(bukan) Resensi “Janda-Janda Kosmopolitan”

Dari kemarin saya sama sekali ga ada kerjaan di kantor, entah karena kondisi di kantor yang emang lagi ga ada orang (lagi pada sibuk sosialisasi ke daerah-daerah) atow karena efek saya baru masuk sehingga saya diberi kesempatan untuk warming up terlebih dahulu terhadap “suasana ngantor” yang yaaaaaaahhhh..sedikit banyak lumayan ngangenin ini🙄 Nah, oleh karena hal itu maka saya mencari kesibukan yang sekiranya nggak membuat saya mati bosan dan akhirnya terlelap saking ngantuknya. Internetan sudah, mbaca koran sudah, maen games di hape udah, chattingan sama si sayang sudah, trus ngapain lagi yak??? Akhirnya terbersitlah keinginan saya untuk mengunjungi gedung C lantai I yang tak lain dan tak bukan merupakan perpustakaan mini di komplek perkantoran tempat saya mencari sesuap nasi dan segenggam berlian ini.

Bukan tanpa alasan saya pengen ke perpus (demikian nama beken perpustakaan inihhh). Denger-denger dari temen-temen yang sering nyari literatur kesana, ternyata sang perpus ini telah mengalami reformasi besar-besaran. Buku-buku yang tersedia disana tidak lagi melulu buku-buku tentang akuntansi, ekonomi, dan sejenisnya, tetapi sudah dilengkapi dengan buku-buku fiksi, panduan fotografi, hingga buku resep masakan, keren kan???💡

Singkat cerita, saya meminjam tiga buah buku yang menurut saya menarik untuk dibaca, yaitu :

  1. Janda-Janda Kosmopolitan
  2. Mom, You Are My Hero!
  3. Ocehan Si Mbot

Dari ketiga buku tersebut saya tertarik untuk membaca si nomer 1, yaitu Janda-Janda Kosmopolitan karena melihat judulnya yang sepertinya agak-agak provokatif gitu. Daaaaan, ya! saya tidak salah menetapkan prioritas!!!

Buku ini bercerita tentang pergaulan para sosialita di Jakarta, khususnya para janda muda. Tapi hal yang paling menarik perhatian saya adalah hubungan antara sang tokoh utama, Rossa-majikan, dengan Nunung-pembanturumahtangga- yang sungguh harmonis dan sama sekali tidak membedakan status sosial masing-masing, terlebih lagi mereka berdua menyandang status yang sama, yaitu seorang JANDA. Saking dekatnya mereka berdua sampai-sampai keduanya saling bercerita satu sama lain mengenai hal yang remeh temeh hingga masalah pujaan hati masing-masing.

Entah kenapa saya lebih tertarik kepada bagian yang menceritakan hubungan antara majikan dan pembantu. Secara tersurat buku ini menyampaikan bahwa tugas seorang pembantu tidaklah sepele. Pembantulah yang memegang kontrol di rumah kita ketika kita sedang sibuk dengan urusan pekerjaan kantor yang menyita waktu. Pembantu juga harus dimanusiakan, harus dihargai, tidak boleh dianggap rendah, tidak boleh diperlakukan seenaknya❗

Efek langsung dari membaca buku ini adalah saya jadi teringat ke para teteh yang saat ini mungkin sedang kelelahan menjaga anak-anak saya, teringat kepada tatapan penuh cinta dari anak-anak kepada para teteh yang telah setulus hati mengasuh mereka, teringat akan obrolan seru dan banyolan yang kerap kali membuat kami bertiga (saya dan para teteh) tertawa terpingkal-pingkal, membayangkan betapa sedihnya kami jika suatu saat mereka harus pergi meninggalkan kami. Ahhhh… We love you teteh!

photo taken from here
Uncategorized

14 thoughts on “(bukan) Resensi “Janda-Janda Kosmopolitan”

  1. hihihi. pas kebetulan si bibi – janda juga- di rumah baru saja pensiun dini hari jum’at minggu lalu. jadilah seluruh penghuni rumah kerja bakti nyapu, ngepel, masukin baju kotor ke mesin cuci, nyetrika baju masing-masing.

    janda nggak janda, asisten rumah emang ngangenin. tanpa mereka, hidup terasa beraaat😀

  2. Antara kesan pertama baca judul ama setelah baca isi postingannya bertolak belakang banget

    kesan pertama akan disuguhi cerita yang menor-menor
    eh malah jadi yang menyedihkan …

  3. judulnya khas mbak ika yg selalu sukses menarik perhatian:mrgreen:

    aku kira isi bukunya agak2…gimana gitu makanya aku sempat heran mbak kok berani baca novel ini

  4. Aku sampe skrg ga kepikiran ambil pembantu :p
    Maklum, da keseringan denger soal pembantu yg bikin makan ati.
    Jadi dari pada makan ati bin nanmbah dosa, jadinya kudu semangat ngurus rumah sendiri😀

    • nah itu dia buuu… dakuw kan dapetnya dari penyalur kan, si mbak penyalurnya ini hilang entah kemana, telponnya dah gak aktif. soalnya temen2ku juga banyak yang minta tolong dicariin asisten.
      atow coba nyari di agen aja, tetanggaku nyari di agen baik kok, QC passed deh!🙂

  5. Para teteh itu dimana ya saat saya membutuhkan❓ setelah aku cari ternyata dirumahku belum ada teteh. Yang ada ibu e anak-anak 😆

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    • sebenernya lebih banyak cerita tentang kehidupan para janda kelas atas yang mewah dan super eksklusif itu sihhh. tapi karena hal itu sudah “biasa” diceritakan, plus saya-nya gak tertarik ma kehidupan begituan, jadi saya lebih memilih menyoroti hubungan majikan-pembantu itu!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s