Bagi para pesakitan, waktu adalah musuh yang mereka tipu saban hari dengan harapan. Namun di sana, di balik jeruji yang dingin itu, waktu menjadi paduka raja, tak pernah terkalahkan.
Bagi para politisi dan olahragawan, waktu aalah kesempatan yang singkat, brutal, dan mahal.
Bagi para ilmuwan, waktu umpama garis yang ingin mereka lipat dan putar-putar. Atau lorong, yang dapat melemparakan manusia dari masa ke masa, maju atau mundur.
Bagi mereka yang terbaring sakit, tergolek lemah tanpa harapan, waktu mereka panggil-panggil, tak datang-datang.
Bagi para petani, waktu menjadi tiran. Padanya mereka tunduk patuh. Kapan menanam, kapan menyiram, dan kapan memanen adalah titah dari sang waktu yang sombong. Tak bisa diajak berunding. Tak mempan digosok.
Bagi yang tengah jatuh cinta, waktu mengisi relung dada mereka dengan kegembiraan, sekaligus kecemasan. Karena teristimewa untuk cinta, waktu menjelma menjadi jerat. Semakin cinta melekat, semakin kuat waktu menjerat. Jika cinta yang lama itu menukik, jerat itu mencekik.
(Andrea Hirata, Padang Bulan)

