Empat Ramadhan

1. Ramadhan 1428 H

Ramadhan pertama dengan menyandang status baru : sebagai istri🙂 Sayangnya pada kesempatan tersebut tidak dapat menikmati buka puasa dan sahur bersama suami tercinta. Akibat tuntutan pekerjaan, kami harus terpisahkan oleh jarak Jakarta-Bandung sehingga hanya bisa bertemu pada saat weekend tiba😦

Saat itu saya masih ngekos di daerah Cilandak, untungnya tempat kos saya bersebelahan dengan warung nasi, sehingga untuk keperluan buka puasa dan sahur tinggal ngloncat pagar doang🙂

Kenangan manisnya :

  1. Meskipun jam pulang kantor dimajukan setengah jam menjadi pukul 16.30 WIB, tetap saja saya harus berbuka puasa di metromini, paling banter nyampe kos pukul 18.00 WIB, di Blok M macet total😦
  2. Sahur kesiangan sehingga kehabisan lauk di warung nasi sebelah kos, akibatnya saya hanya sahur dengan air putih saja, alhamdulillah hari itu dapat terlalui dengan lancar

2. Ramadhan 1429 H

Pada tahun ini, saya dan suami masih menjalani hubungan jarak jauh Jakarta-Bandung, tapi saya pindah kos ke daerah Mampang. Dan pada tahun ini juga si Mahes wannabe sudah  mendekam di rahim saya selama kurleb 4 bulan. Meskipun hamil yang ketiga namun ini pertama kalinya saya bertemu bulan Ramadhan dalam keadaan hamil. Sesuai pesan dari dokter kandungan saya yang telah mewanti-wanti bahwa kehamilan saya ini merupakan kehamilan risiko tinggi mengingat pengalaman 2 kali keguguran, sehingga diputuskan untuk tidak berpuasa.

Meskipun sudah sering baca tentang keringanan puasa untuk ibu hamil  namun tetap saja saya mengalami kebingungan tentang bagaimana cara menggantinya, apakah cukup dengan membayar fidyah atau mengganti puasa di lain bulan. Setelah mempertimbangkan faktor bahwa insyaAllah di Ramadhan 1430 H saya sedang menyusui, akhirnya saya mengambil pendapat pertama, yaitu saya akan mengganti puasa saya dengan membayar fidyah.

Yang lumayan berkesan adalah seni  berjalan mengendap-endap ke kantin/pantry untuk makan/minum🙂 Trus karena bulan puasa, menu makanan yang tersedia sangat terbatas, sehingga makannya cuma itu-itu aja, kalo ga nasi padang-jawa ya soto ayam.

3. Ramadhan 1430 H

Sejak Januari 2009, suami saya berubah status kepegawaiannya menjadi pegawai tugas belajar. Alhamdulillah si calon Ayah diterima D IV STAN, sehingga kami dapat kembali berkumpul di Jakarta🙂 Sehubungan dengan kepindahan suami saya tersebut, kami memutuskan untuk mengontrak sebuah rumah petak di daerah Jurangmangu. Proses pindahanpun dilakukan dua tahap. Pertama, pindahan versi “ringan” dari Mampang ke Jurangmangu yang dapat ditanggulangi dengan sebuah taksi. Kedua, pindahan versi “berat” dari Bandung ke Jakarta yang mengharuskan kami menyewa sebuah truk boks ukuran besar🙂 Dua hari setelah proses pindahan kedua, saya menjalani cuti bersalin di rumah orangtua di daerah Jawa Timur.

Sebagaimana telah dituliskan di poin 2, di tahun ini saya sedang dalam kondisi menyusui Mahes. Meskipun juga ada keringanan puasa untuk ibu menyusui, namun saya tetap ngeyel ingin menjalankan puasa, dan hasilnya : produksi ASI menurun drastis!!! Meskipun Mahes dah berhasil lulus ASI Eksklusif, tetap saja saya panik begitu mengetahui stok ASIP di kulkas terancam habis. Akhirnya saya langsung beli suplemen penambah ASI, makan sayur, minum sari kacang ijo, dan memutuskan untuk tidak berpuasa, maafin bunda ya dek!😦

4. Ramadhan 1431 H

Yupz! Ramadhan taun ini, yang sedang kita jalani saat ini. Alhamdulillah, kali ini adalah Ramadhan pertama di rumah mungil kami🙂 Ramadhan pertama berjalan berdua bersama suami tercinta menuju masjid untuk bertarawih. Ramadhan pertama bersama suami menjejakkan langkah menuju masjid untuk menunaikan sholat Shubuh dan menghirup segarnya udara pagi hari. Sesampai di rumah disambut dengan mata yang mengerjap-erjap pertanda sang empunya mata baru saja terbangun. Subhanallah… sungguh nikmat Ramadhan-Mu Ya Allah!

  • Yang bikin pusing adalah nyari variasi masakan untuk menu buka sahur😦
  • Yang bikin penasaran adalah ngajakin Mahes ke masjid tapi ga berani nanggung risiko bahwa nantinya dia akan berlarian di pelataran masjid dan semakin menambah “ramai” suasana masjid😦

9 thoughts on “Empat Ramadhan

  1. Ramadhan yang indah meski ceritana berliku2. Hehe. Gmana rasanya menjalani Ramadhan dalam kehidupan pernikahan terjawab. Jadi pengen. Tapii, 6 tahun lagi dEH MBak. Hehe. Salam kenal

  2. ramadhan ke3 =)
    pertama hamil muda, alhamdulillah shaum cukup berhasil, bolong 5:mrgreen:
    kedua asix, saya ambil keringanan
    ketiga, udah shaum lagi, masih asi, dan saya teteb ngalah tarawih di rumah.🙂

  3. Dua Ramadhan…
    #1 ~ Ramadhan pertama sebagai suami: berbuka di kereta bengawan sambil berurai airmata. hiks
    #2 ~ Ramdhan kedua sebagai calon ayah: berbuka, bagaimanapun caranya. mati-matian ngusahain berbuka di rumah…

    artikelnya bagus, mbak…

  4. Hidup memang indah ya Bun…asal kita bisa selalu menikmati dan mensukurinya..,saya sudah 4 ramadhan jarak masih terbentang namun Insya Allah bisa menikmatinya..semoga..😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s