4

Gundul Episode 3

Sebenernya dah pengen nggundul Mahes sejak sebelum lebaran, tapi si ayah ga setuju, alasannya karena Mahes digunduli terakhir kali baru beberapa bulan yang lalu. Sepulang dari mudik lebaran, kembali saya bujuk si ayah untuk menyetujui proposal penggundulan rambut Mahes, sebab rambutnya sudah mulai mlungker-mlungker kepanjangan. Setelah dibumbui request dari Om Nanang (tetangga depan rumah) untuk menggundul rambut Mahes, akhirnya ayah setuju juga.Seperti pengalaman terakhir, proses penggundulan kali ini tetap dilakukan oleh istri si ayah, yaitu bunda :).

Eksekusi penggundulan rambut Mahes dilakukan tepatnya pada Selasa malam, tanggal 28 September 2010 yang lalu. Prosesnya sih ga jauh beda dengan yang terakhir, tapi karena sekarang persiapannya lebih matang, sehingga ada beberapa foto yang ikut “bercerita” tentang proses jalannya eksekusi penggundulan ini.

1. Sebelum dieksekusi

2. Peralatan untuk mengeksekusi Lanjutkan!

15

Keong Racun yang Beracun

Seperti mudik lebaran tahun lalu, tahun ini Mahes tetap menjadi pusat perhatian anak-anak kecil di sekitar rumah orang tua saya di Probolinggo. Sejak pukul 6 pagi mereka telah duduk manis menunggu keluarnya pangeran kecil saya. Begitu Mahes keluar, para krucil tersebut langsung mengajaknya bermain dan bernyanyi bersama, dan Mahes benar-benar menikmatinya 🙂

Di tengah-tengah permainan tersebut, saya yang awalnya hanya memantau dari jauh, mendengar salah satu dari precil tersebut menyanyikan sebait lagu Keong Racun dengan santainya

Mulut kumat kemot
Matanya melotot
Lihat body semok
Pikiranmu jorok
Mentang-mentang kau kaya
Aku dianggap jablay

Deg!!! Prihatin saya mendengar kata-kata seperti itu keluar dari mulut bocah yang baru berumur 7 tahun, tapi saya diamkan saja dengan harapan si anak tersebut akan berhenti menyanyikan lagu itu dan kembali bermain seperti semula. Namun beberapa detik kemudian saya malah mendengar lagu itu dinyanyikan oleh anak lainnya!
Lanjutkan!

3

19 Anak dari 1 Istri, Semua Tak Sekolah (kompas.com)

LIWA, KOMPAS.com – – Seorang ayah di Lampung Barat bernama Asri M (45) memiliki 19 orang anak dari satu istri, Marsiah. Dia pun mengeluh tidak mampu membiayai anak-anak mereka untuk mengenyam pendidikan formal.”Dari 19 orang anak saya, tidak satu pun yang sekolah, karena ketiadaan biaya serta lokasi sekolah yang jauh,” kata Asri di Pekon (Desa) Puralaksana, Kecamatan Way Tenong, Lampung Barat, sekitar 330 Km dari Bandarlampung, Kamis (23/9/2010).

Ia menjelaskan, sebagai buruh tani penghasilannya sangat minim yaitu Rp 25.000 per hari dan untuk makan sehari-hari saja tidak mencukupi.

“Selain masalah ekonomi, jarak sekolah ke rumah saya sangat jauh, butuh dua jam perjalanan. Keadaan jalan yang buruk membuat saya tidak memperbolehkan anak saya sekolah,” ujarnya.

Ia menyatakan, keadaan ekonomi memaksanya untuk tidak menyekolahkan anak-anak. “Sebenarnya saya tidak tega melakukan ini, tetapi mau bagaimana lagi. Ada yang ingin mengadopsi anak saya, tetapi tidak dibolehkan,” tegasnya.

Asri mengaku menikah di usia sangat muda, yaitu 15 tahun dan sang istri 14 tahun. Kini, masing-masing berumur 45 tahun dan 43 tahun.

Kondisi tempat tinggal mereka sangat memprihatinkan. Rumahnya yang berukuran 3×2,5 meter dan berlantai tanah, harus dihuni 23 anggota keluarga, bahkan dalam satu kamar ditiduri sekitar 12 anak-anak.

Usia anak pertama pasangan ini sekitar 19 tahun, dan yang paling bungsu berusia empat bulan. Anak pertama mereka berstatus janda, dan memiliki dua orang anak yang masih berumur 4 tahun dan 2 tahun.

TANGGAPAN ANDA?


sumber http://regional.kompas.com/read/2010/09/24/00511632/19.Anak.dari.1.Istri..Semua.Tak.Sekolah-4

5

Lahirnya IDE SATU

Hoiiiiiiiiiiiiii… Saya menulis lagiiiiiiii!!!

Akhirnya punya kemauan juga untuk menulis setelah sekian lama mengerahkan tenaga untuk mengusir kemalasan yang bersemayam di dalam diri!

