I Love You, Ibu..

Ibu saya meninggal (katanya) waktu saya masih berumur 5 tahun. Ada yang bilang waktu saya masuk TK. Ada juga yang bilang waktu saya udah SD. Tapi sayanya sendiri sekelebatan inget bahwa saya sempat dijemput di SD menggunakan seragam putih-putih untuk menjenguk Ibu di rumah sakit yang (sepertinya) sedang kritis.

Udah itu dowang yang bisa saya gali dari ingatan saya tentang sosok Ibu di detik-detik terakhir hidupnya. Selebihnya?? Ada sih samar-samar bayangan beliau yang coba saya tuliskan di bawah ini.

1.    Aroma bawang merah di tangannya

Suatu pagi saya bangun tidur kemudian diarahkan Ibu ke kamar mandi untuk raup (cuci muka, red). Cuci muka disini bukan berarti saya ngambil air segayung kemudian disiramkan ke wajah, bukan seperti itu. Tapi Ibu menggunakan telapak tangannya menangkup air kemudian membasuhkan ke wajah saya. Nah, saat itulah aroma bawang merah menguar dari telapak tangan Ibu. Jujur, saat itu saya gak suka aroma itu. Bayangin aja, baru bangun tidur, disuruh cuci muka, tangan bau bawang. Tapi sekarang saya justru bersyukur, karena dari aroma bawang itu lah saya jadi bisa punya sedikit memori tentang Ibu.

2.      Minum air panas

Sepulang sekolah (saat itu TK), saya disuruh Ibu untuk makan siang dengan lauk seadanya. Kalo ga salah waktu itu hanya tersedia beberapa kerat tempe goreng. Sesudah makan, otomatis saya ingin minum dong, ternyata saat itu kami kehabisan air mateng untuk diminum. Dan Ibu yang baru saja selesai merebus air minum meminta saya untuk meminum air hangat kuku tersebut. Seingat saya, saya marah karena posisi air yang hanya diwadahi lepek (piring kecil, red) itupun masih dalam kondisi hangat. Padahal saya pengennya minum air dingin dengan kuantitas yang banyak >_<

3.      Tidur siang

Ibu saya galak!😀 Saya inget banget waktu itu lagi enak-enaknya main eh dipanggil sama Ibu untuk tidur siang. Galak menurut definisi saya saat itu adalah bersuara keras dan melibatkan unsur pemaksaan kehendak😀 Hasilnya ya bisa ditebak, saya tetep harus pulang dan tidur sama Ibu. Oiya, ada “ritual” unik yang biasanya dilakukan Ibu sebelum tidur siang. Di rumah saya yang puaaanas itu (karena kanan kiri atas seng semua), kami tidur di lantai rumah kami yang masih dalam bentuk tanah, bukan plester ataupun keramik. Sebelum tidur, biasanya Ibu menyiram lantai tanah kami terlebih dahulu. Pintu dapur dibuka supaya angin masuk mendinginkan ruang tengah kami. Ketika lantai tanah ruang tengah kami sudah mengering, Ibu menggelar tikar kemudian melapisi tikar dengan selembar kain, dan tidurlah kami di sana dengan pulasnya.

i love u mom

Aaarghhh.. jadi kangen sama Ibu! T_T

Ga bisa ngebayangin kalo sekarang Ibu masih hidup akan seperti apa jadinya saya. Apakah saya akan lebih “perempuan” dibanding sekarang? Apakah saya bisa masak seenak beliau? Apakah saya bisa bikin kue? Ah entahlah… Sekali lagi berusaha meyakinkan diri bahwa semua yang terjadi saat ini adalah ketetapan terbaik dari Allah SWT.

Always miss you and love you Mom!

Uncategorized

2 thoughts on “I Love You, Ibu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s