4

Alergi Menikah

Menikah itu bikin alergi! Seriussss!!! Ga percaya? Saya korbannyaaaaa… T_T

DSC_0080

Dulu sebelum menikah satu-satunya “sakit” alergi saya adalah alergi terhadap udang, itupun (katanya) karena sugesti dari saya sendiri dan pengaruh dari orang-orang sekitar (baca : keluarga besar) yang telah menanamkan ke alam bawah sadar saya bahwa jika saya makan udang utuh, maka saya akan mengalami gatal-gatal di seluruh tubuh saya.

Nah, sejak saya kuliah di Tangerang Selatan ini, otomatis saya jauh dari keluarga saya dong, ditunjang dengan factor teman-teman kos yang merupakan fans berat udang, akhirnya saya mencoba untuk menantang diri saya sendiri, membuktikan bahwa sebenarnya saya tidak alergi udang. Membuktikan bahwa biduran di masa kecil yang menghebohkan keluarga besar saya itu bukanlah efek dari makan udang, melainkan karena keisengan seekor ulat bulu yang nemplok di badan saya. Daaaan hasilnya lumayaaaan.. Dua sampai tiga ekor udang utuh bisa saya lahap tanpa perlu merasakan gatal-gatal dan kulit meradang. Sejak saat itu pun sedikit demi sedikit “dosis” makan udang mulai saya tingkatkan.

And there we go.. Tibalah saatnya saya menikah dengan pangeran bermotor hitam saya ^_^ For the record, he has bad allergic to most of seafood kecuali ikan dan kerang. Jangan pernah mencoba “menyusupkan” olahan cumi/udang/kepiting ke dalam menu masakannya, dijamin beberapa menit sesudah itu beliau akan mempertanyakan makanan yang dimakan, kemudian mulai merasakan keanehan di perutnya, dan selanjutnya akan memuntahkan makanan tersebut. Dan ini bukan sugesti, karena pas proses makannya, suami saya makan dengan lahap dan baik-baik saja, tapi yaaaa ituuu… ketika itu makanan sudah nyampe ke perut sepertinya antibodinya mulai merasakan adanya proten asing yang dianggapnya “musuh” dan kemudian memerintahkan otak untuk segera menyingkirkannya dari saluran pencernaan.

Trus hubungannya sama saya dimana??? Ya ituuuuuu… Mungkin karena suami alergi sifud sehingga saya jadi jarang menyajikan menu-menu terlarang tersebut di lantai makan kami (sampai sekarang blom punya meja makan) dan akibatnya badan saya pun jadi jarang ketemuan dengan para protein asing tersebut. Dimulai dengan tidak bisa mengonsumsi udang sama sekali (bisa tapi langsung gatal dan kulit kemerahan), dilanjutkan dengan pasca melahirkan si Risha yang membuat saya tidak bisa mengonsumsi cumi dan kepiting. Aaaaaaaaaaaarrghhhh.. cumi masak hitaaaaaaaaaam… siapa yang bisa menolah gurihnya tubuh kenyalmuuu??? Hiks…

Jadi, ya! Menikah itu bikin alergi 😥

Uncategorized
3

If Today Were My Last Day

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu terlelap tidur, Aku akan menyelimutimu dengan lebih rapat dan berdoa kepada Tuhan agar menjaga jiwamu.

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kulihat dirimu melangkah keluar pintu, Aku akan memelukmu erat dan menciummu dan memanggilmu kembali untuk melakukannya sekali lagi.

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya kudengar suaramu memuji, Aku akan merekam setiap kata dan tindakan dan memutarnya lagi sepanjang sisa hariku.

Bila kutahu ini akan menjadi terakhir kalinya, aku akan meluangkan waktu ekstra satu atau dua menit, Untuk berhenti dan mengatakan “Aku mencintaimu” dan bukannya menganggap kau sudah tahu.

Jadi untuk berjaga-jaga seandainya esok tak pernah datang dan hanya hari inilah yang kupunya, Aku ingin mengatakan betapa aku sangat mencintaimu dan kuharap kita takkan pernah lupa.

Esok tak dijanjikan kepada siapa pun, baik tua maupun muda. Dan hari ini mungkin kesempatan terakhirmu untuk memeluk erat orang tersayangmu.

Jadi, bila kau sedang menantikan esok, mengapa tidak melakukannya sekarang?

Karena bila esok tak pernah datang, kau pasti akan menyesali hari.

Saat kau tidak meluangkan waktu untuk memberikan sebuah senyuman, pelukan atau ciuman.

