Timur Tengah Barat

Sebagaimana rute yang biasa kami lewati setiap harinya, Kamis sore kemaren ketika melewati Jalan Praja Lapangan untuk nembus ke jalan Air Maya (yang selanjutnya ke Jalan Bendi), di sebuah masjid yang terletak di sebelah kiri jalan terdapat seorang bapak setengah baya yang sedang menyapu halaman masjid.Didukung oleh lebar jalan yang hanya 2 meter menyebabkan laju Michael melambat. Saat itu juga saya sapa si Bapak “Permisi Pak…” and you know what? Si bapak cuek bebek, huhuhu…😥😥😥

ini masjidnya

Oke, itu hanya mukadimah yang sekaligus menjadi latar belakang lahirnya tulisan ini😎

TIMUR
Probolinggo ke timur dikit nyampe ke Kraksaan setelah itu belok kanan nyampe deh di Krejengan. Nahhh.. disanalah saya lahir dan tumbuh dalam 15 tahun pertama kehidupan saya (karena masa SMU saya habiskan di Leces, dan kuliah hingga bekerja di Tangerang dan Jakarta).

Nah, disanalah budaya INI tumbuh. INI adalah budaya saling menyapa, saling senyum, ngeruhi, kurang lebih kaya semut gitu deh yang kalow ketemu rekannya selalu saling  menyapa.

Begitu juga saya. Saya tumbuh dalam didikan budaya INI. Kalow saya lagi jalan-jalan, maka saya akan menyapa para penghuni rumah di sepanjang jalan yang saya lewati, biasanya saya nyapanya begini, “Amit, Lek!” atow “Lek!” atow “Giiiii”. Bisa juga kebalikannya, para penghuni rumah itu menyapa saya terlebih dahulu, “De’emma’ah nDuk? (mo kemana nDuk?)” atow “Bileh deteng?(kapan datang?)” atow hanya seulas senyum sederhana namun penuh cinta😳
Bahkan saking grapyaknya kami, si ayahmahes sampe heran melihatnya, kami keren kan Yah?!😎

Siapa yang lebih dulu melihat maka dialah yang menyapa, sederhana kan aturan mainnya?!
Namun dari kesederhanaan itulah tumbuh rasa kekeluargaan, gotong royong, dan tepo seliro yang tinggi yang kemudian mewujudkan sebuah komunitas yang guyub dan rukun.

Huwaaaaaa… jadi kangen rumah😥😥😥

TENGAH
Trucuk >>> Cawas >>> Modran >>> rumah dengan kusen coklat dan pagar ijo. Disanalah mertua tercintah tinggal!

Beda tempat beda budaya. Kalow di TIMUR semuanya disapa (yang kalo ga disapa bakal jadi rasan-rasan) kalow di TENGAH ini yang disapa hanyalah orang yang dikenal dan lumayan dekat saja, sementara kalow yang lain ga disapa ga masalah dan ga bakal jadi rasan-rasan😳

Ibuuuuuuuuuuu.. kangen jangan lombok ma opor ayamnyaaaaa!😕😕😕

BARAT
Tangerang, Jawa Barat. Pertama kali menjejakkan kaki di sini (baca : kuliah) masih suka nyapa para bapak ibu yang sedang cangkruk di jalan yang saya lalui. Beberapa nyaut beberapa cuek beberapa menatap heran. “Hehhh, masih ada ya spesies ini!” mungkin begitu jeritan hati mereka melihat saya dan beberapa gelintir mahasiswa lain yang masih “suka” menyapa mereka.

Hmmm… Mungkin mereka heran karena di sisi lain tembok-tembok rumah saling bersaing meninggikan diri. Mungkin mereka cuek karena pagar berduri dan besi runcing semakin menutup rapat kesempatan bersosialisasi. Mungkin mereka mengernyitkan dahi karena masih ada yang berusaha menghancurkan keangkuhan pagar dan tembok itu.

