5

Pengakuan Seorang Mantan TKW

Di Penampungan PJTKI :

  • Seseorang yang berkeinginan untuk menjadi TKW cukup mendaftarkan dirinya di salah satu agen penyalur TKW dengan biaya nol rupiah alias gratis
  • Namun jika sang TKW ingin membatalkan niatnya untuk bekerja, dia harus menebus dirinya sendiri sebesar minimal 5 juta rupiah (saat itu), jumlah yang sangat besar bagi mereka yang kebanyakan datang dari keluarga pas-pasan
  • Selama di dalam penampungan tersebut para TKW akan diberi pelatihan seperti bagaimana cara mengurus bayi dengan baik, merapikan tempat tidur, membuat roti, dan juga dilatih bahasa Inggris/Mandarin/Arab dasar sesuai bahasa negara yang akan ditujunya.
  • Namun selama di dalam penampungan itu, para calon TKW dilarang keluar dan tidak bisa keluar karena pintu gerbang dijaga satpam dan beberapa ekor anjing galak, jadi hidupnya hanya terbatas di dalam lingkungan rumah penampungan TKI tersebut
  • Jika dirasa calon TKW telah siap bekerja, segala persyaratan administrasi mulai dari passport, tiket pesawat terbang, id card, visa kerja, dll disiapkan oleh PJTKI. Continue reading
3

Kecap : Lauk Saat Darurat

1. Kecap versus telur ceplok
Bermula di suatu pagi yang begitu dingin sehingga mengaktifkan syaraf malas saya ย (emang ada ya syaraf malas ya?) dan akhirnya membuat saya memutuskan untuk membuatkan sarapan si pangeran kecil “hanya” berupa telur ceplok tanpa garam. Goreng goreng goreng, jadilah tuh telur dengan pinggiran yang gosong kecoklatan ๐Ÿ˜€ Langkah selanjutnya adalah mengambil piring tempat makan Mahes kemudian menyendok nasi ke dalamnya untuk diangin-anginkan supaya tidak terlalu panas ketika disuapkan ke mulut mungilnya. Iseng-iseng saya tuangkan beberapa tetes kecap ke atas telur ceplok tersebut. Kegiatan suap menyuap dimulai….. Seperti biasa, jika Mahes melihat bundanya dah pegang piring tempat makannya, dia akan menunggu dengan tidak sabar ย dalam kondisi mulut menganga lebar. Suapan pertama meluncur dengan sukses, saya teliti dengan seksama perubahan ekspresi wajahnya, daaan tidak terjadi apa-apa! ๐Ÿ˜€ Suapan demi suapan berlanjut hingga bulir nasi terakhir. Demi melihat piring nasinya licin tandas, direbutnya piring itu dari tangan saya kemudian dia berjalan ke dapur dan menunjuk-nunjuk magic com tempat persemayaman sang nasi sambil berteriak “mamaaam..mamaaam” pertanda perutnya masih belum terisi penuh dan geliginya belum lelah mengunyah. Kami lanjutkan sesi sarapan pagi itu dan berakhir dengan tandasnya 2 porsi sarapan Mahes ๐Ÿ˜‰

2. Kecap versus salmon Lanjutkan!

3

(no subject)

Peristiwa Pertama

Beberapa waktu yang lalu saya nonton berita sore di saluran televisi Tra**7 yang saat itu sedang membahas tentang fenomena gizi buruk di Indonesia yang belakangan semakin sering ditemui. Video liputan ke TKP pun ditayangkan. Salah satu liputannya tentang kondisi seorang anak penderita gizi buruk yang berumur 16 tahun yang tidak mampu berbuat apa-apa selain hanya terbaring di ruang tengah rumahnya dalam keadaan tubuh yang tak tertutupi selembar benangpun! Kakinya yang begitu kering tersilang menekuk ke belakang, rambutnya menipis, badannya hanya tinggal tulang berbalut kulit, matanya bergerak-gerak tak terarah, sesekali mulutnya menganga menampakkan deretan gigi yang kurang terawat, masyaAllah! Sedih saya melihatnya ๐Ÿ˜ฆ

Sang narator liputan menerangkan bahwa anak tersebut tidak dirawat dengan fasilitas kesehatan yang layak karena keterbatasan dana orangtuanya. Yang membuat saya tercengang adalah ketika tayangan di televisi menampilkan sang bocah tengah bersama ayahnya dan di dekat ayahnya terdapat SEBUNGKUS ROKOK lengkap dengan korek apinya!!! Keterbatasan dana koq masih bisa ngerokok Pak??? Kenapa gak uang rokoknya itu yang digunakan untuk membayar biaya perawatan anaknya atau minimal menyediakan asupan makanan yang bergizi untuk anaknya?! ย Kenapa kalo masih mampu beli rokok malah ngaku-ngaku miskin??? Suatu hal yang amat kontradiktif !!!

Peristiwa Kedua

Lanjutkan!

