3

Nyatakan Cinta

IMHO, tidak ada wujud cinta yang lebih agung daripada kecintaan seorang anak laki-laki kepada ibunya.

Kenapa kok saya ujug-ujug bilang begitu?! Yaaaa… we know lah yaaa.. selama ini yang namanya cowok itu terkenal sebagai sosok yang jaim, sok kuat, sok tegar, yang ga mau ketauan kalo dia juga bisa menye-menye a.k.a termehek-mehek gitu. Nah.. hubungannya dengan kalimat pembuka saya di atas adalah akan sangat luar biasa jika seorang anak laki-laki BERANI dan MAU bilang “I Love You” atau sejenisnya ke ibunya. 

Kenapa saya lebih menitikberatkan ke anak laki-laki? Ya itu.. kembali lagi ke “pencitraan” kaum laki-laki di atas.

Kalo anak perempuan bilang I Love You ke ibu urusan gampaaang… Emang udah dari sononya kalo cewek itu suka mengekspresikan apa yang dia rasakan, bukan tidak mungkin ketika dia bilang I Love You trus dilanjutkan dengan momen berpelukan sambil menangis haru.. dan.. itu wajar.. 😳

Gimana kalo anak perempuan bilang I Love You ke bapak? Gampaaang… Meskipun terakhir kali saya melakukannya sambil nangis :mrgreen: Kenapa gampang? Ya ituuu.. kembali lagi ke sifat dasar cewek yang emang ga perlu menjaimkan diri untuk melakukan hal tersebut.

Balik lagi ke kaum cowok. Plis deh kalian ini.. Sekali-kali kek ungkapin rasa cinta kalian ke Ibu, syukur-syukur ke Bapak jugak. “Aaaah.. ngeliat anaknya pulang ke rumah dan dalam keadaan sehat aja Ibu dah seneng kok!” dan masih banyak excuse yang bakal dijadiin alesan untuk nggak ngungkapin rasa cinta kalian ke ortu. Serius deh.. Ga ada yang bisa ngalahin rasa seneng dan bangga seorang Ibu/Bapak ketika anak(-anaknya) bilang kalo mereka mencintai orang tuanya. Sungguh! 

Nyatakan cinta kalian..

Mumpung mereka masih ada..

Mumpung kalian masih bisa..

love you, Dad! ^_^

love you, Dad! ^_^

Uncategorized
0

Another Random Thoughts

Saya Menyebalkan

Yeppp.. Sometime, I’m an annoying woman :-s Kayanya sih yaaaa.. Soalnya saya sendiri juga suka ngerasa ga enak hati kalo misalnya akibat entah perbuatan atau ucapan saya terhadap orang lain. Kaya sejenis merasa bersalah gitu, entah itu karena saya terlalu memojokkan posisinya atau terlalu mencampuri urusan pribadinya. Gara-gara sifat menyebalkan ini, saya pernah beberapa kali disemprot oleh suami tercinta 😀 Katanya saya cerewet, terutama kalo saat itu saya sedang dalam posisi mengingatkan beliau entah untuk minum obat ataupun kegiatan lainnya. On my defense ya, saya itu bukannya rese atau kepo atau sejenisnya. (kayanya) saya melakukan hal tersebut karena saya memang peduli kepada mereka, tapi yaaa ituuuu.. sepertinya dalam praktiknya saya kurang oke, jadinya menyebabkan orang lain merasa terganggu 😀

