“Markonah, besok bikin bakwan 10 biji aja ya!” Betari Durga dengan mulut monyong dan leher ala kodoknya memberikan perintah kepada Markonah.
“Bukannya biasanya 50 buah ya Dur?” Tanya Markonah.
“Nggak, 10 aja!” jawab Betari Durga.
Belum kering air ludahnya, Betari Durga telah menghilang bagaikan kabut pagi tersiram matahari.
Markonah melanjutkan pekerjaannya…
*****
Keesokan harinya..
Seperti biasa, pukul 07.00 pagi Betari Durga menghampiri meja Markonah, menanyakan progress report pembuatan bakwannya. Markonah yang telah mengantisipasi “sarapan” di pagi hari, dengan penuh rasa percaya diri telah menghidangkan 10 buah bakwan yang masih mengepul hangat, lengkap dengan cabe rawitnya (belakangan diketahui ternyata cabe rawit tersebut dibeli dengan uang pribadi Markonah, karena Betari Durga tidak ingin tahu menahu tentang kenaikan harga cabe rawit).
“Wah, dah siap ya bakwannya!” sapa Betari Durga
“Iya Dur, dah saya goreng sejak pukul 4 pagi tadi” Markonah menjawab dengan bangga.
“LHOOOOOOO!!! Koq bakwannya cuma 10????” Suara Betari Durga terdengar menggelegar, memecah keheningan warung reyot itu.
Demi mendengar suara fales tersebut, Markonah terkencing-kencing menghadap Betari Durga.
“Ada apa, Dur? Bakwannya kenapa?” Tanya Markonah
“Ini bakwannya kenapa cuma 10??? Kan saya mintanya 50 buah seperti biasa?!” jemari Betari Durga bergetar demi menahan esmosi yang meluap-luap.
“Lho, kan Betari sendiri yang minta 10 buah? Kan kemaren Betari sendiri yang bilang ke saya untuk bikin bakwan 10 buah aja!”
“Makanya, kalo gitu itu tanya dulu ke saya! Ingatkan saya! Kalo salah kaya gini kan saya sendiri yang pusing!” Betari Durga semakin murka.
Markonah makan cabe rawit utuh..