Mungkin karena kelamaan ga nyentuh internet jadinya malesnya pol-polan!

Sebenernya pas cuti kemaren sih bertekad tetep nulis meskipun ga bisa langsung dipublish saat itu juga karena keterbatasan jaringan internet…

Tapi rencana hanya tinggal rencana…

Ternyata kemontokan pant*t Mahes dan tetesan ilernya lebih menarik perhatian saya dibandingkan benda mati bernama KOMPUTER itu!

Sehingga tiap kali ada ide muncul di kepala saya, ide tersebut hanya mampu terdiam dan kemudian menumpuk di salah satu sudut otak saya…

Laksana perut yang mulesnya dah nyampe ujung pengen mengeluarkan kotoran yang sudah mengeras di dalamnya, mungkin seperti itu juga nasib para ide yang sudah lama ngendon di otak saya…

Akhirnya, meskipun bukaannya blom nyampe 10 tapi karena dah bener-bener mules, lahirlah tulisan ala kadarnya yang saya beri nama IDE SATU ini…

Catatan :

2

Muzakki yang Ndableg!

Beberapa hari yang lalu nonton tivi yang menayangkan berita pembagian sembako yang berlangsung rusuh sehingga menyebabkan beberapa orang terinjak-injak. Saya heran seheran-herannya. Sekali lagi saya ingin bertanya ke para mustahiq dan muzakkinya.
MUSTAHIQ

  • Emang dah bener-bener miskin banget ga ada yang bisa dimakan sampe-sampe rela diinjak-injak kaya gitu???
  • Emang sembako yang didapat nilainya sepadan dengan biaya pengobatan mereka???
  • Emang bener-bener ga bisa sabar nunggu antri???
  • Kalo emang dah dapet kupon kenapa masih khawatir ga kebagian Pak/Bu???
  • Kenapa juga harus mbawa anak kecil??? Ga kasian ngeliat anaknya kegencet gitu???

Padahal tahun sebelumnya dah pernah terjadi peristiwa yang sama dan efek yang lebih mengerikan yang pernah saya tulis disini. Emangnya mereka ga berkaca dari pengalaman itu? Lanjutkan!

1

Fenomena Menjelang Lebaran

Sehubungan dengan kosongnya dompet ditambah dengan hadirnya sms cinta dari 3355 plus rindu yang menggebu terhadap mi rebus Kari Wel Wel membuat saya (dianter suami tentunya) memutuskan untuk jalan-jalan berdua saja setelah meninggalkan sang pangeran kecil dalam keadaan terlelap.

Tempat pertama yang dituju adalah Kari Wel Wel. Nampaknya saya kurang beruntung karena sesampai disana ternyata warungnya ga buka, mungkin mereka dah pulang kampung, secara mahasiswa STAN yang merupakan konsumen terbesar mereka dah liburan, hiks.. Mana yang belum makan malam, tadi buka puasa cuma makan coklat hasil malak bang kerak –katanya sih ikhlas-. Ya wes, tak ada mi rebus, bakso Djoko pun jadi! Akhirnya kami mengubah haluan ke Har*ony swalayan.

Nyampe sana langsung pesen bakso satu porsi karena si ayah dah lumayan kenyang, maunya minum aja katanya, dan setelah sedikit dibujuk, akhirnya dipesenlah seporsi batagor dan 2 gelas es cendol. Makan-makaaaaaaaaaaaaaaaaan… Alhamdulillah licin tandas dan ayah kekenyangan.

Perut kenyang, saatnya berbelanja (supaya ga laper mata). Awalnya sih mo sekalian belanja bulanan, tapi ayah bilang lha wong mo ditinggal lama koq malah belanja banyak, jadinya cuma beli jeruk baby untuk si pangeran kecil plus printilan-printilan kecil lainnya. Selesai belanja trus ngambil duit trus naik ke lantai dua. Sesampai di lantai dua alamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak… penuh banget!!!!! Antrian di kasir udah ada 3 baris, padahal biasanya kalo awal bulan tuh maksimal 2 baris!!! Ngeliat pengunjung yang segitu banyak, si ayah (yang sedang “menikmati” efek kekenyangan) akhirnya memutuskan untuk nunggu di luar aja.

Perjuangan dimulai.. Sasaran pertama adalah wadah makan bayi karena wadah makan milik Mahes dah kekecilan jika dibandingkan dengan jumlah makanan yang harus ditampung di dalamnya. Wadah makan sudah, sekarang menuju tempat toiletries, beli sabun cair ma baby oil ukuran kecil, untuk persiapan selama mudik nanti. Di sebelah toiletries bergelantungan topi-topi lucu. Ada satu topi yang sepertinya cocok untuk Mahes sayangnya ukurannya kekecilan sehingga saya mengurungkan niat untuk membelinya.

Sebenarnya tujuan utama belanja saya dah tercapai semua Lanjutkan!