96

Maaf…

Maaf, saya blom bisa BW ataupun membalas komen, tak lain dan tak bukan karena saya sedang menyibukkan diri sendiri dengan segala urusan yang ujung-ujungnya berkaitan dengan Betari Durga…

Maaf, jika dalam beberapa hari ke depan tidak ditemukan tulisan baru dalam blog ini dikarenakan saya sedang beradaptasi dengan perubahan hormon di dalam tubuh saya…

Maaf, karena stok ide di otak saya sedang habis, jadi kali ini saya (lagi-lagi) mo numpang majang foto aja ya…

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements
Uncategorized
40

Senggol Bacok!!!

Suatu siang…

BM         : Mas, nasinya dikiiiiit aja ya!

PA         : Oke… ngambil sendiri aja Mbak!

BM         : Yo wes…

Pilih tempat duduk, ngobrol sana ngobrol sini, nyomot koran WK yang tergeletak tak berdaya di meja biru. Beberapa menit kemudian setelah membaca sekian artikel tentang gosip arteeeis 😎 datanglah sepiring nasi yang benar-benar sedikiiiiiiiit! Ternyata si mas PA berbaik hati dengan berinisiatif membawakan nasi dalam jumlah yang sedikit menurut persepsinya 🙄

BM         : (sambil jalan ke gerobak tempat termos nasi berada) Maaaaaaas… lha kok ya dikit banget!!!

PA         : (nyengir ga jelas) Lah ntar kalo kebanyakan saya-nya yang dipelototin sama Mbak!

BM         : (mbatin) Iya juga ya!

Bahkan seorang Penjual Ayam Bakar pun “takut” dengan tatapan Bunda Mahes 🙄 🙄 🙄


Uncategorized
37

Vaniaaaaaaaaaaaaaaaaaa…..

Vaniaaaaaaaaaaaaaa….. (teriak dari jauh!)

Assalamu’alaykum sayang!

Kenalan dulu ya! Ini tante Ika, temen mamah Vania (jabat tangan…)

Oiya, kali ini tante mo cerita  tentang pengalaman tante ketika pertama kali menginjakkan kaki di bumi Jakarta.

Jadi, waktu ada kabar kalo tante harus kuliah di Jakarta, tante dah ngebayangin Jakarta seperti yang banyak dibicarakan dan bisa dilihat di televisi, bahwa kalo di Jakarta kita harus hati-hati karena banyak copet, jambret, dan rekan-rekan seprofesinya. Nah, gara-gara mendengar berita kurang baik seperti itu, Bapak tante (yang waktu itu nganterin tante ke Jakarta) sampai-sampai harus nyimpen uang di dalam kaos kaki saking khawatirnya uang itu dicopet ❗ Maklumlah, kami memang orang kampung yang saat itu blom sempat kenalan dengan sebuah kartu bernama ATM itu. Vania pasti tau ATM itu apa! Itu lhooo yang ada di dompet mama yang sering dibongkar-bongkar sama Vania 😉

Oiya, singkat cerita tibalah kami di Terminal Rawamangun. Karena saat itu masih buta arah dan blom tau harus naik apa ke kampus tujuan, dengan penuh harap-harap cemas, bertanyalah Bapak ke salah satu kondektur bus tentang jenis kendaraan apa yang harus kami tumpangi demi menuju ke kampus tersebut. Dan sungguh di luar dugaan bahwa dari sekian orang yang ditanya, seluruhnya menjawab dengan sopan dan gamblang, Alhamdulillah… Dan sore itu berakhir dengan manis ketika tante dan Bapak berhasil menjejakkan kaki untuk pertama kalinya di kampus tersebut.

Dan dimulailah perkuliahan itu Sayang… Dan Vania tau nggak kalo ternyata di sepanjang jalan menuju kampus, orangnya ramah-ramah lho! Berbeda jauh dengan kondisi yang digambarkan selama ini bahwa  orang Jakarta itu individualis, sombong, dll.

Jadi Vania, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, Sayang! Selama kita bisa membawa diri, menjunjung tata krama, InsyaAllah semuanya akan baik-baik saja. Tante yakin Vania akan menjadi salah satu wanita sholihah yang mampu menjaga marwahnya.. 😳

Maaf ya kalo ceritanya kurang seru! :mrgreen:

Selamat ulang tahun Vania sayang… Cium sayang dari tante! Mmuuuuaaaaaaaaaaachhhh… (ada noda lipstick tuh di pipi Vania 😳 )

This slideshow requires JavaScript.

Artikel ini saya ikut sertakan dalam Vania’s May Giveaway

gambar diambil dari koleksi Mbak Thia
Uncategorized
45

I Hate Monday >.<

Biasanya sih saya bilangnya I HATE MONDAY, tapi….

