21

Menu Baru

spaghetti rasa pete >_<

Ngeliat benda hijau yang saya lingkari di atas kan???

Tau nggak itu apa???

PETE alias PETAI ❗

Sepotong pete ini nyempil di antara tumpukan helai spaghetti bolognaise yang dipesan oleh teman saya (panggil saja Kiprit, bukan nama sebenarnya) ketika kami sedang makan siang di S*lar*a Blok M Square. Setelah menunggu sekian lama, tepatnya ketika saya telah menghabiskan kwetiaw pesanan saya, barulah spaghetti tersebut disajikan -__-” Berhubung pesanannya dah dateng, mulailah Kiprit mencuthik-cuthik tuh spaghetti. Nah, saat itulah si pete ijo ini nongol dengan manisnya 🙄 Kiprit yang merupakan golongan manusia pembenci PETE langsung saja mengernyit kemudian menatap saya dengan tatapan penuh arti (tolong jangan divisualisasikan ya!). Setelah dieker-eker dikit, Kiprit pun menyudahi santap siangnya dengan hati sedikit dongkol akibat nongolnya sepotong pete tak berdosa itu 😥

Kepada pihak yang berwenang (dalam hal ini S*lar*a Blok M Square) dimohon untuk lebih memperhatikan mutu makanannya supaya hal ini tidak terjadi lagi kepada pelanggan-pelanggan lain. Khawatirnya para pelanggan tersebut tidak “sebaik” kami yang cukup memendam rasa dongkol tanpa melakukan hal-hal yang kaya di sinetron-sinetron itu : marah-marah ke pelayannya trus minta ketemu sama manajer restoran trus minta ganti rugi trus ngancem-ngancem mo nutup tuh restoran *lebaymarkalay*

Advertisements
Uncategorized
8

Jangan Jual Tristan!!!

“Bayinya laki-laki dan normal,” ucap salah satu perawat sebelum membungkus bayi mungil itu dengan handuk hangat yang putih bersih.

Tangis keras sang bayi masih sempat tertangkap oleh telinga ibunya. Jari kecilnya terus bergerak dan menggapai-gapai, sementara suaranya melengking seolah mencari-cari yang dikenal. Suara itu kecil, namun sempat tertancap kuat di sanubari ibu muda itu. Suara itu pula yang kelak dijadikannya kekuatan untuk mencari bayinya, meskipun akhirnya ia hanya bisa menanti. “Ibu akan mencarimu, Anakku,” batinnya sebelum akhirnya kembali roboh kehabisan darah.

Sebuah kecup meninggalkan kenangan tergetir yang akan terpatri di sepanjang hidup Yani malam itu. Ketika Yani siuman, seorang perawat memperlihatkan bayi itu kepadanya. Yani mengecup keningnya. Ia masih amis, namun kulit merahnya begitu hangat. Yani ingin mendekapnya, namun suster itu menjauh dan berlalu. Hanya satu kecupan dan anak itu diboyong malam itu juga.

Yup! Paragraf di atas hanyalah sepenggal kutipan dari buku based on true story-nya Afrinaldi ini. Bab pertamanya saja telah mampu menghancurkan hati saya hingga ke serpihan terkecil. Mo nangis tapi malu sama temen-temen kantor, sampai-sampai saya sempat tidak berani melanjutkan membaca kisah kelanjutannya. Pedih.. 😥

Satu hal : buku ini highly recommended untuk dibaca, dimiliki, dan kemudian dijadikan pelajaran supaya kita lebih peduli kepada lingkungan sekitar. Supaya tak ada lagi anak-anak yang dipisahkan secara paksa dari keluarganya (terutama ibunya). Supaya tak ada lagi hati ibu yang hancur menanggung rindu 😥

sumber gambar : klik aja fotonya

Uncategorized
11

Sensasinyaaa…

Beberapa waktu lalu saya “diberi” kesempatan untuk mengendarai motor sendiri. Adapun kesempatan itu timbul disebabkan oleh ayahMaRish yang diharuskan untuk melakukan dinas di luar kota. Awalnya sih saya mo naek bus jemputan aja, tapi setelah mempertimbangkan kalo naek bus jemputan tuh bakalan pulang lebih terlambat minimal setengah jam, kasian anak-anak donk kelamaan nunggunya, akhirnya diputuskanlah untuk naek Supriyati (nama panggilan motor Supra saya, yang punya nama Supriyati dimohon untuk tidak tersinggung)

