Si Perkasa, Si Nomer Dua

Seharusnya bulan ini jatah bundanya konsul ke dokter SPKK, setelah sekian purnama dilewati dengan alasan efisiensi anggaran demi membayar cicilan pesawat terbang yang tak kunjung usai.

Apa daya, ada yang lebih darurat ternyata. Gigi si nomer dua yang dulu berlubang dan sudah ditambal, lepas tambalannya, dan yang lebih gawatnya ternyata juga ada infeksi berupa abses di gusi yang lagi-lagi tak terduga karena si nomer dua ini tak pernah mengeluh sakit sebelumnya.

Seperti biasa, dokter giginya mengagumi ambang batas sakitnya yang luar biasa.

Si nomer dua tetap kokoh tak tergoyahkan duduk di kursi periksa bak pesakitan yang terpaksa menjadi perkasa.

Gusi diinsisi, darah mengalir begitu derasnya. Gusi kempis seketika, menyisakan “mata” yang sungguhlah mungilnya yang membuatku tak menyangka akan menyebabkan abses sebegitu besarnya.

Dokter lagi-lagi bertanya apakah tindakannya menyebabkan rasa sakit di raga si nomer dua, dan dia hanya menggelengkan kepalanya.

Tindakan usai, si nomer dua mengulum kapas yang berguna untuk menghentikan darah yang kadang masih merembes di sela luka.

Sesekali kutanya, apakah sakit? Dia lagi-lagi menggelengkan kepala.

Sesampai di rumah, kuminta dia meminum obat dari dokter, mengernyit wajahnya, ketika kutanya, pahit katanya.

Menjelang tidur, seperti biasa dia memanggilku untuk sekadar memberikan belai di kepala. Sesaat mataku kabur berbayang, setitik air bening mengambang di sana, berbangga melihat perjuangan si nomer dua menahan sakit yg mendera.

Si nomer dua, Parisha Taqiyya Salsabila.

IMG-20190921-WA0022

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s