Kemarin pagi, ketika saya baru saja meletakkan helm dan peralatan ngantor lainnya di meja yang terletak di depan meja kerja saya (iya, saya memang kemaruk sampe-sampe harus menggunakan dua meja kerja) mata saya langsung terbelalak melihat dua buah bungkusan yang terletak sedemikian rupa di meja saya.

Bungkusan pertama, berwarna coklat, dari Pakdhe Cholik. Isinya kaos berwarna merah (sesuai pesanan saya disini), ukuran L, bertuliskan Suramadu Bridge. Dan kalo ga muat Pakdhe bilang supaya si kaos dibelah samping 😀 Maturnuwun nggih Pakdheeeeee! 😉 😉 😉

Suramadu Bridge

Bungkusan kedua, dibungkus kertas dengan warna dasar ungu motif bunga-bunga kecil, dan tidak mencantumkan nama pengirim. Meskipun dah ada firasat kalo paket ini dari Mbak Elsa, tapi masih blom yakin, dan setelah dibuka ternyata benar adanya! Sebuah tas berwarna peach bertuliskan nama DIJA, sebuah bros peniti, dan sebuah sajadah cantik (yang awalnya saya kira pashmina). Makasih Mbak Elsa… Sun sayang buat Dija cantik!

Tas DIJA

Setelah foto sana foto sini, saya kira paket dari Mbak Elsa adalah paket terakhir yang harus saya eksekusi pagi itu, ternyata oh ternyata…

Seperti biasa, setelah ngidupin komputer, saya ngeluarin hape dari tas dan saya letakkan di laci meja, dan ternyata disana telah ada sebuah paket dibungkus amplop coklat dari Kajol empunya Gerhana Coklat!!! 💡 Makasih banyak Kaaaaaaaaaaaaaaak… :-*

Gelang dan Lulur Bali

Dan pagi yang manis itu berubah menjadi suram seketika saat sosok Betari Durga muncul dengan wajah penuh amarah.. And yes, I hate Monday! 😥 😥 😥

NB : Ada yang penasaran sama kelanjutan cerita tentang Betari Durga ga sih???

43

Pelem Krowak

Suatu sore di pos satpam ketika saya tengah menunggu kedatangan ksatria tampan bermotor hitam untuk membawa saya pergi bersamanya 😳 seorang pak satpam nan baik hati menghampiri saya dengan membawa satu buah mangga di tangannya. Diletakkannya mangga tersebut ke meja tempat saya duduk.

PS      : Ini Mbak, baru ada satu buah

BM     : Makasih ya Pak! (cengar-cengir)

PS     : Tapi itu blom matang lho! Masih kemunir..

BM     : Kemunir???

PS      : Iya, blom mateng tapi dah kekuningan gitu, dah lumayan tua, tinggal di-imbu di rumah

BM      : (penasaran….) Kraukkk! (digigitnya ujung buah mangga tadi dan benar adanya bahwa si mangga telah berwarna kekuningan) Asem-asem seger!

PS      : (melongo)

BM      : (heran melihat ekspresi PS) Ada apa Pak?!

PS      : Lha kok langsung dimakan gitu?!

BM      : Lho emangnya kenapa? Ada yang salah?!

PS       : (merasa melihat keajaiban dunia) Ya nggak sih…

BM      : (ngerti kalo si PS masih heran) Lha wong saya biasanya gitu kok, kalo dah tua langsung tak makan kaya gitu..

PS        : Ooooo… (sadis juga ni emak-emak)

Nah sekarang yang menjadi pertanyaan saya adalah emangnya makan si buah mangga dengan cara saya tersebut keliru ya?!

sejenis ini kali ya!

NB :
1. Sebelumnya PS memang telah berjanji kepada saya untuk mengambilkan beberapa buah mangga yang berbuah lumayan lebat di halaman kantor

2. Dialog di atas telah mengalami perubahan seperlunya sebab dialog aslinya terjadi dalam bahasa Jawa sehingga dimohon pemaklumannya jika terdapat kata-kata yang kurang pas untuk dibaca 😎

38

Hand Foot and Mouth Disease : Puasa Makan dan Puasa Bicara

Gara-gara kasus perkosaan kemaren, akhirnya saya bikin rencana untuk mengisi liburan aneh tersebut seperti ini :

  1. Sabtu              : nge-mall di Bintaro Plaza
  2. Minggu            : keliling-keliling “pasar kaget” di Giant – Carrefour Bintaro sektor IX
  3. Senin              : ke Kebun Binatang Ragunan atau Kota Tua, dan pilihan jatuh ke Ragunan
  4. Selasa            : di rumah sajyyyaaa… 😦

