Dia Benar-benar Pergi (Part 1)

Hiks.. Setelah pagi hari batal ngantor, setelah seharian telpon-telponan ma Bapak dan Bapak (mertua), setelah seharian merenung dan berintrospeksi diri, ternyata keputusannya telah bulat, Budhe tetap ingin pulang.

Saya sedih, kehilangan tepatnya! Awalnya saya hanya menganggap perginya Budhe sebagai sesuatu yang wajar terjadi di suatu keluarga dan saya pernah mengalaminya, tapi ternyata nurani saya tidak dapat berbohong.

Tiga belas bulan bukan waktu yang singkat bagi kami untuk sekedar curhat atas segala yang terjadi di tengah keluarga saya maupun keluarganya disana, bukan waktu yang singkat untuk sekedar menggosipkan ART tetangga lain yang menurut kami tidak becus bekerjanya, bukan waktu yang singkat untuk sekedar mencela masakan seseorang yang tidak pernah terasa enak di lidah kami, bukan waktu yang singkat untuk sekedar berbagi info mengenai acara tivi favorit kami jika salah satu dari kami melewatkannya, dan bukan waktu yang singkat bagi kami untuk menjalin ikatan batin yang tanpa saya sadari ternyata telah begitu kuat sehingga membuat saya ingin menangis jika harus membayangkan kepulangannya dalam waktu dekat ini.

Ya, saya sangat kehilangan! Hiks..😥

4 thoughts on “Dia Benar-benar Pergi (Part 1)

  1. :O .. serius beneran ini masalahnya?

    iya, sering gemes, gak puas, tapi kadang aku mikir klo si mbak pergi apa bisa dapet ganti yg lebih baik .. ART ..ART …

  2. ya balada ART..
    saya juga pernah ngalamin..
    emg gampang-gampang susah nyari yg lumayan “paas”
    sabar ya bu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s