Pada suatu sore di suatu halaman suatu rumah suatu komplek perumahan, bermainlah seorang anak laki-laki berumur 22 bulan bersama 4 orang dewasa, sebut saja mereka Ayah, Bunda, Om Nyinyu, dan Tante Nyonyo. Bukan komposisi yang seimbang memang, tapi benar begitulah keadaannya.
Konon si tante Nyonyo ini sangat menyukai coklat, terutama sejenis Choki-Choki dan Gery Pasta (ga maksud ngiklan lho ya!) dan atas kebaikan hatinya, “dipaksalah” si anak kecil sebut saja Mahes untuk menyukai makanan itu juga. Hampir setiap hari si tante Nyonyo dan Om Nyinyu yang baik hati ini “mencekoki” si anak kecil dengan minimal satu batang Choki-choki/Gery Pasta ini. Sama halnya dengan seekor kucing yang disodori ikan asin, begitu pula keadaan si anak kecil tadi. Binar di bola matanya semakin benderang tiap kali coklat pasta itu disodorkan di hadapannya.
Sampailah pada sore itu, mungkin si anak kecil sedang kekenyangan sehabis menikmati makan sorenya sehingga ketika coklat pasta itu disodorkan, dia kurang antusias menyambutnya. Namun si anak kecil ini tetap meminta sang Bunda untuk membukakan kemasannya. Ya wes, Bunda nurut, dicabiklah bungkus si Gery Pasta itu. Setelah pojok si Gery pasta terbuka, si anak kecil tadi memencetnya dengan tujuan supaya si Gery pasta bisa moncrot keluar tau kan ya caranya makan coklat pasta gitu. Read the rest of this entry »





