(no subject)

Peristiwa Pertama

Beberapa waktu yang lalu saya nonton berita sore di saluran televisi Tra**7 yang saat itu sedang membahas tentang fenomena gizi buruk di Indonesia yang belakangan semakin sering ditemui. Video liputan ke TKP pun ditayangkan. Salah satu liputannya tentang kondisi seorang anak penderita gizi buruk yang berumur 16 tahun yang tidak mampu berbuat apa-apa selain hanya terbaring di ruang tengah rumahnya dalam keadaan tubuh yang tak tertutupi selembar benangpun! Kakinya yang begitu kering tersilang menekuk ke belakang, rambutnya menipis, badannya hanya tinggal tulang berbalut kulit, matanya bergerak-gerak tak terarah, sesekali mulutnya menganga menampakkan deretan gigi yang kurang terawat, masyaAllah! Sedih saya melihatnyaūüė¶

Sang narator liputan menerangkan bahwa anak tersebut tidak dirawat dengan fasilitas kesehatan yang layak karena keterbatasan dana orangtuanya. Yang membuat saya tercengang adalah ketika tayangan di televisi menampilkan sang bocah tengah bersama ayahnya dan di dekat ayahnya terdapat SEBUNGKUS ROKOK lengkap dengan korek apinya!!! Keterbatasan dana koq masih bisa ngerokok Pak??? Kenapa gak uang rokoknya itu yang digunakan untuk membayar biaya perawatan anaknya atau minimal menyediakan asupan makanan yang bergizi untuk anaknya?!  Kenapa kalo masih mampu beli rokok malah ngaku-ngaku miskin??? Suatu hal yang amat kontradiktif !!!

Peristiwa Kedua

Suatu ketika saat saya dan suami sedang berbelanja di sebuah toko swalayan di daerah Ceger, saya melihat seorang ibu berpakaian kumal bersama bayi perempuannya yang baru bisa merangkak. Tangannya menengadah tiap kali ada pengunjung yang melewati pintu ATM yang terletak bersebelahan dengan toko swalayan tersebut. Jam menunjukkan pukul 21.00 WIB ketika sang bayi masih asyik “bermain-main” di pelataran parkir yang terletak di pinggir jalan raya berdebu. Tragisnya hal itu dibiarkan saja oleh sang ibu (jika memang benar si ibu tersebut adalah ibu kandung dari bayi itu)

Saat itu juga saya mengeluh kepada suami “Kasian dedeknya, Yah!” yang kemudian dijawab oleh suami saya “Ngapain bunda kasian ke dia, lha wong ibunya aja ngga kasian!”. Yup, jawaban yang tepat! Mengapa malah kita harus “capek-capek” mengasihani bayi lincah itu sementara sang ibu sendiri tidak peduli anaknya merangkak mendekati tempat sampah. Astaghfirullah.. Buuuu, kasian anaknya tuh, Bu! Pukul 21.00 WIB itu adalah saat istirahat bagi bayi seumuran dia! Bukannya malah dibiarkan keleleran di pinggir jalan kaya gitu! Apa memang sampe segitunya nyari duit sampe-sampe mengabaikan kesehatan sang anak?! Bukannya kalo si anak jatuh sakit malah akan mengeluarkan biaya yang lebih besar?!

Saya memang ga ngasih duit ke si ibu karena sejak dulu saya dan suami berpendapat bahwa jika saya membantu seseorang yang “bangga” akan kemiskinannya hal itu bukannya membantu melainkan malah semakin menjerumuskan dia ke jurang kemalasan yang lebih dalam lagi. Karena si orang yang “merasa” miskin itu akan berpikiran seperti ini : NGAPAIN CAPEK-CAPEK BANTING TULANG, DUDUK MANIS KAYA GINI AJA DAH DAPET UANG.

Lihat saja antrian penerima zakat tiap bulan Romadhon yang mengular, yang sekali lagi mereka mengantri karena “merasa” dirinya termasuk dalam golongan fakir miskin, sampe-sampe berani taruhan nyawa demi mendapatkan uang yang gak seberapa. Belum lagi fenomena yang saya perhatikan akhir-akhir ini dimana ketika ¬†kaleng uang seorang¬†peminta-minta telah penuh,maka dia akan mengosongkan kaleng tersebut dan uangnya akan ia masukkan ke saku bajunya, sehingga orang-orang akan tetap memberinya uang karena melihat kaleng uangnya masih kosong, pfiuhhh…

Peristiwa Ketiga

Setiap perjalanan pulang dari kantor menuju rumah, saya selalu melewati jalan Bintaro Raya Tanah Kusir. Kurang lebih tiga bulan terakhir di tiap sore saya melihat sebuah gerobak yang dipenuhi barang-barang seperti panci penggorengan, boneka, kain terpal dll. Dalam suatu kesempatan saya akhirnya berhasil melihat “penghuni” gerobak tersebut : seorang wanita, seorang anak berumur sekitar 7-8 tahun, dan seorang pria. Kondisi sang ibu-anak ini cukup “memprihatinkan”, mengapa saya sebut begitu?! Rambut anak ibu tersebut diwarnai pirang! Koq bisa orang yang hidup prihatin seperti itu masih sempat-sempatnya neko-neko pake acara mewarnai rambut! Mengapa uang untuk mewarnai rambut itu tidak dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan lain yang jauh lebih penting?! ¬†Jika bukan karena ¬†ingin cepat bertemu dengan keluarga di rumah, ingin rasanya saya turun dari bus kemudian mempertanyakan sikap si ibu yang begitu tega “meracuni” anaknya seperti itu.

Saya juga sempat berpendapat bahwa penghasilan keluarga ini sungguh minim sehingga mereka terpaksa tinggal di gerobak, namun suatu hari pendapat saya terpatahkan ketika menemui sang ibu sedang berbelanja di Ci**e K dan kemudian asyik bercengkrama dengan salah seorang karyawan disana. Analisa saya berarti si ibu ini dah lumayan sering kesana sehingga sudah cukup kenal dekat dengan para karyawan yang bekerja di minimarket tersebut. Hmmm.. so confused!  Bahkan kemarin sore saya lihat perut si ibu sudah membesar pertanda dia hamil kembali. Pertanyaan saya hanya satu, bagaimana nasib anak-anaknya kelak?!

3 thoughts on “(no subject)

  1. Semua kisah di atas cukup mengesankan indah. Terutama peminta sedekah/miskin.

    Indah selalu memberi uang kepada peminta sedekah atas dasar kasihan. Astaghfirullah… kalau demikian yang difikirkan mereka dan betul juga pendapat bunda dan suami, pasti dengan singkat akal mereka berfikiran dengan meminta uang dari orang lain sudah membolehkan mereka kaya dan tidak payah membanting tulang untuk mencari sesuap nasi.

    Indah harus berfikiran optimis selepas ini bunda. Berfikir dengan rasional terhadap sesuatu hal bisa mengundang kebaikan. Terima kasih atas semua kisahnya bunda.

    Pelik ya bunda… postingnya no subjek.. maka Indah yang harus mikirin subjeknya sendiri. bijak itu dong tapi bikin pusing.

    Salam keindahan dari Indahkasihku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s