Menggadaikan Iman

TUKANG SUMUR

Minggu lalu rumah mungil kami semakin “disemarakkan” dengan hadirnya seperangkat mahluk besi dalam bentuk pipa, mesin diesel, dan kawan-kawannya. Maksud kedatangan mereka ke rumah kami adalah tak lain dan tak bukan untuk mengeluarkan mata air kehidupan (baca : bikin jet pump).

Yup, sebenarnya kunjungan ini adalah kunjungan yang akhirnya terwujud setelah sebelumnya sempat tertunda pada akhir tahun lalu, namun karena tingkat ketebalan dompet sedang menipis jadinya baru bisa berkunjung sekarang😎

Tenang aja, saya ga mo cerita tentang asal muasal mesin pompa ini kok! Saya cuma mo cerita tentang para Bapak dan Mas yang membantu ditegakkannya para mahluk besi itu di halaman belakang rumah kami.

Memang sih, kerjaan mereka itu pekerjaan “kotor” (dalam artian denotatif tentunya), sekalinya dah “nyemplung” ke kerjaan, seluruh pakaian mereka akan belepotan lumpur. Tapi apa ya karena itu trus ninggalin sholat? Padahal dah dipersilakan untuk sholat di dalem, merekanya cuma njawab sambil senyum-senyum gitu😥😥😥

Paaaaaaaaakkk.. Maaaaasss…  saya memang ga tau pasti berapa penghasilan bersih bapak dari sekian rupiah yang saya bayar ke toko pompa air itu, tapi setebal apapun lembaran rupiahnya lha opo ya bisa menggantikan surga yang dijanjikan Allah😕😕😕

PENGAMEN WARIA

Bulu mata palsu, rias wajah tebal dan menor, pakaian sok seksi, wig bertengger di kepala, dan sebuah kecrekan ala kadarnya…

Yup! Pengamen waria yang keberadaannya semakin menjamur akhir-akhir ini. Saya termasuk salah satu yang risih sekaligus suka dengan berbagai performance kreatif mereka.

Nggak kok, saya gak benci mereka.. Saya hanya kasian melihat mereka yang harus bersusah payah sedemikian rupa sampe-sampe harus berubah wujud menjadi sesosok transgender demi  sebatang rokok dan selembar voucher pulsa. Lha kok bukan sesuap nasi? Ah.. istilah itu dah basi! Sekarang jamannya serba digital Bung! Hape dan rokok menjadi lebih menyerupai kebutuhan primer dibanding nasi dan sejenisnya itu.

Hmmm…. Lha wong Kanjeng Nabi aja melaknat pria yang menyerupai wanita kok, masak kita yang ngaku-ngaku sebagai pengikut Nabi malah gak protes terhadap keberadaan mereka???

Ya mungkin anda heran lha kok tumben-tumbennya saya yang agak gak gila ini ngomongin hal yang serius seperti ini, tapi ya gimana ya………..

Emang sih saya ga pernah serius dalam tulisan-tulisan saya, tapi untuk hal ini saya ga bisa tinggal diam! (*ngambil pisau sama talenan siap-siap ngiris) Hal-hal seperti ini adalah hal yang PRINSIP bagi saya, harga mati! (*gaya ala Bung Karno)

Kesimpulannya adalah dulu Bapak saya pernah bilang bahwa kefakiran berpeluang besar “mendekatkan” seseorang kepada kekufuran :cry: 

NB: ada titipan artikel dari Bang Kerak, kalow sempat dimohon komentarnya di artikel ini BANGKITNYA JIN GENTONG

gambar gif diambil dari situs ini

66 thoughts on “Menggadaikan Iman

  1. Pagi bunda..
    Hiks..jadi teringat air di rumahku,keluarnya dikit terus apa mesti ganti dari semi jadi jetpam,huhu..isi dompetnya belum tebel bunda ..
    Barangkali begitu ya bun,dengan alasan pakaian dan badan kotor2 dan hanay senyum2 hihii jadi ndak sholat,hiks..

    waah..nyiapin pisau,talenan..Kabuur…!! takut jari jemariku di potong bunda yang galak haha..

  2. (semoga) Pertamaaaxxx 😀
    Setuju dengan kalimat Bapak, karena memang begitu faktanya. Hebat uy ci Bunda ngobrolnya serius hihihi *kabuuur

  3. betul bunda…
    kefakiran dekat kepada kekufuran,, itu jga pelajaran dari guru ngaji saya yg msih teringat….
    yang penting kita sudah menasehat dan mengingatkan bun, selanjutnya terserah mereka..

  4. Begitulah jeng saudara2 kita.
    Jangankan wong cilik. Lha pembesar saja kadang lupa sholat jika sudah mimpin rapat atau dinas ke LN.
    Bahkan saya pernah mengalami tidak sholat Jum’at karena ikut meeting dengan tamu dari luar negeri. Lha pemimpin rapat gak ngajak Jum’atan je.

