Indonesia, antara Malaysia dan Brunei Darussalam (Part 2)

Brunei Darussalam

Saya mempunyai seorang teman yang saat ini tengah mendampingi suaminya yang sedang bekerja di Brunei Darussalam. Sesuai dengan penuturannya bahwa di sana zakat negara dioptimalkan, sehingga sangat jarang ditemukan penduduk yang memiliki penghidupan di bawah standar, sehingga seakan-akan kembali ke masa kepemimpinan khalifah Usman bin Affan dimana tidak ada lagi rakyat miskin, bahkan para muzakki pun sampai kebingungan dalam menyalurkan zakatnya mengingat taraf hidup disana sudah sangat baik.
Bagaimana dengan Indonesia?! Mungkin akan ada yang membela diri dengan mengatakan bahwa hal itu wajar terjadi di Brunei sebab negaranya kecil, sehingga kesejahteraan penduduk dapat tercapai dengan mudah. Kenapa ga nanya balik ke diri kita sendiri bagaimana jika hal itu diterapkan di Indonesia?! Jawabannya adalah FANTASTIS! Hasil yang akan dicapai tentunya jauh di atas Brunei, karena penduduk kita jauh lebih banyak dibanding Brunei, sumber daya alam yang mencakup tambang, hasil hutan, juga jauh lebih banyak , tapi mengapa kita ga bisa seperti Brunei?! Apakah karena kesadaran kita untuk membayar zakat masih kurang? Apakah lembaga amil zakat di Indonesia masih kurang memadai untuk mengorganisir zakat penduduk Indonesia? Apakah disebabkan minimnya kepercayaan kita terhadap para lembaga amil zakat tersebut? Atau apakah karena masih terlalu sayangnya kita terhadap harta yang sebagian kecilnya yang HANYA 2,5% merupakan hak para mustahiq?! Jikalau alasan terakhir adalah pilihannya, sungguh nista diri ini!

Prosentase sebesar 2,5 % itu sungguh bilangan yang sangat kecil kawan! Hanya 25 ribu dari 1 juta, hanya 250 ribu dari 10 juta, hanya itu saja! Dan dari 2,5% itulah para saudara kita yang masih kekurangan di luar sana bergantung! Dari 2,5% itulah perut-perut yang membusung karena kekurangan gizi dapat terisi dengan makanan penuh vitamin. Dari 2,5% itulah tubuh-tubuh yang bertelanjangdada dapat tertutupi selembar kain. Dan dari 2,5% itulah harta kita tersucikan, Subhanallah! Jika zakat tertunaikan dengan benar, insyaAllah tak akan ada lagi tragedi pembagian zakat seperti di Pasuruan maupun Probolinggo. Tak akan ada lagi para lansia yang tergencet di sela-sela pagar besi demi mendapatkan uang sebanyak 25 ribu rupiah. Tak akan ada lagi jerit tangis anak kecil yang betisnya tersayat kawat berduri karena harus dievakuasi dari tempat pembagian zakat. Tidak akan ada lagi mayat-mayat yang bergelimpangan karena kehabisan O2 di tengah padatnya antrian para (ngakunya) mustahiq.
Semoga dengan adanya tulisan ini saya dan anda dapat kembali tersadar dari kelalaian-kelalaian yang telah kita perbuat selama ini. Mungkin tulisan disini bisa dijadikan tambahan referensi bagi kita semua. Mari berdayakan zakat di Indonesia!

3 thoughts on “Indonesia, antara Malaysia dan Brunei Darussalam (Part 2)

  1. hmmm….
    sepakat. sebenarnya, 2,5% itu ga seberapa.
    sayangnya, masih pd ngeman.
    di kantorku aja mbak, edaran zakat ga begitu laku
    hiks

    padahal itu baru zakat yah,,,
    belum infaqnya,😀

  2. ya alloh kapan rakyat indonesia akan makmur,tak akan ada lagi orang miskin,orang ngemis,orang merampok,maling,saudara kandung saling membunuh cuma gara-gara uang sepuluh ribu,kapan ya alloh negaraku bisa mensejahterakan rakyatnya….,mudah-mudahan derita bangsa ini cepat selesai..,amin ya robbal alamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s