Jangan Jual Tristan!!!

“Bayinya laki-laki dan normal,” ucap salah satu perawat sebelum membungkus bayi mungil itu dengan handuk hangat yang putih bersih.

Tangis keras sang bayi masih sempat tertangkap oleh telinga ibunya. Jari kecilnya terus bergerak dan menggapai-gapai, sementara suaranya melengking seolah mencari-cari yang dikenal. Suara itu kecil, namun sempat tertancap kuat di sanubari ibu muda itu. Suara itu pula yang kelak dijadikannya kekuatan untuk mencari bayinya, meskipun akhirnya ia hanya bisa menanti. “Ibu akan mencarimu, Anakku,” batinnya sebelum akhirnya kembali roboh kehabisan darah.

Sebuah kecup meninggalkan kenangan tergetir yang akan terpatri di sepanjang hidup Yani malam itu. Ketika Yani siuman, seorang perawat memperlihatkan bayi itu kepadanya. Yani mengecup keningnya. Ia masih amis, namun kulit merahnya begitu hangat. Yani ingin mendekapnya, namun suster itu menjauh dan berlalu. Hanya satu kecupan dan anak itu diboyong malam itu juga.

Yup! Paragraf di atas hanyalah sepenggal kutipan dari buku based on true story-nya Afrinaldi ini. Bab pertamanya saja telah mampu menghancurkan hati saya hingga ke serpihan terkecil. Mo nangis tapi malu sama temen-temen kantor, sampai-sampai saya sempat tidak berani melanjutkan membaca kisah kelanjutannya. Pedih..😥

Satu hal : buku ini highly recommended untuk dibaca, dimiliki, dan kemudian dijadikan pelajaran supaya kita lebih peduli kepada lingkungan sekitar. Supaya tak ada lagi anak-anak yang dipisahkan secara paksa dari keluarganya (terutama ibunya). Supaya tak ada lagi hati ibu yang hancur menanggung rindu😥

sumber gambar : klik aja fotonya

Uncategorized

8 thoughts on “Jangan Jual Tristan!!!

  1. hiks…
    baca kalimat pembuka itu aja, udah bikin aku banjir air mata mbak,
    tak sanggupppp,,,😦

    *tapi pengen beli bukunya*

  2. kok menyedihkan sih…

    Jadi teringat Armando, pernah kutulis dulu di Armando bayi bersama, ibunya sengaja meninggalkan di Puskes, dirawat bersama sampai umur 4 bulan sebelum dititip ke DinSos

  3. Trims ya, bukunya sudah dibaca dan dibuatkan resensinya…
    Bukannya untuk memancing kesedihan tapi lebih mengungkap sesungguhnya tentang fakta yang dialami…
    itulah kehidupan yang semakin kehilangan jiwa….
    semakin hari semakin mengusik kita yang masih memiliki nurani…
    semoga kita selalu menjaga nurani agar masih ada yg peduli dengan kehidupan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s