18

Cewek dan Cowok

Suatu sore, beberapa saat setelah tiba di rumah, seperti biasa pintu dibukakan oleh si anak sholeh, meskipun sebenernya dia ga tulus-tulus amat sih mbuka pintunya karena setelah itu pasti dia akan berteriak-teriak “kue.. kue..” sambil berusaha merenggut tas bundanya.

Setelah berhasil merebut tas hitam itu, dikeluarkanlah satu demi satu isinya hingga ditemukannya sebuah dompet pink yang berisi “peralatan make up” (yang hanya terdiri dari compact powder dan sebatang lipstick). Begitu melihat gelagat bahwa si anak sholeh hendak membukanya, spontan sang bunda melarangnya.

Continue reading

19

Markonah dan Bakwannya

“Markonah, besok bikin bakwan 10 biji aja ya!” Betari Durga dengan mulut monyong dan leher ala kodoknya memberikan perintah kepada Markonah.
“Bukannya biasanya 50 buah ya Dur?” Tanya Markonah.
“Nggak, 10 aja!” jawab Betari Durga.
Belum kering air ludahnya, Betari Durga telah menghilang bagaikan kabut pagi tersiram matahari.

Markonah melanjutkan pekerjaannya…

*****

Keesokan harinya..

Seperti biasa, pukul 07.00 pagi Betari Durga menghampiri meja Markonah, menanyakan progress report pembuatan bakwannya. Markonah yang telah mengantisipasi “sarapan” di pagi hari, dengan penuh rasa percaya diri telah menghidangkan 10 buah bakwan yang masih mengepul hangat, lengkap dengan cabe rawitnya (belakangan diketahui ternyata cabe rawit tersebut dibeli dengan uang pribadi Markonah, karena Betari Durga tidak ingin tahu menahu tentang kenaikan harga cabe rawit).

“Wah, dah siap ya bakwannya!” sapa Betari Durga
“Iya Dur, dah saya goreng sejak pukul 4 pagi tadi” Markonah menjawab dengan bangga.
“LHOOOOOOO!!! Koq bakwannya cuma 10????” Suara Betari Durga terdengar menggelegar, memecah keheningan warung reyot itu.
Demi mendengar suara fales tersebut, Markonah terkencing-kencing menghadap Betari Durga.
“Ada apa, Dur? Bakwannya kenapa?” Tanya Markonah
“Ini bakwannya kenapa cuma 10??? Kan saya mintanya 50 buah seperti biasa?!” jemari Betari Durga bergetar demi menahan esmosi yang meluap-luap.
“Lho, kan Betari sendiri yang minta 10 buah? Kan kemaren Betari sendiri yang bilang ke saya untuk bikin bakwan 10 buah aja!”
“Makanya, kalo gitu itu tanya dulu ke saya! Ingatkan saya! Kalo salah kaya gini kan saya sendiri yang pusing!” Betari Durga semakin murka.

Markonah makan cabe rawit utuh..

gambar diambil dari sini
32

eS Te eR E eS eS

1. Betari Durga

Silakan bayangkan situasi berikut :
Pukul 06.30 pagi, seorang karyawan -sebut saja Markonah- baru saja tiba di warung tempatnya berjualan gorengan. Baru saja dia menghempaskan pantatnya ke kursi datanglah Betari Durga, sang pemilik warung, menghampirinya, “Hei Markonah, gimana pesenan bakwan jagung saya kemaren? Dah kelar belom?”
“Dih, ni orang! Baru aja duduk dah ditanyain kerjaan!” Markonah merutuk dalam hati, “Udah Dur, wortel ma togenya dah saya bersihin, tinggal bikin adonannya doank!”
“Ya udah kalo gitu, jam 7 udah harus selesai digoreng ya!” jawab si Betari Durga
“Iya Dur!” jawab Markonah sambil terus merutuk dalam hati “Lah wong jam kerja efektif tuh jam 8 pagi lha koq jam setengah tujuh dah nanyain bakwan!”

Continue reading

24

Ah.. Sudahlah..

Sabtu, 12 Februari 2011 pukul 12.30
Setelah menunaikan sholat Dzuhur, saya dan suami langsung capcus menuju ke moll terdekat, sesuai rencana  semula bahwa kami akan nonton The Green Hornet setelah ga jadi nonton The Mechanic-nya Jason Statham.

12.40
Ke ATM dulu ngisi dompet ayah yang dah ngos-ngosan trus meluncur ke twentiwan untuk liat jadwal pelemnya diputer karena blom sempet ngecek di situsnya twentiwan. Ternyata jadwal terdekat adalah pukul 13.40, ya wes ambil yang jam segitu.

12.45
Duduk manis di salah satu tempat makan setelah order makanan. Sambil nunggu saya ngeluarin hape yang sejak tadi bersemayam di dalem tas saya. Si ayah protes karena kalo saya maen hape sama aja dengan nyuekin si ayah, berpindahtanganlah si hape ke tangan ayah.

13.00
Makanan datang, hape ditaruh di meja, dalam waktu 10 menit piring-piring kami licin tandas. Hape saya masukkan ke kantong luar tas saya.

13.10
“Wah, masih lama nih, Bun! Ngapain ya enaknya?” Tanya si ayah. Saya mengajukan beberapa opsi :

  • Gramedia, langsung ditolak mentah-mentah sama ayah karena sekalinya saya belanja buku akan menghabiskan seperdelapan gaji saya
  • Giant Supermarket
  • Fun World, dua opsi terakhir diterima dengan lapang dada Continue reading
30

In Memoriam

“Ruda meninggal, Ca!”

“Innalillahi wa inna ilayhi roji’un.. Kapan Pak?”

“Tadi pagi, Bapak disusul setengah jam sebelum dia meninggal. Udah ya, Bapak mo ngaji dulu”

Sambungan telepon ditutup.

Telepon dari Bapak tersebut membuat saya terhenyak, dan tiba-tiba rasa kehilangan menyeruak…

Continue reading

Uncategorized
15

Kacang Panjang

Disebut kacang panjang karena emang bentuknya yang panjang. Naaaaaaah.. herannya tuh, ketika si kacang panjang dah dipotong-potong jadi lebih pendek kenapa namanya tetep kacang panjang??? Padahal kan dipotong jadi pendek???

P.S. Postingan ga jelas akibat kepala yang cenat-cenut setelah mengalami hectic morning, WHAT A DAY!!! 😡

gambar diambil dari sini
29

Lirikan Mata

Kalo  lirik lagu Pengalaman Pertama-nya A. Rafiq seperti ini :

Lirikan matamu menarik hati
Oh senyumanmu manis sekali
Sehingga membuat… aku tergoda

 

Kalo versi saya mungkin akan seperti ini :

Lirikan matamu medheni ati
Oh senyumanmu tak enak sekali
Sehingga membuat… Aku tak berani

Kenapa koq bisa gitu???

Karenaaaaaaaa.. Hampir semua orang yang saya temui (bahkan suami saya sekalipun!) ngeri kalo ngeliat saya menatap tajam ke arah mereka, si anak sholeh pun lebih takluk terhadap si lirikan mata dibanding omelan saya. Sejak SMA hingga bekerja, semua teman saya bilang bahwa saya memiliki tatapan yang mengerikan!!!

Masa iya sih??? (nanya trus ngaca)

P.S. tulisan ini terinspirasi oleh Kanglurik yang InsyaAllah akan menikah dalam waktu dekat ini.
gambar diambil dari sini