Kesimpulannya  adalah Kanjeng Nabi bersabda bahwa silaturahim itu bisa memperpanjang umur

Uncategorized

43 thoughts on “Timur Tengah Barat

  1. Iya Bun………. setuja…. wah bunda ini orang madura ya…….? biasanya kalau silaturahim kerumah orang madura pasti dikasih makan kalau sampai nggak makan pasti mencak-mencak….hehehehe tapi kalau mereka sudah baik sangat solid…….:)

  2. Heeee….tenang nanti kalau silaturahmi kita bikin apa yach heeee..silaturahmi memberikan keindahan jiwa dan memberikan simfoni kenyamanan dalam kehidupan kan?

    Jadi pingin kopdaran nich heee

  3. waktu tinggal di Jogja dulu juga gitu tuh,
    ga bisa jalan tegak lurus
    mesti deh sedikit membungkuk ngasi salam ke para tetangga yang biasa ada di sepanjang gang/jalan yang di lewatin
    sebagai orang yang udah lama di Jakarta, pasti ngerasa ribet, tapi gimana lagi, daripada dibilang anak Jakarta ga tau diri hihiih ya mending ikut toto kromo setempat aja deh😀

  4. aku masih suka kok nyapa2 atau senyum gitu😀
    emg sih, kalo di jakarta dan kota besar lainnya di jawa barat, mungkin pada heran yah kalo kita nyapa, tp coba deh ke daerah yg masih desa di bogor, sukabumi, bandung, cianjur, garut, dll (banyak yah? hahaha) di situ masih ada kok sapa menyapa dan senyum😀

  5. pernah waktu di biskota saya nyapa juga ‘permisi bu..’ eh si ibu bilang ‘engga mas makasih’.. (jadi bingung sampe sekarang maksud dari ibu itu apah.. any idea? hheu)

  6. Hampir salah dari judulnya🙂
    Tak sedikit orang yang lupa silahturahmi sekarang, apalagi yang sudah tinggal dikomplek atau perumahan. Melirik tetangga saja pun tidak

  7. bunda mahes…kalau tinggal di komplek emang kayak gitu tapi semenjak tinggaldi kampung (non komplek) meskipun di Tangsel…masih banyak koq yang menyapa tetangga2 nya….misi bu…mau bekerja kembali…:-)

  8. wah ngomongin Cawas jadi inget mantan pacar hihihi..

    marii kita pererat tali salaturahim..
    *ngajak salaman* halah hehe

  9. Ini hal yang mudah sebenernya …
    tetapi …
    memang ada sementara lingkungan masyarakat yang sedikit memicingkan dahi kalau ada orang yang ujuk-ujuk ngomong akrab …

    namun bagi saya pribadi …
    saya cenderung pasang muka bersahabat dulu … plus senyum … jika lawan juga bersahabat … saya akan sapa … jika tidak saya akan anggukkan kepala saja …

    Salam saya Bunda Mahes

  10. Begitulah budaya timur, dan bila disandingkan dengan budaya barat pasti berbeda😆 **senyum penuh makna**
    Tapi gak semua orang yang ada di barat (Tangerang) bertabiat seperti itu. Mungkin itu hanya beberapa pendatang yang sudah merasa lama berdiam diri di situ. Kalau orang asli disana mungkin akan lain dalam beradaptasi dengan para pendatang.
    Itu masih menurut pengalaman aku, mungkin juga ada beda karena lin ladang lain belalang:mrgreen:

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  11. Tentang tegur sapa, saya hanya akan bertegur sapa dengan orang lain/teman ketika kita beradu pandang saja. Entah mengapa, rasanya kurang pas aja memanggil kalau tidak bertatap muka…

    Silaturahim, emang harus… biar pnjang umur🙂

  12. Aku dong… masih tersenyum sama pak er-te dan ibu-ibu serta bapak-bapak yang dah sepuh.
    Kalo yang masih muda2 sih ogah…
    Ntar dikira tepe-tepe😆

  13. Hedeh tuh bener kan Jawa Timur. sama dong..toss dulu ..hehehe ..tapi kayaknya dari penampakannya bunda mahes lebih mudah dari saiya….*haduh jadi ketahuan dah tuwir neh…btw bunda mahes kayaknya dari STAN kan di tangerang adik iparku juga alumni situ, sekarang di KPP pajak banda Aceh, angkatan tahun berapa yah bun…sapa tahu samaan sama adek iparku tuh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s