9

Bocah Penjual Pisang

Hari terakhir di Sukabumi, 2 jam sebelum check out dari hotel dan 6 jam sebelum jam pulang kantor, saya dan teman-teman “merayakannya” dengan naik rakit di danau berkedalaman sekitar 8 meter yang terletak di belakang hotel. Rakit yang kami tumpangi ini berkapasitas maksimal 8 orang dewasa dengan biaya sewa 140 ribu per rakit plus sang operator rakit yang pengoperasiannya masih menggunakan transimisi manual ini.

bentuk rakitnya kaya begini

Begitu naik ke atas rakit, saya langsung merasakan sensasi yang begitu damai, tenang, menikmati hembusan angin danau yang begitu lembut, hmmm.. kembali saya diingatkan atas kebesaran kuasa Sang Pencipta! Setelah itu saya ambil kamera kemudian jeprat-jepret mengambil gambar sekeliling danau sekaligus para penumpang rakit yang sebagian besar merupakan penderita sindrom CEREWETBANYAKOMONGKAGAKBISADIEMRAMEBANGET.

Seperempat perjalanan terlalui, posisi rakit mulai mendekat ke pulau mini yang terletak di tengah danau tersebut. Tampak sebuah lapak penjual kelapa muda yang masih berumur belasan tahun dengan semangat mempromosikan dagangannya berharap salah satu dari kami tertarik untuk membelinya, sayangnya saat itu cuaca sedang mendung  dan suhu dataran tinggi yang begitu dingin sehingga bukan saat yang tepat untuk minum minuman sesegar kelapa muda. Lanjutkan!

Advertisements
6

Mahes.. Bunda Pergi Ya, Nak!

Terhitung mulai tanggal 23 sampai 25 Juni 2010, saya harus pergi meninggalkan pangeran kecil saya untuk menjalankan tugas negara.

Sejak Senin malam saya sudah berusaha memberi pengertian kepada Mahes bahwa saya akan meninggalkannya untuk sementara waktu sehingga kalo malem boboknya sama Budhe karena Bunda lagi ga di rumah.

Ingin tau reaksi Mahes?! Wajahnya langsung berubah menjadi sedih kemudian menghambur ke pelukan saya dan menyandarkan kepalanya di dada saya sembari tangannya memeluk erat pertanda tidak bisa menerima kepergian saya.

Ingin tau perasaan saya?! Hancur leburrrrrrr… 😦

P.S. Pagi ini saya meninggalkan rumah ketika Mahes sedang tidur, sehingga beban moral yang harus saya tanggung tidak terlalu berat jika dibandingkan berpamitan dalam kondisi terjaga dan harus melihat tangan kecilnya melambai-lambai beserta sorot mata sedihnya

3

Di Suatu Siang

Hari, tanggal       : Minggu, 20 Juni 2010
Waktu                    : Diatas pukul 12 siang
Lokasi                    : Ruang tamu, kamar kecil

Sesaat setelah menyudahi makan siangnya, pangeran kecil saya melanjutkan aktivitas siang itu dengan bermain-main di depan televisi, ditemani saya tentunya yang sedang terbahak-bahak menonton Oggy and The Cockroaches. Mahes bermain-main dengan album foto masa bayinya sambil sesekali mencium foto-foto tersebut yang dipanggilnya dengan sebutan “dedek”, HAH! blom tau dia kalo yang di foto itu adalah dirinya sendiri, dasar bayi pinter! (lhoh?!) Lanjutkan!

5

Hunting Sandal (lagi)

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, Minggu tanggal 13 Juni 2010 kemaren saya dan suami hunting sandal yang sedianya diperuntukkan bagi pangeran kecil saya namun kemudian berbalik arah menjadi untuk emaknya, yaitu saya hahahaha (ketawa ala monster)….
Berikut prosedur membeli sandal/sepatu ala Bunda Mahes :

  • Pilih model sandal/sepatu
  • Setelah dapet model yang sreg dengan selera kita, baru pilih warna. Kalo saya cenderung suka ke warna krem/beige
  • The hardest part : cari ukuran yang sesuai.
  • Fit n proper test. Nomor sandal/sepatu boleh cocok tapi belum tentu sesuai dengan bentuk kaki. Seperti saya yang memiliki telapak kaki yang njeber (melebar) meskipun dapet nomor 40 tapi kalo bentuk sandal/sepatunya mengerucut sama aja boong! Sebab jika sandal/sepatu itu tetep saya pakai pasti kaki saya akan lecet (pengalaman dengan 2 pasang sepatu saya yang bernomor 40 namun jarang saya pakai karena sesak di bagian jemarinya)
  • Kalo dah cocok semuanya dibayar dooonk!

