33

Berhenti Ngeblog???

Suatu waktu, ketika rasa malas telah memuncak, ketika rasa jenuh telah mencapai ubun-ubun, sempat tersirat dalam hati saya untuk berhenti ngeblog dan menghapus akun blog bundamahes.wordpress.com ini. Hal itu saya ungkapkan kepada sang ayah yang saat ini juga tengah mengalami fase hibernasi ngeblog. Dan tentu saja beliow langsung menentang keinginan saya, “Ga usah dihapus, biarin gitu aja, siapa tau ntar pengen nulis lagi” Dan yaaaa… Saya turuti saran beliow.

Mengapa kata-kata “berhenti ngeblog” sempat mampir di kepala saya?! Tak lain dan tak bukan karena saya sungkan, malu, tak enak hati, dan perasaan sejenisnya kepada teman-teman blogger sekalian yang telah bersusah payah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan saya yang tidak bermutu ini 😥 😥 😥 Kenapa saya harus merasa sungkan, malu, dan tak enak hati?! Karena sampai saat ini saya belum bisa memaksimalkan kunjungan balik ke blog para teman blogger sekalian (hal ini pernah saya utarakan kepada uncle Lozz Akbar). Jangankan BW, lha wong bales komen aja blom maksimal je.. Dan parahnya, sampai saat ini saya belum dapat mengidentifikasi penyebab timbulnya masalah ini ❓ ❓ ❓

Untuk selanjutnya saya hanya berharap semoga saya bisa mengumpulkan kembali serpihan-serpihan semangat ngeblog, dan BW yang duluuuuu pernah saya miliki. Doakan saya ya!!! 😉

Advertisements
Uncategorized
43

Malam Pertama

FYI, tulisan ini seharusnya dah di-publish awal Ramadhan kemaren, namun karena sesuatu hal (baca:lupa) baru bisa di-share hari ini. Selamat membaca…

“Mahes mo ikut sholat bareng bunda nggak?!” Pertanyaan itu dijawab dengan diambilnya sajadah “milik” Mahes dan kopiah merahnya.

“Bunda pake ituuuu..” Ujarnya sambil menunjuk mukena saya.

Sholat pun dimulai..

********

Sholat Isya terlalui dengan lancar jaya meskipun saya harus melipatgandakan konsentrasi saya demi melihat aksi “sholat” Mahes yang jungkir balik sambil sesekali melihat ke arah saya untuk memastikan bahwa gerakan sholatnya tidak keliru :mrgreen:

Untuk selanjutnya saya lanjutkan dengan tarawih delapan rakaat yang saya kerjakan per empat rakaat. Kembali saya bertanya kepada Mahes tentang kesediaannya untuk kembali “sholat” dan tanpa ragu diiyakannya ajakan saya. Dan Alhamdulillah tarawih sesi pertama kembali dilalui dengan sukses dan kali ini diselingi dengan seringnya Mahes duduk di pangkuan saya ketika saya sedang duduk tahiyat 😎 Mahes langsung bersandar di dinding dengan nafas yang terengah-engah, saya tanya “Mahes capek?!” Dijawabnya dengan sebuah anggukan kecil.

Untuk melanjutkan ke tarawih sesi dua -demi melihat wajah capeknya- sekali lagi saya tanyakan kesanggupan Mahes, dan meskipun kali ini jawabannya tidak setegas jawaban pertama namun Mahes masih mengiyakan ajakan saya (good boy!)

Tarawih sesi dua dimulai…

Rakaat pertama dah mulai males-malesan dan sedikit merengek

Rakaat kedua pecahlah tangisnya dan mulai memanggil-manggil saya.

“Bundaaaaaaaaaaaaa…..” (bersandar di pintu)

“Bundaaaaaaaaaaaaa…..” (membuka kopiahnya)

“Bundaaaaaaaaaaaaa…..” (menyeka airmatanya dengan kopiah kemudian keluar kamar mencari si ayah)

Saya mau tidak mau tetap melanjutkan sholat saya lha wong dah kadung niat sholat tarawih empat rokaat apa ya mau dibatalkan jadi dua rokaat ❓

Setelah menuntaskan sholat witir, saya hampiri Mahes yang masih sesenggukan di dalam pelukan ayahnya. “Kenapa, Sayang? Mahes capek ya?!” dijawabnya dengan anggukan lemah. Saya peluk dia dan malam itu pun berakhir dengan indah, Alhamdulillah… 😳

pose sebelum sholat

32

Memetik Semangkaaaaaa….

