Seandainya ada sekolah khusus untuk menjadi orang tua yang BAIK, maka saya akan menjadi pendaftar pertamanya!
Ya, saya bersedia mengeluarkan kocek berapapun besarnya demi memperoleh ilmu tentang bagaimana cara menjadi orang tua yang BAIK. Saya rela mengorbankan waktu saya, berapapun lamanya, untuk memperoleh predikat MUMTAZ dalam mendidik anak-anak saya. Saya ikhlas, sungguh!
Sayangnya, sekolah itu tidak ada, Sayang!
Bunda hanya bisa berguru pada pengalaman para orang tua yang telah lebih dulu memiliki anak. Pun, mempraktikkan saran-saran dari para tetua di keluarga kita, dan tentunya ditambah bekal yang diperoleh dari internet maupun buku-buku tentang parenting.
Tentu saja, semua itu hanya teori, yang pada praktiknya tak selalu sesuai dengan sebagaimana disebutkan dalam teorinya. Ada banyak keunikan disana. Unik, Sayang! Karena bunda ga akan pernah menyebutnya BANDEL atau NAKAL, dan sejenisnya.
Memang, ada saat-saat dimana Bunda merasa putus asa dan bersedih melihat engkau bersikukuh dalam “keunikanmu” namun saat itu juga Bunda semakin terpacu untuk mencari jalan keluarnya, untuk membuat hari-hari kita semakin indah untuk dijalani. Dan satu hal yang sangat sangat Bunda hindari, yaitu menyakiti tubuh halusmu! Tidak, Sayang! Tubuhmu masih terlalu suci untuk Bunda kotori dengan segala bentuk kekerasan yang selama ini Bunda dengar dari berbagai media. Lagipula, kekerasan tidak lantas membuat segalanya menjadi lebih baik. Kekerasan hanya akan semakin menebalkan dinding kebencian di hatimu, dan suatu saat akan berbalik menyerang kami, orangtuamu. Dan bukan tidak mungkin jika kekerasan itu masuk ke alam bawah sadarmu dan kemudian kau praktikkan kepada keluargamu nantinya, Bunda tidak mengharapkannya!
Dengan tindakanmu memungut makanan yang telah jatuh ke tanah, bukan berarti Bunda tak peduli dengan kesehatanmu, Bunda hanya ingin menambah kekebalan tubuhmu terhadap hal yang remeh temeh itu. Dengan bunda membiarkanmu mengeksplorasi semua peralatan masak Bunda, hingga membongkar peralatan pertukangan ayah, tak ada maksud lain selain membiarkanmu merasa ingin tahu dan kemudian berusaha memuaskanmu dengan jawaban-jawaban yang kami berikan. Dengan membiarkanmu terjatuh dari kardus susu yang kau naiki dan tidak memelukmu ketika kau menangis, bukannya Bunda kejam, tapi Bunda hanya ingin kau merasakan konsekuensi atas segala perbuatan yang kau lakukan. Bunda hanya ingin kau belajar, Sayang!
Saat ini, seorang batita sudah mampu mengoperasikan game online, anak SD sudah mempunyai akun di jejaring sosial, anak SMP… Ahhh.. Bunda tak tau dan tak bisa membayangkan teknologi macam apa yang akan ada di jamanmu nanti. Bunda hanya bisa memantau (dan berharap) bahwa teknologi itu tak lantas membuatmu teracuni efek-efek negatifnya. Yang bisa kami lakukan sebagai orangtuamu adalah memperkokoh dasar agamamu, satu-satunya pegangan yang dapat diandalkan dalam mengarungi tahun demi tahun yang kau lalui di masa mendatang.
Sayang, Bunda cuma ingin bilang…
I am not a perfect mother and I’ll never be.
You are not a perfect child and you will never be.
But put us together and we will be the best mother and child we would ever be
***Zoraida Pesante***
================================================================================
Selamat ulang tahun ke 20 dan ulang tahun pernikahan yang pertama untuk dek Uzlifathul Fitriah dan Arief Bayu Saputra semoga selalu berada di dalam lindungan Allah SWT, dikaruniai keturunan yang sholeh/sholehah, dan rumah tangga yang sakinah, wish you all the best!
Artikel ini saya sertakan dalam April Mei Bayu Family Berbagi yang diselenggarakan oleh Arif, seorang blogger asal Jember yang sedang menanti kehadiran buah hati tercinta






