REPOST : Pengakuan Seorang Mantan TKW

Di Penampungan PJTKI :

  • Seseorang yang berkeinginan untuk menjadi TKW cukup mendaftarkan dirinya di salah satu agen penyalur TKW dengan biaya nol rupiah alias gratis
  • Namun jika sang TKW ingin membatalkan niatnya untuk bekerja, dia harus menebus dirinya sendiri sebesar minimal 5 juta rupiah (saat itu), jumlah yang sangat besar bagi mereka yang kebanyakan datang dari keluarga pas-pasan
  • Selama di dalam penampungan tersebut para TKW akan diberi pelatihan seperti bagaimana cara mengurus bayi dengan baik, merapikan tempat tidur, membuat roti, dan juga dilatih bahasa Inggris/Mandarin/Arab dasar sesuai bahasa negara yang akan ditujunya.
  • Namun selama di dalam penampungan itu, para calon TKW dilarang keluar dan tidak bisa keluar karena pintu gerbang dijaga satpam dan beberapa ekor anjing galak, jadi hidupnya hanya terbatas di dalam lingkungan rumah penampungan TKI tersebut Continue reading

Pengakuan Seorang Mantan TKW

Di Penampungan PJTKI :

  • Seseorang yang berkeinginan untuk menjadi TKW cukup mendaftarkan dirinya di salah satu agen penyalur TKW dengan biaya nol rupiah alias gratis
  • Namun jika sang TKW ingin membatalkan niatnya untuk bekerja, dia harus menebus dirinya sendiri sebesar minimal 5 juta rupiah (saat itu), jumlah yang sangat besar bagi mereka yang kebanyakan datang dari keluarga pas-pasan
  • Selama di dalam penampungan tersebut para TKW akan diberi pelatihan seperti bagaimana cara mengurus bayi dengan baik, merapikan tempat tidur, membuat roti, dan juga dilatih bahasa Inggris/Mandarin/Arab dasar sesuai bahasa negara yang akan ditujunya.
  • Namun selama di dalam penampungan itu, para calon TKW dilarang keluar dan tidak bisa keluar karena pintu gerbang dijaga satpam dan beberapa ekor anjing galak, jadi hidupnya hanya terbatas di dalam lingkungan rumah penampungan TKI tersebut
  • Jika dirasa calon TKW telah siap bekerja, segala persyaratan administrasi mulai dari passport, tiket pesawat terbang, id card, visa kerja, dll disiapkan oleh PJTKI. Continue reading

Ooo.. Jadi Gitu Tho?!

Percakapan I

Saya (S)            : Assalamu’alaykum Mbak Kas, ni bunda Mahes, minta tolong cariin orang yang  bisa jagain Mahes donk, setengah hari aja kaya Mbak Kas dulu, bisa ga?!

Mbak Kas (M) : Wa’alaykumsalam. Lho emang mbak Ani kenapa Bu?!

S                      : Pulang kampung dari hari Sabtu kemaren

M                     : Wah, jadi nikah dia?!

S                      : (kaget) Hah?! Emang kata siapa dia mo nikah Mbak?!

M                     : Kata mb Ani sendiri Bu, katanya setelah lebaran nanti dia ga mo balik lagi kesini karena mo nikah dengan juragan bawang

S                      : Ooo.. gitu?! Koq saya ga tau ya?! Tapi ya gapapa deh, minta tolong cariin ya Mbak, tar kalo dah ada orangnya tolong kabari saya

M                     : Iya bu, insyaAllah besok pagi saya kabarin

S                      : Makasih Mbak, Assalamu’alaykum.. Lanjutkan!

I Wish..

Beberapa hari sebelum kepergian Budhe, saya sudah mencari informasi kesana-kemari tentang ART yang mau menjaga Mahes selama saya tinggal ngantor dari pukul 05.30 WIB hingga saya tiba di rumah kembali sebab pengasuh Mahes pengganti Budhe baru akan tiba di Jakarta hari Rabu depan, sehingga Senin-Rabu mau tidak mau harus ada yang njaga Mahes. Namun entah emang lagi apes atau emang ga lagi musim, hingga saat ini saya belum berhasil menemukannya. Setelah berusaha menambah kerutan otak saya supaya mampu mencari jalan keluar atas pencarian ART setengah hari ini akhirnya saya menyimpulkan beberapa alternatif :

  • Minta tolong ma Mbak Yati (yang dulu bantuin nyuci nyetrika sebelum ada Mahes). Ternyata dia gak bisa karena ada tanggungan di tempat lain, bisanya hanya siang sampe sore, lah kalo gitu gimana sarapan paginya Mahes??? Lanjutkan!