Sedikit cerita tentang mudik lebaran beberapa waktu lalu… 😎

Foto-foto berikut diambil di kebun milih orangtua saya di Probolinggo – Jawa Timur sana. Beberapa hari setelah nyampe rumah, seperti biasa sang Kai (panggilan Kakek dalam bahasa Madura) mengajak Mahes untuk ber-off road ria ke kebun dimana di sana telah bersarang sebuah semangka liar imut yang telah saatnya untuk dipetik. Berhubung emaknya juga pengen jalan-jalan, akhirnya setelah berhasil “menyeret” sang ayah untuk turut serta (tak lain dan tak bukan untuk dijadikan sebagai fotografer dadakan), berangkatlah kami ke kebun yang berjarak kurang lebih 500 meter tersebut.

Sepanjang perjalananan menuju kebun, tak henti-hentinya Mahes mengoceh, nunjuk sana nunjuk sini, berkali-kali berteriak bahwa yang itu sawah, ini sungai, itu kuda, ini kambing (sebenernya sih dia bilangnya kambing itu sapi) de el el… Maklumlah.. Jarang-jarang dia bisa liat hal-hal seperti itu di rumahnya 😳

Untuk selanjutnya biarlah foto yang berbicara 😉

This slideshow requires JavaScript.

Selain memetik semangka, di kebun kami juga memanen ubi jalar. Pengen ngambil tomat ma terong tapi ga bawa keranjang untuk wadahnya, jadinya ya harus cukup puas dengan semangka di tangan kiri dan ubi jalar di tangan kanan 😎

Dalam perjalanan pulang ternyata Mahes kecapekan, minta gendonglah dia ke sang ayah, bukan sekedar gendong biasa melainkan gendong di pundak (dan Mahesnya kegirangan). Entah saya yang kurang erat memegang atow kurang konsen karena becanda dengan Mahes, semangka imut itu tiba-tiba jatuh dan pecah terbelah menjadi dua bagian 😦 Begitu saya melongok bagian dalam buahnya, wuiiiiihhhhhhh…. merah bo’! Beberapa tetes air yang keluar saya cicipin dan alhamdulillah manis! Padahal awalnya saya gak yakin kalow semangka yang masih sekecil ini dah bisa dipanen! Hmmm… insting petani Bapak emang ga bisa dilawan 😀 Sesampai di rumah, saya potong-potong semangka tadi, dan ternyata Mahes ga mau karena banyak bijinya. Jadinya semangka yang ukurannya tidak lebih besar dari sebuah blewah itu pun dibagi tiga, setengah untuk Bapak, dan masing-masing seperempat untuk saya dan si ayah 😉 Alhamdulillah.. maniiisssss… Sayangnya merahnya sang semangka tak sempat didokumentasikan, lha wong dah keburu habis! 😳

Oiya, sewaktu mudik kemaren Mahes sangat takjub terhadap proses BAK seekor sapi, tiap hari dia selalu mengajak saya ke rumah salah seorang kerabat hanya demi menunggu si sapi BAK, hadeeeeeeeehhhhhhh… >,<

Uncategorized
30

Misteri Lenyapnya Alexandre Christie

Sebelum saya ditabokin njenengan semua, saya mo ngaku dulu kalow judul di atas emang sengaja dibikin se-hiperbola mungkin (baca : lebaynya lagi kambuh). Dan maaf jika di tulisan ini saya “memaksa” Anda semua untuk mengikuti jalan cerita hilangnya jam tangan saya 😥

