Posesif vs Cemburu

“Dari skala 1-10, kadar ke-posesif-anku berapa?”

“9,5 spertine….”

Langsung mengernyit itu yg namanya kening saya, masa iya sih segitu parahnya? šŸ˜…

Saking penasarannya saya dan saking ga nyadarnya saya bahwa saya itu posesif sampe-sampe dibelain googling pake keyword “ciri posesif” daaaannn… segambrenglah itu artikel dengan bahasan sedemikian rupa.

Nahhh.. Setelah guweh baca nih ya, terlepas dari artikel-artikel itu kebanyakan membahas tentang posesif terhadap pasangan, tetiba jadi mikir kek gini : lho, kalo emang ciri posesif itu seperti ini, apa bedanya sama cemburu?

images

gambar nyomot dari sini

Oiya, salah satu artikel yang saya jadikan pertimbangan adalah artikel ini. Di sana dijelasin salah satu cirinya adalah suka bertanya hal yang tidak penting, define PENTING itu kekmana ?! šŸ˜‘ Penting dong ya nanyain pasangan kita mo kemana, sama siapa, makan apa, sampe jem brapa, naek apa, seenggaknya kita tuh tau bahwa si pasangan we fall in love with ini bakalan baik-baik aja, ples jika ada sesuatu yg mendadak dan mendesak senggaknya kita tau posisinya dimana, akan mudah dijangkau atau nggak, kalo dia kenapa-napa (amit2 deh jangan sampe!) si dia bakalan baik2 saja karena perginya barengan sama si A B C D E F, misalnya gitu.

Lucunya lagi, si artikel ini juga bilang bahwa salah sekian ciri posesif adalah sering mengirim pesan tidak penting. Wait.. WHATTT??? Lagi, definisikan penting itu yang seperti apa šŸ˜• Gimana kalo guweh bilang bahwa yang dianggap ga penting itu adalah bukti kalo kita ingin dia menjadi yang pertama dan satu-satunya orang yang kita beritahu tentang “hal tidak penting” tersebut. Terlebih kalo orangnya macem guweh yang ga bisa kalo sehari ga cerita tentang kegiatan guweh hari itu, tanpa ditanya sekalipun (baca : guweh cerewet). Kalo buat guweh pribadi, bercerita itu semacem ngasitau ke si dia bahwa “heiiii..ini aku cerita ke kamu lho, meaning aku mau kamu juga terlibat di dalan hidupku, karena kamu penting bagiku”

THISSS !

Kamu penting bagiku, pesan tersirat yang seringkali disalah artikan sebagai “tempat menampung keluh kesah”

Lebih-lebih ke orang yang (katanya) introvert macem guweh (jangan ngakak plisss.. Guweh dah berkali2 tes kejiwaan hasilnya olweis introvert šŸ˜©) Ga gampang lho bisa klik sama orang yang pada akhirnya kita mo terbuka dan berbicara tentang hal-hal tidak penting di sekitar kita šŸ˜

Hubungannya sama cemburu apaan??? Cemburu itu indikator paling mudah untuk menunjukkan seberapa tinggi kadar keposesifan yang kita miliki, katanya sih gitu, bukan kata guweh yak šŸ˜šŸ™ˆ

Jadi kan salah satu penyebab cemburu itu adalah rasa insecure di diri kita tuh ya, kenapa kita merasa insecure? Mungkin karena low self esteem macem awak ini, mungkin juga karena hal lain. Nahhh.. Salah satu cara mengurangi insecure ini adalah dengan positif thinking (yang mana guweh ga bisakkk). Nantinya diharapkan jika sudah bisa mengikis kadar insecure bakalan mengurangi rasa cemburu sehingga kadar keposesifan juga akan turun, katanyaaaaa gituuuu…

Overall, posesif menurut saya bukanlah melulu tentang rasa ingin memiliki. Posesif lebih kepada sebuah tanda bahwa apapun itu adalah milik saya yang bakalan saya jaga dengan segenap jiwa raga hingga akhir menutup mata.

Sekian, terima kasih.

Bubeeeeyyyy šŸ˜˜

Advertisements
Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s