8

Tebak Tebak Buah Apel

*masih cerita tentang putra pertama saya, Mahes, yang selanjutnya akan disebut dengan Kakak*

Pada suatu kesempatan, seperti biasa Kakak berceloteh tentang banyak hal. Saat itu kebetulan kami sedang berada dalam perjalanan menuju rumah teman kami di Jakarta Timur sana. Mengingat jauhnya perjalanan yang harus ditempuh, mungkin Kakak bosen dan berusaha mencari cara untuk menghalau kebosanannya tersebut. Mulai dari membaca hampir seluruh tulisan yang ditemuinya di sepanjang perjalanan, menanyakan jenis-jenis kendaraan yang dilihatnya, sampe ngajak maen tebak-tebakan seperti di bawah ini, silakan disimak 🙂

“Bunda, maen tebak-tebakan yuk!”

“Ayok!”

“Yang berwarna merah itu apa?”

“Mmm.. Apanya?”

“Buah itu lhooo..”

“Ooo.. Mmm.. Apa ya? Apel?”

“Iya betul.. Apa lagi?”

“Tomat”

“Iya, apa lagi?”

“Mmm.. Apa ya Kak? Kalo pepaya kan oranye warnanya, ga tau bundanya, apalagi emang?”

“Strawberry!”

“Oiya ya.. Kakak pinter!”

“Kalo yang berwarna hijau apa, Bunda?”

“Mangga?”

“Salah! Mangga kan ada warna kuningnya”

“Trus apa donk?”

Apel mentah! Kan warnanya hijau tuh

*terdiam seribu bahasa* “Iya bener banget Kak!” 😆

Setelah memuaskan diri ngakak secara sembunyi-sembunyi (ini syusyah pake banget lho, sumpah!!!) akhirnya sejak saat itu kami (saya+suami) mulai mempersiapkan diri untuk mendengar lebih banyak lagi jawaban-jawaban yang luar biasa seperti itu! :mrgreen:

Advertisements
Uncategorized
3

Wahidun Wahidun

Suatu malam, si kakak Mahes lagi belajar Iqro’, membaca ayat 1 sampai dengan 11 (yang tentu saja tertulis dalam huruf hijaiyah sekaligus angka-angka penanda masing-masing ayatnya). Sampai suatu saat selesai sudah kegiatan mengaji tersebut. Entah kenapa kakak tertarik untuk membaca angka-angkanya dalam bahasa Arab, mungkin sejenis pengen ngeksis sekaligus membuktikan ke emaknya kalow dia dah bisa melafalkan angka dalam bahasa Arab.

“Satu itu wahidun ya, Bunda?!”

“Iya”

“Isnaeni dua.. Salasatun tiga.. Arba’atun empat.. K(h)omsatun lima.. Sittatun enam.. Tujuh itu mmmmm (sambil ngelirik emaknya)…”

“Sab’atun”

“Oiya.. Sab’atun tujuh… Samaniyatun delapan.. Tis’atun sembilan.. ‘Asyarotun sepuluh.. (terdiam)…”

“Kalo sebelas apa ya, Kak? Bunda ga tau nih”

“Mmm.. apa ya? Wahidun wahidun ya Bunda?”

“(mati-matian nahan ketawa) Bunda juga ga tau, Sayang.. Bunda telepon Kai (kakek = Bapak saya, pen) dulu aja ya?!”

“Ga usah! Udah bener itu wahidun wahidun, kan sebelas, satu sama satu kan?!”

“Iya kali ya kak?! Iya deh gapapa.. Besok tanya ke Bu Guru ya!”

Dan malam itu saya sukses tertawa gegulingan 😆

ini pelakunya ^_^

ini pelakunya ^_^

Kalo-kalo ada yang nanya “kok malah gak ngasih jawaban yang bener sih???” 

Karena saya sebagai ibu ga tega kalo ngeliat dia yang udah berusaha keras untuk menemukan jawaban kemudian dipatahkan dengan bantahan dari saya. Masa iya saya tega nyalahin si kakak yang dengan mata berbinar-binar dan suara penuh semangat berusaha meyakinkan saya bahwa itu jawaban yang benar, nggak tho?!

Jadi saya diamkan dulu untuk kemudian saya benarkan di kemudian hari. 

Demikian dan terima kasih :mrgreen:

Uncategorized