Wanita : Antara Berbakti Kepada Orang Tua dan Taat Kepada Suami

Suatu ketika seorang teman bertanya tentang pendapat saya atas suatu pernyataan seorang ibu bahwa tugas utama wanita adalah mendidik anak-anaknya. Saya kurang setuju dengan pendapat tersebut sebab tidak ada satu ayatpun yang menyatakan seperti itu. Kedudukan seorang wanita dan ibu berbeda. Tugas utama seorang ibu memang membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Sementara tugas utama seorang wanita adalah berbakti kepada suami, bukan kepada anak. Seorang wanita hanya wajib tunduk kepada suami, bukan kepada anak. Surga atau neraka seorang wanita terletak di ridho suami, bukan anak. Seorang wanita yang telah bersuami hanya memiliki kewajiban untuk mengabdi kepada suaminya, bukan kepada orang tuanya, apalagi kepada anaknya, meskipun mungkin secara psikologis dia masih terikat secara emosional dengan anak-anak  dan orang tuanya. Bahkan ada riwayat yang menceritakan tentang kisah seorang istri yang tidak dapat menjenguk orangtuanya yang sedang sakit hingga meninggal dunia karena diamanahi oleh sang suami untuk tidak keluar rumah hingga suaminya pulang dari perang, Subhanallah! Bahkan Nabi Muhammad SAW pun bersabda “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.”  Hal itu berbeda dengan posisi suami yang dituntut untuk berbakti kepada ibu. Singkatnya adalah anak lelaki untuk ibunya dan anak perempuan untuk suaminya (saya lupa riwayat persisnya seperti apa, nanya gugel ga dapet)

dari gugel

Namun saya juga bilang ke teman saya itu bahwa jika seorang wanita dihadapkan pada kenyataan untuk menjalani long distance relationship maka wanita akan cenderung memilih untuk berpisah sementara dengan suami dibanding dengan anaknya, mungkin juga disebabkan oleh pemikiran si wanita tersebut (baca : saya) bahwa si ayah bisa lebih hidup sendiri dibandingkan si anak. Si ayah tidak lebih membutuhkan pola pengasuhan tertentu sebagaimana si anak. Si ayah tidak lebih membutuhkan makan makanan dengan kompisisi vitamin dan mineral tertentu untuk perkembangan kecerdasan dan perkembangan fisiknya dibanding si anak. Si ayah tidak lebih membutuhkan pendamping untuk mengerjakan PR sekolah sebagaimana si anak, dan masih banyak alasan lagi. Jadi salah besar jika anda menggeneralisasi bahwa kami para ibu lebih sayang anak kami dibanding suami, camkan itu!

Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita yang shalihah. Bila engkau memandangnya, ia menggembirakan (menyenangkan)mu. Bila engkau perintah, ia menaatimu. Dan bila engkau bepergian meninggalkannya, ia menjaga dirinya (untukmu) dan menjaga hartamu

15 thoughts on “Wanita : Antara Berbakti Kepada Orang Tua dan Taat Kepada Suami

  1. Ika… sak ngertiku tugas seorang ibu emang mengurus rumah tanggan,taat pada suami yang taat pada Allah dan mendidik anak.
    Koyoke ungkapan sing pertama kurang kata2 yang bisa menyambungkan karo isine blog mu deh ka..
    njegleg rasane…
    kan ngene yo.. tugas wanita mendidik anak2nya, awakmu kurang setuju. njuk ujug2 di kalimat berikutnya awakmu bilang tugas wanita iku berbakti ning suami bukan berbakti ning orang tua. Nah njegleg e ndek kene.. tugas mendidik anak e dadi ilang..
    iki aku ra komplain soal isi. nek isi sih overall aku setuju mek tata bahasane ae bu..
    peace ya…

