Sebuah Janji Non Fiksi

A kepada B, hari H-1
A : besok ke X yok!
B : oke
A : mm.. gajadi deh, tiba-tiba ga mood

A kepada C, hari H
A : besok ke X yok!
C : oke
A : sippp

Apakah B baik-baik saja?
Semoga!
Yang pasti B menyadari bhw dia hanya Upik Abu yg selalu dipandang sebelah mata.

Mungkin A tidak menyadari bahwa tindakannya membuat B merasa tersakiti.
Seharusnya B yang sadar diri bahwa dia bukanlah C atau D atau E~Z yang layak untuk diperlakukan bak tuan putri.

Di kemudian hari, banyak suara sumbang bahwa tak sepantasnya B bersikap seperti itu. Atau jangan-jangan itu hanya suara di kepala B yang berusaha membangun dinding pertahanan semu.

Untuk menjaga apa yang selama ini disebut oleh B sebagai gengsi, menyerupai harga diri, yang sebenarnya tanpa disadari sudah jatuh berkalang tanah di semak berduri.

Wahai..
Tak jarang di balik setiap tawa ada hati yang terluka.
Tak sedikit di setiap sikap angkuh tersembunyi jiwa yang rapuh

Wahai..
Jika suatu saat kau menemukannya berbeda, mungkin saat itu dia sudah menyerah kepada semesta.

Ternyata dia tak sekuat yg dia kira.

Ternyata kesendirian benar-benar menghakiminya.

Ternyata ke-tak acuh-an membunuh jiwanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s