Dia Benar-benar Pergi (Part 2)

Tadi siang pukul 12.00 WIB secara resmi Budhe telah pulang dan tidak lagi menjadi bagian dari keluarga kecil kami. Sedihkah?! Gak juga setelah melihat antusiasme beliau sejak semalam yang begitu “cerewet” menanyakan segala prosedur kepulangannya, apakah tiketnya sudah dibeli, naik apa ke Lebak Bulus-nya, apakah dia perlu menghubungi tukang ojek langganan kami yang biasa kami pakai jasanya jika jalan-jalan ke Bintaro Plaza tiap awal bulan.

Awalnya saya membayangkan perpisahan yang begitu mengharu biru, terlebih jika mengingat nasib Mahes yang harus beradaptasi dengan orang baru di keluarga kami, saya khawatir akan mengganggu metabolisme tubuhnya seperti gak doyan makan atau malah ga mau nempel dengan pengasuhnya nanti. Bahkan Budhe sempat mengirim SMS kepada Bapak saya yang mengatakan bahwa sebenarnya dia tidak tega jika harus meninggalkan Mahes, namun raut sedih itu sama sekali tidak saya dapati di wajahnya ketika dia berpamitan pulang, mungkin rasa rindunya yang membuncah kepada kedua orang anaknya mengalahkan segalanya, and I’m happy for it! :) Sebab anak-anaknya tentu lebih membutuhkannya daripada Mahes (ya iyyalaaaaaaaah..). Lanjutkan!

Dia Benar-benar Pergi (Part 1)

Hiks.. Setelah pagi hari batal ngantor, setelah seharian telpon-telponan ma Bapak dan Bapak (mertua), setelah seharian merenung dan berintrospeksi diri, ternyata keputusannya telah bulat, Budhe tetap ingin pulang.

Saya sedih, kehilangan tepatnya! Awalnya saya hanya menganggap perginya Budhe sebagai sesuatu yang wajar terjadi di suatu keluarga dan saya pernah mengalaminya, tapi ternyata nurani saya tidak dapat berbohong.

Tiga belas bulan bukan waktu yang singkat bagi kami untuk sekedar curhat atas segala yang terjadi di tengah keluarga saya maupun keluarganya disana, bukan waktu yang singkat untuk sekedar menggosipkan ART tetangga lain yang menurut kami tidak becus bekerjanya, bukan waktu yang singkat untuk sekedar mencela masakan seseorang yang tidak pernah terasa enak di lidah kami, bukan waktu yang singkat untuk sekedar berbagi info mengenai acara tivi favorit kami jika salah satu dari kami melewatkannya, dan bukan waktu yang singkat bagi kami untuk menjalin ikatan batin yang tanpa saya sadari ternyata telah begitu kuat sehingga membuat saya ingin menangis jika harus membayangkan kepulangannya dalam waktu dekat ini.

Ya, saya sangat kehilangan! Hiks.. :’(

Serba-serbi Asisten Rumah Tangga

Apa yang akan Anda lakukan jika asisten rumah tangga Anda melakukan hal-hal berikut ini :

  • Mengepel lantai tanpa menyapunya terlebih dahulu
  • Merendam pakaian di dalam air bekas rendaman cucian sebelumnya sehingga konsentrasi air menjadi agak mengental plus bau pesing yang sangat menyengat
  • Menanak nasi dengan air yang terlalu banyak dan di suatu waktu lainnya terlalu sedikit
  • Membersihkan kamar mandi hanya di bagian yang “terlihat”, setelah anda beritahu bahwa dia harus membersihkan semua tanpa terkecuali, hal itu hanya dilaksanakan sekali dan untuk selanjutnya kembali “lupa”
  • Pukul 00.42 WIB masih bertelepon ria dan keesokan harinya bangun lebih siang
  • Siang harinya pun sering menelepon sehingga terkadang Mahes sedikit “terlantar”
  • Susu yang biasanya habis dalam waktu 24 jam, tiba-tiba setengah hari sudah habis tanpa ada alasan
  • Pakaian yang telah dicuci dijemur  di halaman depan sementara di halaman belakang tersedia space untuk menjemur
  • Sudah dibilang berkali-kali supaya mengupas wortel dengan bersih sebab masih ada sisa-sisa pestisida di kulitnya, namun teteeeeeeeeeep aja ngupasnya kurang bersih jangan ditimpukin yaaaaaaaaaa….