Sebenernya sih bisa dibilang agak nekat juga ketika saya berani mengambil keputusan itu, tidak lain dan tidak bukan karena saya belum punya SIM sodara-sodara!!! Adek-adek jangan ditiru ya ❗ Plus saya blom pernah sekalipun yang namanya menjelajahi Jakarta-Tangerang menggunakan motor sendirian! Nah, dari pengalaman bermotor_ria ala saya selama dua setengah hari tersebut, didapatlah beberapa simpulan di bawah ini 😎

kembarannya Supriyati ^_^

Lampu Sein

Sebagai pengemudi amatir di belantara kota Jakarta, saya sebisa mungkin (dan selalu bisa) menyalakan lampu sein di setiap tikungan yang saya temui. Celakanya saya sering lupa mematikannya lagi!!! Padahal kalo saya yang membonceng ayahMaRish, saya tuh paling cerewet dalam hal mengingatkan ayahMaRish untuk mematikan lampu sein ketika kami sudah berhasil menikung. Hal tersebut saya lakukan tidak lain dan tidak bukan untuk menghindari kesalahpahaman dari pengemudi kendaraan di belakang kami, yang awalnya mo nyalip jadi takut nyalip karena kami masih menyalakan lampu sein tersebut (ngerti kan maksud saya??? :idea:)

Klakson

Sama halnya dengan ayahMaRish, ternyata pada praktiknya saya juga gak suka nyalain klakson. Padahal nih ya, kalo saya lagi dibonceng ayahMaRish trus ada pengendara yang ugal-ugalan, saya tuh selalu minta ayahMaRish untuk mengklakson habis-habisan saking gregetannya saya (yang ditanggapi dengan kalem oleh ayahMaRish). Tapi ternyata saya ga “sempet” nglakson euy! 😳 Lumayanlaaaaah.. Itung-itung ngurangin polusi suara :mrgreen:

Kening Berkerut

Hal ini baru saya sadari kalo saya terpaksa menghentikan motor, entah karena lampu merah atow karena emang karena kondisi jalanan yang bener-bener macet. Ternyata sepanjang perjalanan saya mengerutkan kening sodara-sodara! Beberapa alasan yang muncul adalah pertama, mungkin saya mengerutkan kening akibat terlalu “mewaspadai” kendaraan lain di sekitar saya. Kedua, mungkin karena saya khawatir terlambat nyampe kantor karena laju kendaraan saya yang terlalu pelan atow malah sebaliknya saya terlalu cepat mengendarai motor saya sehingga saya khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Dan masih banyak hal lain yang kalo dituangkan kesini semua akan membuat anda mati bosan membacanya saking amatirnya saya 😐 Gimana ga mo dibilang amatir lha wong 30 menit sebelum naek motor aja tangan saya dah keluar keringat dingin gitu >,<

Yang jelas, sensasi late braking ala The Doctor plus nyempil di antara mobil mewah membuat saya merasakan efek butterflies in the stomach getohhh 😎

Uncategorized
7

Kartini Oh Kartini..

Rain Over Me-nya Pitbull ft. Marc Anthony menjerit-jerit dari hape saya, sedikit mengagetkan saya mengingat ringer volume yang memang sengaja saya keraskan 😀 Ternyata telepon dari Bu Olla, salah seorang guru yang mengajar di playgroup tempat kak Mahes “bersekolah”. Beliau menyampaikan bahwa Senin, 23 April 2012 akan diadakan bermacam-macam perlombaan di sekolah kakak dalam rangka memperingati hari Kartini. Dalam teleponnya Bu Olla menyampaikan bahwa kakak “harus” ikut serta dalam lomba pasang kancing baju, lomba mewarnai, dan fun games lainnya yang tidak wajib untuk diikuti tapi kalo pengen ikut dipersilakan. Oleh karena itu kakak diwajibkan untuk membawa kemeja, krayon, dan baju ganti untuk mengantisipasi baju basah/kotor akibat bermacam-macam lomba tersebut.

