Memori dan Mati

Tamu bulanan datang, seperti biasa hari-hari pertama terasa sangatlah sulit.

Baluran minyak kayu putih dan butiran Cataflam membantuku melaluinya.

Singkat cerita, ketika sedang asik menghirup uap minyak kayu putih, sekelebatan memori tentang Alm. Ibu dan Bapak melintas di benakku.

Ya, hanya sekelebat, secuil dari potongan memori yang (mungkin) mampu terekam di otakku.

Terekam suasana Ibu sedang terbaring di tempat tidur kayu dengan kasur tipis, semburat aroma minyak kayu putih tercium, sementara di hulu tempat tidur terdapat segelas besar teh manis, sebungkus roti tawar (saat itu roti tawar adalah hal yang sangat mewah bagi kami), dan sebotol madu. Di sisi kiri pembaringan tersebut, sebuah kursi diletakkan di sana. Bapak sesekali duduk di sana dan menanyakan kondisi Ibu, dan barangkali menanyakan apakah Ibu butuh diambilkan sesuatu. Saat itulah aku (yang entah umur berapa) menyerocos bahwa aku ingin makan roti tawar dengan olesan madu di atasnya. Bapak dengan cekatan langsung menyiapkannya dan kemudian mengangsurkannya kepadaku, setelah sebelumnya aku merengek meminta sesendok madu untuk aku icip-icip. Aku? Tentu saja menerimanya dengan senang hati, tawa tengil, tanpa mempedulikan bahwa Ibu sedang terkapar kesakitan dan Bapak sedang menahan tangis melihat kondisi Ibu yang tak kunjung sembuh.

Sungguhlah ini sebuah kenangan manis bagiku yang masih kecil, bisa puas menikmati roti tawar mahal dengan olesan madu yang sangat jarang sekali bisa kunikmati. Tapi jika mengingat hal itu saat ini, aku sangat ingin mengutuk diri sendiri yang tak punya hati kala itu 😦

Maafkan aku, Ibu! Maafkan anakmu yang tak pandai menjaga sikap 😦

IMG01382-20130704-1245
satu-satunya foto Ibu yang aku punya

Kedua, suasana rumah semi permanen kami yang ramai dikunjungi orang yang hendak menjenguk Bapak pasca kecelakaan motor beberapa tahun setelah meninggalnya Ibu (ya, Ibu akhirnya menyerah pada sakitnya setelah sekian tahun berjuang melawannya). Aku masih sangat mengingat kondisi kepala Bapak yang masih terbalut perban dengan sedikit noda iodin, Bapak mengalami gegar otak ringan (katanya) ketika tengah mengendarai motor Vespa-nya dan entah bagaimana roda depannya terlepas tiba-tiba. Oke, kembali ke situasi di atas. Kepala Bapak terbalut perban dan sedang duduk di sebuah kursi di teras rumah kami untuk menemui para tamu yang datang membesuk, karena rumah kami sangatlah mungil untuk bisa menampung mereka semua di dalam rumah. Aroma obat balur dari rumah sakit masih menguar kuat dalam jarak sekian puluh centimeter, tapi meskipun begitu aku yang sangat antusias karena sudah lama tak bertemu dengan Bapak tak menghiraukannya. Aku hanya ingin duduk berdekatan dengan Bapak. Bapak pun sepertinya menyadari hal itu, tanpa ragu beliau menyodorkan sekaleng besar biskuit oleh-oleh dari tamu. Sungguh biskuit itu sangatlah nikmat, saat ini pun aku masih bisa membayangkan rasa lezatnya. Dan masih kuingat jelas sunggingan senyum Bapak dengan gigi taringnya yang menurutku sangatlah menyenangkan untuk dilihat (dan entah kebetulan atau tidak, bentuk gigi taring ini kutemukan di susunan gigi Mahes). Bapak dirawat sekitar 5-7 hari nonstop di rumah sakit, sementara pengasuhanku berada di bawah pengawasan alm. kakek nenekku.

DSC_0063
Bapak dan Mahes

Bapak, Ibu, semoga kalian bahagia di sana.

Sungguh, mati dan memori adalah sebenar-benarnya misteri.

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s