Boleh Nggak?!

Akhir bulan, ketika saldo di rekening tabungan dah megap-megap, ketika dompet dah mangap-mangap, ketika saya harus kembali ngantor setelah cuti tiga bulan (yang ini gak ada hubungannya), alhamdulillah ketika itu juga ayahMaRish datang membawa kabar gembira. Beliow ngasih tau kalo uang makan selama dua bulan dah cair. Meskipun jumlahnya ga menyentuh nominal dengan embel-embel “juta” tapi alhamdulillah bisa membawa angin segar yang mampu menghalau mendung yang bergelayut di dompet kami :mrgreen: 

Singkat cerita, sesaat setelah menyampaikan kabar gembira tersebut, dalam kondisi tengah mengendarai motor, tiba-tiba ayahMaRish memegang pergelangan tangan kiri saya (tolong divisualisasi sendiri ya!) Saya kira beliow meminta saya untuk menggarukkan punggungnya atow membenarkan posisi tasnya. Etapi lha kok megangnya berkali-kali gitu yak??? Karena bingung ga bisa nangkep maksud ayahMaRish, saya tanyalah ke beliow, “Adwaa apwaan swih, Ywah?” *ngomongnya sambil pake masker penutup hidung* “Nukokke bojoku jam entuk ra?!” *translate di bawah ya* Otomatis istrinya langsung ngangguk-ngangguk kegirangan donk! :oops:  Setelah tersadar bahwa sang suami ga mungkin bisa ngeliat kalo istrinya ngangguk-angguk dan terlepas dari pertanyaan itu adalah pertanyaan retoris, langsung aja saya jawab, “Ya boleh doooonk!” Yup!!! Sejak insiden hilangnya jam tangan saya beberapa waktu lalu, pergelangan tangan kiri saya memang suwung alias tak berisi.

Singkat cerita (lagi), nge-date-lah kami berdua ke Bintaro Plaza, tempat dimana sang calon_jam_tangan_baru bersarang. Begitu nyampe ke dalam tuh emol, baru sadar kalo ternyata toko jam yang biasanya bercokol di lantai satu dah berubah *entah gulung tikar atow emang ganti barang dagangan* menjadi toko kacamata. Bingunglah kami, liat-liat toko di sekitar ada beberapa counter jam tangan, dan satu counter lagi di lantai dua. Akhirnya setelah sepakat untuk nyoba nanya-nanya harga di counter yang di lantai satu, saya pun memberanikan diri untuk nanya ke mas-mas penjaga counter.

Mas, yang ini berapa?!

*setelah melihat sekilas penampilan saya dengan pandangan yang tidak mengenakkan* Sekian -menyebut nominal tertentu- Bu!

*sakit ati dengan pandangan si mas trus ngeloyor pergi*

Akhirnya kami ke counter yang di lantai dua. Tunjuk sana tunjuk sini, tanya-tanya harga, banding-bandingin model sampe make empat jam tangan sekaligus di pergelangan kiri, akhirnya pilihan saya jatuh ke jam tangan yang satu ini😳

Nah, giliran mo bayar pake kartu debit, ternyata tuh kartu dah kadaluwarso sodara-sodara! Untungnya tuh penjual baik dan memberikan kesempatan kepada si ayah untuk ngambil duit terlebih dahulu ke ATM di lantai satu. Sambil nungguin ayahMaRish ngambil duit, saya iseng-iseng ngeliatin dan mendengarkan percakapan dua orang pengunjung, ibu-ibu, yang sedang memilah-milah model jam tangan yang dikehendaki.

Yang ini berapa, Mas?

Satu juta delapan ratus ribu, Bu!

*saya langsung shock mendengar harganya*

Emang apa sih Mas yang bikin mahal?

Itu jam pake kristal Swarovski, Bu!

*saya geleng-geleng kepala*

Untung aja si ayah keburu dateng sehingga saya ga sampe kejang-kejang *lebaymarkalay* melihat harga-harga jam tangan selanjutnya yang alih-alih semakin murah eh malah semakin mihilll!😮


Nukokke bojoku jam entuk ra? = Beliin jam untuk istriku boleh nggak?

Uncategorized

9 thoughts on “Boleh Nggak?!

  1. tau nggak bahwa pedagang kios kelas menengah ke bawah rata2 memiliki kemampuan memperkirakan jumlah uang seorang calon pembeli hanya dengan melihat penampilannya.

    jadi menurutku
    kalau mau belanja berpakaian yang sederhana sekalian atau yang mentereng sekian.

  2. Suaminya Bunda paling suka bikin surprise kayaknya. Btw soal jam yang sampai 1,8 jt tuh kalau saya yang beli mungkin malah gak tega memakainya.🙂

  3. Bubuuuun, tapi aku kepengen lho kapaaan gituh punya jam semihil itu, pgn tau aja jd kinclong ga kalo pake jam ada swarovsky-nya qiqiqiqi.

    Selamat menikmati jam tangan baru kalo begitu ya😉

  4. Waw itu yang ada kristal swarowski segitu murah kali sis…😀 harusnya diatas itu harga nya.. saya masih bingung juga kenapa orang perlu jam tangan mahal. untuk gaya? hobi? atau prestise ya?😀 apalagi sama yg pecinta rolex yang kisaran ratusan juta… ckckckck

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s