Hufffff… (tarik nafas dalam-dalam)
Karena bang Tere Liye dapet kata-kata yang dijadikan judul bukunya ini dari kalimat anynomous, The falling leaf doesn’t hate the wind, ditambah dengan diskusi yang lumayan anget antara saya, bang Alira dan dek Lady, tentang maksud dari kalimat “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin”, didapatlah beberapa kesimpulan sebagai berikut :
- Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin (versi buku)
Bahwa dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya. Tak ada yang perlu disesali. Tak ada yang perlu ditakuti. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawanya pergi entah ke mana. - Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin (versi buku)
Bahwa hidup harus menerima… penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti… pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami… pemahaman yang tulus.
- Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin (versi Lady)
Bahwa jika kita mencintai seseorang, hendaklah jangan ditutup-tutupi.
- Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin (versi saya)
Bahwa jika kita mencintai seseorang, tetaplah menjadi daun yang jatuh itu. Jadilah diri sendiri, apa adanya, tanpa perlu mengubah segala sesuatu yang menjadi ciri khas kita. Karena pernikahan bukanlah belenggu, karena pernikahan bukanlah sebuah tuntutan untuk menjadi sempurna, karena pernikahan adalah sebuah dunia baru yang akan dihiasi dengan warna-warna berbeda dari masing-masing individu, karena berbeda itu pelangi..
Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.” (Bung Karno)
gambar diambil dari http://bicara-pernikahan.blogspot.com/