DSC_0259

Nyaris Ditabrak

Suatu siang di komplek kantor saya, saat itu saya sedang mengendarai motor dengan laju sedang (ya iyalah ya, ngapain juga ngebut di komplek kampus). Nah, dari arah berlawanan jarak plusminus 50m dari arah saya, terihat seorang Bapak pengendara motor yang mengendari motornya dengan slengean sambal tolah toleh kaya yang berasa itu jalan dia yang punya. Melihat gelagat ga enak tersebut, saya semakin memelankan  laju kendaraan saya. Namun entahlah, mungkin si Bapak emang lagi pengen bergaya sampe-sampe ketika kendaraan kami saling mendekat pun, beliau blom ngeh dengan kehadiran saya. Dan sudah bisa ditebak, benturan nyaris terjadi. Untungnya rem saya pakem dan si Bapak akhinya nyadar ketika kami sudah berjarak 1 meter. Memang sih pada akhirnya motor kami bertemu muka, tapi ya setidaknya tidak terjadi apa-apa kepada pengendaranya. Dan sayangnya saya bukan tipikal orang yang lantas mengeluarkan seluruh si kebun binatang kalo sedang mengalami situasi seperti itu. Hanya tiga kata yang keluar dari mulut saya “Liat-liat dong, Pak!” Itupun kondisi mulut saya tertutup masker, entahlah.. Semoga si Bapak mendengar dan lebih waspada melanjutkan perjalanannya.

DSC_0274

No Birthday Greetings

Entah karena memang tidak dibiasakan dari kecil atau memang sayanya sendiri yang mendapat “hidayah” bahwa baik mengucapkan ataupun diucapin kalimat sejenis “Selamat Ulang Tahun” itu tidak terlalu mengasyikkan, jadinya inilah saya, salah satu mahluk aneh yang tidak suka mengucapkan dan menerima ucapan selamat ultah. Apalagi di era medsos merajalela seperti sekarang, ketika hampir semua orang (entah sengaja/tidak) mempublish tanggal lahirnya dan kemudian ditindaklanjuti oleh para provider medsos tersebut dengan mengirimkan notifikasi kepada seluruh koleganya bahwa dia sedang berulangtahun, maka sekian puluh, ratus, ribu ucapan selamat ulang tahun dalam segala variasi akan memenuhi lini masanya. Nah, saya gak suka itu 😀 Selain menuh-menuhin lini masa, hal itu juga sedikit banyak menimbulkan sejenis tanggungjawab moril untuk membalasanya satu demi satu, keriting meeeen tangan iniiiii.. Yaaaa..meskipun bisa saja sih dibalas secara kolektif melalui sebuh status baru berisi ucapan terima kasih atas seluruh ucapan dan doa yang dilantunkan, tapi yaaaa.. itu… kembali lagi… saya ga suka 😀 Bahkan dari sisi yang diucapin sekali pun! Pas awal-awal saya punya akun Facebook, saat  itu belum tahu kalo ternyata tanggal lahir ternyata bisa untuk tidak dipublikasikan sehingga temann-teman kita tida menyadari kalo usia kita bertambah. Walhasil, linimasa saya dipenuhi dengan ucapan selamat ulang tahun dalam berbagai bentuk dan anehnya, saya malah merasa malu. Mungkin karena nambah tua kali ya, jadinya malah suka gengsi gitu :mrgreen: Sejak saat itu saya kembali meneliti satu demi satu akun medsos saya (kaya yang banyak aja) dan mulai menyembunyikan tanggal lahir saya demi mengantisipasi membanjirnya ucapan selamat ulang tahun (kepedean, jangan ditiru!)

Udah gitu aja 😉

PS : iyaaaaa… fotonya ga nyambung lagiiii.. kan cuma pengen pamer (lagi) :mrgreen:

Uncategorized
0

I Wish…

I wish my Mom were alive so that she could gave me a comfort and warm hug..
Even it’s just for five minutes 😥

How about my Dad?! I wish I could have a loooooong nice conversation with him, just like what we did as usual :’)

Miss U Mom, miss U Dad..

 

Uncategorized
2

Akuisisi

Entah karena keterbatasan modal atau emang sayanya yang punya prinsip “rumput tetangga lebih hijau daripada rumput halaman sendiri” jadinya yaaaa.. gitu deh!