Dan saat kau terlalu sibuk untuk memberi seorang yang ternyata merupakan permintaan terakhir mereka.

Jadi, dekap erat orang-orang tersayangmu hari ini dan bisikkan di telinga mereka, bahwa kau sangat mencintai mereka dan kau akan selalu menyayangi mereka.

Luangkan waktu untuk mengatakan “Aku menyesal”, “Maafkan aku”, Terima kasih”, atau “aku tidak apa-apa”

Dan bila esok tak pernah datang, kau takkan menyesali hari ini.

[Norma Cornett Marek ~ 1989]

Nemu tulisan bagus (dan bikin merinding) ini di laman facebook salah seorang rekan saya. 

gambar dari gugel

gambar dari gugel

 

Uncategorized
0

Tiga Kata

Terinspirasi oleh salah satu headline di laman fesbuk, jadinya saya ikutan bikin list tiga benda yang saya ga bisa ga pake/ ga bawa kalo lagi jalan, here we go :

1.   Jam tangan

Entah karena udah kebiasaan pake jam tangan atau faktor lain, yang jelas kalo keluar dan ga pake jam tangan itu rasanya ganjil. Kaya ada yang kurang gitu 😀 Yang namanya aja lupa ya nyadarnya telat lah ya.. Jadilah pas udah separuh atau sepertiga atau seperempat perjalanan kok ngerasa pergelangan tangan kiri enteng banget gitu, setelah dilirik, yappppp!!! I forget not to wear my watch -_-“ Ga sukanya kalo ga pake jam tangan itu yang pasti jadi ga tau waktu, yaaaaaaaaaa meskipun bisa ngira-ngira sih, tapi kan yo ga sreg, dan yang namanya perkiraan (saya) itu seringkali meleset 😛

2.   Dompet

Barang ini bisa dibilang “hatinya” wanita (ciyeh bahasa guweh). Errrrr,,, atau bisa diganti hati saya aja, karena ga semua wanita sependapat dengan saya 😀 Di dompet ini ada banyak baraaaang. Yang jelas ada duit, receh ataupun nonreceh. Trus ada token juga, kartu ATM, kartu kredit, dan yang pasti kartu identitas. Jadi kalowpun saya (semoga aja nggak) mengalami sesuatu hal yang tidak diinginkan, mudah diidentifikasinya. Nahhhh.. khusus dompet ini saya ga bisa asal beli atau punya sembarang dompet. Dompet saya harus memenuhi kriteria-kriteria tertentu 😀 Pertama, ada wadah untuk uang koin yang ber-ritsleting. Kenapa harus ber- ritsleting? Karena kalo nggak, itu koin bakal jalan-jalan menjelajahi bagian dompet yang lain, yang akhirnya perlu waktu yang lama untuk menemukannya dan malah merusak kenyamanan penghuni dompet yang lain (yaelah kaya gini dibahas banget yak!). Kedua, dompet saya harus punya tempat kartu yang setidaknya bisa memuat 8 kartu. Weitsss… jangan berbaik sangka duluuuu.. Itu ga melulu kartu debit kredit, tapi juga KTP dan lain-lain :mrgreen. Ketiga, etlis dia punya 2 sekat tempat uang kertas, karena saya biasa memisahkan pecahan 50-100rb dengan 20rb ke bawah. Ebuset, panjang juga yak bahasan tentang dompet ini 😀 Yaaaa… yang pasti kalo lupa ga bawa dompet jadi ga bisa jajan ^_^’

3.   Hape

Hari gini keluar rumah ga pake hape??? Udah kaya yang separoh nyawa ilang gitu (lebay dan nggak banget!) Tapi beneran lho, hape ini saya taroh di list terakhir barang yang ga bisa ditinggal, dan saya ga tau kenapa :mrgreen: Emang sih, di jaman kek sekarang ini, si hape udah bisa merangkap fungsi dari 2 barang yang saya sebutkan sebelumnya. Dompet iya, penunjuk waktu iya, alat telekomunikasi dia. Tapi ya ituuuuu.. Saya ga terlalu merasa si hape ini penting banget! Kalo ada ya hayuk, kalo ga ada??? Mmmm… ya udah (pada akhirnya) gapapa. Bagaimanapun, mendingan saya ga bawa hape daripada ga pake jam tangan 😀

Udah segitu aja yaaaaaaaaaaaaaaaaaa.. udah mulai buntu ini otaknya. Have a nice day! 😉

DSC_0065

Uncategorized