Rencana untuk hari Sabtu berjalan sempurna, pun Minggu, hingga Senin pagi ketika Mahes menolak untuk menghabiskan sarapannya dan sedikit rewel ketika mandi pagi. Ketika saya tanya hanya mendapat jawaban bahwa giginya sakit dan meminta saya untuk menjulurkan telunjuk ke geraham atasnya, dan ternyata memang bengkak. Yup! Sepertinya mo tumbuh gigi lagi 😎

Kunjungan ke Ragunan terpaksa kami percepat karena ternyata Mahes tetep rewel dan sebentar-sebentar minta digendong. Bayangkan saja, kami harus menggendong seorang anak dengan bobot 16 kilogram menyusuri jalanan di Ragunan ❗ Akhirnya pulanglah kami 30 menit sebelum adzan Dzhuhur berkumandang…

Senin sore Mahes sama sekali tidak mau membuka mulutnya, karena anggapan saya saat itu dia kesakitan karena mau tumbuh gigi lagi, saya beri dia paracetamol untuk mengurangi rasa sakit yang dideritanya. Sekilas saya lihat ada bintik-bintik merah berair di kedua telapak kakinya dan beberapa bintik merah di kakinya, si ayah bilang mungkin karena digigit serangga sewaktu di Ragunan dan saya sepakat dengan pendapat ayah.

Rencana Selasa kami berantakan karena Mahes sama sekali tidak mau makan. Bubur ayam, puding susu, bubur sumsum, biskuit, wafer, dan banyak jenis makanan lain yang saya tawarkan ditolaknya mentah-mentah, namun saya belum membawanya ke dokter karena dia masih mau minum susu. Nah, karena alasan itu juga maka Rabu pagi saya “nekat” ngantor meskipun Mahes sama sekali blom mau makan apapun.

Selama di kantor, Budhe saya telpon berkali-kali hanya demi memastikan keadaan Mahes yang ternyata kondisinya masih sama dengan Selasa sore. Berbekal pengalaman yang sudah-sudah (bahwa saya tau tentang sakit yang tengah diderita Mahes melalui internet) maka saya sowan ke Mbah Google dengan keyword bintik merah berair di telapak kaki. Dan sebagian besar jawaban mengarah kepada dua penyakit, yaitu penyakit Kaki Tangan Mulut alias Hand Foot and Mouth Disease dan Flu Singapura dimana untuk selanjutnya baru saya tau bahwa Flu Singapura merupakan nama beken dari penyakit KTM/HFMD 🙄 Setelah ngobrol dengan ayah tentang kemungkinan bahwa Mahes menderita KTM, dicapailah sebuah kesepakatan untuk memeriksakan Mahes ke dokter  anak malam itu juga.

Seperti sudah diduga, Mahes positif menderita KTM, dan ternyata penyebab ditolaknya berbagai jenis makanan tersebut adalah akibat virus KTM yang juga bersarang di rongga mulut Mahes, pfiuhhh…..pantesan ga mo makan! Pak dokter bilang bahwa Mahes harus mandi pake antiseptik cair, trus asupan makan dan minum dijaga karena kalo sampe kurang cairan maka Mahes harus diopname di rumah sakit dan diinfus! Tidaaaaaaaaaaaaaaakkkk… 😥 Dapet tiga jenis obat : Nymiko untuk sariawannya, Isoprinosine dan CEFAT. Untuk dua obat terakhir harus dihabiskan ❗

Singkat cerita, Kamis dan Jumat saya gak ngantor demi menghindari kemungkinan di-opname-nya Mahes. Dan Alhamdulillah pada Jumat sore untuk pertama kalinya Mahes mau ngomong dan makan, pfiuhhh… Lega rasanya ngeliat si kecil aktif kembali (bahasanya bahasa iklan banget yak!)

Karena stok obat masih banyak, nanyalah saya ke bu Bidan satu ini tentang dihabiskan tidaknya si obat, dan menurut beliow karena dah 3 hari minum obat maka ga perlu dihabiskan gapapa 💡

Inti dari tulisan ini adalah saya mohon maaf karena belum bisa membalas komentar sahabat dan blom bisa jalan-jalan ke rumah maya masing-masing karena dalam tiga hari terakhir saya harus konsentrasi mengurusi si buyung yang sedang sakit dan saat ini sedang dalam masa mengembalikan perut gendutnya ke bentuk semula 😉 Kalopun ada artikel yang terbit, tidak lain dan tidak bukan artikel tersebut telah terjadwal sebelumnya dan semata-mata ingin berpartisipiasi dalam program Post A Day-nya WordPress 😎

nyaingin pose sedakep-nya Om Trainer 😛

Happy blogging!!!