  2. mungkin maksud bunda hadis ini kali ya:
    dari Aisyah r.a. berkata:“Aku bertanya kepada Nabi Muhammad saw., siapakah manusia yang paling berhak atas
    seorang wanita?” Jawabnya, “Suaminya.” “Kalau yang paling berhak atas laki-laki?” Jawabnya, “Ibunya.”
    tetapi hadist ini terdapat ikhtilaf masalah derajatnya
    hadits ini dikuatkan oleh Imam Ahmad, An-Nasa’i, Al-Hakim yang menshahihkannya, diriwayatkan juga al bazar juga lainnya, akan tetapi albani mendhoifkannya dalam dhoiful jami’ nomor 959.
    cekidot:
    http://www.saaid.net/Doat/alarbi/18.htm

    terlepas dari itu, memang tidak menyanggah makna yang bunda tulis karena memang ada beberapa hadist yang kuat berkaitan dengan masalah hak dan kewajiban ibu, suami maupun istri salahsatunya adalah hadist yang bunda bawakan yaitu =
    لَوْ كُنْتُ آمِرًا لِأَحَدٍ أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

    “Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.”(HR attirmidzi dan ibnu majah)juga hadist
    عن أبي هريرة ـ رضي الله عنه ـ قال : جاء رجل إلى رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ فقال : يا رسول الله : ” من أحق الناس بحسن صحابتي ؟ قال : أمك . قال : ثم من ؟ قال : أمك . قال : ثم من ؟ قال : أمك . قال ثم من ؟ قال : ثم أبوك ” . رواه البخاري ومسلم . وابن ماجه

    Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Ada seseorang yang datang menghadap Rasulullah dan bertanya, “Ya Rasulallah, siapakah orang yang lebih berhak dengan kebaikanku?” Jawab Rasulullah, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ayahmu.” (Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah).

    Wallaahu a’lam
    ~~~~
    http://keparengmatur.wordpress.com/
    http://sleepywrapku.co.cc/

  3. memang benar surga dan neraka itu Allah yang menentukan,namun secara syariat melalui ketaatan kepada suaminya………..

  4. Ada riwayat ayah yh menhadukan anaknya yg pelit, tak mau berbagi pd ortunya, dipanghil pemuda itu kemudian sicenhkeram kerah bajunya dan dikatakan, xirimu dan hatyamu adalahilik kedua orangtuamu”

  5. Ass, kalo seorang isteri pura@ nurut taat sm suamin……eeh dikemudian hari nuntut macem@ …mengeluh cape ngurus anak katanya……jd kayaknya nggak iklhas …gimane tuh mbak

    • Klo suaminya berakhlak seperti rasulullah, klo suaminya memiliki kualitas keilmuan dan pengetahuan seperti rasulullah, klo suaminya ma’sum seperti rasulullah, klo suaminya mengajarkan kebaikan dunia akhirat seperti rasulullah.
      Demi Jiwaku yang ada digenggaman ALLAH SWT… Semua hadist tersebut mutlak berlaku buat kita semua tanpa terkecuali.
      Allah menciptakan makhlukNya dengan kadar2nya yang sdh ditentukan.

  6. saya juga lagi bingung dengan posisi saya yang jauh dari orang tua, satu sisi saya seorng wanita yang sudah mempunyai suami dan anak2, satu sisi lagi saya kasin dengan orang tua saya yang kesepian dan tidak ada yang merawat, semoga ALLAH SWT selalu memberikan aku kekutan AMIEN

  7. sy jg sama seperti mba desy,yg jauh dari orgtua dan tinggal bersama mertua sedangkan ibu sy yg sudah tua tinggal berdua dgn adik sy yg bisa dikatakan adik sy ktidak sperti anak-anak pd umumnya,ini memang posisi yang suli bagi saya, apa yg hrs sy pilih apakah ibu saya atau sy hrs menurut kpd suami sy.

  8. Dalam Al-Musnad dan Sunan Ibni Majah, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

    لَوْ أَمَرْتُ أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا، وَلَوْ أَنَّ رَجُلاً أَمَرَ امْرَأَتَهُ أَنْ تَنْقُلَ مِنْ جَبَلٍ أَحْمَرَ إِلَى جَبَلٍ أَسْوَدَ، وَمِنْ جَبَلٍ أَسْوَدَ إِلَى جَبَلٍ أَحْمَرَ لَكاَنَ لَهَا أَنْ تَفْعَلَ

    “Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada seorang yang lain niscaya aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya. Seandainya seorang suami memerintahkan istrinya untuk pindah dari gunung merah menuju gunung hitam dan dari gunung hitam menuju gunung merah maka si istri harus melakukannya.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s