Another “dirty” Story

Pada suatu sore di suatu halaman suatu rumah suatu komplek perumahan, bermainlah seorang anak laki-laki berumur 22 bulan bersama 4 orang dewasa, sebut saja mereka Ayah, Bunda, Om Nyinyu, dan Tante Nyonyo. Bukan komposisi yang seimbang memang, tapi benar begitulah keadaannya.

Konon si tante Nyonyo ini sangat menyukai coklat, terutama sejenis Choki-Choki dan Gery Pasta (ga maksud ngiklan lho ya!) dan atas kebaikan hatinya, “dipaksalah” si anak kecil sebut saja Mahes untuk menyukai makanan itu juga. Hampir setiap hari si tante Nyonyo dan Om Nyinyu yang baik hati ini “mencekoki” si anak kecil dengan minimal satu batang Choki-choki/Gery Pasta ini. Sama halnya dengan seekor kucing yang disodori ikan asin, begitu pula keadaan si anak kecil tadi. Binar di bola matanya semakin benderang tiap kali coklat pasta itu disodorkan di hadapannya.

Sampailah pada sore itu, mungkin si anak kecil sedang kekenyangan sehabis menikmati makan sorenya sehingga ketika coklat pasta itu disodorkan, dia kurang antusias menyambutnya. Namun si anak kecil ini tetap meminta sang Bunda untuk membukakan kemasannya. Ya wes, Bunda nurut, dicabiklah bungkus si Gery Pasta itu. Setelah pojok si Gery pasta terbuka, si anak kecil tadi memencetnya dengan tujuan supaya si Gery pasta bisa moncrot keluar tau kan ya caranya makan coklat pasta gitu.

Keluarlah si pasta dengan panjang sekitar setengah sentimeter. Oleh si anak kecil tadi, dicecaplah pasta coklat itu. Tapiiiiiiiiiii… mungkin karena faktor kekenyangan tadi sehingga si coklat pasta ini tidak jadi ditelannya. Disemburlah si coklat pasta ini dengan campuran ludah disana sini. Sang Bunda merasa eman untuk membuang si coklat pasta yang masih menggelantung di dagu si anak kecil tersebut sehingga langsung ‘disambarlah” coklat tadi, hilang ditelan sang Bunda:mrgreen:

gambar diambil dari http://dictionaryhidup.blogspot.com

Catatan :

  • alasan sang Bunda eman untuk membiarkan si coklat terjatuh akibat daya gravitasi bumi adalah karena melihat bentuknya yang masih utuh meskipun telah diselubungi oleh air liur
  • ga perlu dijelasin kan ya pelakunya siapa aja???๐Ÿ˜€

27 thoughts on “Another “dirty” Story

  1. Waktu kecil dulu saya paling anti sama yang namanya durian. Lha Ibuk saya maksa, akhirnya sukses bikin saya jadi penggemar durian. Nah, setiap kali musim duren, Ibuk pasti bilang gini ke Bapak. “Pak, mbokyo anaknya dibelikan duren, kayaknya pengen tuh..”
    Hehe.. sepertinya cerita saya serupa dengan critanya BundaMahes.

  2. Assalaamu’alaikum BundaMahes…

    Hehehe…. emangnya selalu begitu ya mbak, kalau si Mahes tidak habis makan, si ibunya yang selalu menyambar. Bukan kerana ditaksir “membazir” tetapi sebenarnya kepengen juga barangkali.๐Ÿ˜€

    Ibu2 memang demikian sifatnya, selalu mengorbankan diri untuk maslahat ummahnya. Kongsian kisah benar yang mengkagumkan kerana bapak2 jarang berkeadaan demikian dengan anak2nya.

    Satu dari sifat agung ibu yang tidak pernah dinafikan oleh sesiapa walau “kotor” oleh air liur anak, tetap juga menjadi santapannya kerana “sayang” untuk membazir.

    Salam mesra selalu dari Sarikei, Sarawak.๐Ÿ˜€

  3. Aku juga pernah begitu malah lebih extrem lagi. Saat anak ku masih bayi dan terkena pilek, dengan terpaksa aku hisap ingus lewat hidung nya agar tidak membuntu pernafasan nya.
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  4. happy new year bund ..

    ya emang gitu kyana ya bund,, semua makanan kesukaan mama di wajibkan anak nya juga suka, biar ntar di beliin sama papa, om, tante, kakak, jadi yang kenyang mama nya .. hehehe

    salam ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s