Well, kembali ke the hardest part yaitu mencari nomor sesuai. Setelah dua langkah pertama terlewati, dengan hati berdebar saya tanya ke mbak pramuniaga, “Mbak, ada ga nomor 40?” Dicarilah sandal yang saya tunjuk tadi namun yang versi nomor 40. Lanjutkan!

1

Back To School

Minggu kemaren ditraktir ayah nonton Prince of Persia (sekaligus makan siang). Setelah sholat Dzuhur langsung cepet-cepetan ke emol terdekat coz film pertama diputar pukul 12.15 WIB, tentunya setelah berhasil “menyekap” Mahes di kamar bersama Budhe. Alhamdulillah sesampai disana filmnya baruuuuuu aja dimulai, jadi ga kehilangan banyak moment, ga seperti kejadian pas nonton Iron Man 2 yang waktu itu kelewatan sekitar 15 menit 😦 .
Mulai menonton film………………………………………………………… Selesai!

Kemudian menuju tempat makan favorit kami untuk memenuhi hak perut yang sudah berkeruyuk sejak tadi. Ayah pesen nasi ayam asam manis, saya pesen nasi fuyunghai.
Mulai makan……………………………………………………………………….. Selesai!

Nahhh! Sebelum berangkat ke emol ini saya sempat mengajukan proposal ke ayah untuk membelikan sandal bagi pangeran kecil saya karena sepatu yang ada sekarang meskipun sengaja telah saya belikan 1 nomor lebih besar, sudah tidak muat lagi di kaki kecilnya. Nyari-nyari di C*haya ternyata ga dapet, jadinya banting setir nyari sandal buat saya 🙂 Setelah dapet yang cocok, akhirnya ngantri di kasir untuk mbayar. Sembari ngantri saya melihat koq banyak banget yang beli tas anak-anak, baik yang backpack maupun tas selempang biasa, blom lagi sepatu, blom seragam, ada apakah gerangan?! Inget punya inget plus ngeliat bandrol diskon yang berbunyi “DISKON BACK TO SCHOOL” ternyata baru nyadar kalo sekarang tuh lagi persiapan masuk sekolah (resiko punya anak blom sekolah). Pembayaran selesai, langsung pulang. Lanjutkan

8

Usaha Persewaan Rok, Bentuk Protes atau Peluang Usaha?

Buka-buka kompas.com tertarik baca headline yang judulnya “Ini Dia Usaha Persewaan Rok”. Kirain ada peluang usaha sejenis tempat penyewaan baju pengantin atau penyewaan baju adat/daerah yang biasa digunakan jika ada event seperti hari Kartini atau Sumpah Pemuda, ternyata perkiraan saya salah! Tempat penyewaan rok tersebut merupakan suatu bentuk protes terhadap adanya peraturan Bupati Aceh Barat tentang tata cara pakaian muslim/muslimah. Salah satunya adalah muslimah yang kedapatan mengenakan celana panjang/celana jins di wilayah hukum Aceh Barat, termasuk saat melintas di perbatasan, diharuskan mengganti celananya dengan rok. Dan untuk mempermudah para “pelanggar” peraturan tersebut Pemkab telah  menyediakan sekitar 16.000 rok gratis.

Tapi mengapa masih ada yang menganggap perbup tersebut merupakan salah satu bentuk kungkungan sehingga dilakukan aksi protes terhadapnya?! Padahal jelas-jelas pemimpin gerakan protes itu sendiri menyatakan bahwa yang dirazia salah satunya adalah pengguna celana ketat yang belakangan menjadi trend di kalangan muslimah “GAUL”! Helloooooo.. Pak/Mas, dimana-mana ga ada ceritanya celana ketat tuh menutup/melindungi aurat, yang ada malah menonjolkan lekuk tubuh yang bisa bikin para lelaki hidung belang ngiler!!! Lagian udah jelas-jelas difasilitasi, disediakan rok gratis 16000 buah, itu banyak lho! Diadakan peraturan dan juga disediakan solusinya, masih kurang apa???

10.000/buah

Disebabkan oleh alasan di atas membuat saya berpikir jangan-jangan “protes” tersebut hanya dijadikan tameng untuk membuka usaha persewaan rok! Lumayan lho 10 ribu per buah dan per hari! Tinggal dikalikan jumlah penyeberang perbatasan, ketemu deh nolnya jadi berapa biji >.< Namun saya tetap berusaha untuk khuznudzon terhadap keputusan yang diambil oleh pemimpin protes tersebut, mungkin dengan adanya perbup itu benar-benar mengganggu dinamika kehidupan masyarakat disana. Hmmm.. kapan ya para muslimah menutup aurat dengan benar dan ikhlas, bukan karena ada peraturan seperti ini?!

P.S. Sekali lagi tulisan ini hanya pendapat SAYA pribadi!