Bermula dari dikumandangkannya adzan Dzuhur beberapa bulan lalu di masjid kantor tempat saya bekerja, meluncurlah saya ke masjid bersama beberapa teman “geng masjid” saya 😎 Dan seperti biasa, di luar tempat wudhu saya lepas kaos kaki, manset tangan, dan jam tangan AC ini (untuk selanjutnya akan disebut ARLOJI). Kenapa si arloji ini saya letakkan di luar?! Karena tidak lain dan tidak bukan, selama ini hal itu tidak menjadi masalah alias tidak menyebabkan si arloji hilang alias tempatnya lumayan aman. Setelah melakukan ritual lepas melepas tersebut, masuklah saya ke ruang wudhu, berwudhu dan ngerumpi seperti biasa, kemudian masuk ke masjid untuk menunaikan sholat Dzuhur.

Segala sesuatunya berjalan seperti biasa, kecuali kondisi dimana saya tidak menyadari bahwa si arloji tadi ternyata tidak lagi melilit di pergelangan tangan kiri saya. Kepingsanan (ketidaksadaran) saya tersebut berlangsung hingga waktu sholat Ashar tiba yang ternyata karena sesuatu dan lain hal tidak dapat saya tunaikan di masjid. Dan saya baru bisa meng-cross check keberadaan arloji ini pada pukul 16.00 WIB dan ternyata si arloji ini sudah tidak ada di tempatnya. Menyadari hal tersebut tidak lantas membuat saya panik karena saya memiliki keyakinan bahwa si arloji ini mungkin diamankan oleh pihak masjid. Kembalilah saya ke ruangan saya.

Keesokan harinya, saya tanya kepada salah seorang rekan kerja saya yang juga menjadi salah satu “corong” masjid mengenai hal ihwal ditemukannya sebuah arloji AC dengan kaca yang sudah retak, dan beliow menjawab tidak ada. Hmmm.. beluuummm.. saya belum khawatir, karena bisa jadi sang marbot belum melaporkan hal tersebut kepada pengurus masjid.

Singkat cerita, akhirnya didapat sebuah kepastian bahwa sang arloji benar-benar HILANG!!! Dan saya hanya bisa speechless, ga tau harus bilang gimana ke si suami ganteng 😥 😥 😥 Kenapa rasa sayang saya kepada si arloji AC bisa sebesar itu?! Karena dia adalah arloji pertama pemberian suami saya yang dijadikan sebagai kado ulang tahun pertama saya setelah saya menikah 😦 Karena arloji itu telah menghiasi hari-hari saya sejak April 2007, lebih dari empat tahun yang lalu. Karena arloji itu tak pernah marah meskipun saya telah meretakkan kacanya lebih dari sekali. Karena arloji itu merupakan arloji cinta 😳

Huhuhuhuhuhu… hiks.. hiks.. hiks.. Kok ya masih tega ngambil arloji itu ya?! Padahal dah jelas-jelas retak lho kacanya, kalowpun dijual harganya pasti dah turun jauh banget 😦

Dan hingga saat ini sang arloji belum terganti soalnya blom punya duit buat beli penggantinya 😳

mupeng sama yang ini

Selang beberapa bulan kemudian, gelang emas yang dulunya merupakan mahar pernikahan saya, turut raib di tengah perjalanan menuju kantor 😥 😥 😥
Uncategorized
37

Kolokan???

Pagi tadi Mahes bangun lebih awal, dan seperti biasa meskipun matanya dah melek sempurna, dianya masih pengen leyeh-leyeh ogah-ogahan berbaring di kasur. Sementara itu emaknya mondar-mandir kaya setrika nyiapin diri sendiri (soalnya sang suami masih dinas ke luar kota) untuk berangkat ke kantor. Menyadari emaknya dah sibuk sendiri, si anak kecil pun bertanya pada emaknya,

Mahes  : Bunda mo ke kantor ya?!

Bunda   : (tersenyum) Iya sayang..

Mahes  : (meradang, mo nangis) Ga mauuuu! Bunda ga boleh ke kantor!!!

Bunda  : (makjlebbbb… hatinya teriris) Lah kan bunda ke kantor nyari duit supaya bisa beli susunya Mahes…

Mahes  : Ga boleh ke kantor!!! Susunya masih ada kok!!!

