarta-Bandung, tapi saya pindah kos ke daerah Mampang. Dan pada tahun ini juga si Mahes wannabe sudah  mendekam di rahim saya selama kurleb 4 bulan. Meskipun hamil yang ketiga namun ini pertama kalinya saya bertemu bulan Ramadhan dalam keadaan hamil. Sesuai pesan dari dokter kandungan saya yang telah mewanti-wanti bahwa kehamilan saya ini merupakan kehamilan risiko tinggi mengingat pengalaman 2 kali keguguran, sehingga diputuskan untuk tidak berpuasa.

Meskipun sudah sering baca tentang keringanan puasa untuk ibu hamil  namun tetap saja saya mengalami kebingungan tentang bagaimana cara menggantinya, apakah cukup dengan membayar fidyah atau mengganti puasa di lain bulan. Setelah mempertimbangkan faktor bahwa insyaAllah di Ramadhan 1430 H saya sedang menyusui, akhirnya saya mengambil pendapat pertama, yaitu saya akan mengganti puasa saya dengan membayar fidyah.

Yang lumayan berkesan adalah seni  berjalan mengendap-endap ke kantin/pantry untuk makan/minum 🙂 Trus karena bulan puasa, menu makanan yang tersedia sangat terbatas, sehingga makannya cuma itu-itu aja, kalo ga nasi padang-jawa ya soto ayam.Continue reading “Empat Ramadhan”

4 Metode Bobok Sang Pangeran Kecil

1. Bobok sambil nonton tivi

Karena poin ini dah pernah saya sampaikan sebelumnya, jadi ga perlu saya jelaskan lagi ya! 🙂

2. Bobok normal

Normal disini maksudnya bobok dengan dikelonin di tempat tidur seperti biasa. Jadi kalo dah waktunya tidur, bunda bikin susu sebotol yang isinya 240 ml trus ajak Mahes ke kamar trus berbaring sambil nepuk-nepuk pant*t Mahes atau ngelus-ngelus punggungnya sambil nyanyi “Bismillah”nya Yusuf Islam. Kadang tangan mungilnya menarik tangan bunda untuk diletakkan di keningnya dan mengelus-elus keningnya 🙂 Kadang malah ikutan nyanyi meskipun cuma ngikut di bagian “bismillah” ma “alhamdulillah” 🙂 Tapi kalo si Mahesnya lagi ga pengen tidur malah seringnya bundanya yang ketiduran duluan 😀

3. Bobok (agak) Normal

Jangan mengerutkan kening dulu! 🙂 Maksud poin ini adalah bobok dengan cara digendong. Metode ini punya dua versi, versi ayah dan versi bunda. Continue reading “4 Metode Bobok Sang Pangeran Kecil”

Tips Memberi Nama Anak

1. Tentukan “taste” yang ingin ditimbulkan

Jauh-jauh hari si ayah dah bilang bahwa pengen supaya nama anak(-anaknya) mengandung  unsur bahasa Sansekerta. Nah, setelah nyari-nyari ternyata ga dapet nama yang kami inginkan, akhirnya nyari nama yang mengandung unsur bahasa Jawa dan didapatlah nama Maheswara yang (katanya) berasal dari bahasa Jawa Kawi yang artinya RAJA BESAR 🙂

2. Kata pertama tidak diawali dengan huruf pertama atau terakhir dalam alphabet

Kenapa ga diawali dengan huruf A atau B? Alasannya adalah supaya kalo tar si anak dah sekolah trus ada tugas atau sedang ada pembacaan nilai ujian, namanya bukan yang pertama kali disebut, mengurangi kemungkinan mengalami sport jantung 🙂
Trus kenapa juga bukan huruf V sampai Z? Alasannya yaaaaaaa kali aja suatu hari sang guru bosen ngabsen dari absen pertama trus diganti mulai dari absen terakhir 🙂

3. Tentukan jumlah kata

Sejak awal kami juga memutuskan bahwa nama si anak harus lebih dari satu kata, alasannya??? Agar lebih banyak doa yang terkandung didalamnya dan supaya lebih keren. Nah, karena bundanya kemaruk pengen ngasih semua sifat baik dalam satu nama, akhirnya tetep aja nama Mahes terdiri dari 4 kata, maaf ya sayang… 😀Continue reading “Tips Memberi Nama Anak”

Pintarnya Jagoan Bunda!

Adzan Maghrib berkumandang, saya mengambil mukena kemudian menggelar sajadah untuk saya dan sarung untuk sang pangeran kecil yang sejak tadi sudah berdiri tak sabar menunggu di sebelah saya untuk melaksanakan sholat bersama.

