Tentang Ibu

Diawali dengan meninggalnya salah satu kerabat saya, tepatnya kakak perempuan dari kakek saya (baca : nenek), saya biasa memanggilnya Mbok Asin. Beliau meninggal karena faktor usia yang memang sudah cukup sepuh. Seperti layaknya keluarga yang lain, beliau juga dimakamkan di komplek pemakaman keluarga besar kami,  bersebelahan dengan makam ibu kandung saya yang telah meninggal dunia pada tahun 1991. Kakek saya yang memimpin langsung proses pemakamannya mewanti-wanti kepada para penggali kubur supaya hati-hati dalam menggali, jangan sampai berbenturan dengan kuburan ibu. Namun entah karena kontur tanah yang telah bergeser atau sebab lainnya, walaupun sudah diperkirakan bahwa proses penggalian itu tidak akan menyenggol sedikitpun kuburan ibu, suatu saat cangkul salah satu penggali kuburan tidak sengaja mengenai bagian kepala dari kuburan ibu saya sehingga terlihatlah kain kafan yang menurut penuturannya masih berwarna putih bersih . Kakek saya tertegun! Beliau hanya mampu menginstruksikan agar lubang itu segera ditutup dan kemudian berbalik arah, pulang…

Sesudah proses pemakaman Mbok Asin selesai, orang-orang ramai membicarakan peristiwa masih utuhnya kain kafan ibu saya, karena jika di-logika-kan seharusnya setelah 19 tahun berlalu kafan itu telah hancur dimakan cacing tanah,hmfffhhhhh… Saya hanya bisa merasakan rindu yang semakin membuncah kepada ibu. Ibu yang belum sempat saya kenal seutuhnya. Ibu yang belum sempat saya ingat elok wajahnya. Ibu yang belum sempat saya teladani perbuatannya. Seandainya saya diberi kesempatan untuk dapat kembali bertemu dengan ibu, saya akan bercerita banyak kepada beliau. Saya akan banyak bertanya tentang resep masakan yang membuat bapak saya tetap terngiang akan lezatnya masakan beliau. Saya akan bertanya tentang bagaimana menjadi wanita yang lemah lembut. Saya akan bertanya bagaimana mengatur keuangan keluarga sehingga saat gaji bapak saya masih sebesar 12.500 ibu sanggup menabung hingg amampu membeli tanah seharga 1 juta. Tapi saya juga akan protes!!! Kemana ibu saat saya deg-degan mengalami menstruasi pertama kali? Kemana ibu saat saya butuh restu beliau ketika akan menikah? Kemana ibu ketika saya merasakan sakitnya perut ini ketika mengalami keguguran pertama kalinya? Kemana ibu ketika saya merasakan mual saat trimester pertama kehamilan saya? Kemana ibu saat saya ingin menceritakan perasaan saya ketika merasakan tendangan pertama dari calon cucunya? Kemana ibu saat saya telah berubah status menjadi ibu dan ibu menjadi seorang nenek? Dan masih banyak pertanyaan lain yang jika saya teruskan akan semakin menyesakkan dada ini. Bu, Ica kangen ma ibu….

gambar diambil dari sini dan sini

5 thoughts on “Tentang Ibu

  1. hikz….
    i miss my mom..this much and more..
    meskipun kehilangan di saat sudah dewasa,,tapi tetap saja,,sampe sekarang masih terasa ada bagian yang tetep hilang di hati,,kosong,,posisi yang tidak tergantikan..
    menyesal karena tidak dapat berbakti secara utuh, mendampingi di saat2 terakhirnya, meminta maaf sebesar2nya, memperlihatkan cucu laki2nya yang paling bungsu, dan sederet penyesalan lainnya..
    hal itu yang masih sering menyesakkan dada hingga saat ini kalo misalnya pas lagi kangen..

    hiks..hiks…gara2 ika nih,,,rina jadi sedih lagi..

  2. bundaa..

    buliran bening dr sudut 2 mata puput keluar, ni..g kenal waktu..g kenal tempat..

    ive just known that you…im sorry..

    i heart my mom either..very much..and im missing her badly right now..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s