Waktu adalah…

Bagi para pesakitan, waktu adalah musuh yang mereka tipu saban hari dengan harapan. Namun di sana, di balik jeruji yang dingin itu, waktu menjadi paduka raja, tak pernah terkalahkan.

Bagi para politisi dan olahragawan, waktu aalah kesempatan yang singkat, brutal, dan mahal.

Bagi para ilmuwan, waktu umpama garis yang ingin mereka lipat dan putar-putar. Atau lorong, yang dapat melemparakan manusia dari masa ke masa, maju atau mundur.

Bagi mereka yang terbaring sakit, tergolek lemah tanpa harapan, waktu mereka panggil-panggil, tak datang-datang.

Bagi para petani, waktu menjadi tiran. Padanya mereka tunduk patuh. Kapan menanam, kapan menyiram, dan kapan memanen adalah titah dari sang waktu yang sombong. Tak bisa diajak berunding. Tak mempan digosok.

Bagi yang tengah jatuh cinta, waktu mengisi relung dada mereka dengan kegembiraan, sekaligus kecemasan. Karena teristimewa untuk cinta, waktu menjelma menjadi jerat. Semakin cinta melekat, semakin kuat waktu menjerat. Jika cinta yang lama itu menukik, jerat itu mencekik.

(Andrea Hirata, Padang Bulan)

Continue reading

Postingan Iseng Tiga

Kebaikan itu seperti pesawat terbang. Jendela-jendela bergetar, layar teve bergoyang, telpon genggam terinduksi saat pesawat itu lewat. Kebaikan merambat tanpa mengenal batas. Bagai Garpu tala yang beresonansi, kebaikan menyebar dengan cepat.

Ahamdulillah.. akhirnya saya bisa menyelesaikan buku si abang Tere Liye ini dalam perjalanan menuju Bandung kemarin (dan sedikit menyesal karena cuma mbawa 1 buku itu). Seperti biasa, tiap buku tulisannya selalu membuat saya menangis! Bisa banget dia mendramatisir suasana dan memprovokasi perasaan saya sampai haru biru seperti ini! 10 jempol deh buah Tere Liye!

Postingan Iseng Dua

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin… Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya. Tak ada yang perlu disesali. Tak ada yang perlu ditakuti. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawanya pergi entah ke mana.

Bahwa hidup harus menerima… penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti… pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami… pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan.

Tere Liye emang jago!!!

Postingan Iseng!

“Ketahuilah Tania, aku bisa menghentikan hujan ini… Tetapi itu hanya bisa kulakukan jika aku tidak sedang dengan seseorang yang kucintai…. Dan malam ini aku sepertinya tidak bisa menghentikannya….” Adi serius menatapku.

Hiyahahaha… Gombal abisss!!!

Kutipan dialog diatas adalah sedikit cuplikan dari buku Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin karya Tere Liye yang baru saya beli kemaren lusa dan baru sempat saya baca pagi ini :D Karena blom selesai mbacanya maka saya blom bisa nulis resensi versi lengkapnya disini, maaf yaaaaaaaaa….

sayaamatsangatsukabukusekali

Cihuyyyyy! Alhamdulillah.. akhirnya setelah sekian lama puasa ga beli buku, semalam dahaga itu terpuaskan sudah!
Setelah mengakhiri double date dengan Om Nyinyu dan Tante Nyonyo, kami (saya dan suami) mampir ke pojok lantai 3 Bintaro Plaza.

Seperti biasa, untuk urusan belanja buku ini saya tetap jadi pemenangnya, karena dalam waktu 10 menit saja tas Grame*ia saya telah terisi dengan 2 buku, sementara si ayah masih muter-muter sambil sesekali mengencani pojok informasi dan sibuk mengetikkan beberapa keyword yang ga jauh-jauh dari kata Seno Gumira Ajidarma, penulis favoritnya.

Time is running out, ketika saya sedang pusing memilah buku mana yang ga jadi saya beli (saking banyaknya buku yang dipengenin sampe2 kebingungan mo beli yang mana), saat itu juga si ayah masih belum mendapatkan sebijipun buku, alasannya sih karena beberapa waktu lalu dah pesen buku via online sehingga untuk pembelian buku kali ini harus benar-benar selektif padahal alasannya sih karena emang bingung mo beli yang mana.

Memang selera kami terhadap buku jauh berbeda. Kalo saya sukanya yang ibu-ibu banget dah! Daily life gitu, tentang kehidupan berkeluarga, perkembangan anak, dan sejenisnya, sementara kalo si ayah sukanya tulisan-tulisan  yang saya ga ngerti dan berat mbacanya! :( Mungkin hal itu juga yang membuat perbedaan dalam “kecepatan memilih buku” kami :D Dan akhirnya setelah beberapa kali bertawaf mengelilingi toko buku ini, didapatlah 7 buah buku, 6 buat saya dan 1 buat si ayah hahaha… :mrgreen: Berikut judul-judul buku yang kami beli : Continue reading