Muzakki yang Ndableg!

Beberapa hari yang lalu nonton tivi yang menayangkan berita pembagian sembako yang berlangsung rusuh sehingga menyebabkan beberapa orang terinjak-injak. Saya heran seheran-herannya. Sekali lagi saya ingin bertanya ke para mustahiq dan muzakkinya.
MUSTAHIQ

  • Emang dah bener-bener miskin banget ga ada yang bisa dimakan sampe-sampe rela diinjak-injak kaya gitu???
  • Emang sembako yang didapat nilainya sepadan dengan biaya pengobatan mereka???
  • Emang bener-bener ga bisa sabar nunggu antri???
  • Kalo emang dah dapet kupon kenapa masih khawatir ga kebagian Pak/Bu???
  • Kenapa juga harus mbawa anak kecil??? Ga kasian ngeliat anaknya kegencet gitu???

Padahal tahun sebelumnya dah pernah terjadi peristiwa yang sama dan efek yang lebih mengerikan yang pernah saya tulis disini. Emangnya mereka ga berkaca dari pengalaman itu? Lanjutkan!

Kapan Yaaaa?!

Kapan ya seorang pengacara benar-benar menilai suatu perkara secara objektif?

Kapan ya keadilan tidak lagi memihak kepada si “beruang”?

Kapan ya para wakil rakyat benar-benar memihak kepada rakyat?

Kapan ya para anggota dewan tak lagi sekedar memikirkan kepentingan perutnya sendiri?

Kapan ya erangan kesakitan seorang bocah penderita thalasemia putri dari buruh yang telah diPHK dapat  memerahkan kuping para petinggi negeri ini yang masih bergulat dengan bagaimana cara mendapatkan Dana Aspirasi 15 Milyar?!

Kapan ya PBB yang “katanya” dibentuk untuk memfasilitasi keamanan internasional malah hanya bisa mengecam atas perbuatan Yahudi terkutuk yang untuk kesekian kalinya menyerang Palestina tercinta?

Kapan ya Kokoh Ban Ki-moon berani menggebrak meja Mister Obama sebagai presiden “negara yang katanya polisi dunia” untuk menghentikan suplai senjata dan bantuan lain ke Israel?

Kapan ya para Yahudi terkutuk itu digebukin rame-rame oleh negara-negara yang penduduknya mayoritas Islam (yang Indonesia masuk di dalamnya) ?

Kapan ya pembayaran zakat di Indonesia berjalan optimal sebagaimana Brunei Darussalam?

Kapan ya para kaum dhuafa tidak lagi “bangga” atas kefakirannya sehingga mereka tidak perlu berisiko kehilangan nyawa ketika berjejalan mengantri infaq yang “hanya” sebesar 25 ribu rupiah yang tentu SANGAT tidak sepadan dengan nilai nyawa mereka?

Indonesia, antara Malaysia dan Brunei Darussalam (Part 2)

Brunei Darussalam

Saya mempunyai seorang teman yang saat ini tengah mendampingi suaminya yang sedang bekerja di Brunei Darussalam. Sesuai dengan penuturannya bahwa di sana zakat negara dioptimalkan, sehingga sangat jarang ditemukan penduduk yang memiliki penghidupan di bawah standar, sehingga seakan-akan kembali ke masa kepemimpinan khalifah Usman bin Affan dimana tidak ada lagi rakyat miskin, bahkan para muzakki pun sampai kebingungan dalam menyalurkan zakatnya mengingat taraf hidup disana sudah sangat baik.
Bagaimana dengan Indonesia?! Mungkin akan ada yang membela diri dengan mengatakan bahwa hal itu wajar terjadi di Brunei sebab negaranya kecil, sehingga kesejahteraan penduduk dapat tercapai dengan mudah. Kenapa ga nanya balik ke diri kita sendiri bagaimana jika hal itu diterapkan di Indonesia?! Jawabannya adalah FANTASTIS! Hasil yang akan dicapai tentunya jauh di atas Brunei, karena penduduk kita jauh lebih banyak dibanding Brunei, sumber daya alam yang mencakup tambang, hasil hutan, juga jauh lebih banyak , tapi mengapa kita ga bisa seperti Brunei?! Apakah karena kesadaran kita untuk membayar zakat masih kurang? Apakah lembaga amil zakat di Indonesia masih kurang memadai untuk mengorganisir zakat penduduk Indonesia? Apakah disebabkan minimnya kepercayaan kita terhadap para lembaga amil zakat tersebut? Atau apakah karena masih terlalu sayangnya kita terhadap harta yang sebagian kecilnya yang HANYA 2,5% merupakan hak para mustahiq?! Jikalau alasan terakhir adalah pilihannya, sungguh nista diri ini! monggo dilanjuuuuuuuuuuuut