Nah, efek samping dari ikut sertanya kakak dalam perlombaan tersebut adalah pertama, saya harus membeli krayon yang baru. Yup!!! Kakak sebenernya dah punya krayon tapi karena terlalu bersemangat untuk mewarnai buku-bukunya, jadilah krayon-krayon tersebut sudah tak berbentuk, patah sana sini 😦

Efek kedua, saya harus membeli kemeja untuk kakak karena selama ini baju kakak hampir semuanya adalah baju kaos yang kalaupun berkancing hanya memiliki maksimal tiga kancing. Sampai saat ini kakak belum terlalu bisa untuk buka pasang kancing. Meskipun dia suka “membantu” memakaikan kancing di baju emaknya, entah karena masih kurang sabar atau kurang sarana untuk berlatih sehingga kakak belum terlalu terampil melakukannya 😦

Efek ketiga adalah kami sebagai orangtuanya khususnya saya sebagai emaknya, harus merelakan kakak “berjuang” sendiri tanpa kehadiran orang tua sebagai penyemangatnya (tolong jangan bayangkan kami membawa pom-pom ya!) Hiks… 😥 Yang sabar ya, kak!

Semoga dengan tidak hadirnya ayah bunda tidak lantas menjadikan kakak patah semangat. Semoga absennya kami membuat kakak tumbuh menjadi sosok yang tegar dan mandiri.

Hiks… Dilema ibu pekerja 😥

Yup!!! Awalnya tulisan di atas yang akan saya tampilkan hari ini. Namun segalanya berubaaahhhhh!!! Berbekal ijin ngantor setengah hari dari bu boss, akhirnya saya memutuskan untuk menyaksikan kakak “berlomba” di sekolahnya :mrgreen: Secara keseluruhan sih kakak mengikuti lomba dengan serius, tidak seperti kebanyakan teman-temannya yang berlarian kesana kemari. Selanjutnya biarkan para foto di bawah ini menceritakan segalanya 😳

This slideshow requires JavaScript.

Meskipun pada akhirnya kakak nangis ketika saya pamit untuk ngantor, namun goodie bag dan hadiah hiburan dari hasil perlombaan tersebut dapat mengalihkan tangisnya menjadi sebuah senyuman meringis ^__^

Uncategorized
12

Cita-Cita (anak)ku..

Kalo boleh minta, kalo anak-anak dah besar nanti saya pengen supaya kakak jadi wirausahawan dan adek jadi dokter obstetri & ginekologi ^_^

Eeee.. tapi kan ortu gak boleh maksain kehendak ke anak-anak???

Lah kan seperti saya bilang, kalo boleh minta, kalo gak boleh ya udah sih 😛

Kakak sebagai Wirausahawan
Ini bukan hanya keinginan saya, tapi ayahMaRish juga. Alasan kenapa kami pengen supaya si kakak jadi wirausahawan adalah tak lain dan tak bukan demi menciptakan lapangan kerja yang (sepertinya) akan semakin sedikit ketika kakak dewasa nanti. Nah, daripada kakak kelimpungan nyari kerja mending dia sendiri yang menciptakan lamaran kerja, betul tak??? 😉

Adek sebagai Dokter SPOG
Sebenarnya bisa dibilang bahwa dokter SPOG ini adalah titipan tidak langsung dari ayah saya karena beliow dulunya menginginkan supaya anak wedoknya ini jadi dokter SPOG mengingat riwayat (almh) ibunda yang bolak balik harus berurusan dengan dokter SPOG ini yang saat itu dokternya COWOK semua!!! Dan saat ini, beberapa tahun lalu, si anak wedok tersebut, yaitu saya, juga harus berulang kali berurusan dengan dokter SPOG cowok. Bisa bayangin gak gimana risihnya kita “digerayangi” sama cowok lain yang bukan suami kita??? 😐 Ditambah lagi ketika masih mengandung adek kemaren saya harus rela antri sekian jam untuk menemui seorang dokter SPOG cewek, belum lagi untuk membuat janji konsultasi dengan dokter SPOG cewek ini harus jauh-jauh hari sebelumnya saking banyaknya pasien yang mo konsultasi ama beliow -__-” Oleh sebab itulah, saya pengen adek supaya jadi dokter SPOG, supaya kejadian antri lama hanya untuk menemui dokter SPOG cewek dapat semakin diminimalisasi.

Lah trus ntar anak ketiga mo “diminta” jadi apa?

