Fenomena Menjelang Lebaran

Sehubungan dengan kosongnya dompet ditambah dengan hadirnya sms cinta dari 3355 plus rindu yang menggebu terhadap mi rebus Kari Wel Wel membuat saya (dianter suami tentunya) memutuskan untuk jalan-jalan berdua saja setelah meninggalkan sang pangeran kecil dalam keadaan terlelap.

Tempat pertama yang dituju adalah Kari Wel Wel. Nampaknya saya kurang beruntung karena sesampai disana ternyata warungnya ga buka, mungkin mereka dah pulang kampung, secara mahasiswa STAN yang merupakan konsumen terbesar mereka dah liburan, hiks.. Mana yang belum makan malam, tadi buka puasa cuma makan coklat hasil malak bang kerak –katanya sih ikhlas-. Ya wes, tak ada mi rebus, bakso Djoko pun jadi! Akhirnya kami mengubah haluan ke Har*ony swalayan.

Nyampe sana langsung pesen bakso satu porsi karena si ayah dah lumayan kenyang, maunya minum aja katanya, dan setelah sedikit dibujuk, akhirnya dipesenlah seporsi batagor dan 2 gelas es cendol. Makan-makaaaaaaaaaaaaaaaaan… Alhamdulillah licin tandas dan ayah kekenyangan.

Perut kenyang, saatnya berbelanja (supaya ga laper mata). Awalnya sih mo sekalian belanja bulanan, tapi ayah bilang lha wong mo ditinggal lama koq malah belanja banyak, jadinya cuma beli jeruk baby untuk si pangeran kecil plus printilan-printilan kecil lainnya. Selesai belanja trus ngambil duit trus naik ke lantai dua. Sesampai di lantai dua alamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak… penuh banget!!!!! Antrian di kasir udah ada 3 baris, padahal biasanya kalo awal bulan tuh maksimal 2 baris!!! Ngeliat pengunjung yang segitu banyak, si ayah (yang sedang “menikmati” efek kekenyangan) akhirnya memutuskan untuk nunggu di luar aja.

Perjuangan dimulai.. Sasaran pertama adalah wadah makan bayi karena wadah makan milik Mahes dah kekecilan jika dibandingkan dengan jumlah makanan yang harus ditampung di dalamnya. Wadah makan sudah, sekarang menuju tempat toiletries, beli sabun cair ma baby oil ukuran kecil, untuk persiapan selama mudik nanti. Di sebelah toiletries bergelantungan topi-topi lucu. Ada satu topi yang sepertinya cocok untuk Mahes sayangnya ukurannya kekecilan sehingga saya mengurungkan niat untuk membelinya.

Sebenarnya tujuan utama belanja saya dah tercapai semua, tapi saya tetap tergoda untuk liat-liat pakaian balita. Dan ternyata saya harus menanggung konsekuensi yang lumayan berat akibat dari tindakan saya tersebut. Stand pakaian benar-benar penuh! Para pengunjung terutama ibu-ibu (saya ga termasuk lho ya!) saling berebut memilih pakaian yang terpajang disana. Saya yang ga berniat untuk beli hanya senyum-senyum melihat animo masyarakat yang begitu besar dalam menyambut lebaran. Sesuai informasi yang saya dapat dari salah seorang pramuniaga disana bahwa padatnya pengunjung ini terjadi sejak kemaren malam dan baru bener-bener rame setelah Isya, sementara saking ga bisanya toko swalayan itu membendung pengunjung yang datang sehingga mereka baru tutup setelah toko sepi pengunjung yaitu sekitar pukul 10 malam (padahal di hari-hari biasa jam operasionalnya maksimal sampai pukul 9 malam).

Kalo ingin melihat aksi marah-marah massal, disini tempatnya! Berikut beberapa hasil pengamatan saya:

  • Terdapat satu keluarga (kayanya) yang terdiri dari seorang ibu dan tiga orang anak dengan urutan (dari yang tertua) cewek-cowok-cewek. Yang bikin saya heran adalah si anak bungsu ini selalu dimarahin sama ibunya, dibentak-bentak, padahal saya liat anaknya ga ngapa-ngapain, cuma ikut milih-milih pakaian doank koq! Dan anehnya hal itu tidak terjadi kepada dua anaknya yang lain, kenapa ya???? Kan kasian anaknya diintimidasi kaya gitu!
  • Seorang ibu dan seorang anak yang berumur kira-kira 6-7 tahun. Si ibu masih sibuk milihin celana buat anaknya ketika si anak teriak ke ibunya “Ibuuuuuuuuuuuuuuu…pulang yoooook!” Tau ga tanggapan ibunya? “Sssssst… bawel amat sih!” Yaelah buuuu… kalo emang mo belanja berlama-lama ya ga usah bawa anaknya donk! Anak kecil manapun pasti bosen dan capek apalagi waktu itu dah jam setengah 9, pasti dah ngantuklah anaknya!!!
  • Seorang suami di luar pagar antrian yang sedang menggendong anaknya yang masih berumur 8 bulanan, sementara istrinya sedang ngantri di depan kasir. Si anak kayanya bosen kalo cuma digendong diem sehingga dia mulai memberontak, kakinya menendang-nendang perut ayahnya dan tangannya menunjuk ke arah lain, mengajak bermain, dan dijawab oleh ayahnya “Udah! Diem! Jangan rewel!” Padahal si anak ga nangis lho! Cuma pengen maen aja! Beberapa saat kemudian dengan wajah cemberut si suami berseru ke istrinya yang masih menunggu dengan sabar di depan kasir “Dek, buruan napa?! Lama banget sih!” Hal itu berlangsung dua kali. Hmmm…Speechless saya! Ni bapak dah siap punya anak blom sih?!

Setelah urusan selesai semua, saya keluar. Ternyata ayah dah niungguin dari tadi . Di perjalanan pulang saya mikir, di swalayan yang harganya ga bisa ditawar aja dah kaya gini ramenya apalagi di ITC-ITC gitu, lebih-lebih lagi di Tanah Abang, beeeeeeeeeh…pasti sumpek banget!!!

One thought on “Fenomena Menjelang Lebaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s