Bunda  : Trus buat beli baju Mahes pake apa donk kalo ga pake duit?!

Mahes  : (pecah tangisnya) Bajunya dah beli juga!!! Ga boleh ke kantor!!!

Bunda  : Bunda harus ke kantor sayang.. Kan besok dah libur, kita bisa maen lagi deh! Oiya, ntar malem ayah dateng lho!

Mahes  : (mendengar ayahnya akan datang, matanya langsung berbinar) Ayah datang ya?!

Bunda  : Iya, ni ntar bunda ke kantor pulangnya bareng ayah deh!

Mahes  : (nangis lagi) Mahes mo ikut ke kantor!!!

Dan seterusnya…..

FYI, selama ini Mahes selalu mau menerima alasan “ayah bunda kerja untuk nyari duit buat beli susu Mahes”, namun entah mengapa pagi tadi alasan itu membal 😥 Mungkin karena efek liburan lebaran kemaren dia bisa berlama-lama berdua dengan bundanya tanpa hars ditinggal ngantor sehingga giliran harus nagntor malah jadi seperti ini. Mungkin juga karena efek kondisi kesehatannya yang sedang menurun. Yang jelas, jangan tanya bagaimana hancurnya hati saya mencerna kalimat demi kalimat “perlawanan”nya demi mencegah sang bunda meninggalkannya 😥 😥 😥

Kalow dah kayak gini bener-bener pengen resign huhuhuhuhu…

39

Terlambat…….

Jam dinding lobby gedung B menunjukkan pukul 17.01 WIB ketika saya baru sampai di tengah hiruk pikuk antrian mesin absensi. Berhubung hari itu sang suami tampan sedang dinas keluar kota, maka mau tidak mau saya harus nebeng bis jemputan kantor (dan karena alasan itu juga yang membuat saya mendadak rajin ngantri on time di depan mesin absen, kalow ada sang suami sih biasanya ngabsen 10-15 menit setelah jam pulang)

Sesaat setelah menghenyakkan pan*at di kursi semi empuk bis jemputan, penumpang yang lain pun berdatangan. Selang 5 menit kemudian Pak Sopir memutuskan untuk meninggalkan Jakarta menuju Tangerang tercintahhhh 😎 Jalan Kertanegara terlalui… Kantor Kementerian Pekerjaan Umum pun dilewati. Beberapa meter menuju Al Azhar Kebayoran Baru, telpon Pak Sopir berdering dan dari pembicaraan tersebut disampaikan bahwa ada salah seorang rekan kami yang “tertinggal” masih di kantor. Dengan sedikit bersungut, Pak Sopir pun mengiyakan permohonan rekan tadi untuk menunggu kedatangannya mengingat jarak antara kantor kami dengan posisi bus saat itu hanya beberapa ratus meter.

Menunggu memang pekerjaan yang paling membosankan, apalagi menunggu sesuatu yang bukan untuk kepentingan kita sendiri. Begitu pula Pak Sopir (dan juga saya tentunya), berulang kali beliau mengubah posisi duduknya, membaca koran yang tergeletak di dashboard bus, memainkan hape, hingga menggerutu tak jelas. Pukul 17.15 WIB ketika sang rekan tadi melangkah masuk ke dalam bus dengan tergopoh-gopoh sambil berkata “Sekarang ga ada sirine pulang sih, jadinya ga tau kapan harus siap-siap absen” Saya cuma bisa mbatin, halah paaaaak..paaaaak.. udah terlambat masiiiiiih aja nyari-nyari alesan buat pembenaran!!! Saya sih gak mempermasalahkan terlambat atow nggaknya, lha wong saya sendiri juga pernah terlambat, yang saya permasalahkan adalah “usaha” beliow yang mencari pembenaran atas keterlambatannya itu 👿 Sedikit info tentang sirine ini, dulu di kantor kami terdapat sebuah sirine yang dibunyikan pada saat jam masuk dan jam pulang kerja, namun entah kenapa saat ini sirine tersebut tidak dipergunakan lagi.

Dan kami pun melanjutkan perjalanan…

gambar diambil dari sumbernya