Mulai dari SMP saya sering “membajak” celana training  Bapak. Alesan utamanya karena celana training  bawaan dari SMP itu pendek, di atas lutut. Alasan keduanya adalah, saat itu tidak diperbolehkan membeli celana saja tanpa kaos atasannya, jadi harus satu paket. Alasan ketiga adalah supaya ganti-ganti aja saya pake celananya hahaha.. Herannya Bapak rela-rela aja tuh trainingnya saya ambil :mrgreen:

DSC_0083

Lanjut ke masa-masa peralihan SMU ke kuliah. Saat itu saya lagi butuh baju polos dalam jumlah yang lumayan banyak. Dan ya, salah satunya karena keterbatasan dana, plus masih banyak “sisa” pakaian Bapak waktu masih kuliah dulu, jadilah itu para baju itu dipermak sedemikian rupa untuk kemudian saya gunakan sebagai seragam kuliah :mrgreen:

DSC_0053

Yang terbaru ya sekarang ini, masa-masa pasca menikah 😀 Mulai dari kaos si Ayah yang udah kekecilan dan akhirnya dilungsurkan ke saya, dan beberapa printilan lain yang pada akhirnya bukan lagi dilungsurkan, tetapi saya “ambil” hahaha.. Sebutlah celana training, jam tangan, kamera, (untuk dua item terakhir, sang suami masih blom rela sepenuhnya untuk diakuisisi).

Selanjutnya??? Hmmm.. apa ya?! Mungkin nanti ada saatnya ketika nanti anak-anak saya yang gantian mengakuisisi barang-barang milik saya (dan suami). Etapi sekarang sih si adek Risha udah mulai maenin scarf saya, mulai genit pakein eau de toilette, lipstick, bedak, sisir, dan haaaampir semuanya milik saya -_-“

PS : lagi-lagi fotonya ga sesuai dengan bahasan utama, tidak lain dan tidak bukan karena saya cuma pengen pamer foto hasil jepretan saya aja :mrgreen:

Uncategorized
2

Whatever You Name It

Jangan overestimate dengan judul yang saya tulis di atas yaaaa… 😀

Sebenernya udah lama pengen nulis tentang hal ini, tapi baru bisa sekarang, itupun karena insomnia sialan ini. First thing first, here is a clue, saya mo nulis tentang diri saya, hal-hal yang patut Anda ketahui supaya tidak tertipu dengan penampilan saya yang sangat bersahaja ini 👿

Here they are :

Pertama, saya suka warna merah maroon. Kesukaan saya ini kemudian mendorong saya untuk membeli barang-barang dengan warna tersebut. Dompet, tas, baju, jam tangan, jilbab, casing hape, hampir semuanya kecuali sepatu! Saya blom punya nyali untuk pake sepatu merah 😀

Kedua, sangat mencintai dompet, jam tangan, dan kain batik. Ini clue bagi Anda yang ingin ngasih saya hadiah ^_^ Kalo kaum wanita pada umumnya hobi koleksi tas/sepatu, hal itu tidak berlaku buat saya. Somehow, kalo ngeliat tiga jenis barang itu rasanya pengen beli beli dan beli terus ajaaaa.. Untungnyaaaa penghasilan saya terbatas :mrgreen:

DSC_0084

Ketiga, katanya sih saya introvert. But, sekalinya saya klik sama seseorang, hayuk lah mo ngobrolin apa aja. Sayangnya saya ga bisa klik dengan sembarang orang (atau versi lainnya, ga semua orang bisa klik dengan saya). Mulai dari obrolan serius (asal otak saya nyampe) sampe hal paling gila sekalipun, saya ngikut! Tapi yaaa itu.. Harus klik dulu 😀

Keempat, syusyah banget nyari ukuran sepatu!!! Secara kaki saya ukurannya 40-41, sementara sepertinya seluruh toko sepatu berkonspirasi untuk menyediakan stok yang sangaaaat sedikit ukuran tersebut. Jadinya ya udahlah pasrah aja dengan stok dan model yang ada 😦 Mungkin ini juga yang menyebabkan saya ga terlalu tertarik untuk “mencintai” sepatu/sandal :mrgreen:

Kelima, paling ga suka sama perokok, apalagi yang bau rokoknya itu sampe nempel di pakaiannya. Lebih-lebih lagi, sekalinya dia lewat di depan kita trus langsung kecium aroma asap rokoknya ituuu.. NYEBELIN!!!