    Orang desa juga masih ada yang belum berangkat sholat Jum’at, padahal mereka ya hanya duduk2 saja lho.Dan mungkin sholatnya juga gak jangkep.

    Semoga mereka segera sadar untuk menyiapkan bekal kesana.

    Salam hangat dari Surabaya

  5. Pemain Ludruk , pemain sinetron juga ada masih ada laki-laki yang jadi /berhias seperti perempuan.

    Masya Allah, kadang ada yang ayu tenan, sayangnya pake torpedo ha ha ha ha.

    Semoga mereka segera sadar yaaaa.

    Salam hangat dari Surabaya

  6. Setujuh bunda, orang seperti mereka patutnya di kasihani. Bukanya di caci atau pun di hina. Mereka juga manusia. Punya perasaan dan harapan untuk hidup lebih baik.
    hmmm…😀

  7. kalo kata salah satu teman kost mantan anak buah saya, dia tak punya pilihan lain dengan menjadi waria pada malam hari untuk menambah penghasilan
    tapi koq ya pilihannya aneh ya

  8. Terkadang emang ad ahal-hal yangtidak bisa kita mengeri Mbak…khususnya yang Waria itu….entahlah…mungkin jika ada pembicaraan dari hati ke hati mereka tak ingin seperti itu….Seperti yang Mbak Ika bilang, kasihan memang🙂

  9. makanya nasib mereka ngga berubah-berubah bunda segitu-segitu aja. Guru ngaji dekat rumahku, dulu rumahnya gubuk kecil sekarang Alhamdulilah rumahnya udah bagus anak-anaknya berhasil, padahal kalo dipikir-pikir mengandalkan mengajari ngaji doang apa bisa hidup tapi itulah kehendak Allah karena beliau taat sama Allah.

  10. Iman itu sangat berharga ya mbak… .
    Dan biasanya baru terasa sangat berharga ketika berbenturan dengan hal-hal yang mengganggu prinsip… .

  11. pekerjaan apapun sebenarnya tak boleh meninggalkan sholat, sungguh sangat merugi…..

    mau nanya bu, itu hubungan antara tukang sumur sama waria apa ya? aku belum dong….

    • @ mbak Ni’mah
      yes it is…

      @ mbak Lely
      siap.. bu guru bersedia???😀

      @ choirul
      hubungannya adalah keduanya sama-sama prinsip karena dah menyangkut tauhid😉

  12. yeah …
    di sini sehari bisa 3x disamperin pengamen waria,
    dan ga kapok2nya lho wlo setiap buka pintu cuma didadah2in sama operator yang jaga
    *emang mereka dilarang memberi wlo koin sekalipun biar ga kebiasaan mampir*

    kasian sih, tapi belum bisa bikin apa2 buat bantu yang lebih nyata😦 miris melihat jumlah mereka yang semakin banyak.

  13. paling haru adalah saat ada penjual bakso yang selalu mampir ke mushola buat sholat.
    itu aku liat Bun, di komplek perumahanku di Purwokerto. Entah kenapa yah, rasanya adeeem banget ngeliat mereka yang menyempatkan diri sholat mampir di masjid atau mushola di sela waktu kerjanya.
    *padahal nek dipikir-pikir itu juga udah jadi kewajiban mereka ya…

  14. Itulah hidup, tidak semua berada di dalam lembaran kerta putih, namuan terkadang ada pula hitam yang selalu menaungi.
    Semua kembali ke manusianya, mau berbuat baik atau justru ingin jatuh ke dalam dosa🙂

  15. Terkadang tanpa kita sadari kita telah terpesona dan terpedaya oleh keindahan dunia dan melupakan keindahan yang lebih hakiki yang telah dijanjikan pada kita.

  16. tapi kalau menurut saya kefakiran bisa menambah orang semakin dekat dengan-Nya. Itu semua tergantung mental orang tersebut kok, dan lingkungan sangat mempengaruhi biasanya…
    salam

  17. Kalo di tempat saya waria naik daun Mbak, apalagi kalo pas ada karnaval, puih.. buanyak wes, hehe..

    Ya seperti kata Pak De, semoga segera sadar..

    • @ mbak Akin
      hayuuuukk…
      *komen seperti ini yang saya harapkanhhhh😀

      @ Masbro
      naik daun? bisa ya? setau saya daun ga bisa dinaiki lho!

      @ Bli Budi
      setuju Bli!

  18. kadang kalo diingetin jawabnya banyak ya Bun..
    saya salut deh sama sopir2 bisa yang nyempetin sholat dulu..

    kalo tentang waria, gimana ya pilihan hidup mereka juga sih, tapi kasihan di akhirat nanti meski hanya Allah yang tahu..

  19. minimal bunda sudah mengingatkan untuk sholat…kita hanya bisa sebatas itu bun…karena kita memang punya keterbatasan…*bukan orang tuanya maksudnya….:-)

  20. kalo masalah yang tukang ledeng itu, kayaknya kalo saya liat kebanyakan tukang bangunan juga jarang solat, nggak semuanya sih. tp kebanyakan gitu. entah kenapa😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s