Ambyarnya Luka Hati

Luka hati itu seperti halnya luka akibat tersayat pisau yang baru diasah.

Lukanya dalam dan menyakitkan.

Meskipun sudah berkali-kali dibilas dengan air mengalir, darah tetap saja keluar dari sayatannya. Segala teknik kompresi sudah digunakan demi mencegah keluarnya darah lebih banyak, namun hal itu tak terlalu berpengaruh, darah tetap mengalir.

Akhirnya segala keangkuhan itu runtuh, diobatilah si luka. Jangan tanya rasanya, perihhhh!

Celakanya, tiap kali si luka terkena air atau tak sengaja tersentuh, rasa sakit kembali menyayat. Sementara aktivitas mencuci piring, memasak, mandi dan segala macam yang melibatkan air dan sabun harus tetap berjalan seperti biasa. Mencuci piring, luka terbuka lagi, perih lagi, diobati lagi. Mandi, luka perih terkena sabun, terbuka lagi, diobati lagi, perih lagi. Memasak, menyentuh pinggiran aluminium, sakit lagi, terbuka lagi, diobati lagi, perih lagi.

Tiap kali darah mengucur, tiap kali si iodine turun tangan.

Begitu terus berulang-ulang.

Hingga akhirnya si luka menyerah dan menyiut dengan sendirinya.

Seperti halnya luka hati. Awalnya memang terasa sangat menyakitkan, namun seiring dengan berjalannya waktu, tempaan pelajaran kehidupan, dan pencerahan yang seringnya ditemui secara tak sengaja, akan membuat kita terbiasa terluka, terbiasa menerima luka, dan akhirnya berdamai dengan luka.

Luka hati seperti halnya karet rambut.

Ketika masih baru-barunya, si karet ini akan mengikat rambut dengan kencang, cenderung menyakitkan malah. Dia tidak peduli seringai kesakitan yang tergambar di wajah manusia tiap kali menggunakannya. Toh hal itu dikehendaki secara sadar oleh manusianya sendiri. Lagipula jika memang manusianya tidak nyaman, seharusnya mereka tidak menggunakan si karet rambut. Biarkan saja rambutnya tergerai berantakan. “Manusia harus menyadari konsekuensi atas tiap perbuatannya” seru si karet rambut tiap kali ditanya atas tindakan apatisnya tersebut.

Seiring dengan berjalannya waktu, si karet rambut mulai mengendor, tingkat elastisnya menurun drastis. Yang terjadi selanjutnya adalah jumlah lilitan yang semakin ditambah untuk memberikan kompensasi atas menurunnya kemampuannya dalam mengikat. Akhirnya si manusia bisa mengikat rambutnya tanpa harus merasakan sakit lagi. Yaaa meskipun di sisi lain dia jelas sudah kehilangan kemampuan si ikat rambut, ditambah lagi dia juga harus melakukan usaha lebih tiap kali harus mengikat rambutnya.

Luka hati pun begitu. Sakit banget, namun hal itu tetap harus dijalani karena memang itu satu-satunya cara untuk bisa melaluinya. Sakit fisik yang tak segera sembuh, mental yang seringkali terpuruk, tidur yang terganggu mimpi buruk, makan minum sekenanya. Ada banyak penyesuaian yang mau tidak mau harus dilakukan demi memperoleh jalan tengah atas kondisi yang sangat melelahkan ini. Penyesuaiannya apa saja? Hanya si manusia yang tau “lilitan”nya harus berapa banyak demi mencapai kondisi yang nyaman.

*Tulisan ini dibuat karena hari ini merupakan hari keempat luka sayatku belum juga sembuh, padahal sudah diobati setiap hari, masih saja terasa sakit.

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s