Keenam, katanya saya cerewet, padahal saya sih ga ngerasa kaya gitu sama sekali 😀 Saya tuh ga cerewet kok, saya cuma suka komen ke hampir semua yang saya dengar, lihat, dan rasakan 🙂 Tapi komen saya itu ga sampe ke tahapan nyinyir lho ya! Tuh kan, saya ga cerewet kan?!

DSC_0070

Ketujuh, suka bereksperimen dengan resep baru, terutama resep masakan yang disukai oleh orang-orang terdekat. Tapiiii… seenak apapun hasilnya, tetep aja saya ga suka masakan saya sendiri. Ga tau kenapa, mungkin ini efek karena saya sudah memproses dari awal kali ya.. Mulai dari menyiapkan bahan dan bumbu-bumbunya, ngulek, nyicip, ngaduk-ngaduk sampe mateng (hahaha.. ga penting banget dideskripsikan yak!) jadinya udah eneg duluan. Ada yang senasib sama saya gak?

Kedelapan, suka memperhatikan hal-hal kecil/detail. Entah emang hal ini sejenis gift atau emang sayanya yang kurang kerjaan, jadinya saya tuh jadi sejenis pengamat gitu. Entah itu perubahan ekspresi, perubahan gaya berpakaian, potongan rambut, dan apapun lah sejenis itu. Jadi sebenernya hal ini nih bagus apa gak ya?!

Kesembilan, ga suka ngeliat seutas benang di pakaian yang terkiwir-kiwir (haha..bahasa apa ini). Pokoknya itu seutas benang tercerabut dari pakaian/kain dan melambai-lambai memanggil-manggil saya untuk mencabut/mengguntingnya 😀 Ga tau deh kenapa kaya gitu…

Kesepuluh, ga bisa nabung. Saya tipikal orang yang ga bisa ngeliat saldo berlebih di rekening tabungan saya 😀 Adaaaa aja excuse untuk membelanjakan kelebihan saldo tersebut. Untuk meminimalisir sifat tidak bisa menabung saya tersebut, saya biasanya langsung naroh kelebihan saldo tersebut ke rekening tabungan yang lain, kalo nggak, biasanya saya belikan emas, meskipun hanya 1 atau 2 gram.

DSC_0075

Kesebelas, terlalu cepat menyimpulkan sesuatu. Entah itu kondisi suatu lingkungan, atau bahkan sifat seseorang. Yang terakhir ini yang seringkali saya lakukan. Nah, jeleknya sifat ini adalah, ketika saya sudah menasbihkan si A bersifat baik dan orang-orang bersikeras meyakinkan saya bahwa si A itu malah bersifat kurang baik, maka saya teteup kekeuh dengan penilaian saya sampai saya mengalami sendiri bahwa memang si A mempunyai sifat kurang baik. Tapi kan itu berarti saya berbaik sangka kan? Iya kan?! :mrgreen:

Keduabelas, mudah terpengaruh lingkungan. Hal ini sudah diwanti-wanti oleh Alm. Bapak saya sejak jauh-jauh hari. Bahwa saya mudah terpengaruh lingkungan. Oleh karena itu, Bapak berpesan ke saya untuk hati-hati dalam memilih teman. Tapi sebenernya bukan kaya gini juga sih yang mo saya certain disini, hmmm.. gimana ya?! Susah ngomongnya! Intinya adalah, kalo temen-temen saya gila, ya udah saya ikutan gila dalam waktu yang tidak terlalu lama, dan sebaliknya :mrgreen:

Ketigabelas, cenderung suka makanan yang rasanya gurih daripada manis. That’s why ga terlalu termehek-mehek sama setumpukan coklat bar atau apapunlah yang berbau coklat (padahal sebenernya coklat sendiri kan pait yak?!). Kalowpun ternyata makan makanan yang manis, pasti dikombinasikan sama gurih. Contoh : cendol selalu didampingi dengan bakso/somay/mi ayam, dan sejenisnya. 

Hmmm… apalagi yak?! Ntar deh kalo ada lagi saya sambung lagi… ^_^ Atau kalo ada yang mo nambahin bisa ditulis di kotak komen hahaha…

 

PS : Memang ga ada hubungannya antara yang saya tulis dengan foto yang saya pajang disini :mrgreen:

Uncategorized