Balada Ka Pe eR

“Mbak, di Jl. Soka ada tanah kosong, baru mo dibangun rumah tipe 36 luas tanah 100 harganya 175 juta, minat gak?” Sebuah pertanyaan yang kemudian menggiring kami (suami dan saya) kedalam dunia perhutangan seperti yang kami alami sekarang. Walaupun kami juga penghuni Pondok Safari -dimana tanah kosong itu berada- kami blom tau lokasi persisnya. Akhirnya setelah nanya ke tetangga depan rumah saya (sang informan) kami langsung menuju Te Ka Pe dimaksud. Begitu nyampe sana ternyata kondisinya sungguh di luar dugaan saya, sebab saya kira tanah 100 m itu cukup luas ternyata malah terlihat sempit (padahal karena masih kosong aja jadinya keliatan sempit). Yo wes langsung menuju ke developer yang mo ngebangun rumah disana. Disodori harga bangunan per meter sekitar 2,1 juta, wedewwwww.. shock juga denger harga segitu. Malemnya berdua ma suami bikin rancangan denah rumah yang tentunya juga memperhitungkan luas bangunan. Setelah berdebat dan merobek-robek beberapa lembar kertas gambar akhirnya kami menyepakati sebuah denah sederhana, 2 kamar tidur, 1 kamar mandi.

Singkat cerita ternyata harga bangunan per meter bisa ditawar menjadi 1,9 juta, senangnya hati sayaaaaaaaa…😉 Kira-kira pertengahan November 2009 dimulailah proses pembangunannya, sejak saat itu juga suami jadi punya kegiatan baru : nengokin calon rumah. Ketika bangunan dah setengah jadi kami mulai intens nyari-nyari info tentang aplikasi KPR di berbagai bank, baik konvensional maupun syariah, dan pilihan kami jatuh pada Bank Muamalat. Alasan utama kami sih karena jumlah angsuran yang flat sehingga gak perlu deg-degan ke depannya.

Akhir Desember 2009 calon rumah kami sudah jadi, hanya butuh sedikit finishing di sana-sini, dan ternyata sedikit itu butuh waktu yang cukup lama, nyaris 2 minggu hingga akhirnya benar-benar sempurna! Aplikasi KPR telah kami sampaikan sejak akhir Desember itu juga, namun karena ada sedikit masalah di sertifikat tanahnya jadinya appraisal dari bank baru bisa dilaksanakan pada awal Februari, dan kami resmi menempati rumah baru kami pada tanggal 17 Februari 2010, Alhamdulillah.. Tapi satu hal yang di luar perhitungan kami yaitu ternyata rumah baru juga butuh banyak printilan yang menghabiskan cost lumayan, mulai dari kanopi, kitchen set, bikin taman, hingga penampungan air. Pernah dalam sehari rumah kami didatangi sekitar 8 orang tukang yang mengerjakan kanopi dan taman,  dan saat itulah saya diuji dengan harus memasak makanan dalam jumlah yang cukup banyak hahaha..

Okeee..cerita tentang proses pengajuan KPR selesai, sekarang waktunya membahas EFEK SAMPING dari KPR tersebut :

  • Saldo akhir bulan yang semakin menipis
  • Sangu untuk mudik lebaran yang kemungkinan besar menjadi nihil
  • Baju ayah bunda yang dah ga ada yang baru (beda dengan sebelum ada KPR, hampir tiap 3 bulan beli baju baru)
  • ART yang turut menderita sebab tidak pernah lagi diajak makan bareng ke emol tiap awal bulan
  • Bunda yang semakin rajin membawa bekal ke kantor hahaha…
  • Konsumsi daging yang jadi seminggu sekali kecuali untuk si raja kecil
  • Akibat alasan di atas jadinya lebih sering makan tahu tempe telur dan jadi punya langganan baru yaitu penjual tempe malang tahu bandung
  • dan masih banyak efek samping lain yang berhubungan dengan semakin menipisnya dana bulanan

Tapi alhamdulillah meskipun banyak keterbatasan yang kami hadapi kami tetap memprioritaskan kebutuhan anak kami di atas segalanya, ada ga ada uang kalo Mahes butuh ya harus tetep ada donk! Dan Alhamdulillah juga zakat infaq kami tetap tertunaikan tiap bulannya. Hmm.. terima kasih Ya Allah atas segala nikmat-Mu!

P.S.  Tulisan ini terinspirasi oleh tulisan jeung Sita

12 thoughts on “Balada Ka Pe eR

  1. waks?? terinspirasi oleh tulisanku? kok bisa?

    hehe, sebelum liat rumah LT 100 aku jg ngiranya 100 itu gede … pas ke lokasi rasanya langsung pengen mutasi ke daerah ….
    bun gimana caranya 2,1 bs ditawar jadi 1,9 ??? kalo ke developer g bs ditawar … yg dulu2 disurvey malah g boleh bangun pagar ama ganti cat rumah …

    • ya bisa aja, jadi kepikiran pengen nulis ini setelah baca tulisanmu yang itu🙂

      yang nawar bukan aku koq, tapi bapaknya temenku yang juga beli tanah di sebelahku persis (milik developer yang sama)

      Oya, developerku ini developer kecil2an, jadi bukan developer resmi real estate gitu, sejenis borongan gitu deh. Rumahku yo gak pake pager koq, malah seru, brasa kaya di cluster gitu😉

      Cat rumah beli sendiri aja, jadi ketika rumahnya dah mo dicat bilang ke developernya bahwa kamu pengen catnya yang kamu beli itu, gampang kan?!

      • gak dikasih bun, mesti seragam sama rumah2 lain warnanya. karena itulah aku gak jadi beli yang disitu … hahahha. Cluster2 skrg modelnya gitu, gak bs seenak udel ganti2 cat n disain rumah (even gak nambah LB juga..)

  2. kok nasibmu podho karo aku yo mbak…
    ahahaha…
    demi lah….
    itu ceritamu di atas, adalah jeritan hatiku selama ini.. T_T

    btw, rinaaaaaaaaa getu lho…sopo sing gak dikenal coba…..ahahaha…piss rin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s