7

Buku Baru Untuk Mahes

Dilatarbelakangi oleh penampakan buku terutama majalah yang ada di rumah yang sejak Mahes bisa “membaca” kondisinya menjadi mengenaskan. Koleksi majalah AyahBunda saya dah ga karuan lagi bentuknya, compang camping! Awalnya sih Mahes memang sekedar membaca sambil sesekali berteriak “dedeeeek” tiap kali menemui gambar bayi, namun lama kelamaan kekuatan tangannya dalam membolak-balik halaman semakin besar yang akibatnya sobeklah majalah tersebut. Tidak hanya berhenti disitu saja, serpihan kecil majalah itu nantinya akan mampir terlebih dahulu ke mulutnya yang kemudian jika sudah lumat berlumuran liur akan dikeluarkan sendiri dengan menggunakan tangan mungilnya, kadang juga langsung di semburkan begitu saja. Oleh karena itu, ketika weekend kemarin salah satu agenda utama adalah mencarikan Mahes baby book yang helai halamannya tebal sehingga kemungkinan untuk disobek sangat kecil. Setelah muter-muter di G*amedia, akhirnya dapet juga buku Upin Ipin terbitan DAR! Mizan ini.

P.S. Setelah di-testdrive memang ga disobek sih, tapi diinjak-injak ๐Ÿ˜ฆ

4

Let’s Gardening!

Tadi sore saya ngajak si ayah jalan-jalan ke Bintaro sektor 9 sono, pengen nambah koleksi mawar. Sesampai di sana, mata saya dah keburu terpesona ma mawar-mawar yang sedang bermekaran, untungnya dah memantabkan tujuan, yaitu membeli mawar MERAH dan PINK sehingga rayuan mawar warna lainnya tak mampu menggoyahkan iman saya (padahal mupeng banget ama si KUNING, tapi dah punya). Langsung todong harga sebesar 5000 rupiah per batangnya, kemudian ekstra todong untuk pot bunga yang dapet 3000 rupiah per biji. Ketika transaksi telah selesai, eeee… ndilalah koq mata saya kepincut ma segerombolan aster merah dan kuning. Nanya ke si mas penjual katanya harga per polybag 7500, nglirik ayah dengan tatapan penuh arti dan dijawab, “Mo ditaroh dimanaaaaa?”, jadinya ga jadi beli deh (setelah membenarkan pertanyaan retoris ayah :))

Sesampai di rumah, tuh mawars saya biarkan terlantar terlebih dahulu dalam ikatan rafianya, sebab pangeran kecil saya masih belum tidur, jadi daripada si mawars kehilangan harapan hidup, lebih baik saya tahan dulu keinginan saya untuk berkebun.

Jam menunjukkan pukul 17.00 WIB ketika ayah berhasil menidurkan Mahes, berarti telah tiba saatnya untuk berkebun! ๐Ÿ˜‰ Alat-alat yang perlu disiapkan adalah : Lanjutkan!

3

Wajah Para Penghuni Taman

1. Kemuning
Mupeng jenis bunga yang satu ini sejak pertama kali mengunjungi rumah mertua. Wanginya yang begitu semerbak di malam hariย  membuat hati saya luluh dan kemudian bertekad ingin memilikinya jika telah memiliki rumah nantinya. Setelah saat yang dinanti-nanti itu tiba, ternyata bukan perkara yang mudah untuk menemukan si kemuning ini. Blusukan ke toko-toko bunga di sekitar Bintaro tidak berhasil memperoleh kemuning dalam ukuran yang saya inginkan. Namun akhirnya datanglah seorang pedagang bunga keliling yang bersedia mencurahkan seluruh waktu, tenaga, dan pikirannya untuk mencarikan tanaman yang berbunga putih ini, tidak tanggung-tanggung dia membawakan saya dua pohon sekaligus. Beli pot, nyampur tanah ma kompos, gunting sana gunting sini, taraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa… jadilah kemuning nan imut dan wangi ini ๐Ÿ˜€

2. Adenium obesum
Tanaman cantik ini saya peroleh dengan gratis sodara-sodara!!! Tetangga sebelah rumah saya kebetulan hobi berkebun, beliau membudidayakan banyak sekali adenium ini. Gara-gara ngelewatin segerombolan adenium tiap hari membuat “witing tresno jalaran soko kulino” terjadi antara saya dan si adenium ini. Akhirnya setelah pasang muka badak,ย  saya beranikan diri untuk bilang ke pak Ade (tetangga saya, red) bahwa saya ingin membeli salah satu adenium miliknya. Saya kemudian diminta untuk melihat-lihat dan menandai yang mana yang akan saya beli. Keesokan harinya, pak Ade datang ke rumah membawa sebuah pot berisi adenium yang saya tandai tersebut, and u know what? Beliau memberikannya secara gratis tis tis… ๐Ÿ˜€ Dan saat ini saya telah berhasil menggandakan si adenium tersebut. Makasih pak Ade.. Lanjutkan!