Kalo itu tergantung jenis kelaminnya nanti, tapi ya ga beda dengan kakak adek >>> kalo cowok jadi wirausahawan kalo cewek jadi dokter SPOG :mrgreen:

Kalo emaknya pengen apa???

Saya pengen dapet beasiswa ke luar negeri, trus menunaikan ibadah haji, trus jalan-jalan ke luar negeri (Amerika atow Australia atow Jepang atow semuanya :mrgreen:)

Semoga!

Amiiin… :pray:


gambar diambil dari sini

Uncategorized
9

Sang Penunggu Malam

Kemarin sore ayahMaRish mengabari saya bahwa beliau tidak bisa menjemput saya karena ada tugas yang mengharuskan beliau menuju ke suatu tempat yang celakanya malah terjebak macet parah. Ya sutra, akhirnya saya pulang naik bus jemputan kantor.

Singkat cerita sampailah kami, para penumpang bus jemputan, ke tujuan akhir bus, yaitu kampus STAN tercinta 😳 Saat itu sekitar pukul 18.30 WIB, cukup malam untuk dapat menemukan tukang ojek yang stand by di sana. Meskipun saya sudah mengantisipasi ketiadaan tukang ojek ini yang berarti bahwa saya harus berjalan kaki sekitar satu kilometer yang mana hal ini cukup membuat saya terengah-engah tetap saja ada asedikit rasa malas untuk berjalan kaki. Tapi ya mo gimana lagi, mau ga mau, suka ga suka, saya tetep harus jalan kaki untuk bisa mencapai pangkalan ojek terdekat untuk nyampe rumah. Emang gak harus naek ojek sih, naek angkot juga bisa, tapi kalo naek angkot saya masih harus jalan lagi dari gerbang depan komplek perumahan tempat saya tinggal. jadinya daripada capek dua kali alias males jalan akhirnya dipilihlah alat transportasi berupa ojek ini 😎

Nah, dalam perjalanan menuju pangkalan ojek tersebut saya melihat sesosok anak kecil kira-kira berumur 10 tahun yang sedang membawa sebuah keranjang yang entah berisi apa. Awalnya saya kira meskipun gak terlalu yakin juga dia adalah anak dari salah satu penumpang bus jemputan yang saya naiki karena terlihat dari bahasa tubuhnya bahwa dia sedang menantikan seseorang. Ternyata dugaan saya salah! Ketika saya berjalan semakin dekat dengannya, dengan sorot mata penuh harap dia meletakkan keranjang yang dibawanya, kemudian membukanya dan menawarkan dagangannya kepada saya.

Gorengannya, Bu!

Berapaan?

Ada yang Rp. 500 ada juga yang Rp. 1000

Kok kamu masih disini? Kan dah malem..

Nungguin dagangan habis, Bu!

saya melongok ke keranjangnya, terlihat masih ada sekitar 30 potong gorengan tersisa

Ya udah, aku beli 10 ribu dicampur ya!

sambil menunggu pesanan saya dibungkus, iseng saya bertanya

Emang kenapa kalo daganganmu gak habis? Ini dah malem lho!

Kalo gak habis untungnya cuma dikit, Bu!

mata saya sedikit berair

Ditawarin ke satpam sana biar cepet abis

Udah tadi, Bu!

Ya udah deh, makasih ya! Kamu ati-ati lho!

menatap penuh heran

Ya, Bu!

melanjutkan penantiannya

Hiks… 😥 😥 😥 Kasian anak itu! Saya langsung kebayang si kakak…

*seandainya saya bisa memborong habis seluruh dagangannya.. 😐

Uncategorized
13

Zzzzzzzzzz….

Mata Diklat adalah satuan materi yang diampu dalam suatu Program Diklat.

Rumpun Mata Diklat adalah kelompok Mata Diklat sejenis yang dapat diampu oleh minimal satu orang Widyaiswara.

Program diklat adalah bla bla bla bla bla…

Modul diklat adalah bla bla bla bla bla…

Kalimat-kalimat di atas adalah salah satu dari sekian kalimat yang tercantum dalam bahan rapat yang terpaksa saya jalani pagi tadi. Dan saya pun berusaha semaksimal mungkin untuk mengusir rasa kantuk yang mendera.

*sungguhrapatyangmembosankan

Zzzzzzzzzzzzzzzzzzz…..

turu yoooooooooook...

Uncategorized