Setelah semuanya siap, saya sholat. Tiap gerakan sholat (kecuali ruku’) diikuti dengan sempurna oleh sang pangeran kecil, walaupun gerakan sujudnya masih seperti kaki kodok (lutut tidak menyentuh lantai) dan sesekali masih melirik ke arah saya 😉

Tahiyat akhir, kemudian salam. Sholat usai. Setelah bersalaman, sang pangeran kecil duduk di pangkuan saya, menengadahkan tangannya dan berkomat-kamit dengan mata mlilik-mlilik, diakhiri dengan mengusapkan telapak tangannya ke wajahnya, berdoa katanya 🙂 Saya hanya bisa berseru dalam hati “Maha Suci Engkau Ya Allah .. terima kasih atas karunia terbesarMu ini!”

Usai “berdoa”, telunjuk sang pangeran kecil menunjuk ke Al Qur’an yang terletak di atas meja. Setelah diambilkan oleh si ayah, dibukanya halaman demi halaman dan “membacanya”. Berbeda dengan “berdoa”, selain dengan mulut berkomat-kamit sang pangeran kecil juga mengeluarkan suara nggremeng, menghayati bacaan Al Qur’annya 🙂 Kadang juga diselingi dengan menarik tangan bundanya dan meminta dibacakan suatu ayat yang ditunjuknya.

Ya Allah jadikanlah aku dan keturunanku orang-orang yang selalu mendirikan sholat, Ya Allah, kabulkanlah doaku.

Antara Inception dan The Sorcerer’s Apprentice

Sebenernya si ayah dah ngajakin nonton dari minggu yang lalu, hanya saja blom kesampean karena saat itu dateng ke bioskopnya dah mepet, padahal blom makan malem sehingga memutuskan untuk menundanya hingga batas waktu yang tak bisa ditentukan.

Sabtu sore kemarin kebetulan Mahes dah tidur dari pukul 17.00 WIB, si ayah nanyain tentang rencana nonton yang tertunda kemarin, akhirnya tercapailah kesepakatan bahwa kami jadi nonton Inception malam itu (sekalian nge-date). Sebenarnya saya dan si ayah masih bingung antara nonton Inception yang dibintangi oleh Leonardo Di Caprio atau The Sorcerer’s Apprentice yang dibintangi oleh Nicholas Cage, karena kami sama-sama bukan penyuka si Leonardo Di Caprio, sedangkan film yang laen ga ada yang representatif untuk ditonton. Masalahnya saya juga ga suka-suka amat sama si Nicholas Cage, berkebalikan dengan ayah yang sangat suka sama si NC ini. Ya sudah, supaya adil akhirnya kami ambil jalan tengah yaitu nonton Inception saja 😀

Singkat cerita akhirnya kami beli tiket yang pukul 21.15 WIB karena untuk yang pukul 18.30 WIB jelas ga mungkin bisa, lha wong nyampe sana aja pukul 19.10 WIB, padahal blom makan malam, ya wes, nekat! Sekali-kali nonton berasa midnight kan gapapa, itung-itung pacaran lagi 😀Continue reading “Antara Inception dan The Sorcerer’s Apprentice”

Three In One

1. Jenguk Dedek Aisyah

Dedek Aisy  yang berkulit putih, hidung mancung, dan berambut tebal ini merupakan putri pertama dari pasangan Mia dan mas Acwin. Ketika kami kesana hal yang pertama kali diperhatikan oleh Mahes adalah tempat tidur dek Aisy yang pinky. Terus saja dia menuding-nuding ke arah tempat tidur sambil menggumam ga jelas yang mengisyaratkan bahwa dia pengen tidur disana. Setelah si bintangnya rumah keluar (baca : dek Aisy) dan hendak saya letakkan di kasurnya, spontan Mahes menarik popok Aisy, melarang saya membaringkan Aisy disana, untuuuung aja saya dah mengantisipasi gerakan itu, sehingga Aisy dapat “diselamatkan”, maaf ya tante Mia! 🙂 .

Setelah berbaring beberapa saat, dek Aisy dah mulai bosan, sedikit demi sedikit wajahnya mulai berkerut dan kemudian pecahlah tangisnya. Begitu dia saya gendong, eee..malah diem anteng menikmati indahnya dunia. Dimana-mana bayi tuh emang doyan digendong ya?! Nah, saat saya menggendong Aisy inilah Mahes memanfaatkan momen tersebut dengan langsung melompat ke kasur Aisy dan duduk manis disana. Sambil menggendong, saya minta Mahes untuk tiduran malah ga mau, trus dari tadi nunjuk-nunjuk kasur tuh cuma pengen duduk ya dek?! Akhirnya setelah muncul kekhawatiran akan semakin menjadi-jadinya tingkah Mahes, kami memutuskan untuk pulang. Sekali lagi, maaf ya tante Mia dan om Acwin! 😀Continue reading “Three In One”