Indonesia, antara Malaysia dan Brunei Darussalam (Part 1)

Malaysia

Di salah satu episode Upin & Ipin diceritakan bahwa ketika Cik Gu bertanya tentang cita-cita para murid, Ehsan menjawab bahwa dia ingin menjadi petugas penjaga kebersihan (CMIIW), and you know what?! Jawaban itu sangat diapresiasi oleh Cik Gu, bahwa cita-cita Ehsan sangat mulia, bahwa petugas kebersihan adalah pekerjaan yang sungguh terpuji.

Bandingkan dengan kondisi kita di Indonesia, coba salah satu anak-anak kita bercita-cita seperti itu, pasti sudah ditentang habis-habisan oleh orang tuanya, syukur-syukur ga disuruh minggat. Kenapa bisa begitu?! Sebab di Indonesia yang katanya terkenal dengan keramahannya ini, bisa dihitung dengan jari orang-orang yang mau berterimakasih kepada para pasukan kuning itu, sekedar berterimakasih lho ya, apalagi yang mengucapkan kata terima kasih di depan batang hidung petugas kebersihan itu, ada gak?! Ada, tapi sangat sedikit, kenapa?! Karena pekerjaan penyapu jalan raya, pengelap kaca, pemungut sampah, masih dipandang sebelah mata. Pekerjaan itu masih dianggap sebagai pekerjaan rendahan, padahal kalo kita telusuri lagi, mereka sangat berjasa! Coba sehari saja para pekerja itu cuti atau mogok kerja, bisa dibayangkan betapa kotornya jalan raya, betapa bertebarannya sampah-sampah di sepanjang ruas jalan, betapa tebalnya debu yang menempel di kaca, dan betapa-betapa yang lain, hmmm…

Saya pernah baca sebuah artikel tapi maaf saya lupa sumbernya dimana, bahwa ada seorang CEO sebuah perusahaan yang urung pindah kerja ke perusahaan yang lebih bonafide karena percakapan terakhirnya dengan seorang cleaning service, apa katanya?! Jadi ketika si boss itu berpamitan, si CS berbisik, “Pak, saya mohon jangan pindah” Si boss kaget donk, balik nanya, “Lho emang knapa?” CS menjawab, “Karena kalo Bapak pindah, ga ada lagi orang yang bertanya kabar saya, ga ada lagi orang yang bertanya keadaan keluarga saya di rumah, ga ada lagi yang bertanya apakah saya sudah makan atau belum, jadi saya mohon Bapak jangan pindah, Pak” Akhirnya si boss ga jadi pindah.

Dari cerita di atas, si CS ga butuh uang maupun barang untuk membuat hatinya senang dan merasa dirinya dihargai, dia ga minta bagian 2 T seperti yang diminta oleh para anggota dewan yang katanya terhormat dan duduk sebagai wakil rakyat itu, dia hanya butuh perhatian, dia hanya butuh sedikit sapaan. Di zaman seperti sekarang ini sudah sangat sedikit orang-orang yang NGUWONGKE WONG, yang memperlakukan seorang manusia selayaknya sebagai manusia, bukan sebagai budak! Mari kita tanya diri kita sendiri, berapa orang CS di kantor yang kita tahu namanya? Berapa orang satpam yang kita sapa setiap harinya? Berapa petugas kantin yang kepadanya kita ucapkan kata terima kasih saat ia mengantarkan makanan kita? Atau malah kita berjalan dengan gaya angkuh karena posisi kita di kantor jauh di atas mereka? Mari mulai membiasakan diri untuk sedikit membagi senyum kita kepada para pekerja tersebut karena mereka juga manusia..

To be continued..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s